Wisnu yang tidak tahu jika dirinya sebentar lagi akan memiliki besan memasang wajah terkejut. Hal yang sama juga terjadi kepada Asmara. Kedua orang tua Reza itu bersiap untuk menyatakan protes atas pengakuan Reza yang tiba-tiba di hadapan khalayak umum jika saja tidak ingat sedang berada di mana.
Oleh karena itu, meskipun terkejut dan sedikit tidak rela karena Reza sudah memiliki tunangan yang disembunyikan, Wisnu tetap berusaha untuk mengontrol dirinya.
Dengan senyum yang dibuat-buat dan suara tegas Winsu berkata, “Iya, benar. Putra kami, Reza Soemarwoto telah bertunangan dengan perempuan yang ia cintai. Perempuan sederhana yang mampu membawa perubahan berarti ke dalam hidup Reza. Karena itu, ke depannya pun saya meminta kepada para kerabat dan kolega bisnis untuk mendukung hubungan keduanya.”
Reza tersenyum sopan kepada Wisnu, seperti sedang mengucapkan terima kasih melalui gerakan bibir tersebut. Kemudian, sama seperti tradisi yang selalu dilakukan oleh keluarga besar Soemarwoto setiap kali mendapatkan calon besan mereka akan memberikannya sambutan. Salini juga mendapatkan sambutan tersebut.
Raising a wine glass. Atau, artinya mengangkat gelas wine sebagai wujud restu dari orang-orang yang menyaksikannya.
“For joy, for happiness, for long lasting love, and endless life … raising a glass!” Wisnu mengangkat gelas wine-nya tinggi-tinggi sambil memimpin para tamu untuk melakukan hal yang sama.
Seorang pemandu acara kembali mendekati Reza dan Salini. Kali ini pemandu acara tersebut menyerahkan dua gelas wine untuk diberikan kepada Reza dan Salini.
Reza menjadi orang pertama yang mengangkat gelasnya dengan senyum bangga. “For joy, for happiness, for long lasting love, and endless life … raising a glass!”
Bak pemimpin, sontak seluruh orang di dalam ruangan itu melakukan hal yang sama dengan apa yang Reza lakukan.
“For joy, for happiness, for long lasting love, and endless life … raising a glass!”
Di tengah sorak sorai itu Reza berbisik di telinga Salini, “Welcome to the Soemarwotos, my future wife.”
Salini dapat merasakan wajahnya yang memerah hanya karena mendengar ucapan Reza. Tidak lama dari itu Salini dapat merasakan tangan Reza yang meremas pinggangnya secara pelan. Reza seperti membuat wilayah teritorial di sana.
***
Setelah acara pembukaan perayaan hari jadi TSG, seluruh anak keturunan Soemarwoto berkumpul di ruang privat di mana di tempat itu tidak ada jendela dan hanya satu pintu untuk keluar dan masuk.
“Apakah ruang privat itu seram, Re?” Salini bertanya dengan suara kecil. Sebagai calon besan tentu saja Salini ikut diundang untuk masuk ke ruang privat. Hanya mendengar namanya saja sudah membuat Salini merasa terintimidasi.
Reza memperlambat langkahnya membuat Salini otomatis melakukan hal yang serupa. Tindakan tersebut membuat Reza dan Salini menjadi orang terakhir yang berjalan di antara rombongan keluarga Soemarwoto.
“Tidak juga. Dekorasinya mirip dengan restoran pada umumnya. Hanya saja, di sana tidak disediakan jendela supaya tidak ada paparazi yang memotret diam-diam. Ruangan privat juga hanya memiliki satu pintu yang digunakan untuk keluar dan masuk. Pintu akan dikunci tepat setelah fine dining dilakukan. Tidak ada seorang pun yang bisa keluar dari ruang privat sebelum sesi makan selesai.”
Salini menelan ludahnya sendiri. “Kenapa enggak ada yang bisa keluar?”
“Karena memang itulah aturannya. Setiap keluarga Soemarwoto wajib untuk berkumpul, makan bersama sebagai formalitas, membahas masalah internal dan eksternal perusahaan selama lima puluh menit. Setelah lima puluh menit pintu dibuka.”
