Salini memandangi pantulan dirinya pada cermin. Bayangan yang dihasilkan oleh cermin di hadapannya menunjukan sosok perempuan dewasa di dalam balutan gaun pengantin berwarna putih gading. Polesan bincu berwarna merah ceri yang menutupi seluruh permukaan bibir, foundation yang dan blush on yang sengaja dibuat sheer, dan sentuhan akhir berupa make up mata yang sedikit kecokelatan dengan bulu mata tambahan. Seluruh riasan wajah itu membuat Salini terlihat begitu menawan kendati pilihan make up-nya cenderung sederhana.
Hari pernikahan yang dijanjikan oleh Reza akhirnya tiba juga. Hari ini, tinggal menghitung menit sampai akhirnya Salini menyandang nama besar Soemarwoto sebagai nama belakangnya.
“Waktunya menggunakan wedding veil, Bride,” cetus seorang make up artist yang muncul di belakang punggung Salini.
Kehadirannya disusul oleh dua orang asisten. Satu asisten membawa kain penutup kepala, sedangkan sisanya membawa tiara bermatakan berlian kecil berwarna putih.
Salini berbalik dan membiarkan make up artist-nya melakukan apa yang harus ia lakukan. Secara cekatan tangan perempuan itu meraih tiara berlian untuk kemudian meletakannya di atas sanggul low updo Salini. Ketika dirasa tiara telah berada pada posisi yang sesuai, sang perias meminta dua asistennya untuk membentangkan wedding veil dan meletakannya di atas kepala Salini.
Kain sepanjang 55 senti meter itu menutup wajah sampai pinggang Salini. Paras cantik Salini tampak di balik kain tulle ringan itu.
“Is it okay, Bride?” tanya sang perias usai memasangkan kain tembus pandang tersebut.
Salini mengangguk. “It’s okay. Rasanya nyaman aja kok. Makasih ya.”
“Your welcome, Bride and happy wedding. Today you are the most gorgeous bride, be confindent, be happy, and enjoy your important day!”
Salini mengangguk tipis.
“Silakan masuk, Pak.” Salah satu asisten perias berbicara sambil mendorong pintu tempat di mana ruang pengantin perempuan berada.
Ketika menoleh, Salini menemukan seorang pria berjas hitam yang berjalan menuju ke arahnya. Pria itu membawa sebuket bunga mawar berwarna putih di tangan kanannya.
“Papa ….” lirih Salini manakala menemukan Papa Jun di hadapannya. “Papa bilang enggak akan datang. Enggak akan memberi restu.”
Bibir Salini bergetar, pun pandangannya secara perlahan memburam karena air mata. Salini tak kuasa menahan gejolak sedih yang bercampur haru di dalam hatinya. Percakapan antara dirinya dengan sang ayahanda tiga hari lalu membuat hubungan ayah dan anak itu merenggang.
Salini bahkan meninggalkan rumah tadi pagi untuk pergi ke gedung tempat di mana pemberkatan pernikahan akan dilakukan tanpa mengatakan apapun pada Papa Jun.
“Aku pikir, aku akan melewatkan hari ini tanpa melihat Papa,” sambung Salini sesaat kemudian.
“Jangan menangis, anakku. Nanti riasanmu luntur,” kata Papa Jun dengan suaranya yang berwibawa. Pria tua itu mengulurkan bunga di tangannya untuk diambil oleh Salini.
Salini tersenyum tipis mendengar lelucon yang dilemparkan oleh Papa Jun. “Papa akan mengantarku?”
“Jelas. Siapa lagi kalau bukan Papa? Kalau begitu, ayo. Pengantin priamu pasti sudah tidak sabar menunggu.”
Salini mengangguk dan meraih buket bunga dari Papa Jun.
Setelah bunga berpindah, Papa Jun mengulurkan tangan kanannya untuk digenggam oleh Salini. Tentu saja Salini menurut. Keduanya berjalan meninggalkan ruang rias menyusuri lorong menuju tempat di mana pemberkatan dilakukan.
Venue tempat upacara pernikahan berlangsung disulap dengan megah. Tema pernikahan yang diusung oleh Reza kali ini bernuansa putih dengan hiasan white roses di berbagai sudut ruangan dan karpet berwarna senada yang membentang dari pintu masuk sampai ke tempat di mana kedua mempelai akan mengucap sumpah pernikahan.
