“Dokter Kiana!”
Kiana yang kebetulan sedang berpisah dengan beberapa dokter dan tim kesehatan lainnya di jalan depan klinik itu mendadak menoleh saat namanya dipanggil dengan nyaring pada sore itu.
Kiana tersenyum. “Kamu ngapain lari-larian, sih, Bayu?”
Hhh… Napas Bayu mendengus kencang. Ia sedang memperbaikinya. “Ayo, pulang sama aku!”
Satu alis Kiana terangkat, kemudian disusul senyumnya yang indah bagai bulan sabit itu, sehingga Bayu seolah mendapatkan jawaban yang baik. Keduanya saling menebar senyum yang entah apa arti spesifiknya. Yang jelas, mereka punya kesenangan yang tak dapat digambarkan. Terlukis di antara matahari sore yang teduh.
Lantas mereka berjalan beriringan. Sementara Bayu menuntun sepedanya melewati jalanan desa yang halus, tak bergelombang teriring dengan semilir angina yang mengembus mesra di antara keduanya.
“Kalau kaya gini, aku boleh manggil Kak Kiana, kan? Bukan Dokter Kiana.” Bayu membuka suara meredam rasa canggung.
Kiana tersenyum lebar sekali. “Boleh banget, lah. Kita bukan di jam kerja.”
Bayu tak bisa menyembunyikan barisan gigi yang hendak berbanjar rapi. Tapi berusaha keras untuk menutup rapat meski sungging di wajahnya tak terbantahkan.
“Kamu cukup hormati dan hargai aku. Baik di tempat kerja dan di luar. Tapi nggak perlu berlebihan,” kata Kiana. “Aku bukan senior kolot.”
“Aku tau. Kak Kiana nggak mungkin kaya gitu. Cuma menjaga aja. Namanya senioritas nggak bisa dipungkiri.”
Kiana mengangguk mengerti menatap pemandangan indah desa yang. “Aku ngerti, kok.”
“Berarti kita bisa temenan, kan, kalau di luar?”
Kiana tersentak saat tiba-tiba Bayu menghentikan langkah dengan menggebu-gebu. Pun perempuan itu sontak turut mengerem kakinya. Mereka saling bertatapan saat keteduhan kala sore itu menjadi latar belakang keduanya di antara pegunungan yang membentang.
“Iya, lah!” seru Kiana. “Aku lebih suka kamu jadi diri sendiri.”
“Bener, ya?” Bayu mengacungkan kelingkingnya.
Bersama senyum yang lembut nan manis, Kiana mengaitkan kelingkingnya. Keduanya mengikat janji di kaki gunung Rinjani teriring kesiur angin yang menyulam kehangatan saat mereka berdiri di jalanan spiral. Lukisan illahi yang fantastis.
“Jadi, kamu kerja di agen pariwisata juga? Part time, gitu?” Kiana memastikan sembari kembali melanjutkan langkah.
“Uhm!” tegasnya. “Gini-gini saya dapat beasiswa, loh, di kedokteran. Tapi, kan, nggak serratus persen. Jadi, mumpung ada kesempatan part time, aku pengen masa-masa ini nggak menyusahkan finansial ibu.”
Kiana memandang pemuda itu penuh kekaguman. Dia memang masih muda dan pekerja keras. Seketika membuatnya teringat akan anak muda lainnya yang justru memanfaatkan dirinya alih-alih bekerja keras.
“Calon-calon dokter keren masa depan.”
“Uhm?”
“Iya. Aku berdoa supaya kamu bisa berbisnis. Punya agen pariwisata sendiri sekaligus menjadi dokter yang tulus. Sehingga kamu juga tetap fokus untuk menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan juga bisa kaya raya dari bisnismu.”
Mata Bayu seketika berbinar mendengar pujian tak terhingga dari Kiana. Tak banyak ia mendapatkan senior yang sangat hangat sepertinya. Perlahan pipinya mulai memanas sembari menahan senyum.
“Aamiin. Makasih doanya, Kak.”
“Omong-omong… apa kamu selalu kaya gini?” Kiana penasaran.
“Kaya gini, gimana?”
“Kamu selalu ramah dan asik.”
“Ah… iya. Aku ini ESFP,” bisik Bayu yang dihadiahi gelak tawa Kiana. “Loh? Kenapa? Kak Kiana nggak tau MBTI, ya?”
“Enak aja!” sungut Kiana menepuk lengan Bayu. “Emangnya umur kita beda sejauh itu? Aku juga tau tren!”
Bayu mendelik usil. “Masa? Kalau gitu MBTI-nya apa?”
“Aku ENFJ!”
“Wooow. Ternyata beneran tau.”
Kiana berdecih. “Lo pikir?”
