Di atas meja, tergeletak dua lembar kertas yang berisi poin-poin kesepakatan. Geisya mendorong dokumen itu ke arah Richie dengan wajah datar.
"Baca. Jika ada yang keberatan, katakan sekarang," ucap Geisya singkat. Suaranya tegas, seolah dia sedang mendiktekan kontrak bisnis yang sarat akan perhitungan.
Richie meraih kertas itu. Matanya membaca setiap baris dengan cepat. Wajahnya dingin dan tak tersentuh. Dia tidak bertanya mengenai apapun. Termaksud larangan mencampuri urusan pribadi masing-masing. Baginya, ini hanyalah solusi di atas kertas dari sebuah masalah besar.
"Aku setuju," sahut Richie singkat. Memecah keheningan di antara keduanya beberapa menit lalu. Dia meraih bolpoin, menggoreskan tanda tangan yang tegas, lalu menggeser kembali kertas itu ke hadapan Geisya. "Tapi ada satu tambahan." Sambungnya lagi.
Geisya mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"
"Selama kontrak ini berjalan, rumah ini adalah duniamu. Kau bebas pergi ke mana pun, tapi kau harus tetap pulang ke sini setiap malam jika tidak ingin media mencium keanehan dari pernikahan palsu ini."
Geisya menatap mata biru Richie yang tampak sedingin es.
"Baik, itu cukup adil."
Tanpa kata-kata tambahan, Geisya ikut menorehkan tanda tangannya.
Mereka tidak berjabat tangan. Setelah dokumen itu disimpan, Richie bangkit berdiri tanpa menoleh lagi.
"Pelayan akan datang hanya jika kupanggil. Kamarmu di lantai dua, ujung lorong kiri. Jangan masuk ke ruang kerjaku tanpa izin, atau melakukan hal-hal yang menganggu ketenangan ku. Itu batas privasi yang tidak bisa di bantah, Geisya!" ucap Richie datar sebelum melangkah pergi.
Geisya merebahkan punggungnya yang semula tegang ke punggung kursi. Melipat kedua tangannya di depan d**a sembari mendecih tidak suka.
'Dia sangat sombong! Sikapnya perlu di tatar!'
Berita mengenai pernikahan mendadak antara dua bintang besar, Richie Dylan Rolland dan Geisya Laura Kiehl, akhirnya mengguncang publik.
Kabar tersebut dengan cepat menjadi headline di berbagai portal berita dan media sosial di seluruh dunia.
Meski terkejut, para penggemar menyambut hangat berita bahagia tersebut. Berbagai potongan klip kebersamaan mereka sebelum menikah kini beredar luas. Walaupun dikenal sebagai rival yang jarang terlihat akur, beberapa foto lama saat mereka berada dalam satu frame kini dianggap sangat menggemaskan oleh netizen sebagai bentuk Love hate relationship yang nyata.
Sebelumnya, mereka memang sempat dirumorkan berkencan saat dipertemukan dalam sebuah reality show. Kini, rasa penasaran publik terjawab. Media berpesta merayakan momen ini. Richie dan Geisya dikabarkan telah melangsungkan pernikahan secara tertutup dan sangat eksklusif beberapa hari lalu.
Kontras dengan sambutan dunia yang meriah. Malam itu, ruang tamu di kediaman pribadi Richie terasa lebih dingin dari biasanya. Atmosfer yang diciptakan oleh dua orang yang duduk berseberangan di meja marmer tersebut cukup mencekam.
'Aku tidak akan bisa tidur malam ini!'
Geisya mendecak dalam hati dengan gigi bergemelatuk kesal. Seharusnya, dia tidak terlihat dalam permainan konyol seperti ini. Namun, dia tidak punya pilihan lain. Dia berhutang nyawa pada Richie.
Tiga bulan yang lalu,
"Aku menyukaimu seperti aku menyukai senjata, Rei!" Bisikan seduktif dengan suara parau yang terasa hangat itu menyapu telinga gadis cantik dengan pakaian tempurnya. Meski wajahnya terlihat kacau oleh debu dan darah di pelipis. Dia terlihat menikmati sentuhan pria tampan di depannya yang juga berpenampilan tidak jauh berbeda."Jangan pernah menghindar lagi."
Deru napas pria itu menyapu tengkuk sang gadis dengan hawa panas yang menggoda. Sementara sang gadis hanya memejamkan mata dengan napas memburu. Menikmati setiap godaan dari sang pria.
"Kau sangat cantik seperti HK416 A8, cerdas, kuat, dan presisi."Bisik pria itu lagi penuh damba, kini dia menyentuh hidung gadis itu dengan hidungnya yang mancung.
Sang gadis menarik napas panjang yang terasa tercekat di tenggorokan. Tanda bahwa pertahannya mulai runtuh. Dia menarik tengkuk sang pria dengan kasar. Menyesap bibirnya yang terasa manis meski sudut bibirnya berdarah.
Ciuman itu bukan lagi ciuman sepihak. Di bawah cahaya bulan purnama yang terang. Di tengah padang rumput di keheningan malam. Misi telah usai dengan cemerlang, dan keduanya terlibat cinta dalam perang.
Sayangnya itu hanya ada dalam adegan film.
Layar perak di tengah aula itu menampilkan adegan manis tersebut sebagai penutup film action-romance yang baru saja usai diputar.
