Apabila membicarakan mengenai keluarga Soemarwoto, maka tidak akan lepas dari istilah konglomerat. Soemarwoto sendiri merupakan kakek moyang Reza yang sekaligus seorang pendiri The Soemarwoto’s Group atau TSG. Sejak pertama kali berdiri enam puluh empat tahun silam TSG telah berhasil menjadi perusahaan telekomunikasi raksasa di Indonesia yang menaungi lima perusahaan besar, dua di antaranya adalah Kabar Harian yang memproduksi surat kabar nasional dan e-Njoy yang saat ini menjadi kompetitor Brilliant Human pada kelas aplikasi belanja daring.
Sama halnya seperti kebanyakan anak keturunan Soemarwoto yang lain, Reza juga hidup dengan dunia yang bergelimang harta. Kemudian, Salini sebaliknya.
Sewaktu pacaran di bangku SMA, Salini dan Reza seringkali diibaratkan sebagai Cinderella dan Pangeran. Berbekal sepatu kaca, Sang Cinderella mampu membuat Pangeran yang baru ia temui jatuh hati padahal keduanya berasal dari kasta yang berbeda.
Katanya, kisah cinta mereka berdua diibaratkan dongeng yang tidak mungkin menjadi nyata. Tadinya Salini juga setuju, akan tetapi malam ini dongeng tersebut justru berganti menjadi sebuah kenyataan.
Reza mengundang Salini untuk ikut merayakan hari jadi The Soemarwoto’s Group. Undangan tersebut dimaksudkan untuk memperkenalkan Salini kepada keluarga besar Soemarwoto sebagai tunangannya.
Mobil Reza memasuki lobi hotel. Sekali pun pesta perayaan ulang tahun berlangsung secara tertutup, namun awak media terlihat ramai menyebar di sekitar lobi. Tidak jauh dari sana, Reza menemukan kehadiran sejumlah satpam yang siaga berjaga. Satu awak media terlihat berupaya menerobos pintu lobi sampai akhirnya beberapa satpam bergerak menghadangnya.
“Kenapa ramai banget? Ini sih bukan perayaan ulang tahun namanya, tapi lebih mirip pembukaan acara musik,” komentar Salini sambil berdecak kagum.
Reza memutar persneling sampai pada kode P demi mengaktifkan mode parkir sebelum akhirnya menimpali, “Kebetulan paslon tahun ini datang. Selain itu, ada juga beberapa pejabat negeri. Tidak heran jika sampai banyak wartawan.”
Salini merinding membayangkan betapa banyaknya koneksi yang dimiliki oleh keluarga Soemarworo.
“Seharusnya aku pakai baju yang lebih mewah supaya dikira anak orang kaya.”
Reza melirik Salini dan tersenyum geli. “Kalau begitu orang lain mungkin akan berpikir bahwa kamu adalah pemilik pesta sementara, sisanya hanya tamu."
Cahaya lampu dari luar kaca mobil menarik perhatian Salini, ketika ia menoleh pada sumber cahaya tampak belasan kamera wartawan yang sedang memotret ke dalam mobil. Salini merasa panik.
Kepanikan tersebut dengan cepat dapat Reza rasakan.
“Re … Re, kenapa mereka memfoto kita, sih?” Salini bertanya dengan gelisah sambil menunduk, berusaha menutupi wajahnya dari jangkauan kamera wartawan. “Aduh, bikin enggak enak aja.”
Reza selanjutnya menjatuhkan tangannya di atas punggung tangan Salini. Tindakan tersebut berhasil menarik perhatian Salini dari blitz yang menyilaukan mata. Secara otomatis sepasang netra Salini tertuju kepada manik milik Reza.
“Ini adalah bagian kecil dari masalah yang akan kamu hadapi. Setelah malam ini berakhir, kamu akan lebih sering disorot oleh media. Beberapa orang yang tidak tahu malu mungkin akan mengajak kamu berbicara ketika kamu berjalan di jalan umum dan bertanya mengenai hubungan kita. Tetapi, Lini … aku akan menemani kamu melewatinya. Kamu adalah pasanganku sampai masalah kita selesai.”
Pandangan Reza yang asing untuk sesaat berganti menjadi hangat dan memabukan. Salini seperti memasuki sebuah dunia baru di mana di dalamnya terdapat Reza yang pernah begitu ia cintai.
Malam itu juga Salini menyimpan kata-kata Reza di dalam hatinya.
***
Setelah melepaskan diri dari jangkauan wartawan yang penasaran, Reza membawa Salini ke dalam ballroom tempat di mana pesta ulang tahun dilakukan. Dengan tangan yang terpaksa bertautan, Reza menggenggam lembut tangan Salini dan menghampiri keluarga intinya.
Reza dan Salini dipersilakan untuk duduk di kursi VIP, dekat dengan kue setinggi empat meter dengan miniatur Wisnu Soemarwoto di puncaknya. Sedangkan, di depan sana sudah berdiri Wisnu dan Asmara, istrinya. Pasangan suami istri itu terlihat bagai pasangan konglomerat yang berulang kali Salini lihat di televisi.
“Tahun ini kedua orang tuaku bertugas untuk menyiapkan pesta, menjamu tamu, dan membuat pesta meriah,” bisik Reza di tepat sekali di telinga Salini.
Gerakan tersebut tak terduga, Salini bahkan harus menarik mundur kepalanya menjauh dari Reza karena terkejut.
Salini berdeham, berusaha menenangkan dirinya sendiri yang mulai merasa asing berada di antara lautan konglomerat. “Apa kegiatan seperti ini adalah tradisi bagi keluarga kamu, Re?”
