“Kak Kiana, awas!” Bayu lantas melepas sepedanya hingga terjatuh, segera menarik tangan Kiana sebelum terserempet mobil pick-up pengangkut sayuran yang sedang lewat.
Perempuan itu refleks mengikuti daya tarik tersebut hingga berakhir ke dekapan d**a Bayu. Mereka bertemu di sana dalam jarang yang dekat. Detik-detik itu berlalu sunyi, Kiana bisa merasakan degup jantung Bayu yang nyata. Lantas perlahan-lahan, Kiana mendongak, kedua pasang mata itu bertatapan dalam kemilau sendu.
“Kalian ngapain?” seru Gian memecahkan keheningan.
“Ah?”
Bayu dan Kiana kompak melepaskan diri dengan canggung. Bayu pun melambaikan tangan pada Gian yang sedang membereskan rerumputan itu.
“Kamu libur, Kak?” tanya Bayu mendekat bersama Kiana di sisinya.
“Pertanyaan penting?” celetuk Gian memandangnya sekilas, lalu kembali mengumpulkan potongan rumput ke pinggir.
Bayu terkekeh. “Yang penting nanya.”
Kiana di sisinya pun tak kuasa menahan tawa. Pasalnya, celotehan Bayu seringkali di luar nalar yang menggelitik. Bahkan bisa mengendalikan Gian yang sangat dingin dan menyebalkan.
“Kak Kiana… gimana kalau malam ini kita lihat bintang?” Bayu memberikan penawaran.
“Boleh. Kita belum main bareng. Kamu sendiri yang bilang kalau mau ajak aku keliling, kan?”
“Makanya.”
“Ngapain ngelihat bintang? Ribet amat. Tiap hari juga bisa lihat bintang kali!” sungut Gian tiba-tiba. Kali ini tidak dengan nada yang datar, ada penekanan dan sedikit intonasi yang lebih tinggi.
Senyum Bayu yang berbinar-binar itu seketika meredup. Ia menatap Gian dengan sinis. “Aku, kan, nggak ngajak kamu, Kak! Lagian Kak Kiana mau juga.”
Kiana tertawa canggung. “Trus kalau sabtu?”
“Aku ada shift, minggunya juga ada kerja sama agen. Tapi mulai jam 10, kok. Pokoknya nanti kita saling berkabar aja.”
Kiana mengacungkan ibu jarinya penuh semangat. “Oke!”
“Nanti malam aku jemput, ya. Jangan pergi sendirian. Kamu belum kenal tempat ini.” Bayu memberikan ultimatumnya, lantas berpamitan.
Gian memicing. Berdecak kesal saat melihat Kiana terus melambaikan tangannya walau Bayu sudah berlalu. Bahkan senyum dokter itu terus saja betah terpatri di wajahnya hingga membuat Gian terheran-heran.
“Kamu dadahin siapa?” tanya Gian.
Kiana menaikkan satu alis. “Aku emang selalu bersemangat. Lagian, walaupun cuma kelihatan punggungnya doang… energi positif Bayu masih tertinggal di depan mataku.”
“Nggak jelas.” Gian berlalu membuang sampah.
Kiana membelalak. “Orang kalau nggak peka emang nggak pernah bisa ngerasain mana energi yang baik dan mana yang buruk!”
“Tapi…” Kiana berjalan manis mendekati Gian. “Udah berapa lama kamu kenal Bayu?”
“Kenapa? Kamu mulai suka?”
Mata Kiana yang tenang itu seketika beriak berbalut canggung. “Hah?” Ia tertawa. “Pertanyaan apa itu?”
Gian berbalik, menatap Kiana dengan lurus. Langkahnya semakin mendekat sampai Kiana memundurkan langkah. “Aku bahkan lebih peka dari yang kamu kira, Kiana.”
Kiana tertawa sambil menggaruk lehernya yang tak gatal. “Semua orang juga suka salah paham kalau ada cewek nanyain tentang cowok. Begitu juga sebaliknya. Emangnya ada yang salah? Aku cuma pengen tau.”
“Setelah aku kasih tau, trus apa?” Gian menantang.
“Eng…nggak…”
“Jangan harap aku jodohin kalian.” Kemudian Gian berlalu dari hadapannya.
Kiana berbalik, lalu memekik. “Siapa yang ngarep?”
^^^
Malam itu begitu cerah. Padahal Bayu khawatir sekali jika tiba-tiba mendung. Sebab, berada di pegunungan juga bisa saja tiba-tiba mendung dan hujan. Ia memilih beberapa pakaian dari lemari. Memadu-padankan di depan cermin. Sesekali menggeleng saat dirasa kurang tepat.
Pada akhirnya ia memilih celana pendek corduroy berwarna krem dengan kemeja linen santai merah maroon. Senyum Bayu terus terpantul di cermin, pipinya memerah. Lalu tertawa—entah apa yang jenaka. Rasanya sangat senang.
Kemudian ia mencoba berbagai macam gaya rambut. Sama halnya seperti ia memilih pakaian tadi. Seperti sedang melakukan kencan pertama.
“Pantesan dipanggilin nggak nyahut!”
