Gian datang ke kantor hanya untuk memeriksa berkas dan beberpa hal lainnya seperti mengawasi bawahnnya yang sedang mempersiapkan evaluasi. Namun, ketika mendengarkan penjelasan anggotanya, tiba-tiba Gian merasakan denyutan dan telinganya berdenging. Ia hanya memejam sejenak untuk menahannya.
Sesuatu yang tidak biasa. Sebab, ketika Gian dalam kondisi mengenakan peredam suara, biasanya tak terjadi hal buruk kecuali peredam itu terlepas.
“Tim lain sudah berangkat ke atas?” tanya Gian sambil menahan rasa tidak nyaman itu.
“Sudah, Ndan!”
“Tim lain juga sudah berangkat untuk penyuluhan?”
“Sudah juga, Ndan.”
Gian mengangguk mengerti. Ia harus betul mengawasi anggotanya tetap berjalan menjaga hutan dengan berbagai metode demi menjaga hutan dan gunung. Bahkan untuk menjaga hutan, mereka juga punya pesawat amfibi untuk mengawasi dari udara juga sungai. Sebab, tak mudah menjaga gunung megah yang membentang di beberapa kabupaten meski sudah dilakukan penyuluhan dan kerja sama dengan banyak pihak.
Gian lantas berpamitan pulang karena ia merasa semakin tak nyaman.
“Selamat siang, Pak Gian!” sapa dua staf perempuan dari Taman Nasional.
“Uhm, semangat!” Gian mengangkat tangannya seolah bersemangat tapi tak ada penekanan atau bahkan nada bicara yang membangkitkan. Hanya datar seperti biasa.
“Gian Rimba, si penjaga hutan!”
Saat namanya terpanggil, ia mengerem langkah. Memerhatikan seorang pria tua yang baru saja turun dari mobil dan kini mendekat padanya.
“Pas banget. Aku mau bicara sama kamu.” Pak Huda menepuk bahu bidangnya, pun Gian mengekor.
Gian menunggu di gazebo belakang ditemani dengan nyanyian alam yang syahdu. Pepohonan tinggi nan hijau menjadi pemandangannya.
“Ini,” Pak Huda menyodorkan se-cup kopi hangat lantas duduk di sampingnya.
Sedangkan Gian hanya bergeming sembari menyeruput kopi dengan tenang. Tak mengeluarkan sepatah katapun.
“Sudah delapan tahun,” ucap Pak Huda sembari menarik napasnya perlahan, menikmati setiap udara segar yang terhirup.
“Telingaku?” semprot Gian tanpa basa-basi yang sempat membuat Pak Huda justru kaget.
Pria berambut silver itu lantas berdeham. “Garda terdepan haruslah sehat. Tapi kamu memohon sejak lima tahun lalu untuk tetap bertahan tanpa aku tau bahwa telingamu sudah bermasalah dari tiga tahun sebelumnya.”
“Trus kali ini bapak mau mengeluarkan saya?”
Pak Huda tercengang, lalu tertawa. “Kenapa kamu selalu sarkas? Santai dulu, bro.”
Gian juga tidak menampik apa-apa. Ia hanya memutar bola matanya malas, lalu menyesap kopinya.
“Aku justru mau tanya kabar telingamu? Apa sejauh ini berjalan dengan baik dengan peredam itu?”
“Kalau nggak baik-baik aja, saya nggak mungkin bertahan sejauh ini, Pak.”
“Tapi pasti sesekali kamu nggak bisa menahannya, kan? Nggak mungkin kamu pakai peredam itu setiap waktu.”
Lagi-lagi Gian hanya termenung menekuri lantainya sembari membenarkan kalimat Pak Huda dalam batinnya. Gian bahkan mengidap insomnia beberapa tahun belakangan karena telinganya.
Pak Huda menepuk pundak Gian. “Kalau nggak kuat, kamu bisa bilang. Jangan dipaksakan! Kamu bisa balik lagi ke yayasan dan bergabung sama teman-teman ranger yang lain kalau kamu masih mau menjaga gunung ini dan menyelamatkan banyak orang.”
“Sebelum orang lain tau kondisimu dan kamu justru dikeluarkan dengan hukuman karena kamu pura-pura sehat,” lanjut Pak Huda.
^^^
“Alhamdulillah,” Kiana berucap lega melihat perkembangan bocah yang sempat tersesat di hutan rinjani. “Nanti makan sedikit-sedikit nggak apa-apa. Yang penting semangat!” Ia mengusap kening bocah yang masih terkurai lemas di bangkar.
