Tidak seperti kebanyakan pengantin baru pada umumnya, Reza dan Salini tak mendapatkan layanan hotel untuk bulan madu mereka. Bayangan tentang kasur yang ditaburi oleh bunga mawar serta lantai yang dihiasi oleh lilin bulat sama sekali tidak pernah muncul di benak keduanya. Pun, tidak ada seorang pun yang akan peduli terhadap kejanggalan tersebut, pada awalnya Salini berpikir demikian.
Dengan tubuh pegal, Salini kembali ke ruang pengantin untuk berganti pakaian. Bahu dan kakinya seperti akan patah karena terlalu lama berdiri menyambut tamu yang seperti tidak ada habisnya itu. Tamu-tamu yang kebanyakan Salini tidak kenal.
Pesta pernikahan tersebut berlangsung selama tiga jam, akan tetapi bagi Salini rasanya seperti tidak akan berakhir. Entah mengapa waktu berjalan begitu lambat di saat orang-orang semakin banyak berdatangan. Belum lagi kehadiran awak media yang berulang kali meminta Reza dan Salini untuk mengadakan press conference demi mengklarifikasi berita pernikahan keduanya.
“Kenapa juga orang lain harus repot mengurusi pernikahan kami. Kenal pun, enggak. Untung buat mereka juga enggak,” keluh Salini sambil menanggalkan gaun pengantinnya untuk kemudian berganti dengan strappy back midi dress berwarna baby blue.
Selesai dengan gaunnya, Salini mulai beralih melepas sanggul low updo-nya. Dibiarkannya rambut Salini yang panjang terurai begitu saja.
Menggunakan jari-jemarinya, Salini berusaha merapikan rambutnya yang kusut di bagian bawah. Sewaktu fokus melakukan hal tersebut, pintu di sampingnya diketuk.
“Siapa?” teriak Salini dengan jengkel karena kegiatannya diganggu.
“Ini aku, Reza. Boleh masuk?”
Salini berdecak. “Kenapa dulu?”
Terdapat jeda yang singkat sampai akhirnya Reza menjawab, “Ada kabar buruk.”
Seketika tubuh Salini menegang. Gerakan tangannya pun sontak terhenti begitu mendengar perkataan Reza. Cepat-cepat Salini menarik kenop pintu dan mendorong benda padat hingga tidak tersisa jarak lagi antara dirinya dengan Reza.
“Apa? Kabar buruk apa? Ada yang lebih buruk dari kontrak pernikahan kita memangnya?”
Reza meletakan jari telunjuknya tepat di bibir Salini, meminta Salini untuk tidak mengatakan apapun. Gerak-gerik Reza membuat Salini merasa curiga sekaligus was-was di waktu yang bersamaan.
“Kita bicara di dalam saja,” saran Reza sambil menurunkan tangannya dan menarik Salini agar masuk bersama ke ruang pengantin.
Di tempat itu hanya ada mereka berdua. Kemungkinan Reza memilih tempat tersebut karena kabar buruk yang ia maksud bersifat rahasia.
“Apa sekarang?” tanya Salini langsung pada intinya. Gemas sekali ia bermain petak umpet begini dengan Reza.
Sebelum menjawab, Reza terlebih dahulu merogoh saku celananya. Reza bahkan belum sempat untuk berganti pakaian. Rambutnya juga masih sangat rapi. Entah hal besar apa yang akan Reza katakan sampai laki-laki itu mengabaikan waktu untuk dirinya sendiri.
“Lihat ini,” tunjuk Reza pada layar ponselnya yang menunjukan foto Salini dan Reza di parkiran pub satu bulan yang lalu.
Layar tipis tersebut menampilkan potret Salini yang sedang berjongkok sambil menangis, sedangkan Reza berdiri dengan tatapan iba menatapnya. Foto tersebut tampak diambil dari jauh dan secara diam-diam sebab baik itu Reza dan Salini bahkan tidak menyadari jika keduanya malam itu dijadikan sebagai objek gambar oleh seseorang.
