Geisya bersyukur karena insiden pelariannya ke apartemen Toddy di malam pesta tidak bocor ke media. Richie benar-benar mengendalikan informasi dengan sangat ketat.
Sesuai perjanjian, Geisya sudah tinggal di rumah Richie selama sebulan. Rumah itu sangat sunyi. Selama sebulan ini pula, mereka jarang bertemu. Richie sangat sibuk dengan kariernya dan beberapa kali hadir di acara talk show kelas atas.
Sebaliknya, Geisya memilih rehat sejenak dari dunia hiburan. Dia memilih fokus pada pekerjaannya di ranah hukum dan membangun firma konstruksi yang tengah digagasnya atas dukungan Toddy.
Siang ini, Geisya sedang berada di ruang kerja untuk mempelajari berkas perkara, ponsel di atas mejanya berbunyi.
"Halo?" Sapa Geisya santai. Namun sedetik kemudian dia bangkit dari duduk. Suara dari seberang telepon membuat wajahnya pucat pasi. "Apa?! IBU?!" pekik Geisya keras.
°°°
Siang itu, Geisya menatap hamparan gedung tinggi dari rooftop kantornya. Di sebelahnya, Joana tengah menyesap Americano panas.
"Lalu, apa jawabanmu atas pertanyaannya?" tanya Joana. Sang sahabat yang bekerja bersamanya di firma hukum yang mereka dirikan.
Geisya mengembuskan napas lelah. "Aku tidak menyangka ibunya akan peduli pada hal sekecil itu. Dia ingin kami segera berangkat bulan madu." Geisya mengacak rambutnya kasar. "Seharusnya aku tidak sesibuk ini bekerja. Seharusnya aku memikirkan hal-hal semacam itu sejak awal."
Joana terkekeh. "Hampir setiap pasangan pengantin melakukannya, Geisya. Bulan madu bukan hal kecil. Apalagi kalian pasangan selebriti. Jika ingin bersandiwara, lakukan dengan total. Kalian kan aktor dan aktris papan atas. Kenapa akting kalian di kehidupan nyata buruk sekali?"
Geisya mendecih malas.
"Richie yang merancang semua ini. Harus kuakui, dia penulis skenario yang buruk. Aku tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan keluarganya. Aku tidak ingin mempersulit keputusan saat kami harus berpisah nanti."
"Padahal Richie cukup sempurna. Tampan, kaya, dan keluarganya cukup hangat. Kenapa kalian tidak mencoba menjalaninya dengan sungguh-sungguh? Kenapa harus bersandiwara?" tanya Joana santai.
"Menjijikkan! Jika kau menyukainya, kau saja yang menikah dengannya! Kau tidak tahu pria seperti apa dia. Kau bahkan tidak akan percaya apa yang telah dia lakukan agar pernikahan ini terjadi. Pria itu menyeramkan. Dia psikopat, kau tahu!" pekik Geisya nyaring.
Joana terkekeh mendengar Geisya meluapkan isi hatinya.
"Kau bahkan baru menikah sebulan. Geisya, dengar! Richie itu melindungimu, Dia menutup semua informasi mengenai kaburnya kau di malam pernikahan mu. Dia bahkan menjagamu saat kasus kekerasan itu terjadi. Dia paham apa yang harus dia lakukan agar kau tidak terjerat dalam skandal lebih dalam. Kau bisa datang ke pengadilan itu dengan kepala tegak karena dia. Jika tidak, publik mungkin akan membencimu karena kau menutupi kasus sebesar itu." jelas Joana panjang lebar. "Dan entah kenapa, sekarang aku jadi penggemar berat kalian!" Gadis itu tersenyum lebar sembari berpose dua jari.
Geisya tersenyum kecut. Namun, jauh di lubuk hatinya, dia membenarkan ucapan Joana. Richie seolah menjadi pelindung yang muncul di saat-saat kritis, meskipun sikap pria itu sangat dingin.
"Datanglah pada keluarganya. Ibunya sangat menyayangimu," ucap Joana lembut.
Geisya mendesah lelah. Sebelum dia sempat membalas, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari pria sedingin kutub itu.
Richie:
Ada yang perlu kita bicarakan. Kau lebih baik pulang ke rumah malam ini.
Geisya kembali ke rumah Richie dengan tubuh lelah. Seharian ini dia harus berkutat dengan tumpukan berkas di perusahaan konstruksinya. Belum lagi jadwal padat di kantor hukum.
Menyibukkan diri adalah cara paling ampuh untuk mengalihkan pikirannya dari permintaan Ibu Richie yang terus menghantui kepalanya.
Geisya membuka pintu utama dengan lesu. Dia harus melewati area dapur untuk mencapai kamarnya di lantai atas. Namun, langkahnya terhenti seketika. Sebuah pemandangan lanka tersaji di depan matanya.
Richie berdiri memunggunginya di balik meja pantri. Rambut pria itu setengah basah, hanya mengenakan kaus putih polos yang santai. Tidak ada atribut keartisan yang biasa melekat padanya. Pakaian desainer ternama, jam tangan mewah, atau tatanan rambut yang biasa membentuk citra publiknya yang seolah sempurna.
