Geisya berlari tanpa memperdulikan apa pun.
Dia mengangkat gaun merahnya yang menjuntai, agar langkahnya lebih ringan mencapai parkiran. Dia harus segera sampai di sana. Dia harus menghentikan pria itu.
Toddy, Pria itu sedang dalam kondisi yang hancur. Bagaimana mungkin Geisya mengabaikannya. Toddy mengancam akan mengakhiri hidupnya jika Geisya tidak segera datang menemuinya malam ini.
Geisya mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Masih berbalut gaun merah dan wajah yang khawatir, dia berharap tidak terlambat menghentikan drama nekat pria itu.
"Apa kau gila?! Kau melarikan diri dari pesta tanpa berkata apa pun? Dimana kau! Kembali ke sini, atau aku buat reputasimu hancur." pekik Richie murka dari seberang telepon. Dia memekik nyaring, sarat akan kemarahan.
Dia terus mendecak kesal pada Geisya yang pergi begitu saja di tengah-tengah acara. Meninggalkan para tamu dalam tanda tanya besar.
Bagaimana mungkin sang pengantin wanita meninggalkan pesta yang belum berakhir tanpa sepatah kata pun. Seolah dia sedang melarikan diri dari takdir. Namun, Geisya adalah tipe gadis yang tidak akan berpikir panjang jika dihadapkan pada keselamatan seseorang.
"Hei, Richie Dylan Rolland! Pakailah hatimu sekali-kali! Kau akan tahu betapa egoisnya dirimu itu. Kau bahkan lebih peduli pada pesta memuakkan itu dibandingkan nyawa seseorang, hah?" balas Geisya tak kalah sengit.
"Apa kau bodoh?" maki Richie kesal. "Apa kau tidak lihat dia sedang membodohimu? Dia hanya mencari perhatian dan berharap bisa menghancurkan semuanya dengan aktingnya yang buruk itu!" Suara Richie semakin meninggi, urat lehernya menegang di seberang sana.
"Apa tidak ada yang bisa kau lakukan selain membuatku kesal? Kau benar-benar menyebalkan! Tidak punya perasaan! Jangan hubungi aku lagi!" pekik Geisya.
Dia menjauhkan ponsel dari telinga dan segera memutus sambungan telepon dengan kasar.
"K-KAU!!!" Richie berteriak geram ke arah ponselnya yang kini hanya menampilkan layar gelap. Gadis itu berani mematikan sambungan sebelum dia selesai bicara.
Richie meremas ponselnya dengan tangan bergetar.
Dia berhasil mengacaukan semuanya! desisnya dalam hati dengan mata nyalang.
Dia masih harus berdiri di antara para tamu dan kerabat dekat, menahan malu yang luar biasa karena ditinggal pengantinnya.
°°°
Bruk!
Geisya membuka pintu apartemen Toddy dengan kasar. Napasnya terengah karena setengah berlari. Namun dia bersyukur bisa sampai di sini secepat mungkin. Sebuah mantel tebal kini menutupi gaun merahnya. Dia mengenakan kacamata hitam besar dan syal untuk menyamarkan identitasnya dari kejaran paparazzi.
Geisya tercekat, ketika dia melihat Toddy tengah duduk lesu di lantai depan sofa ruang tengah dengan wajah kacau. Beberapa botol wine berserakan di atas meja, lengkap dengan gelas kotor di sebelahnya.
Geisya terpaku di ambang pintu, menatap pria itu dengan rasa bersalah yang mendalam. Pria itu selalu menjadi support sistemnya sejak bertahun-tahun lalu. Mereka tengah mengerjakan proyek besar bernilai ratusan juta dolar kedepannya.
"Kau masih ingat sandi apartemenku?" tanya Toddy seraya tertawa sarkas. Dia seolah tak percaya dengan kehadiran Geisya di apartemennya padahal malam ini adalah malam pernikahannya.
"Aku belum amnesia," sahut Geisya pelan seraya melangkah masuk.
Bagaimana mungkin Geisya lupa. Toddy memberitahukan segalanya, termasuk sandi apartemen ini. Geisya pernah berkunjung sekali saat pria itu jatuh sakit. Toddy selalu melakukan apa pun untuknya, dan sekarang Geisya merasa telah mengkhianatinya.
"Kau meninggalkan suamimu untuk datang ke sini?" tanya Toddy dengan senyum getir di wajahnya.
"Dia bukan suamiku!" sahut Geisya cepat.
"Tapi, seluruh dunia akan tahu bahwa dia suamimu."
"Kau pikir aku perduli? Aku bahkan tidak menganggapnya begitu!"