Salini melotot. Anehnya, bulu kuduk Salini meremang karena merasa ngeri. “Ini siapa yang ambil?”
“Itu kabar buruknya. Foto ini dikirim oleh kontributor anonim Kabar Harian, sebuah surat kabar nasional yang berada di bawah naungan TSG. Selama ini TSG menerima kontributor berita nasional, tetapi tidak pernah sampai menyentuh ranah gosip. Fokus Kabar Harian adalah politik, sosial, dan ekonomi. Jadi, kemungkinan ada seseorang yang dengan sengaja mengirimnya ke Kabar Harian dengan maksud membuat gempar keluarga Soemarwoto. Terlebih momentumnya kita baru menikah.”
Salini bergidik ngeri mendengar penjelasan dari Reza. “Kenapa ada orang lain yang sebegitu tertariknya dengan kehidupan pernikahan kita, Re? Pasti musuhmu ada banyak sampai-sampai mereka rela melakukan hal konyol kayak gini. Atau … jangan-jangan ini ulah mantan yang sudah kamu sakiti hatinya?”
“Well, mantanku hanya kamu,” timpal Reza sambil menarik ponselnya kembali dan meletakannya di dalam saku. “Tetapi, itu tidak penting. Saat ini yang terpenting adalah menciptakan opini di mata masyarakat tentang kita berdua. Kamu tiba-tiba muncul, mengaku sebagai tunanganku, dan tidak lama dari itu kita menikah. Sebagian besar masyarakat mungkin akan curiga dan karenanya kita harus membuat kecurigaan itu luntur.”
Alis Salini berkerut. Wajahnya menunjuk rasa tidak suka atas ide yang baru saja Reza lontarkan. “Kenapa memasuki dunia kamu begitu sulit, Re? We don’t even have space to breathe.”
“My bad. Unfortunately, kita harus bekerja sama jika tidak mau kontrak permikahan kita diketahui oleh orang lain. Terlebih di situasi sekarang. Aku janji akan mencari tahu siapa yang telah mengambil foto kita secara diam-diam, tetapi selama itu aku minta agar kamu kooperatif sebagai istriku.”
Salini tampak berpikir, menimbang ajakan Reza, dan memperhitungkan untung rugi apabila kontrak pernikahan mereka sampai terendus oleh media massa. Membayangkan dirinya yang menjadi sorotan hanya dalam waktu satu minggu saja sudah membuatnya merasa pusing. Tak terbayang jika sampai Salini menjadi buah bibir banyak orang karena hal yang tidak baik. Citranya saja sudah buruk sekarang.
“Jadi, apa rencana kamu?”
Di mata kebanyakan orang, Reza dikenal sebagai si jenius muda yang ambisius. Akan tetapi, bagi Salini, Reza Soemarwoto masihlah manusia biasa yang juga memiliki kekurangan. Salah satunya adalah terkadang ide Reza bisa begitu konyol, payah, dan menyebalkan.
“We should pretend as a real newlyweds.”
“Jangan konyol.” Salini memperingatkan Reza. “Jangan aneh-aneh.”
“Tidak aneh. Kita hanya perlu datang ke hotel tempat di mana keluarga Soemarwato biasa berbulan madu sebagai pengantin baru. Kita akan tidur di sana. Hanya tidur dan tidak melakukan apapun.”
“Kenapa harus hotel sih? Kamu sendiri punya tempat tinggal, kan?”
“Di tempat itu sejumlah awak media pasti sudah menunggu. Selain itu, hotel yang kumaksud sudah lama sekali bekerja sama sebagai mitra dengan TSG. Kemudian, seperti tradisi setiap keluarga besar Soemarwoto yang menikah akan dijadikan tamu di hotel tersebut sebagai hadiah. Di samping itu, kabar mengenai kedatangan kita pasti akan menyebar. Dengan begitu, masyarakat akan berasumsi jika kita memang menikah karena ingin.”
