Amara merasakan amarah yang berkobar di dalam dadanya. Perasaan tersebut kian menjadi manakala irisnya menangkap cara Reza memperlakukan Salini tadi. Laki-laki yang telah menjadi temannya sejak duduk di bangku dua SMA itu tampak begitu memuja Salini, begitu mencintai Salini, dan hal yang paling menyebalkan adalah keduanya terlihat sangat serasi.
Salini dan Reza seakan-akan sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk mendampingi satu sama lain. Perfect match made in heaven.
Dengan langkah lebar, Amara berjalan mendahului Wira yang menyusul di belakangnya. Lorong apartemen yang lengang membuat derap langkah kaki mereka terdengar sangat nyaring.
Setelah acara fine dining usai, acara perayaan hari jadi TSG juga ikut selesai. Hasil dari percakapan di ruang privat adalah Reza akan mengadakan upacara pernikahannya empat hari lagi. Tidak ada yang berani menolak ide tersebut terlebih lagi Wisnu juga sudah setuju.
Amara pulang tanpa menyapa Reza dan Salini.
“Sayang, tunggu!” pinta Wira usai menyamakan langkahnya dengan langkah milik Amara.
Tinggal beberapa meter lagi keduanya akan tiba di unit apartemen milik Amara. Unit yang sengaja dibeli oleh Wira itu berada di lantai paling atas. Keduanya hidup secara terpisah, Amara di apartemennya, sedangkan Wira tinggal di rumah pribadinya. Walaupun demikian, keduanya lebih sering menghabiskan waktu bersama di apartemen Amara.
Wira secara hati-hati menggenggam pergelangan tangan Amara, berharap dengan begitu Amara tidak akan membuat jarak lagi dengannya.
“Kenapa kamu marah? Apa aku berbuat salah tadi?”
Amara menghentikan langkahnya dan menatap Wira dengan sorot tajam. “Iya, kamu memang salah. Kamu salah karena membiarkan aku dipermalukan di depan keluargamu yang sombong itu!”
“Dipermalukan bagaimana, Sayang? Tidak ada yang melakukan itu kepada kamu. Jika yang kamu maksud itu Om Wisnu maka, kamu salah paham. Jadi, tolong jangan salah paham lagi hm?” bujuk Wira berusaha mencairkan suasana hati Amara.
Amara tersenyum sinis. “Kamu yang salah paham. Kamu pikir kenapa Salini tiba-tiba kembali ke Indonesia dan datang sebagai tunangan Reza? Meskipun kamu tidak pintar, tapi cobalah pakai sedikit otakmu.”
Setelah mengatakannya Amara menghempas tangan Wira untuk kemudian berjalan lebih dulu. Amara bahkan masuk ke apartemen tanpa perlu menunggu Wira dan langsung membanting pintunya sampai menghasilkan bunyi yang berisik.
Wira mengepalkan tangannya dan berjalan menyusul Amara. Di dalam apartemen, tahu-tahu Amara sudah membuka sebotol wine dan menenggaknya langsung dari mulut botol. Amara tampak kacau. Perempuan itu terlihat seperti baru saja kehilangan sesuatu yang berharga.
“Kenapa setiap kali kita bertengkar pasti nama Reza selalu keluar dari mulut kamu?” tanya Wira dengan nada suara tersinggung. “Kita sudah pacaran sepuluh tahun. Dan, setiap kali bertengkar pasti kamu akan menjadikan Reza sebagai alasan. Katamu, kita harus mementingkan perasaan Rezlah, kita harus mempertimbangkan posisi Rezalah! Kamu bahkan menolak lamaranku berkali-kali dengan alasan tidak mau melangkahi Reza sebagai sahabat. Sebetulnya, apa arti Reza untuk kamu?”
Wira adalah tipikal pacar yang penurut. Wira bahkan tidak sungkan untuk mencium kaki Amara apabila perempuan itu ingin. Wira juga menjadikan Amara sebagai pihak yang mendominasi setiap kali mereka melakukan hubungan seksual. Seluruh dunia Wira telah berotasi pada Amara.
Lalu, malam ini Amara menemukan Wira yang marah, kecewa, dan sedih.
Amara yang menyadari jika situasinya akan semakin memburuk apabila tidak segera mengalah memilih untuk meletakan botol wine-nya di atas meja pantry. Bagaimana pun Amara sampai di posisi sekarang berkat Wira. Kehilangan Wira sama artinya dengan kehilangan investor berharga.
“Wir … I was wrong. I’m sorry,” cicit Amara sambil berjalan mendekati Wira.
Akan tetapi, Wira memilih untuk melangkah menjauh menuju dinding kaca di bagian selatan apartemen. Dinding kaca itu memiliki ukuran yang sama dengan dinding beton pada setiap sisi apartemen. Di sana, Wira menjatuhkan tatapannya pada pemandangan Kota Jakarta di malam hari.
Kerlip lampu di jalanan, lanskap gedung-gedung pencakar langit, dan langit malam yang tampak kosong. Wira sengaja memilih unit apartemen di lantai tertinggi supaya Amara bisa menyaksikan pemandangan seindah ini.
“Aku ingin menikahi kamu, Ra. No matter what others says. Aku ingin hidup bersama kamu, mengwanini kamu, menjadikan kamu milikku tanpa perlu takut jika suatu saat kamu akan meninggalkanku,” gumam Wira sambil membelakangi Amara.
“Aku tau,” timpal Amara tepat di belakang Wira. Amara memeluk punggung Wira, melingkarkan tangannya di sekitar perut laki-laki itu, dan menempelkan pipinya ke bahu sang kekasih. “Aku tau semua keinginan kamu. Aku juga ingin begitu, Wir … aku juga ingin hidup bersama kamu dan mengawini kamu. Tapi, belum saatnya.”