Di tempat itu banyak pasang mata yang menjatuhkan fokusnya kepada Salini serta Papa Jun. Sebagai orang tua tunggal, Papa Jun telah banyak melalui momentum berharga bersama dengan Salini—putri semata wayangnya. Hari ini Papa Jun melalui satu momen berharga baru di dalam hidupnya, yaitu melepas Salini untuk menikah dengan pria yang telah dipilihnya.
Sebelum Malina—istrinya—meninggal, Jun sudah berjanji kepada perempuan yang ia cintai itu untuk merawat dan menjaga Salini. Hari ini, Jun akan menyelesaikan tugas terakhirnya karena begitu pemberkatan dilakukan maka, tanggung jawab untuk merawat, menjaga, dan mencintai Salini berpindah ke tangan Reza selaku menantunya sendiri.
Sementara itu, di depan sana Reza telah menunggu Salini. Laki-laki itu tersenyum lembut dan tampak begitu tulus. Rasa-rasanya Salini tidak seperti sedang menjalani pernikahan kontrak, melainkan sebuah pernikahan yang dilandasai atas dasar cinta.
“You are the most beautiful bride I have ever seen, Lini,” kata Papa Jun manakala langkah keduanya semakin dekat dengan Reza. “Apabila Malina masih hidup, dia pasti akan mengatakan hal yang sama dengan Papa.”
“Bukannya pengantin paling cantik yang pernah Papa lihat itu Mama?”
Papa jun tersenyum tipis. “Kalau Malina, Mamamu bukan cantik. Melainkan, indah, rupawan, dan sempurna.”
Mendengar nama Malina disebut membuat Salini mengingat percakapannya dengan Papa Jun tiga hari yang lalu. Tempo hari Salini meminta restu kepada Papa Jun untuk menikah. Di teras rumahnya yang hangat disiram matahari sore, Papa Jun mempertanyakan kembali niat Salini.
“Sungguh? Kamu akan menikah? Kenapa mendadak sekali?”
Salini meremas jari-jemarinya sendiri. Jika berhadapan dengan Papa Jun rasanya Salini tidak bisa berbohong. Oleh karena itu, Salini susah payah mengendalikan ekspresi sekaligus merancang kalimat yang dapat digunakan untuk menjawab Papa Jun. Berharap dengan begitu, Papa Jun tidak dapat mencium kebohongan dari tindakan serta ucapan Salini.
“Aku memang sudah harusnya menikah, Pah. Umurku sudah tiga puluh tahun ini. Tahun depan mungkin akan dibilang perawan tua kalau belum menikah juga.”
Papa Jun mengembuskan napasnya secara kasar. Pandangan pria tua itu lurus menatap jalanan di depan mereka.
“Jangan menikah kalau begitu.”
Salini melotot. Salini benar-benar tidak menduga jika jawaban Papa Jun akan sesingkat itu.
“Lho, tapi kenapa, Pah? Aku menikahnya sama Reza kok, bukan sama Aji atau cowok yang aku temui di aplikasi kencan,” timpal Salini berusaha mengubah keputusan sang ayahanda.
“Menikah karena takut dilabeli sebagai perawan tua itu konyol, Lini. Itu artinya, kamu menikah hanya demi memenuhi ekpetasi orang-orang di sekitarmu dan bukannya untuk diri kamu sendiri. Mau itu Reza, Aji, atau siapapun itu kalau alasan untuk menikah hanya karena usia maka, Papa tidak akan merestui.”
Salini naik pitam mendengar alasan Papa Jun tidak merestuinya. “Papa tau apa soal itu? Memangnya kenapa kalau aku menikah demi memenuhi ekpetasi orang-orang? Toh, Papa juga memintaku untuk mencari pengantin pria kalau menginginkan pinjaman. Sekarang, setelah ada orangnya Papa malah menolak. Kalau Mama masih hidup pasti semuanya enggak akan serumit ini. Mau bagaimana pun hati seorang ayah enggak akan bisa memahami hati anak perempuannya.”
Salini bangkit dari duduknya dan hendak meninggalkan Papa Jun jika saja pria tua tidak memanggil namanya.
“Salini … Papa meminta kamu untuk merenungi kesalahan dan sekalipun Mama masih hidup, dia pasti akan mengatakan hal yang sama.”
Salini berbalik. “Kalau begitu aku enggak membutuhkan restu dari Papa. Dengan atau kehadiran Papa pun pernikahan kami akan tetap dilaksanakan.”