Salini berbalik guna memasukan barang bawaannya ke dalam duffle bag. Setengah mengomel, Salini menimpali ucapan Reza, “Sekalian saja kamu minta aku supaya hamil dan mengandung anak kamu. Kalau begitu, orang-orang bukan cuma akan berasumsi, tapi mereka seratus … no … seribu persen yakin kalau kita menikah karena ingin.”
Reza mendekati Salini dan membantu perempuan itu memunguti barang bawaannya yang tersebar di meja rias pengantin. “Itu terlalu berlebihan. Lagi pula, kita sudah menandatangi kontrak, Lini. Riskan sekali jika sampai kita mengabaikan situasi ini. Aku bisa mengarahkan seluruh orang yang aku punya untuk mencari tahu siapa yang mengambil foto kita, aku juga bisa meminta orang dalam di TSG untuk menghapus seluruh berita buruk yang masuk tentang kita. Tetapi. Aku hanya memiliki kamu yang bisa membantuku untuk menjalankan tugas sebagai istri.”
Salini masih bungkam. Malas sekali rasanya berbicara dengan Reza di situasi seperti saat ini. Tubuh Salini lelah, otaknya juga pusing memikirkan kemungkinan ini serta itu, lalu sekarang Reza meminta melakukan tugas yang digadang-gadang sebagai tugas istri.
Merasa jika percakapan mereka mulai alot, terbersit di benak Reza untuk melakukan sebuah negosiasi.
“Sebagai imbalannya, aku akan menghadiahi kamu gedung kawasan Setiabudi. Gedung yang bisa kamu gunakan sebagai tempat untuk membangun kembali karier yang sudah hancur,” tawar Reza dengan senyuman tipis di bibirnya ketika melihat Salini yang menunjukan ketertarikan.
“Hanya menginap di hotel saja? Enggak sekalian cium pipi? Dibacakan dongeng pengantar tidur?”
Benar. Hubungan antara Reza dan Salini terbentuk atas dasar kebutuhan mutualisme. Keduanya saling membuntuhkan demi memenuhi kepentingan masing-masing. Reza jelas tidak bisa meminta banyak kepada Salini selama ia tidak memberi jumlah yang setimpal kepada perempuan itu.
“Jadi bisa?”
Salini mengangguk. “Bisa, Re. Tapi, jangan lupakan janji kamu.”
Tentu saja Salini tidak bisa menolak negosiasi dari Reza terlebih lagi laki-laki itu menawarkan sebuah gedung di pusat bisnis kota. Tawaran dari Reza dapat dijadikan sebagai bantu loncatan oleh Salini untuk mengelola bisnisnya dari nol.
***
Hotel yang dimaksud oleh Reza berada di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan. Hotel setinggi lima puluh dua kamar itu tampak mengagumkan sekalipun baru dilihat dari luar dengan gaya bangunan yang kontemporer.
Dan, benar saja di luar hotel telah berdiri sejumlah awak media dengan microphone dan kamera. Salini membayangkan kehidupan Reza dan keluarga Soemarwoto yang lain. Apakah mereka pernah merasa sesak karena semua ini?
Sebelum sempat Salini bertanya, awak media tersebut sudah terlebih dahulu mengerubuni mobil Reza. Satpam yang bertugas pun kewalahan untuk menghalangi mereka.
“Oh, ya ampun. Ayo tersenyum, Re. Tersenyum,” perintah Salini sambil melepaskan sealt bealt-nya.
Sedangkan, Reza yang duduk di kursi supir harus menahan tawa karena menjumpai ekspresi kaku di wajah Salini. Perempuan itu tampak susah payah tersenyum meskipun tampak sekali jika ia tak menginginkannya.
Begitu turun dari mobil, Reza dan Salini langsung ditodong oleh microphone yang ukuran dan bentuknya beragam.
“Selamat malam, Pak Reza. Sengaja malam pertama di hotel ini ya, Pak?”
“Pak Reza dan Bu Salini akan bulan madu ke mana saja?”
“Mau punya anak berapa, Pak?”