Wira melepaskan kedua tangan Amara di perutnya dan berbalik guna memandang wajah Amara. Wira berusaha mencari kejujuran dari sepasang iris Amara yang kecokelatan.
“Kenapa belum? Cinta saja tidak cukup untuk kamu?”
Amara menggelengkan kepalanya. Secara perlahan jari-jemari Amara bergerak naik mengusap d**a bidang Wira. Gerakan tersebut berhasil menimbulkan getaran aneh di dalam jantung Wira.
“I deeply regret causing you pain to have kept you waiting so long. Kamu tau, Wir … I’m crazy about you, tapi hidupku sedang ada di puncak karier. Kalau aku harus segera menikah dengan kamu, maka aku harus melepaskan karierku sebagai model. Kamu tau sendiri gimana susah payahnya aku mendapatkan popularitas ini, kan?”
Jari-jari Amara yang lentik naik menyentuh rahang Wira. Menggunakan ibu jarinya, Amara mengusap rahang Wira. Gerakan tersebut konstan dilakukan sampai akhirnya ibu jari Amara berpindah menyentuh bibir Wira.
“Kalau aku menikah dengan kamu, aku harus melepaskan karierku sebagai model. Kamu mau ‘kan menungguku sedikit lagi?”
Wira yang luluh jelas saja langsung mengangguk. Wira dengan cepat menarik tangan Amara dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Amara. Dengan serakah Wira menghisap permukaan bibir Amara.
Amara yang sudah menduga hal tersebut akan terjadi segera menyesuaikan Wira. Amara menutup matanya dan sedikit meringis manakala Wira menarik pelan rambutnya supaya Amara mendongkak. Dengan begitu, Wira memiliki akses yang lebih luas untuk menjelajah bibir dan mulut kekasihnya sendiri.
Bosan bermain dengan lidah dan bibir Amara, tangan Wira bergerak menurunkan resleting gaun yang dikenakan oleh Amara. Pakaian indah itu berakhir teronggok begitu saja di lantai yang dingin. Begitu mendapati tubuh polos Amara, Wira langsung menciumi perpotongan leher amara sampai ke perut. Tindakan tersebut meinggalkan sensasi basah pada permukaan kulit Amara.
“Wir,” rintih Amara yang merasa mulai tidak nyaman dengan posisi mereka.
Wira yang menyadarinya segera meraih tubuh Amara ke dalam gendongannya dan menempatkan Amara di atas kasur. Amara yang tidak mengenakan sehelai kain pun tampak begitu pucat rebah di atas kasur putih.
“Can I, Ra?” tanya Wira sebelum melanjutkan kegiatannya.
Amara mengangguk, mengizinkan Wira untuk melakukan apapun yang laki-laki itu inginkan.
Wira membuka kedua kaki Amara membuatnya menekuk dan memasukan tiga jarinya ke dalam tubuh Amara. Jari Wira melesak ke dalam tubuh Amara membuat sang empunya tubuh menggelinjang.
“Oh … please, Wir … please I’m begging you,” pinta Amara setengah putus asa.
Wira yang mendengarnya langsung bergerak mengeluarkan dan memasukan jarinya secara berulang kali. Wira juga membuat gerakan memutar di dalam sana sampai jarinya merasakan cairan basah keluar dari tubuh Amara.
Amara menghempaskan kepalanya ke atas bantal dan menjerit.
“Too fast, Ra,” ingat Wira sebelum akhirnya ia menarik keluar jarinya.
Wira lalu menanggalkan seluruh pakaiannya membuat otot-otot di perutnya tampak jelas. Wira menindih Amara dan kembali menciumnya secara rakus. Kesempatan di mana Wira menjadi pihak yang mendominasi sangat jarang terjadi. Dan karena itu pula, Wira tidak ingin menyia-nyiakannya.
Begitu Wira tahu jika Amara sudah fokus pada ciuman mereka, Wira memasukan miliknya ke dalam milik Amara.
Setitik air mata turun di pelupuk Amara.
“Hah ….” Amara merintih di tengah ciuman itu manakala merasakan sesuatu yang besar dan keras bergerak di dalam tubuhnya. “It hurts, Wir … it hurts so bad.”
Wira dapat merasakan kuku-kuku Amara yang menancap di permukaan kulit punggungnya.
Wira mengubah tempo gerakannya menjadi lebih cepat. Tubuh Amara tersentak-sentak sesuai ritme yang dibuat oleh Wira.
“I love you, Amara. I love you so much and I’m going crazy for you,” kata Wira tepat di telinga Amara. “I love you.”
Amara tidak menjawabnya. Dirinya terlalu sibuk menyesuaikan gerakan Wira. Berulang kali Amara menghempaskan kepalanya ke atas bantal karena Wira tidak kunjung selesai dan keluar.
“Don’t ever leave me, Ra. Aku akan memberikan kamu apapun selama kamu mau bersamaku.”
Kedua tangan Amara meremas bantal. Napas Amara terengah-engah. “Never. I will never leave you.”
Dengan begitu Wira mencium kening Amara dan mengeluarkan cairan hangat di dalam tubuh Amara. Wira memenuhi rahim Amara dengan miliknya. Akan lebih baik jika Amara mengandung anaknya.
Amara menutup matanya begitu merasakan cairan yang memasuki bagian bawah tubuhnya. Di dalam gelap itu, Amara membayangkan Reza yang berada di atas tubuhnya.
[]