Salini mulai takut jika keluarga Soemarwoto, terlebih itu Wisnu dan Asmara akan melakukan sidang terhadap Salini karena telah muncul tiba-tiba sebagai tunangan Reza. Baru memikirkannya sudah membuat Salini gugup.
“Tenanglah, Lini. Aku tidak akan membiarkan kamu merasa tertinggal dan sendiri di sana. Kita akan keluar dengan selamat,” tutur Reza sambil menggenggam tangan Salini dan masuk ke pintu di mana ruang privat berada.
Begitu masuk, Salini dapat merasakan tatapan dari orang-orang di dalam sana. Sebagai pasangan yang terakhir kali masuk, Salini sudah mulai merasakan aura mengintimidasi dari keluarga Soemarwoto.
Akan tetapi sebagaimana janji Reza, ia berusaha untuk membuat Salini merasa lebih nyaman. Reza menarik kursi supaya Salini bisa duduk di sampingnya. Reza juga mengusap puncak kepala Salini guna menunjukan kepada kerabatnya yang lain bahwa ia dan Salini memang memiliki hubungan yang lebih.
“Terima kasih, Re,” ucap Salini setelah menjatuhkan tubuhnya di kursi.
Reza tersenyum. “Don’t mention it, Honey.”
Tubuh Salini merinding mendengar panggilan baru Reza yang diberikan untuknya. Salini mulai berpikir jika Reza memiliki bakat untuk berakting.
Wisnu yang duduk di ujung meja berdeham, berusaha untuk mengalihkan perhatian seluruh orang di dalam ruangan sebelum akhirnya bicara, “Jadi, Reza kamu akan menikah?”
Beberapa pelayan berpakaian rapi masuk dan menghidangkan menu pertama, yaitu hot spinach artichoke dip. Aroma keju parmesan yang dijadikan sebagai bahan utama apetizer mengisi seluruh sudut ruangan.
Reza meraih sendok dan garpunya lalu memotong hidangan di atas piring menjadi bite size. “Betul. Aku bahkan sudah menyiapkan segalanya baik itu undangan, gedung, dan menu yang harus dihidangkan. Jadi, siapkan pakaian terbaik kalian untuk datang ke pesta pernikahan kami.”
Yang paling terguncang atas berita pernikahan tersebut adalah Asmara. Perempuan yang telah melahirkan Reza tiga puluh tahun lalu itu bahkan tak kuasa untuk menahan pisaunya agar tidak jatuh. Suara benda tumpul yang menghantam badan piring menjadi latar dari perjamuan makan malam hari itu.
“Kamu yakin?” Asmara bertanya dengan nada suara yang mulai bergetar. “Pernikahan itu bukan hal yang sepele. Kenapa kamu membuat semuanya terkesan mudah? Mulai dari calon pengantin, pesta pernikahan, dan restu. Apakah kamu berpikir itu semua hanyalah mainan?”
Reza menelan makanannya dan menatap sang ibunda dengan teduh. Reza sama sekali tidak berniat untuk menjadikan ibunya sebagai musuh. Namun, Reza juga tidak mungkin membeberkan rahasia mengenai kontrak pernikahannya dengan Salini.
“Mah,” panggil Reza hati-hati. “Sejak kapan Mama berpikir kalau hidupku adalah permainan?”
Asmara menegang. Selama ini Asmara dan Reza memang seling berselisih paham. Daripada mendukung, Asmara lebih banyak menjadi pihak yang menarik dan mengusahakan agar Reza hidup sesuai dengan kehendak Asmara, persis seperti marionette.
“Sejak meninggalkan rumah dan tinggal sendiri, aku tidak pernah menganggap hidup sebagai permainan belaka. Selama ini aku bekerja keras, membangun citraku sendiri di bawah bayang-bayang nama besar Soemarwoto. Aku bahkan harus dianggap sebagai pesaing oleh keluarga besarku sendiri. Jadi, menurut Mama kapan aku pernah menganggap segala hal sepele?”
Salini yang mulai merasakan atmosfer yang tidak mengenakan di sekitarnya langsung menggenggam tangan Reza yang berada di atas meja. Salini berusaha menenangkan Reza melalui sentuhan fisik itu.
Asmara lantas memalingkan wajahnya.