“Terima kasih banyak, ya, Dok,” kata ibunya. “Walaupun anak saya pulang banyak luka, tapi dokter merawatnya dengan baik.
“Sama-sama, Bu. Kebetulan anak ibu nggak ada luka luar maupun dalam yang serius. Hanya lecet-lecet dan hiportemia yang bisa kami tangani dengan baik.”
Lantas Kiana berbalik ke depan lagi setelah melakukan visit pada pasiennya. Ia menyambut beberapa pendaki yang baru saja turun, mereka minta diobati karena ada luka robek serta ada yang keseleo. Hal-hal tersebut sejatinya menjadi bagian dari risiko pendakian. Tapi tetap tidak boleh diabaikan.
“Biar saya tangani, Dok.”
Kiana menoleh, “Bayu? Maksudku… Dokter Bayu?”
Bayu menampilkan senyuman terbaiknya sekilas, lalu menuju pada pendaki tersebut. Ia mengarahkan mereka untuk duduk di bangkar sementara Bayu memeriksa.
“Ah… ini lukanya lumayan dalam. Tadi jatuh?” tanyanya.
“Iya, Dok. Perih banget.”
Sementara Kiana menangani pendaki lainnya yang keseleo. Sesekali ia melirik Bayu yang sangat cekatan dan komunikatif dengan pasiennya, sehingga dapat mengalihkan rasa sakit saat disuntikkan obat bius. Pun saat penjahitan, pasien juga menjadi nyaman karena Bayu dapat menanganinya dengan baik.
Tanpa sadar, Kiana menyunggingkan senyuman terbaiknya pada sosok Bayu yang berhati hangat.
^^^
Gian kembali ke rumah, namun lagi-lagi ada seseorang yang menunggunya di pintu utama paviliun. Rama—ranger gunung dari Yayasan Puncak Rimba melambaikan tangan padanya sembari membawa segelas kopi.
Lantas keduanya pun duduk bersama di serambi paviliun sembari menikmati kopi.
“Aku tadi ngopi dan kayanya aku perlu nunggu kamu,” kata Rama.
“Kenapa orang-orang pada nyariin aku hari ini?” keluh Gian. Ia tidak minum kopi. Hanya menikmati jajanan saja.
“Siapa?”
Dan Gian tidak menjawab. Ia hanya asyik menikmati kue clorot yang manis dan kenyal.
Rama pun tak mau mencecarnya, sebab ia tau Gian seperti apa. Pria yang membenci basa-basi. “Makasih banyak sudah dibantuin evakuasi kemarin. Aku minta bantuan karena kamu satu-satunya yang hapal betul setiap sudut dari gunung Rinjani walaupun kita semua juga ribuan kali naik turun gunung.”
“Tapi setelah lama nggak minta bantuan kamu… sekarang aku jadi beneran kepikiran, kamu beneran nggak mau berhenti dan gabung lagi sama kita?” lanjutnya menatap Gian. “Kamu bisa menjaga hutan dan ikut evakuasi. Kalau kamu tetap di polhut, kalau nggak kepepet, mengevakuasi bukanlah tugas kamu.”
“Kalau aku melepas posisiku, aku nggak punya wewenang, Ram!” tegas Gian. “Aku emang bisa menjaga hutan, membantu evakuasi… tapi aku nggak berdaya. Siapa yang punya kepedulian sebesar aku terhadap hutan? Siapa yang berani menindak tegas tanpa pandang bulu pembalak liar itu?!”
“Aku, Ram!” sambungnya.
Rama pun terdiam sejenak sembari mengangguk-angguk mengerti dengan sikap keras kepala Gian. “Aku ngerti.”
“Kalau sampai nggak ada yang peduli… rinjani akan sering kebakaran. Cukup orang tuaku, orang tua Hannah yang ngalamin itu.” Gian menepuk dadanya. “Aku nggak mau ada orang yang merasakan ini semua. Sakit, Ram!”
“Tapi aku cuma mau bilang kalau pintu terbuka lebar buat kamu, Gi.”
“Sebelumnya terima kasih banyak.”
Diam-diam Hannah bersuaka di balik dinding, tanpa sengaja sedang membereskan hiasan autentik kafe itu dan mendengar pembicaraan intens kedua lelaki itu. Hati Hannah semakin berdesir kala mengetahui fakta bahwa dialah salah satu alasan Gian bertahan dalam pekerjaannya meski kesakitan. Padahal Gian juga mempunyai banyak bisnis sampingan yang tak mengahruskannya bekerja keras di gunung.
Mata Hannah berkaca-kaca. “Jadi, karena aku juga?”