“Bisa dikatakan seperti itu.” Reza memandang lurus Wisnu yang sedang bersiap untuk menyambut para tamu dengan pidato singkatnya. “Selain dibuat demi mengenang perjuangan Soemarwoto, kakek buyutku dalam membangun bisnis. Perayaan hari jadi juga dimaksudkan untuk menegaskan posisi kami di pangsa pasar, menambah jaringan rekan bisnis, dan menemukan orang-orang kuat yang dapat berdiri di belakang kami.”
Salini menganggukan kepalanya tanda mengerti.
“Selamat malam semuanya. Terima kasih karena sudah hadir pada perayaan hari jadi The Soemarwoto’s Group yang keenam puluh empat,” ucap Wisnu sebagai kalimat pembuka.
Kemudian, sambil mengangkat wine glass Wisnu melanjutkan ucapannya, “Mari bersulang untuk kejayaan The Soemarwoto’s Group. TSG is the future! TSG is the revolution! TSG is victorious!”
Tidak lama setelah mengucapkan kata terakhirnya, orang-orang di sekitar Salini mulai mengangkat wine glass mereka tinggi-tinggi seraya menyorakan slogan The Soemarwoto’s Group.
“TSG is the future! TSG is the revolution! TSG is victorious!”
Di antara sorak sorai suara di dalam ballrom, pandangan Salini hanya tertuju pada sosok seorang perempuan yang duduk tidak jauh dari barisan para VIP. Pandangan mata Salini dan sosok itu bertemu pada satu garis yang lurus selama beberapa detik hingga akhirnya suara Reza memutus kontak mata yang tidak disengaja tersebut.
“Lini, ayo.”
Salini menoleh dan melirik Reza dengan sorot bingung. “Ayo ke mana?”
Reza menunjuk menggunakan dagunya ke tempat di mana Wisnu dan Asmara berdiri. “Ke depan, kita harus memperkenalkan diri.”
Salini melotot hendak protes, akan tetapi urung lantaran Reza langsung mengamit tangannya dan membawa Salini untuk berdiri tepat di samping kedua orang tua Reza.
“Reza Soemarwoto adalah salah satu pewaris The Soemarwoto’s Group yang berhasil mendirikan perusahaannya sendiri. Meskipun sedikit tidak sopan, tetapi berkat kejeniusan yang mengalir di dalam darahnya sebagai keturunan Soemarwoto, Reza mampu menjadikan perusahaannya sebagai salah satu kompetitor terbesar e-Njoy,” cerita Wisnu dengan nada yang menggebu-gebu.
Jelas sekali kalau pria tua itu begitu bangga terhadap Reza.
“Bagaimana pendapatmu, Reza?” kali ini Wisnu melemparkan sebuah pertanyaan yang membuat seluruh pasang mata menjatuhkan fokus kepada dirinya.
Seorang pemandu acara memberikan Reza satu microphone untuk kemudian mempersilakannya agar bicara.
“Tentu sebuah kehormatan karena mampu menjadi bagian dari TSG. Meskipun saya mengembangkan perusahaan sendiri, namun harapan saya untuk TSG masih sama dan satu, yaitu berharap TSG jaya sampai seribu tahun ke depan, berdampingan dengan perusahaan-perusahaan terbaik di negeri ini.”
Jawaban Reza terdengar lugas. Nada bicaranya jelas dan sama sekali tidak terdengar jika Reza gugup. Efeknya orang-orang di sekitar mulai melayangkan tatapan takjub untuk Reza.
Salini jelas tahu jika jawaban Reza adalah jawaban yang memuaskan. Hal tersebut dapat terbukti dari senyum yang mengembang di bibir Wisnu.
“Kemudian, di malam yang penuh kebahagiaan ini saya ingin memperkenalkan seseorang yang telah lama saya cintai. Seseorang yang membuat hidup saya lebih jelas dan membantu saya melewati masa sulit. Ia adalah Salini Rengganis, tunangan saya sendiri.”
Semua orang di dalam ruangan itu terkejut, termasuk Winsu seorang, sedangkan Salini yang secara mendadak menjadi sorotan mulai menunjukan gelagat tidak nyaman.
Jantung Salini yang sejak tadi berdegup riuh karena gugup sekarang berdetak lebih cepat. Telapak tangannya juga mulai lembap karena ia berkeringat dingin.
Pada situasi tersebut Reza dengan lembut memindahkan tangannya yang semula menggandeng Salini menjadi meraih pinggang Salini. Reza mengusap pinggang Salini dengan ibu jarinya, berusaha menguatkan Salini melalui sentuhan kecil tersebut.
“Silakan perkenalkan diri kamu, Sayang,” pinta Reza dengan suara baritonnya yang khas.
Salini melirik tangan Reza yang berada di pinggangnya. Sejenak Salini merasa jika dirinya dan Reza adalah pasangan yang saling mengasihi.
Salini berdeham pelan demi mengumpulkan sisa nyalinya dan menerima microphone dari Reza.
“Selamat malam semuanya, perkenalkan nama saya Salini Rengganis. Saya adalah tunangan Reza dan kami sudah … saling mencintai sejak lama … sangat lama,” kata Salini pada akhirnya.
Detik itu juga Salini dapat menemukan beragam tatapan menilai dari para tamu undangan. Akan tetapi, di antara seluruh tatapan itu Salini hanya merasa benci pada satu pandangan. Itu adalah pandangan milik Amara Marsha, sahabat yang telah mengkhianatinya sepuluh tahun yang lalu.
Dari jauh, Salini dapat menangkap bibir Amara yang naik membentuk senyum sinis. Lalu, melalui gerakan bibirnya Amara seperti berusaha mengatakan sesuatu.
“Welcome back.” Bibir Amara bergerak mengatakan hal tersebut untuk Salini.
[]