Richie membunyikan klakson dengan keras. Mobilnya kini berada tepat di belakang mobil Toddy.
Geisya terkejut, dia memegangi dadanya sembari memutar bola mata jengah.
"Astaga! Pria itu benar-benar ingin membuatku jantungan pagi ini!" gerutunya dengan gigi bergemelatuk kesal."Ada apa? Aku sedang bicara. Bersabarlah sebentar lagi."
"Masuklah!" Perintah Richie dari balik kemudi dengan wajah kesal. Dia bahkan tidak menyapa Toddy yang berada di depan Geisya."Aku tidak punya banyak waktu untuk main-main."Sambungnya lagi, tegas.
Geisya kembali memutar bola matanya.
"Sebentar, Richie! Kau tidak akan kehilangan kontrak hanya karena terlambat beberapa menit."
"Aku orang yang sangat menghargai waktu. Jangan buat ku menunggu, Nona Khiel." Sahut Richie ketus.
Toddy melipat kedua tangannya di depan d**a melihat perdebatan keduanya.
Geisya bimbang sejenak. Gurat kekesalan pada Richie tidak bisa dia sembunyikan di wajahnya. Kompleks ini sepi, dan dia cukup merasa bersalah pada Toddy karena kejadian semalam. "Maaf, Richie. Aku akan kembali ke kantor bersama Toddy. Kau bisa berangkat lebih dulu." Yolak Geisya.
"Kau masih berada di area rumahku, jika kau lupa," Ucap Richie ketus suaranya terdengar dingin.
Geisya meringis.
Benar! jika ada yang melihat apa yang terjadi pagi ini di sini. Semua akan menjadi masalah besar.
Dia menatap Toddy dengan bimbang, namun akhirnya dia memilih untuk tidak memperpanjang masalah. "Maaf, aku harus pergi bersama Richie sekarang. Tidak perlu mengantarku. Kau, berhati-hatilah dalam perjalanan."
Geisya kembali masuk ke mobil Richie, meninggalkan Toddy yang menatap keduanya dengan wajah kecewa.
Richie kembali melajukan mobil. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun selama perjalanan. Keheningan yang terasa mencekam itu seolah mencekik leher Geisya, dia tahu ada yang tidak beres dengan suasana pagi ini.
Richie melirik spion, melihat mobil putih Toddy yang terus mengikuti mobilnya. Moodnya benar-benar hancur pagi ini.
Dia menginjak pedal gas semakin dalam. Mobilnya melesat kencang, membuat Geisya terperanjat.
"Apa kau gila?!" teriak Geisya sembari berpegangan erat pada handel di atas pintu.
Wajah Richie sangat serius, matanya menatap lurus ke depan dengan tajam. Geisya ingin protes, namun dia mengurungkan niatnya. Setelah melihat raut tidak senang pada wajah suami gadungannya itu. Dia tidak ingin membuat masalah lagi. Dia hanya bisa berdoa agar mereka sampai dengan selamat.
Saat tiba di lobi kantornya, Geisya turun dengan langkah terhuyung. Kepalanya terasa pusing, dia sedikit mual dan wajahnya terlihat pucat.
Pria itu benar-benar gila! Dia mengemudi seperti kesetanan!
"Geisya!"
Suara Toddy mengalihkan pikirannya. Pria itu mengejarnya ke dalam lobi. Geisya mendesah lelah, kepalanya masih berputar, dan kini dia harus menghadapi Toddy yang keras kepala.
"Apa dia gila? Dia bisa melukaimu dengan mengemudi seperti itu! Apa kau terluka?" Tanya Toddy cemas. Sembari memeriksa wajah gadis itu yang pucat."Polisi harus menarik izin mengemudinya. Dia bisa menyebabkan kecelakaan serius dengan emosinya yang tidak stabil itu."
"Aku baik-baik saja, hanya sedikit pusing, dan... Mual!" Sahut Geisya dengan senyum tipis yang dipaksakan. "Kembalilah ke kantormu. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
"Wajahmu sangat pucat. Apa kita perlu ke dokter?" Sangkal pria itu.
"Tidak perlu. Aku hanya mabuk perjalanan. Ini akan segera hilang. Aku harus pergi sekarang," ucap Geisya tegas. Dia baru teringat ponselnya masih ada pada Richie.
Dia harus mengambilnya sebelum Richie pergi ke kantor media Fox.
Geisya mengendarai mobilnya sendiri menuju kantor media Fox. Dia tahu Richie ada di sana untuk wawancara.
Dia tidak punya banyak waktu untuk drama pagi yang yang masih belum usai ini. Dia punya banyak jadwal yang harus di kerjakan. Urusan asisten arsitek baru dan ponselnya malah tertinggal pada pria yang tadi mengemudi dengan cara setengah gila.
Setibanya di lobi kantor Fox, kehadiran Geisya sebagai aktris terkenal langsung memicu bisik-bisik orang yang berlalu lalang. Banyak yang mengira dia datang untuk memberi kejutan manis bagi sang suami.
Seorang petugas mengantarnya ke ruang wardrobe tempat Richie bersiap. Geisya segera membuka pintu ruangan itu tanpa mengetuk lebih dulu.
Cklek.
Pintu terbuka perlahan. Dia di sana, di tengah ruangan yang sempit itu. Namun, Jantung Geisya seolah berhenti berdetak saat dia melihat ada sepasang lengan wanita yang melingkar erat di pinggang Richie. Wanita itu sedang memeluk suami palsunya itu dari belakang.
Geisya tercekat, matanya membulat sempurna. Wanita itu menoleh, menatap Geisya dengan wajah sama terkejutnya.
"Maaf!" Ucap Geisya pelan, wajahnya memerah. Dia segera menutup pintu dengan perasaan campur aduk.