"Mpphh!!"
Suara rontaan itu tertahan. Terdengar samar di balik beton tua yang mulai berlumut.
Richie mempercepat langkahnya. Mencari sumber suara itu berasal. Pria itu tercekat, ketika dia melihat pemandangan di depannya.
Empat orang pria mengerubungi Geisya. Dua orang mencengkeram tangannya. Satu memegangi kakinya yang terus berusaha berontak. Sementara pria berambut cokelat sibuk mengoyak gaun merah yang dikenakan gadis itu.
"SEDANG APA KALIAN?!" Teriakan Richie terdengar nyaring. Membuat keempat orang itu menoleh tidak suka. Richie telah mengganggu kesenangan mereka malam ini.
"Aish, sialan!" maki pria berambut cokelat itu. Mereka melepaskan Geisya dengan kasar. "Seharusnya kau tidak perlu ikut campur, Tuan Muda!"
Sementara Geisya merangkak menjauh. Dia bersembunyi di balik tiang beton besar dengan tubuh gemetar, dia ketakutan. Sudut bibirnya memar, napasnya tersengal di antara isak tangis yang tertahan.
"Kau baik-baik saja?" Richie bertanya tanpa menoleh, matanya terkunci pada keempat preman itu. "Tenanglah, kau aman sekarang."
Bugh!
Satu pukulan mendarat di rahang Richie hingga dia tersungkur. Namun, pria itu justru bangkit dengan seringai kejam. Dia menyeka darah di sudut bibirnya, lalu melepas jas dan dasinya dengan gerakan yang mengintimidasi.
"Kalian telah mengganggu orang yang salah!" Desis Richie dengan nada menantang.
Mereka salah memilih lawan. Richie bukan sekadar aktor manja. Dia adalah pemegang sabuk hitam karate dan taekwondo. Dengan gerakan sempurna, dia melumpuhkan mereka satu per satu. Suara kesakitan dari tulang yang patah dan teriakan frustasi terdengar ketika dia menghajar berandal itu satu persatu. Hingga keempat pria itu melarikan diri dan menyerah.
Napas Richie tersengal. Bercak darah tercecer di beberapa bagian kemeja putihnya.
"Hei, Nona Kiehl," panggilnya lembut.
Namun hanya isak tangis yang terdengar.
Geisya duduk memeluk lututnya yang gemetar di balik tiang beton yang dingin. Dia menunduk karena malu dan takut. Bagian depan gaunnya mungkin sudah tidak utuh lagi.
Richie mendekat perlahan, lalu menyampirkan jasnya ke bahu kecil Geisya yang terbuka.
"Kau benar-benar sudah aman sekarang." bisiknya.
Richie duduk di sebelah Geisya, menyandarkan punggungnya di tiang yang sama. Perlahan, dalam ketakutannya, Geisya menyandarkan kepalanya di bahu Richie. Satu-satunya tempat yang terasa aman malam itu. Sebelum akhirnya dia kehilangan kesadarannya karena lelah.
°°°
"Kami akan saling menemani dalam keadaan baik atau buruk. Sebagai sepasang suami istri yang akan hidup bahagia selamanya."
Suara berat Richie seolah masih menggema di kepala Geisya. Membuatnya tersenyum sarkas seorang diri di depan wastafel. Ingatannya sempat berputar pada kejadian tiga bulan lalu. Alasan kenapa pernikahan ini terjadi.
Tragedi kekerasan itu memicu berbagai konflik dan masalah hukum bagi Richie. Pria itu terpaksa harus berhadapan dengan hukum karena insiden p*********n itu berbuntut panjang.
Geisya tidak punya pilihan selain menerima tawaran untuk sebuah pernikahan palsu bersama Richie. Dia harus membalas budi. Richie telah menolongnya. Dan dia juga harus menolong pria itu dengan pernikahan ini.
Malam ini adalah acara resepsi yang sesungguhnya. Dia mengusuk punggung tangannya dengan kasar di bawah air kran yang mengalir deras. Berharap semua yang terjadi hanya mimpi, ketika dia ingat kembali kalimat janji suci yang diucapkan Richie pagi tadi. Itu terdengar sangat menggelikan, sekaligus menjijikkan di telinganya.
Mengingat bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya, rival yang saling membenci. Janji itu terasa seperti noda darah yang mengotori tangannya sendiri. Geisya merasa menjadi wanita paling berdosa saat ini.
Dia menggeleng kuat-kuat, mencoba mengusir kenyataan pahit yang terjadi hari ini. Baru beberapa jam yang lalu, kini dia resmi menyandang status sebagai istri dan menantu keluarga Rolland. Pikiran itu cukup membuatnya depresi.
Geisya mengembuskan napas panjang, merutuki keputusannya yang mungkin salah. Dia menatap pantulan dirinya di cermin. Dia mengenakan gaun merah yang awalnya ingin dia pakai pagi tadi untuk mengacaukan suasana pernikahan yang sakral. Sialnya, gaun itu justru sangat cocok dengan tema pesta kebun malam ini yang terasa intim dan mewah.
Bukannya terlihat buruk, Geisya justru tampak sangat menawan. Dia merasa salah kostum, tapi dalam artian yang berbeda.