Geisya tidak bisa menyangkal, dalam kondisi seadanya pun, Richie tetap mempesona. Namun, ingatan tentang sikap pria itu yang dominan dan keras kepala segera melunturkan rasa kagumnya dalam sekejap. Bagi Geisya, Richie tetaplah pria yang suka memaksa dan bersikap seenaknya.
Richie berbalik dan berjalan ke meja bar saat menyadari kehadiran Geisya.
"Aku lelah. Langsung pada intinya saja," ujar Geisya tanpa basa-basi.
Ini adalah interaksi pertama mereka setelah satu bulan pernikahan kontrak ini berjalan. Sejak tragedi pelarian Geisya di malam pesta, Richie menjadi sangat dingin dan menutup segala akses komunikasi.
"Apa ibuku mengirim pesan padamu? Kurasa dia tidak hanya bertanya hal itu padaku." Ucap Richie ketus, seolah enggan mengeluarkan suara.
Geisya menarik napas panjang.
"Ya, beliau meneleponku siang tadi."
Geisya cukup terkejut, menyadari jika Nyonya Mary hanya mengirim sebuah pesan pada putranya. Sementara wanita itu sanggup meneleponnya cukup lama.
"Aku sangat bingung bagaimana harus menjelaskannya pada ibumu. Aku hanya bilang kita belum sempat membahas bulan madu karena kita berdua sama-sama sibuk. Masuk akal, kan?"
Richie mengangguk setuju. "Hal-hal seperti itu tidak terpikirkan olehku sebelumnya." gumamnya. Dia harus mengakui bahwa dia salah perhitungan kali ini.
Geisya menahan diri untuk tidak memaki. Meski sumpah serapah itu terasa mendidih di kepalanya. Dia mencoba tetap tenang dan elegan. "Lalu, apa rencanamu selanjutnya? Aku tidak ingin mengorbankan waktu kerjaku yang berharga hanya untuk bulan madu. Itu sangat buang-buang waktu."
Richie menatap Geisya dengan tajam. "Kau lupa? Kita harus menjaga persepsi publik. Mungkin kau harus mempertimbangkan perjalanan ini, meski hanya untuk dua atau tiga hari."
Geisya menegakkan punggungnya, wajah keberatannya tidak bisa disembunyikan lagi.
"Apa itu penting? Kita bisa membuat seribu alasan! Jadwal bentrok, pekerjaan menumpuk, apa saja! Bulan madu bersama Richie Dylan Rolland? Hah? Itu akan menjadi perjalanan paling membosankan dan sia-sia!" Geisya tertawa sarkas di tengah kalimatnya.
Dia menekankan kata-kata terakhirnya agar Richie tahu bahwa kali ini dia tidak akan mudah dikendalikan.
Richie mendecih malas, menyunggingkan senyum tipis yang sulit di artikan. Melihat Geisya meluap-luap justru terasa normal baginya. Akan sangat aneh jika gadis itu mendadak jadi penurut.
"Kau mungkin sedang menikmati masa rehatmu, tapi aku sedang membangun kembali citraku yang hancur karena ulahmu malam itu," Sahut Richie dengan tenang. Sangat tenang hingga terasa mengintimidasi Geisya yang sebelumnya bersikap agresif. "Pernikahan ini menjadi sorotan, dan reputasiku bergantung pada ini. Ingat, ini adalah bagian dari perjanjian yang telah kita tanda tangani bersama."
Geisya mendengus kesal, menyilangkan tangan di depan d**a. Egonya memberontak, tapi dia tahu Richie benar soal perjanjian itu.
"Tapi aku sangat sibuk belakangan ini! Pekerjaanku menumpuk dan membuatku merasa ingin mati." ujarnya pelan, kalimat terakhir untuk menghindar.
"Kita hanya perlu pergi, mengunggah beberapa foto kebersamaan, dan kau bisa kembali ke kantor mu kapan pun kau mau," Tawar Richie. Geisya menatapnya tak percaya. "Mudah, kan? Kau pikir aku senang berlama-lama bersamamu? Ini bukan perjalanan untuk bersenang-senang, Nona Kiehl. Aku pun tidak tertarik."
Geisya terdiam.
Tawaran itu masuk akal. Mereka tidak perlu benar-benar menikmati bulan madu. Mereka hanya perlu menciptakan ilusi bahwa itu terjadi.
"Bagaimana? Setuju?" tanya Richie kembali. Memastikan bahwa gadis itu telah berubah pikiran.
Geisya mengibaskan rambutnya dengan gaya angkuh yang dipaksakan.
"Ya, jika itu maumu. Aku tidak punya pilihan lain."
Richie tersenyum sumbang, menertawakan betapa cepatnya gadis liar itu menjadi jinak.
"Lalu, ke mana tujuannya? Paris? Atau Swiss? Suhu di sana sedang dingin, kita bisa beralasan pada media bahwa kita menghabiskan waktu sepanjang hari di dalam kamar yang hangat. Bagaimana?" Richie menggoda dengan nada bicara yang terdengar menyebalkan di telinga Geisya.
Gadis itu menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Kau mau mati, ya?!"