“Ibu?” Bayu membeku bersama dengan matanya yang membelalak. Kemudian ia berlari ke ranjang. Bersujud di sana, menenggelamkan diri agar tak terlihat oleh sang ibu.
Ibu justru tertawa usil sembari mendekat. “Oh… jarang-jarang, loh, ibu ngelihat kamu ganteng maksimal gini.”
“Ibu.”
“Uhm?”
“Ibu tolong keluar, ya. Please!” Bayu memohon dengan nada-nadanya yang tenggelam di antara kasur.
“Kenapa? Kamu mau video call sama gebetan kamu?”
“Ibu!” Bayu lantas bangkit. Menatap sang ibu sambil merengek. “Ibu tolong, lah. Nanti aku ceritain. Ibu tau, kan, Bayu nggak pernah menyembunyikan apapun dari ibu.”
Ibu lantas mengangguk pelan. “Makanya mau ke mana dulu? Masalahnya ini sudah malam. Ibu tau banget kamu anak baik, tapi tugas ibu tetap harus berjalan untuk selalu mengingatkan anak ibu satu-satunya ini.”
Bayu mendadak canggung. Ia terdiam sambil mengelus tengkuknya. “Aku mau ketemuan di kafe bawah. Kalau malam kios-kios di sana rame wisatawan dan pendaki yang lagi menikmati malam. Jadi, kita nggak beneran berdua.”
“Kalau kamu cinta sama dia dan mau membuat hubungan yang baik… kuncinya cuma satu.”
“Hargai dan lindungi,” sambung Bayu yang sudah hapal betul wejangan sang ibu yang selalu dilontarkan ribuan kali sejak Bayu beranjak remaja.
Ibu mengangguk. “Jangan rusak kepercayaan ibu.”
Bayu mengangkat kedua sudut bibirnya dengan yakin. Ia yang tadinya sempat malu, kini mulai merasa tenang karena selalu didukung dan dijaga oleh ibunya yang hebat itu. Bahkan Bayu selalu mencium punggung tangan dan kening sang ibu setiap kali hendak keluar.
“Bayu pergi dulu, ya, Bu.”
Ibu berdiri di depan pintu rumah yang desainnya merupakan perpaduan tradisional dan kayu moderen yang menyatu dengan salon. Ia terus menatap Bayu yang bersepeda sampai lepas dari matanya.
Ada helaan napas yang diam-diam mengembus. “Bayu udah gede. Sudah lama sekali aku merawatnya.”
Kemudian ibu masuk ke dalam beriringan dengan perasaannya yang mulai campur aduk. Kemudian menatap beberapa pigura di atas meja dekat televisi. Semuanya adalah proses pertumbuhan Bayu yang selalu diabadikan oleh ibu, terkecuali foto saat bayi.
“Kayanya kalau Bayu menikah, nanti harus ada foto lagi di sini,” ucap Ibu menunjuk sebuah tempat kosong setelah menggeser beberapa pigura.
^^^
Kiana dan Bayu menembus malam sambil bersepeda. Kiana pun tampil menawan dengan dress berbunga dan cardigan rajut polosnya. Menggerai rambut panjang indahnya, serta mengimbuhi dengan bandana putih gading.
“Kita sampai!” seru Bayu.
“Wah! Rame, ya, ternyata daerah sini.” Kiana berdecak kagum. “Padahal udah malam.”
Bayu kembali datang setelah memarkirkan sepeda. “Desa ini nggak pernah mati sekarang. Semua warga luar desa, pasti pengen merasakan suasana mengagumkan baik pagi, siang dan malam.”
“Ayo, kita naik!” ajak Bayu.
Kafenya berada di atas, sehingga pengunjung harus menaiki tangga yang tak terlalu tinggi. Pemandangan malam dan suasana yang syahdu itu melekat erat di kafe yang bernuansa ala ‘rumah nenek’. Sama halnya seperti kediaman Bayu yang memadukan antara rumah tradisional dengan moderen. Diiringi dengan aroma kopi yang menenangkan.
Selama menapaki anak tangga, Bayu mendahulukan Kiana. Memastikan perempuan itu tetap aman.
“Kita duduk mana, ya…?” Bayu sedang menimbang karena kafe tampak penuh. “Seadanya aja, ya, Kak. Di sana bagus, tuh, dekat sawah. Di bawah lampion.”
“Oke…”
Keduanya duduk berhadapan dengan seri yang tampak menyala di wajah mereka sembari membuka buku menu.
“Kak Kiana mau apa?”
“Uhmmm…” Kiana membolak-balikkan buku tersebut.
“Aku cappuccino…”
Seketika suara lelaki itu membuat Kiana dan Bayu membelalak. Sempat tertegun, lalu kompak menoleh ke kanan. Menemukan Gian yang menarik kursi dari meja lain untuk di letakkan di antara keduanya.
“…banyakin susunya. Aku pengen yang manis-manis pahit,” lanjut Gian santai tanpa beban sembari duduk merapatkan jaket.
Pun Kiana dan Bayu tak bisa berkata-kata. Mereka terlalu syok dengan situasi ini dan hanya saling bertatapan penuh kejut.