Geisya melirik jam di ponselnya. Sudah cukup malam. Dia melangkah keluar menuju taman resort, tempat pesta diadakan sebagai penutup rangkaian acara. Banyak rekan artis dan kolega bisnis yang hadir. Termasuk teman-teman dekatnya dan Richie.
Besok, berita pernikahan ini pasti akan meledak di semua portal berita. Mereka sengaja baru mengumumkannya setelah prosesi sakral selesai demi menghindari kerumunan wartawan.
Geisya melangkah menuju meja prasmanan. Tenggorokannya terasa kering karena sedari tadi harus terus tersenyum palsu dan menyapa tamu. Dia meraih segelas jus semangka dingin dan menenggaknya dengan cepat.
"Dari mana saja kau?"
"Astaga!" Geisya tersentak hingga nyaris menjatuhkan gelasnya.
Dia berbalik dan menatap Richie sudah berdiri tepat di belakangnya. Pria itu berbisik sangat dekat di telinganya. Meski suaranya pelan, kehadiran Richie yang tiba-tiba selalu berhasil membuat jantungnya berdegup.
"Hilangkan kebiasaan itu, Richie! Aku bisa terkena serangan jantung karena ulahmu!" protes Geisya sengit.
Richie mengabaikan protes itu. Dia justru mengambil gelas dari tangan Geisya dan meminum sisanya dengan santai.
"Ayah mencarimu. Kau harus bertemu dengan beberapa kolega bisnisnya."
Geisya mendesah lelah. "Bisa kita akhiri ini sekarang? Kurasa sudah cukup untuk hari ini. Aku sangat lelah! Dan ingin istirahat."
"Ini yang terakhir. Aku janji," sahut Richie sembari kembali menyesap jus semangka tersebut.
"Lalu kita pulang?"
"Kita mungkin harus menginap di resort untuk malam ini."
Geisya membulatkan matanya. "Kau bilang kita hanya perlu hadir untuk pesta! Bukan untuk menginap atau hal semacamnya!" protesnya lagi.
"Kau bisa tidur di sini. Aku akan pergi setelah hari mulai larut. Kau bilang kau lelah, kan? Aku tidak ingin menyiksamu lagi. Sudah seharian kita berpura-pura, kepalaku juga sakit," ujar Richie sembari memijat pelipisnya.
Geisya baru saja hendak membalas, namun ponsel di tangan Richie berbunyi. Dan pria itu sudah melangkah pergi sambil mengangkat panggilan telepon itu dengan wajah serius.
Geisya kembali mendesah. Dia melihat beberapa temannya sedang duduk di satu meja yang sama, lalu pandangannya beralih pada Tuan Rolland yang sedang berbincang dengan koleganya. Geisya baru saja akan melangkah menuju mereka ketika suara riuh terdengar dari atas panggung kecil di tengah taman.
Brian Dominic, sang dokter yang memiliki kepercayaan diri setinggi langit. Sudah berdiri di sana dengan mikrofon di tangan. Dia memang tipe pria yang sangat senang menjadi pusat perhatian.
"Halo semua! Brian, si dokter tampan di sini. Aku hanya ingin menyampaikan isi hati banyak pria di luar sana. Umm... apakah mereka benar-benar sudah menikah?" goda Brian dengan seringai khasnya.
Dia menunjuk ke arah Richie dan Geisya bergantian, yang langsung disambut tepuk tangan riuh dari para tamu. Richie, yang masih sibuk dengan teleponnya di kejauhan, hanya melirik sekilas dengan tatapan tajam, sementara Geisya terjebak di tengah perhatian semua orang.
"Aku hanya ingin kau tahu, Geisya! Akan banyak hati yang patah! Kau menikah begitu saja tanpa peringatan!" sambung Brian dengan wajah yang seolah sedih.
Sementara Geisya menutupi wajah dengan sebelah tangannya karena malu. Dia tersenyum kikuk, kelakuan Brian memang selalu di luar nalar. Namun, para tamu sepertinya sangat terhibur. Suasana menjadi sangat cair dan berisik oleh tawa.
"Ayolah, Geisya! Katakan bahwa ini tidak benar! Aku akan patah hati!" Brian mulai melantur, efek sampanye mulai bekerja padanya.
Geisya membalas dengan mengibaskan tangan, memberi gestur bercanda. Dia sedang tertawa sumbang ketika tiba-tiba ponsel di tangannya bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk.
Geisya segera menggunakan kesempatan itu untuk menghindar. Dia berlagak seolah ada urusan darurat. Dengan sopan, gadis itu membungkuk pelan pada para tamu sebagai isyarat meminta maaf karena harus meninggalkan kerumunan.
Suara bising yang dibuat Brian membuat Geisya kesulitan mendengar suara di seberang telepon. Dia terus berjalan menjauh hingga mencapai area yang lebih sepi di dekat bangunan utama resort.
Dari kejauhan, Richie memperhatikan gerak-gerik gadis itu. Alisnya bertaut saat melihat langkah Geisya yang semakin cepat, hingga akhirnya gadis itu nyaris berlari. Raut wajah Geisya berubah drastis. Dia terlihat kalut dan sangat khawatir.
Richie menegakkan punggungnya, matanya terus mengikuti punggung Geisya sampai gadis itu menghilang di balik pintu utama.
Richie mengerutkan dahinya semakin dalam.
Pengantin wanita melarikan diri pada malam pernikahannya?