Semua tamu yang hadir memberi apresiasi dengan tepukan tangan yang meriah. Namun, di balik panggung pesta eksklusif ini, suasana yang sebenernya justru terungkap. Hubungan di antara kedua bintang utama yang sedingin es.
"Bagaimana mungkin Anda melakukannya, Richie?" tanya seorang reporter dengan antusias. "Maksud saya, Anda dan Geisya Laura Kiehl? Semua orang tahu kalian bahkan tidak saling menyapa setelah skandal besar tahun lalu. Dan lihatlah sekarang? Chemistry kalian di film ini sangat nyata! Apa rahasianya? Apa Anda dibayar dua kali lipat untuk mau beradu akting dengannya?"
Richie Dylan Rolland menyilangkan tangan di depan d**a.
Setelan jas hitamnya yang menawan tampak kontras dengan tatapan matanya yang dingin dan tak bersahabat.
"Rahasianya?" Richie tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah mencapai kedua mata birunya yang tajam. "Sederhana. Aku hanya melakukan pekerjaanku. Membangun chemistry dengan seseorang yang tidak bicara denganmu selama syuting itu sangat sulit. Tapi, bukan tidak mungkin bagi aktor profesional sepertiku."
"Jadi benar kalian tidak bicara sama sekali di lokasi syuting?" Reporter itu mendecak kecewa. Ponselnya hampir menempel ke hidung Richie karena gemas.
"Bagian terbaik dari film ini adalah hasilnya laku di pasaran. Aku cukup puas dengan itu. Selebihnya? Bukan sesuatu yang menyenangkan untuk diingat." jawab Richie tegas.
Dia mengakhiri sesi wawancara dengan aura dingin yang membuat sang reporter menggelengkan kepala.
Richie bukan pria berhati lembut. Sebagai aktor papan atas sekaligus pewaris tunggal perusahaan besar di Kanada, dia tidak butuh bersikap manis pada siapapun. Terutama pada gadis yang menurutnya sangat naif dan penuh kepalsuan seperti Geisya.
Di sisi lain aula, "Gadis Kesayangan Bangsa" itu baru saja muncul. Geisya Laura Kiehl tampak memukau dengan gaun merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna. Bukan tanpa alasan julukan itu tersemat padanya. Geisya lulusan Hukum Universitas Harvard yang juga aktif sebagai duta UNICEF. Dia juga banyak terlibat dalam kegiatan sosial. Semua itu membuat publik memujanya seperti seorang 'Dewi' yang sempurna.
Gadis itu tersenyum manis ke arah kamera. Meski dia tengah gelisah. Dia selalu bisa menjaga imagenya dimanapun dia berada.
Bruk!
"Aish!" Geisya memekik pelan. Saat tubuhnya menabrak punggung kokoh seseorang ketika dia mencoba menghindari kerumunan wartawan.
Dia hampir terjatuh jika tidak segera menyeimbangkan diri. Saat pria itu berbalik, Geisya mendecak tidak suka. Dia Richie, musuh abadinya.
"Jalan pakai mata, Geisya. Perhatikan langkahmu, bukan reputasimu." desis Richie rendah, yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua.
Geisya merapikan gaunnya dengan cepat. Wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal.
"Maaf! Aku sedang buru-buru!"
Tanpa menunggu balasan Richie, dia kembali berlari kecil menuju pintu keluar. Geisya harus segera pulang. Ada dokumen penting yang tertinggal di rumahnya, dan dia tidak punya waktu untuk berdebat dengan pria arogan itu.
Tiga puluh menit kemudian, Richie melajukan mobilnya membelah jalanan sepi di pinggiran Deep Cove, North Vancouver. Dia harus segera pulang setelah menerima kabar dari asistennya.
Richie mengerutkan dahinya, ketika dia melihat sebuah mobil merah yang sangat dia kenali terparkir di bahu jalan yang gelap.
Itu mobil Geisya. Mobil itu selaras dengan warna gaunnya yang mencolok dan norak malam ini.
Pria itu berpikir untuk mengabaikan apa yang dia lihat.
"Bukan urusanku," gumamnya. Namun, firasatnya memburuk saat melihat mobil itu terparkir di area yang sepi tanpa penerangan. Lampu di jalanan itu mungkin mati.
Dia menginjak rem, lalu memundurkan mobilnya. Richie turun dan memeriksa. Ban mobil itu bocor. Namun mesinnya masih terasa hangat.
"Geisya? Hei! Ini tidak lucu!" Richie mengetuk kaca jendela yang gelap. Kosong, tidak ada siapa-siapa di dalam."Gadis bodoh ini... ke mana dia?" gerutunya cemas.
Berjalan sendirian di tengah malam di area terbengkalai seperti ini adalah tindakan yang tidak masuk akal.
Langkah Richie terhenti saat sepatunya menginjak sesuatu yang keras di atas aspal. Dia menunduk, dan meraih sebuah ponsel dengan layar yang masih menyala tergeletak di sana. Wallpapernya menampilkan wajah ceria Geisya.
Jantung Richie berdegup kencang. Matanya beralih ke sebuah gang sempit di sisi jalan yang menuju ke arah bangunan tua tak terawat.
Sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi.
Dan tanpa pikir panjang, Richie berlari menuju kegelapan gang itu.