Richie tertawa geli melihat reaksi berlebihan Geisya. Aura dingin yang menyelimuti mereka perlahan terkikis oleh lelucon konyol itu. Namun, suasana kembali berubah drastis saat Geisya membuka mulutnya lagi.
"Maafkan aku."
Richie tertegun. Dia menatap Geisya dengan serius, menanti kalimat selanjutnya."Malam itu... saat aku pergi dari pesta. Aku benar-benar minta maaf. Sungguh," ujar Geisya tulus, matanya menunjukkan penyesalan yang nyata.
"Lalu, Apa yang kau dapat darinya malam itu?" tanya Richie dengan nada dingin.
Geisya menghela napas, menyesal telah mengungkit kejadian itu.
"Dia kacau. Aku telah menghancurkan hidupnya, tapi aku berjanji padanya bahwa semua ini akan segera berakhir jika dia mau bersabar."
Geisya menatap dalam ke mata Richie yang seolah menghanyutkan. Hening sesaat hingga gadis itu kembali membuka suaranya.
"Aku tidak ingin ada yang terluka lagi. Jadi..." Dia menjeda kalimatnya dengan tatapan memohon, "...tolong pastikan aku tidak akan terlalu menyakiti ibumu suatu saat nanti."
Geisya menunduk, dia tidak berani menatap Richie lebih lama lagi.
Rasa bersalah itu nyata, dan dia tahu Richie merasakannya juga. Richie terdiam cukup lama. Dia meletakkan gelasnya di atas meja dengan bunyi pelan yang memecah keheningan. Sudut bibirnya terangkat sedikit. Itu bukan senyum ejekan. Tersirat makna lebih dalam dari ekspresinya yang. Sulit di tebak.
"Kau terlalu percaya diri, Kiehl," sahut Richie pelan, suaranya serak dan terdengar datar. "Ibuku bukan wanita lemah yang mudah hancur hanya karena sandiwara kita. Beliau jauh lebih kuat dari yang kau bayangkan."
Geisya mendongak, matanya menyipit. "Maksudmu aku tidak perlu merasa bersalah?"
"Maksudku, jangan menganggap dirimu pusat semesta, atau apapun yang kau pikir dirimu lah penyebabnya." Richie membalas cepat, egonya kembali mencuat. "Tapi... aku menghargai kejujuranmu. Setidaknya kau sadar bahwa kau sudah membuat kekacauan besar malam itu."
Geisya mendengus, tangannya menyilang di depan d**a dengan kesal. "Aku tidak sedang mencari pengampunan darimu, Rolland. Aku hanya ingin kita tetap pada jalur. Jangan biarkan ibumu terlalu mencintaiku. Karena itu akan menyulitkan kita saat pernikahan kontrak ini berakhir."
Richie ikut melipat tangan di depan d**a, menatap Geisya dengan intensitas yang berbeda. Ada kilat tipis di matanya yang seolah ingin menembus dinding pertahanan gadis itu.
"Sudah terlambat," gumam Richie. "Ibuku sudah menyukaimu sejak pertama kali melihatmu di layar kaca. Baginya, kau adalah menantu impian yang akhirnya terwujud. Jadi, tugasmu sekarang bukan menjauhinya, tapi berpura-puralah menjadi menantu yang baik untuknya sebentar saja. Kau lupa? Pernikahan ini ada karena permintaan ibuku."
Geisya menghela napas panjang.
"Kau bicara seolah itu mudah. Berpura-pura di depan kamera itu pekerjaanku, tapi di depan seseorang yang tulus seperti ibumu... itu sangat melelahkan. Aku merasa menjadi manusia paling berdosa karena ini."
Richie tertegun sejenak. Dia tidak menyangka Geisya akan mengakui kelemahannya sejelas itu. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa ingin membalas dengan sindiran ataupun bersikap sinis.
"Kalau begitu, jangan terlalu keras pada dirimu sendiri," ucap Richie, suaranya melunak tanpa dia sadari. Namun kemudian dia segera berdeham, mencoba mengembalikan wibawanya."Maksudku, jika kau terlihat tertekan, orang-orang akan mengira aku menyiksamu. Itu akan memperburuk citraku."
Geisya tertawa kecil, sebuah tawa tipis yang tulus. "Dasar, narsis. Kau selalu memikirkan dirimu sendiri, ya!"
"Itu namanya profesionalisme," bantah Richie, meski ada kilas geli di matanya. "Minumlah air. Wajahmu pucat sekali. Aku tidak mau ibuku mengira aku menelantarkanmu dan membuat mu dehidrasi."
Geisya mendecak dengan tawa sarkas di wajahnya.
"Ck! Aku bukan bocah ingusan yang harus merengek pada orang dewasa jika haus atau kelaparan."
Richie terlihat salah tingkah.
"Bagus, jika kau mengerti."
°°°
Geisya sedang berada di kantornya sore ini ketika sebuah pesan masuk mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas di atas meja kerjanya.
Richie
Tinggalkan mobilmu di kantor. Sore ini, aku akan menjemputmu. Kita akan mengunjungi keluargaku.