"Bisakah kalian berpisah?" Tanya Toddy cepat.
"Kami bahkan baru menikah beberapa jam yang lalu," sahut Geisya sarkas, menyadari betapa gilanya situasi ini.
Geisya memilih mengakhiri perdebatan dan beranjak menuju dapur. Dia tahu Toddy pasti belum makan berhari-hari dan hanya mengisi perut dengan alkohol.
"Kau tidak punya bahan makanan apa pun di sini?" teriak Geisya dari dapur.
Toddy bangkit dengan lemas dan menyusul Geisya. Tepat saat Geisya hendak menutup pintu kulkas, Toddy memeluknya dari belakang. Geisya tercekat, tubuhnya menegang. Dia menolaknya, mencoba melepaskan diri dari dekapan pria itu.
"Aku tidak bisa hidup seperti ini," bisik Toddy, sembari menghirup dalam-dalam aroma lavender dari rambut Geisya. "Kau selalu menolakku, dan sekarang kau malah menikah dengannya?"
Geisya mengembus napas lelah. Rasa takut mulai hinggap di pikirannya. Tapi dia mencoba berpikir jernih.
"Jangan lakukan hal berbahaya lagi. Entah itu untuk dirimu sendiri, aku, ataupun Richie. Kau hanya perlu menunggu hingga waktunya tiba, dan aku akan menepati janjiku. Tapi, jika kau berbuat bodoh sekarang... aku akan sangat membencimu. Dan semua akan berakhir sebelum di mulai." ucap Geisya tegas meski suaranya sedikit bergetar karena ketidakyakinannya atas ucapannya sendiri.
Toddy perlahan melepaskan pelukannya. "Apa aku bisa percaya pada kalian?"
"Ya. Kau hanya perlu menunggu dengan sabar," sahut Geisya. "Aku akan memesan makanan. Tunggulah di sini."
Geisya beranjak menuju telpon rumah. Dia tidak bisa menggunakan ponselnya sendiri karena Richie terus-menerus menerornya dengan panggilan hingga dia terpaksa mematikan daya.
Geisya merapihkan botol-botol yang berserakan. Mencuci gelas kotor dan merapihkan kekacauan yang Toddy buat. Melihat gadis itu yang bergerak lincah meski masih mengenakan gaun pengantin. Toddy hanya bisa tersenyum getir sekali lagi. Meruntuki takdirnya sendiri.
Bertahun-tahun dia bersabar. Dia sangat menunggu untuk moment itu. Berdiri di altar bersama Geisya yang tersenyum cerah. Namun, harapannya hancur begitu saja. Ketika gadis itu malah menikah dengan pria lain.
"Makanlah selagi hangat. Ini daging kesukaanmu, kan?" Geisya menyodorkan garpu berisi potongan daging dengan senyum yang dipaksakan. "Kau butuh nutrisi untuk bertahan hidup."
Toddy menurut, mengunyah makanannya dengan pelan tanpa kata-kata.
"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja," ucap Geisya lagi. "Sekarang aku harus pergi. Aku sudah melarikan diri dari pesta keluarga Rolland dan membuat masalah besar karena datang ke sini. Jadi, tolong mengerti dan jangan kecewakan aku lagi, Toddy! Jagalah dirimu baik-baik."
Toddy hanya diam sembari kembali tersenyum miris. Dia tidak tahu bagaimana harus menyikapi Geisya yang selalu bersikap seenaknya.
Gadis itu kembali mengenakan mantel, syal, dan kacamata hitamnya. Dia tahu badai besar menantinya karena tindakan tidak nekadnya malam ini.
Geisya duduk termenung di bangku di pinggir sungai. Riasan di wajah cantiknya mulai pudar tersapu angin malam yang menusuk. Dia tidak tahu harus pulang ke mana. Pesta mungkin sudah usai, semua orang sudah kembali ke rumah masing-masing, namun dia merasa tak punya tempat tujuan.
Dia merasa kepalanya hampir pecah. Rasa bersalah, tanggung jawab, dan penyesalan bercampur aduk.
Apakah dia telah mengambil keputusan yang salah dengan pernikahan kontrak ini? Ataukah dia salah karena perduli pada Toddy?
Di tempat lain, Richie termenung seorang diri di atas ranjangnya yang luas. Dia terus mencoba menghubungi ponsel Geisya, namun nihil.
Pesta telah usai. Dia termenung di atas ranjang besarnya seorang diri tanpa pengantin wanita, yang melarikan diri di malam pernikahan. Penghinaan yang luar biasa bagi seorang putra mahkota keluarga Rolland.
Memalukan sekali, bukan?