Telinga Salini panas mendengar pertanyaan wartawan. Reza yang menyadarinya segera bergegas untuk melepaskan keduanya dari situasi tersebut.
“Kami akan menikmati masa-masa sebagai suami istri dengan bahagia. Terima kasih,” kata Reza.
Usai mengatakannya laki-laki itu menarik tangan Salini untuk berjalan cepat memasuki lobi hotel. Kerumunan awak media itu tidak bisa mengikuti mereka sampai pintu masuk.
Terlepas dari itu semua, ada hal baik yang Salini sukai. Sekalipun kunjungan mereka terkesan mendadak, namun Reza dan Salini masih mendapatkan sambutan yang baik. Keduanya diantar sampai ke depan pintu kamar, mendapatkan welcome drink, dan bagian paling menariknya adalah kamar mereka didesain sebagaimana kebanyakan kamar pengantin pada umumnya.
Di tempat itu terdapat ratusan kelopak mawar yang disebar mulai dari pintu masuk, kamar mandi, dan kasur. Beberapa sudut ruangan juga diletakkan lilin bulan yang berkelip temaram. Apabila masuk lebih dalam, terdapat sejumlah barang couple yang sudah disiapkan seperti bathrobe, sandal, handuk, dan alat mandi.
“Pihak hotel di sini sangat romantis. Pantas aja bisa bertahan selama ini,” celetuk Salini setelah menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang ditaburi oleh kelopak bunga mawar merah. “Besok staff cleaning service pasti akan sibuk membersihkan semua ini.”
“Seorang pengusaha memang harus mampu memenuhi kebutuhan konsumennya. Bertahan di tengah gempuran kompetitor itu tidak mudah, tetapi jika pengusaha tersebut bisa memberikan sembilan puluh persen yang ia miliki untuk konsumen, sedangkan sisanya untuk diri sendiri maka, peluang untuk bertahan lebih banyak.”
Salini menopang pipinya menggunakan satu tangan, berusaha menyimak Reza. “Kenapa harus sembilan puluh persen? Kenapa enggak fifty-fifty?”
“Kamu tau kenapa muncul istilah pembeli adalah raja?”
“Karena seorang penjual menggantungkan keberlangsungan hidupnya dari pembeli tersebut?”
Reza menjawab seraya melepaskan dasi yang ia kenakan. “Salah satunya itu, tetapi poin utamanya adalah karena pembeli memiliki rasa egois untuk dilayani dan diprioritaskan. Dan, pengusaha harus bisa memenuhinya apabila tidak mau gulung tikar. Bunga mawar yang berlebihan dan lilin yang sudah disiapkan adalah sembilan puluh persen yang dimaksud. Buktinya, kamu menyanjung jika pemimpin hotel ini memiliki jiwa yang romantis hanya dalam sekali penilaian. Artinya, egomu terpuaskan.”
Sadar jika dirinya sedang diejek oleh Reza, Salini sontak saja berdecak. “Kalau kamu bagaimana, Re? Apa kamu ingat motel pertama yang kita datangi waktu itu? Tempatnya enggak begitu bagus, water heater-nya juga mati, dan spreinya bau pelembut kiloan. Tapi, kamu bilang kalau tempat itu adalah tempat terbaik yang pernah kamu datangi. Apa itu artinya ego kamu juga sudah terpuaskan?”
Gerakan tangan Reza yang hendak membuka kancing ketiga teratas kemejanya harus terhenti ketika mendengar pertanyaan dari Salini.
Hanya butuh waktu beberapa detik saja sampai akhirnya wajah Reza tampak memerah.
Salini tersenyum puas menyadari jika dirinya berhasil membalikan perkataan Reza. “Do you remember our motel? In that place we had our first night.”
Bersamaan dengan itu pula, ponsel Reza bergetar halus menandakan sebuah pesan baru saja masuk.
Amara Marsha: Kamu bisa bantu aku?
Amara Marsha: Call me ASAP.
Amara Marsha: I need your helppp.
[]