Memori tiga hari lalu itu harus buyar manakala Salini menyadari jika dirinya dan Reza hanya berjarak satu langkah saja. Anehnya, hari ini Reza terlihat tampan. Anehnya, hari ini Reza tampak begitu berbeda dari ratusan tamu undangan yang hadir.
Reza di hadapannya mengulurkan tangan kanan. Dengan begitu, Papa Jun menyerahkan tangan Salini yang berada di dalam genggamannya untuk direngkuh oleh Reza.
“Aku titipkan putri padamu. Rawat dia, lindngi dia, cintai dia, dan bahagiakan dia. Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, Reza,” kata Papa sebelum akhirnya berjalan mundur dan duduk di tempat yang telah disediakan.
“I will take care of you, my beautiful bride,” bisik Reza sesaat sebelum keduanya mengucap sumpah pernikahan.
Setelah itu, Salini lebih banyak diam dan memperhatikan Reza. Di dalam balutan tuksedo hitam, Reza tampak sangat berwibawa. Figur Reza sepuluh tahun silam mendadak hilang digantikan dengan sosoknya hari ini.
Jika dulu Reza adalah cinta pertamanya, maka hari ini Reza akan menjadi suami pertama untuk Salini.
“Since the day I first saw you, I knew you are a good person. When you held my hand for the first time, I knew I can’t let you go because since that day I fell in love with you. I deeply in love you with you, Lini.” Reza menelan ludahnya sendiri. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Selain itu, Reza juga dapat merasakan telapak tangannya yang mulai lembap berkeringat karena gugup.
Reza menatap Salini dan perempuan itu mengangguk, meminta Reza untuk meneruskan sumpah yang telah ia persipakan.
“I love you for the way you make me feel when we’re together and miss you so much when we’re apart. We’ve grown so much together and because of you I can found my own life, my own dream, and my own goal. You inspire me to be a better person.”
“So, Reza Soemarwoto with those words in the support of everyone here do you take Salini Rengganis to be your wife through the hard times and the good?”
Reza tersenyum lembut sambil mengusap tangan Salini. “I, Reza Soemarworto take you Salini Rengganis to be my wife, to have and to hold from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness, and health until death do us part.”
Pun, bagi Reza, Salini adalah cinta pertamanya. Kenangan tentang Salini berisi memori indah yang ditutup oleh memori yang menyakitkan. Bagi Reza, Salini adalah gambaran dari cinta pertama yang menyakitkan juga pahit. Akan tetapi, hari ini di hadapan banyak pasang mata Reza justru menjadikan cinta pertama yang telah menyakitinya sebagai istri satu-satunya yang akan mendampingi Reza selama dua tahun ke depan.
Terkadang hidup bisa begitu tak terduga sebagaimana hari ini.
“I, Salini Rengganis take you Reza Soemarwoto to be my husband, to have and to hold from this day forward, for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness, and health untih death do us part,” sumpah Salini di hadapan ratusan tamu undangan yang hadir.
Salini ingat ketika pertama kalinya ia dan Reza berpegangan tangan. Salini juga tidak akan lupa sewaktu keduanya berciuman untuk kali pertama di masa remaja. Waktu itu ciuman mereka begitu lugu, begitu polos, dan naif.
Salini bahkan ingat bagaimana gugupnya Reza setelah bibir keduanya menjauh. Walaupun demikian, Salini tahu jika dulu keduanya saling mengasihi dan mendambakan satu sama lain. Berbeda dengan hari ini.
Kemudian, hari ini Reza menjadi orang pertama yang membuka wedding veil Salini. Pria itu juga menjadi orang pertama yang mencium Salini setelah mengucapkan sumpah pernikahan.
Salini harap Tuhan mengampuninya dan Reza karena telah menikah di atas kontrak. Salini berdoa dengan hati yang besungguh-sungguh agar Tuhan berkenan memberkati pernikahan mereka selama dua tahun ke depan.
Jauh dari tempat Salini dan Reza berdiri, terduduk Amara yang mendengar dan menyaksikan sumpah kedua pengantin baru itu. Amara tahu ada sesuatu yang tidak beres antara Reza dengan Salini. Atas pemikiran itulah, Amara menghubungi seseorang melalui pesan singkat. Sebuah pesan yang meminta agar sang penerima mengawasi Salini untuk beberapa hari ke depan.
[]