Pesan itu menjadi pengingat bagi Geisya bahwa Richie tidak hanya suka memaksa. Dia juga memperlakukannya seperti bawahan yang harus menurut.
Mengunjungi keluarga Rolland adalah hal yang paling ingin Geisya hindari sepanjang hidupnya. Dia tidak ingin bertemu dengan orang tua Richie untuk saat ini. Mereka adalah alasan bagi Richie kenapa pernikahan ini terjadi.
Dia tidak ingin melakukan hal-hal yang bisa membuat pernikahan ini sulit untuk di akhiri.
Geisya menatap Richie yang sedang mengemudi di sebelahnya dengan wajah serius.
Sikap Richie yang berubah-ubah. Terkadang mulai bersahabat, lalu secara mendadak kembali ke mode permusuhan tanpa alasan. Benar-benar menganggu pikirannya.
Mereka tiba di halaman rumah keluarga Rolland. Nyonya Mary, ibu Richie sudah menunggu di halaman. Senyum wanita paruh baya itu mengembang lebar saat melihat mobil sang putra memasuki pekarangan.
"Selamat datang di rumah, anak-anakku!" Sambut Mary dengan binar mata bahagia saat Richie dan Geisya turun dari mobil.
Keempat anggota keluarga itu tengah menikmati makan malam dengan tenang. Ruang makan kediaman Rolland terasa hangat. Meski mereka termasuk keluarga pebisnis papan atas, Jacob dan Mary tetap mempertahankan nilai-nilai kesederhanaan yang estetik.
Meja makannya tidak terlalu besar, namun ditata dengan indah. Peralatan makan keramik berwarna putih gading bersanding dengan vas bunga hydrangea dan lavender di sudut ruangan, menambah kesan menenangkan. Jarak antar kursi yang berdekatan menciptakan suasana akrab yang menyenangkan.
Geisya mengagumi segala yang ada di sana. Rumah yang hangat dipadu dengan karakter penghuninya yang unik. Dia tak berhenti mengamati setiap detail yang terjadi.
Jacob Rolland, ayah Richie, bukan pria yang banyak bicara. Perawakannya tinggi dan tegas, persis seperti putranya. Geisya menyadari satu hal, Richie mewarisi sifat dingin dan acuh sang ayah. Mereka adalah tipikal pria yang sama. Berbanding terbalik dengan Mary yang hangat dan ceria.
Geisya termenung, sibuk dengan pikirannya sendiri mengenai kontras kepribadian keluarga Rolland yang jarang diketahui publik. Dia memperhatikan suami palsu dan ayah mertuanya yang makan dengan tenang secara bergantian.
Namun, saat tatapannya jatuh pada Mary, dia mendapati wanita itu sedang menatapnya dengan senyum tulus. Geisya tersentak dan menggigit bibirnya gugup.
"Kau menikmati makan malammu, Sayang?" tanya Mary lembut.
Geisya tertawa sumbang, begitu sumbang hingga Richie menghentikan kegiatan makannya. Pria itu melirik Geisya yang duduk di sebelahnya dengan gestur bertanya.
"Tentu saja, Ibu!" Sahut Geisya dengan senyum canggung. "Ini sangat enak. Semua masakannya lezat. Apa Ibu yang memasaknya?"
Pertanyaan itu terdengar seperti basa-basi membosankan di telinga Richie. Tentu saja Geisya pasti tahu ibunya jarang masuk dapur. Dia masih dalam tahap pemulihan dari penyakitnya.
Mary menggeleng pelan. "Para pelayan yang memasaknya. Mereka sangat ahli. Aku tidak pernah salah dalam menilai seseorang," sahut Mary, yang seolah-olah menyiratkan bahwa keputusannya memilih Geisya sebagai menantu juga adalah keputusan yang tepat.
"Benar! Memasak makanan selezat ini butuh usaha yang besar. Dan ini cukup sulit," sahut Geisya sembari memasukkan potongan daging ke mulutnya. Dia melanjutkan dengan suara yang tidak jelas karena mulutnya yang penuh makanan. "Aku tahu karena aku juga suka memasak! Meski kadang berakhir buruk, terasa menyenangkan bisa menciptakan sesuatu yang memuaskan perut. Iya kan, Bu?"
Mary tertawa lebar melihat kelakuan spontan Geisya. Sementara itu, Richie di sebelahnya mendecih pelan, menahan kekesalan melihat sikap serampangan gadis itu ketika makan.
"Aku tahu kalian berdua sibuk, tapi sempatkanlah mengunjungi Ibu sesekali," Ujar Mary, akhirnya dia meluapkan pertanyaan yang mengganggunya. "Dan juga, akan lebih baik jika kalian segera merencanakan program untuk memiliki anak. Lalu, bagaimana dengan bulan madu? Kapan kalian akan melakukannya?"
Richie tersedak pelan. Dia segera menatap Mary dengan wajah kesal.
"IBU!" protesnya dengan suara berat yang dalam. Bentakan itu membuat ketiga orang di sana terkejut. "Kami baru saja menikah! Tolong berhenti menggangg___"
Bruk!