"Aww! Kau menginjak kakiku!" Richie meringis, dia menatap Geisya nyalang. Pria itu memegangi kakinya yang berdenyut setelah Geisya menghentaknya dengan keras di bawah meja.
Sementara Geisya membalas tatapan Richie tak kalah tajam. Matanya membulat, memberi sinyal kuat agar Suami gadungannya itu tidak bicara kasar pada ibunya sendiri.
Dia segera menoleh ke arah mertuanya sambil tersenyum canggung.
"Bukan begitu, Bu. Maksud Richie, kami minta maaf karena telah mengabaikan tugas sebagai anak," Dia berusaha menyelamatkan suasana. "Tapi untuk saat ini, pekerjaan membuat kami benar-benar sibuk. Mungkin nanti kami akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan bulan madu dan... Soal anak." Kata terakhirnya terdengar serak, dia setengah hati mengucapkan kalimat itu.
Geisya tertawa getir. Kebohongan ini semakin buruk. Dia merasa bersalah. Dia menyikut lengan Richie untuk meminta dukungan. "Dia___maksud ku putra anda hanya tidak pandai mengatakan hal-hal seperti ini, Bu. Benar, kan? Haha..."
Mary tersenyum melihat Geisya yang begitu cepat membela suaminya. Gadis itu sangat pandai mencairkan suasana.
Sementara itu, Jacob mengusap bibirnya dengan serbet, menatap keduanya sejenak dalam diam.
"Apa kalian berkomunikasi dengan baik?" tanya Ayah tiba-tiba, membuat Geisya terdiam. Sang kepala keluarga akhirnya bersuara. "Putraku tidak pandai mengungkapkan isi hatinya. Dia persis sepertiku. Maafkan dia jika dia banyak menyakitimu selama ini, Menantu."
Geisya tertegun. Kalimat itu membuat hatinya terasa hangat. Sejujurnya, dialah yang banyak menyusahkan Richie. Pria itu selalu membereskan kekacauan yang dia buat.
Geisya menggeleng pelan.
"Aku justru berterima kasih banyak pada putramu, Ayah." ucap gadis itu pelan dengan binar tulus di matanya. "Dia banyak menolongku di saat aku kesulitan. Jangan khawatir, dia menjagaku dengan sangat baik."
Kejujuran itu terdengar begitu nyata, membuat Mary kembali tersenyum lebar yang mencapai kedua matanya.
°°°
Di kamar Richie, Geisya terus membuntuti pria itu dengan gugup.
Sementara Richie sedang sibuk mengambil baju ganti dari lemari.
"Tolonglah! Apa kau tidak bisa beralasan pada orang tuamu? Katakan kita harus pulang karena ada pekerjaan mendesak," pinta Geisya cemas.
"Kau boleh pulang sendiri kalau mau," Jawab Richie santai tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Aku harus membantu Ayah mengurus berkas perusahaan malam ini. Lagipula, kau tidak ingin aku menjadi anak durhaka seperti yang kau katakan di meja makan tadi, kan?"
Geisya mengumpat dalam hati. Tangannya mengepal, ingin sekali memukul punggung tegap itu.
Sialan, tidak bertanggung jawab!
"Jadilah menantu yang baik, Geisya! Ibuku layak mendapatkannya." Sambung Richie lagi, yang membuat Geisya kehabisan kata dan dia hanya menggertak giginya dengan kesal.
"Lalu, kita akan tidur di kamar yang sama?" Tanya Geisya, kali ini sambil berkacak pinggang.
"Tidurlah di kamar tamu jika kau mau." sahut pria itu datar.
"Ibumu akan mengira kita sedang bertengkar!"
"Bagus kalau kau mengerti."
"Tapi aku tidak membawa pakaian ganti dan keperluan lain!" Geisya terus mencari celah.
"Pakai bajuku saja. Soal keperluan lain? Katakan saja pada Ibu. Aku jamin dia akan mengeluarkan seluruh isi lemarinya. Atau mungkin kantong Doraemonnya. Ibuku rela melakukan apapun untuk mu. " sahut Richie asal.
Geisya menggeleng tegas. Lelucon tidak bermutu Richie benar-benar tidak membantu. Tidak sedikitpun membuatnya tenang.
"Ukuran bajumu jauh berbeda! Aku tidak terbiasa memakai pakaian orang lain." Kilah Geisya.
"Kau pernah memakai kemejaku sebelumnya. Kalau kau lupa!" timpal Richie telak, membuat Geisya terdiam.
Dia ingat kejadian saat Mary memergokinya di rumah Richie beberapa bulan lalu.
"Aku... aku kalau tidur mendengkur! Dan aku suka berjalan saat tidur." Geisya mencoba alasan terakhir yang memalukan.
Namun Richie terlihat tidak perduli.
"Aku mau mandi," Potong pria itu cepat. "Jangan hancurkan kamarku dengan kecerobohanmu, Geisya."
Pria itu melangkah masuk ke kamar mandi, meninggalkan Geisya yang hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah kesal.
°°°
Richie keluar dari kamar mandi. Dia mendapati Geisya tengah asyik dengan ponselnya di atas sofa.
Sementara Richie mengambil sebuah kaus putih polos dan menaruhnya di atas ranjang.
"Ganti pakaianmu! Dan pakai ini." ucap Richie sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Geisya tidak merespons. Dia terlalu fokus pada layar ponselnya hingga tidak menyadari kehadiran Richie di depannya.
Pria itu mendecak kesal. Dia melangkah mendekat dan merebut ponsel itu secara tiba-tiba.
"YAK!" Geisya memekik kaget. "Apa yang kau lakukan? Kembalikan ponselku!" Dia segera bangkit, berusaha meraih ponselnya dari genggaman Richie yang berdiri tegak. "Kau menyebalkan!"
Richie mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi, menjauhkannya dari jangkauan Geisya yang kini sibuk menarik-narik kaus yang dia kenakan demi mencapai ponsel tersebut.
"Apa kau tuli? Kau tidak mendengar ucapanku?" Tanya Richie kesal.
Dia tiba-tiba mencondongkan wajahnya ke arah Geisya.
Gadis itu tercekat. Wajahnya seketika memanas saat jarak mereka terkikis drastis. Richie menunduk, menatap dalam ke mata Geisya yang bergetar. Tatapan mata biru pria itu yang sedalam lautan seolah menenggelamkan kesadarannya.
Gadis itu terpaksa mundur dan terduduk kikuk di sofa tanpa mampu bersuara.
"Apa kita perlu bicara serius tentang bulan madu atau anak-anak yang manis agar kau mau mendengarkanku? Seperti kebohongan mu di depan orang tuaku tadi, hmm?" bisik Richie dengan suara berat yang terdengar mengintimidasi.
Geisya tercekat, wajahnya mendadak terasa panas dan jantungnya berdebar kencang. Debaran yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan.
Richie kemudian menegakkan punggungnya dan mengembuskan napas panjang. Dia beranjak menuju pintu.
"Tidurlah. Aku ada di ruang kerja Ayah. Panggil aku jika kau butuh sesuatu." ucap Richie.
Richie menutup pintu dan beranjak pergi. Geisya mengembus napas panjang. Dia bernapas lega. Jantungnya berdegup kencang, nyaris meledak. Dia merebahkan tubuhnya ke sofa, menatap langit-langit kamar.
Semoga semua ini cepat berlalu.