Berbeda dari Asmara yang tampaknya takkan merestui hubungan Salini dan Reza, Wisnu justru sebaliknya. Pria tua itu terlihat mulai melunak.
“Bagaimana rasanya mencintai di waktu yang sangat lama?” tanya Wisnu sedetik kemudian. “Salini bilang kalian telah saling mencintai sejak lama … sangat lama. Jadi, bagaimana rasanya?”
Pertanyaan tersebut meluncur berbarengan dengan diambilnya hidangan pembuka dan diganti dengan hidangan utama. Kali ini seared scallops with brown butter and lemon pan sauce.
Reza hendak menimpali, namun Salini mengirim sinyal agar Reza bungkam. Dengan begitu, Salini yang menggantikan Reza untuk menimpali.
“Saya tidak pernah membayangkan hidup tanpa Reza, Om. Saking lamanya bersama, saya berpikir jika hari-hari yang saya lalui tidak akan berarti jika tidak ada orang yang saya cintai, yaitu Reza. Saya rasa cinta kami berdua sudah bukan cinta biasa. We grow up together, build our dream, and create our future. That’s how I feel. That’s how our love grew.”
Beruntungnya Wisnu terlihat puas atas jawaban yang keluar dari mulut Salini. Dengan santainya pria itu memotong scallops di piringnya dan mengunyah makanan laut itu secara perlahan.
“Pernikahan itu bukan sesuatu yang mengejutkan, Salini. Kamu bisa menikah dengan siapa saja, atas dasar apa saja, dan besoknya nama kalian akan ada di kartu keluarga yang sama. Tetapi, cinta itu hal yang mewah sebab tidak semua orang bisa saling mencintai sekalipun mereka telah lama hidup bersama,” ungkap Wisnu usai meletakan alat makannya.
Salini tersenyum lega. Setidaknya ia mendapatkan lampu hijau dari Wisnu. Sayangnya, kebahagiaan Salini tidak berlangsung lama karena sekitar lima kursi dari jaraknya duduk terdapat Amara yang buka suara.
“Bukannya pernikahan kalian terlalu terburu-buru? Benar kamu menikah karena cinta dan bukannya terdesak oleh skandal perselingkuhan denganku?” Amara bertanya dengan tenang. Kendati begitu, efek dari pertanyaannya luar biasa.
Orang-orang di dalam sana mulai menatap Salini dan Reza ragu.
“Maksudku, kamu terkesan seperti sedang berusaha untuk menutupi skandal perselingkuhan dengan berita pernikahan. Dengan demikian, kamu bisa membersihkan nama baik kamu sendiri,” lanjut Amara. Ekspresi wajahnya terlihat serius.
“Entahlah, Amara. Bagiku skandal konyol itu tidak pernah ada,” balas Reza tidak mau kalah. Reza bahkan tidak berusaha agar terkesan ramah di hadapan Amara. “Atau, mungkin skandal itu sangat mengganggu kamu? Sehingga kamu berpikir kalau pernikahan kami tidak lebih dari sekadar cara untuk menutup skandal palsu tersebut? Ayolah, Amara … aku tidak serendah hati itu.”
Siapa pun yang ada di ruangan itu pasti tahu jika Reza dan Amara tidak mungkin terlibat isu skandal perselingkuhan. Tidak di saat Reza memandang Amara dengan dingin, sedangkan Amara memandang Reza dengan tatapan terhina.
Amara kehabisan kata-kata bertepatan dengan datangnya menu penutup. Kali ini coconut panna cotta with blood orange granita. Salini bahkan belum mencicipi sedikit pun hidangan main course dan sekarang isi piringnya telah berganti.
“Benar,” timpal Wisnu. “Skandal perselingkuhan pasti tidak pernah ada, Amara. Berhentilah memikirkannya dan mulailah berpikir untuk terjun ke dunia bisnis seperti Wira. Sampai saat ini hanya Wira yang menduduki jabatan terendah di antara pewaris TSG. Sebagai kekasih bukannya kamu harus mendukung kenaikan pangkatnya?”
Wajah Amara memerah. Entah karena merasa malu lantaran telah dipermalukan di hadapan banyak orang atau karena marah lantaran rencana yang telah dirinya susun tidak membuahkan hasil.
[]