Geisya mengerjapkan matanya perlahan saat merasakan percikan air dingin di wajahnya.
Dia belum sepenuhnya bangun dari tidur, namun cahaya pagi mulai menyelinap melalui celah gorden yang sedikit terbuka di atas kepalanya.
Geisya merenggangkan tangan, matanya masih terasa berat. Dia setengah hati untuk bangun pagi ini. Rasa kantuk masih menguasainya.
Samar-samar, dia melihat sosok pria berdiri di samping ranjangnya. Pria itu memegang segelas air dan sedang membuka gorden dengan tangan satunya.
"Astaga!" Geisya terperanjat.
Ia segera bangkit dan mengembuskan napas lega setelah menyadari bahwa pria itu adalah Richie. Richie berdiri dengan santai sembari menengguk air putih di samping tempatnya tidur.
Dengan rambut yang berantakan, wajah polos, dan mata sedikit bengkak, Geisya terlihat jauh lebih "jinak" di pagi hari. Dia tampak tenang dan apa adanya, berbeda dari biasanya yang selalu terlihat tegas tak terpatahkan.
Richie sadar, aura permusuhan belum sepenuhnya bangkit di sini. Pria itu sempat terpaku sejenak. Ini adalah pemandangan langka yang tidak bisa dia lihat setiap hari.
"Sedang apa kau di kamarku?" tanya Geisya nyalang sembari menarik selimut hingga ke d**a. Ekspresinya berubah dalam hitungan detik, mode waspada telah aktif.
Richie menyunggingkan senyum tipis, menyadari Geisya yang polos telah berganti menjadi mode ganas.
"Kau berada di rumahku, jika kau lupa. Dan kau tidur di ranjangku, Geisya." sahut Richie santai sembari melirik jam tangannya. "Apa kau libur hari ini? Aku berangkat tiga puluh menit lagi. Bersiaplah dalam sepuluh menit. Kita sarapan bersama, lalu aku akan mengantarmu kembali ke kantor."
Geisya mendecih malas. Benar, dia lupa sedang menginap di rumah orang tua Richie. Dia tidur terlalu lelap hingga tidak menyadari apa pun semalam. Mungkin karena terlalu lelah, dia jadi sangat mudah beradaptasi di tempat lain.
"Ck! Lalu, kenapa kau masuk ke sini? Bukankah semalam kau bilang akan tidur di ruang kerja ayahmu? Keluarlah! Apa kau merencanakan sesuatu?" Geisya menelisik dengan wajah curiga.
Richie mengedikkan bahu. "Kita sudah menikah, Nona. Dan kau tidur di kamarku semalam. Gara-gara kau, aku harus tidur di sofa ruang kerja Ayah dan tidak bisa tidur dengan nyenyak. Jadi, bersikaplah baik dan segera bersiap. Jangan buat aku menunggu." Sahut Richie.
"Apa di luar hujan? Sepertinya atapnya bocor," tanya Geisya tiba-tiba, mencoba mengalihkan pembicaraan karena dia merasa kalah argumen. Dia teringat percikan air tadi."Kenapa di luar terang sekali? Kupikir sedang hujan."
"Entahlah. Mungkin kau bermimpi."
"Apa kau menyiramku? Dengan air liurmu?" tanya Geisya sembari mengusap wajahnya kasar dengan wajah jijik.
"Kau tertidur seperti sapi. Aku memanggilmu berkali-kali tapi kau malah mendengkur semakin keras." ucap Richie santai. Dia mengangkat gelas di tangannya. "Pelakunya ini."
"KAU!" Geisya membulatkan mata, dia mengeram kesal. Dia hampir saja melayangkan tinju jika mereka tidak sedang berada di rumah mertuanya. "Sial!" Umpatnya.
"Bergegaslah. Aku punya jadwal wawancara hari ini," Richie bicara tanpa rasa bersalah, suara datar. mengabaikan emosi Geisya yang hampir meledak.
Geisya mengembus napas panjang. Menahan luapan emosinya. Meski dia bicara dengan gigi terkatup. Wanita itu berusaha bersikap biasa.
"Jangan katakan apa pun mengenai aku!" Geisya memperingatkan dengan ketus sembari bangkit dari ranjang.
dia mengenakan kaus putih kebesaran milik Richie dengan celana pendek yang nyaris tak terlihat karena tertutup potongan baju yang kelewat besar.
Richie menatap langkah Geisya yang berjalan terburu-buru sambil menguap. Rambut berantakan, wajah lusuh, namun entah kenapa terlihat menarik. Richie tersenyum sarkas pada dirinya sendiri.
"Majalah Fox biasa mengulik hal privasi. Mereka meraup banyak uang dari kontroversi selebriti." sahut Richie sembari mengancingkan lengan kemejanya. "Kau seharusnya bersyukur aku bisa menangani mereka dengan baik."
"Ya! Katakan semua yang perlu. Jangan katakan apapun yang menjadi privasi mu! Dan abaikan setiap pertanyaan menyangkut aku! Jawab saja pertanyaan mengenai pernikahan kita dengan singat, Ingat!" Hinata mengingatkan dengan tegas di akhir kalimatnya. Sebelum akhirnya dia membanting pintu kamar mandi.
Richie tertawa sarkas.
Gadis itu sudah berani mengaturnya sekarang?
°°°
Sarapan pagi bersama Ibu dan Ayah Richie berlangsung tenang. Setelah drama percikan air tadi. Geisya bersyukur mereka menyelesaikan makan tanpa tragedi tambahan. Keduanya segera berpamitan karena jadwal yang padat.
Mobil Richie baru saja keluar dari gerbang rumah ketika Geisya tiba-tiba memaksanya berhenti di pinggir jalan. Gadis iru menurunkan kaca jendela, matanya memicing meneliti seseorang yang berdiri tidak jauh di depan mereka. Matanya membulat tak percaya.
"Tunggu aku di sini!" Geisya langsung keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.
"Hei! Kita sudah terlambat___" Richie menggantung kalimatnya saat Geisya sudah berlari menjauh. Dia mengerutkan dahi saat melihat sosok pria yang dihampiri Geisya.
Toddy?
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Geisya khawatir saat berhasil mencapai pria itu. Dia melihat ke sekeliling, memastikan tidak ada paparazzi yang membuntutinya.
Toddy tersenyum lebar, menegakkan tubuhnya yang semula bersandar pada mobil putih.
"Aku khawatir," sahut pria itu lirih. "Kau menghilang di tengah percakapan kita semalam. Ponselmu mati. Aku takut terjadi sesuatu padamu, apalagi kau menginap di rumahnya. Dia tidak menyiksamu, kan?"
Geisya memaki dirinya sendiri. Dia ingat Richie menyita ponselnya semalam dan pria itu belum mengembalikannya.
"Maaf, ponselku mati semalam dan aku lupa membawa pengisi daya. Jangan khawatir, kami tidak banyak bicara."
"Benarkah? Aku sangat cemas," ucap Toddy dengan raut khawatir di wajahnya.
"Aku baik-baik saja. Pulanglah, Toddy. Aku harus segera berangkat ke kantor."
"Aku bisa mengantarmu."Selaknya cepat.
Geisya menggeleng tidak enak hati.
"Tidak!" Geisya menolak. "Ini area rumahnya. Semuanya akan rumit jika ada yang melihat. Lain kali kita bertemu, oke!"
Tiiin! Tiiin!
Richie membunyikan klakson dengan keras.