Bayu tertawa. Kemudian keheningan terjadi di antara keduanya. Menikmati setiap langkah dengan tenang dan suasana hati yang baik.
“Udah lama banget aku nggak merasa se-tenang ini. Pulang kerja bisa jalan di antara pemandangan yang bagus banget kaya gini,” ungkap Kiana.
“Enam bulan itu waktu yang singkat, Kak.”
“Pasti.”
“Kalau gitu, apa yang mau Kak Kiana lakuin di waktu senggang selagi di sini?” tanya Bayu.
“Uhm…” Kiana sedang menimbang. “Ah! Aku punya satu hobi yang udah lama aku tinggalin.”
“Oya? Apa itu?”
“Melukis.” Kiana menghempaskan napasnya pelan. “Entah udah berapa lama sejak terakhir kali melukis. Kamu tau sendiri hectic-nya kerjaan kita dan aku juga nggak ada lagi inspirasi. Yang aku lihat cuma bangunan raksasa rumah sakit, orang terluka dan dinding-dinding yang rapat nan dingin. Kadang aku mikir… apa iya aku harus melukis lukisan horor?”
Bayu mengangguk mengerti sambil bergidik ngeri. “Kayanya itu bagus tapi nggak bagus juga buat kesehatan mental.”
“Ya, kan?”
“Selagi di sini… gimana kalau Kak Kiana mulai lagi hobi yang tertunda itu? Ada banyak hal yang bisa kakak lihat.” Bayu membentangkan tangan kanannya ke udara, menunjukkan pemandangan yang fantastis di sekeliling mereka. “Sekarang, setiap hari, Kak Kiana bisa melihat ini semua.”
Kiana terdiam sejenak menatap atmosfer. “Ide bagus. Tapi bisa nggak, ya? Aku udah lama nggak melukis.”
“Kak…” Bayu menghentikan langkahnya lagi, memanggilnya dengan lembut. “Melukis bukan hanya soal menggambar.”
Kiana menaikkan satu alis.
“Melukis itu juga tentang rasa,” lanjut Bayu menyentuh dadanya sendiri. “Apa yang kamu rasakan pasti akan tersampaikan dengan baik di balik karya lukismu.”
Perempuan dengan gaya rambut low ponytail itu terlihat sederhana namun anggun. Hatinya bergetar. Sudah lama sekali ia tak mendapatkan dukungan dengan nada-nada yang lembut dan terasa tulus hingga tanpa sara ada air mata yang menyangkut di pelupuk.
“Kak Kiana? Kenapa?” Bayu buru-buru menyetandarkan sepedanya untuk fokus pada perempuan itu. “Aku ada salah bicara?”
Kiana lantas menyunggingkan senyuman terbaiknya sembari berkedip berulang kali. “Ah… nggak, kok. Jangan khawatir. Aku cuma emosional aja.”
Tanpa perlu Kiana utarakan secara jelas, Bayu seolah sudah memahami isi hatinya dan segala alasan di balik air mata dan senyuman itu, apalagi setelah membaca banyak artikel terkait Kiana.
“Kak Kiana udah bekerja keras. Kamu boleh menghidupkan lagi apa yang mau kamu lakuin,” sambung Bayu dengan lembut.
“Nggak usah kaya gitu. Ntar aku nangis beneran.” Kiana menyembunyikan wajahnya. “Lagi, emangnya kamu tau soal melukis.” Mereka kembali berjalan. Hanya berjarak beberapa meter saja sebelum sampai paviliun.
“Aku nggak tau banyak soal lukisan. Tapi karya seni selalu kaya gitu, begitu juga dengan tindakan manusia. Semua yang dilakukan dari hati, pasti akan sampai ke hati juga.”
Seketika Kiana merasa sangat bodoh saat ia tidak merasakan hal itu dari Gala, tapi justru terlena dengan kata-kata manisnya hanya mungkin karena ia telah kehilangan banyak kasih sayang sejak kecil.
“Tapi Kak Gian tau banyak soal lukisan.”
“Gian?”
“Iya. Dia suka lihat pameran, suka museum.” Bayu terkekeh. “Kok bisa-bisanya orang keren kaya dia hobinya cuma nontonin karya orang? Kenapa nggak balap motor, mungkin?”
Lantas keduanya berada di seberang paviliun, Kiana berjalan lebih dahulu sembari membatin banyak hal. Rasa juga sedang bergejolak dalam hatinya sampai sebuah mobil yang membunyikan klaksonnya itu nyaris menghantam Kiana apabila Bayu tidak segera menarik tangan perempuan itu sampai ia terkejut dan terdiam di depan d**a bidang Bayu.
Tanpa mereka tau, ada sosok Gian yang tanpa sengaja melihat pemandangan itu dari paviliun saat sedang merapikan rerumputan.