Pukul sebelas malam. Apartemen Winda, Tebet.
Hujan masih turun deras di luar, membasahi kaca jendela apartemen lantai tujuh. Winda duduk di tepi tempat tidur, ponselnya tergenggam erat di tangan. Layarnya masih menyala redup, menampilkan foto yang baru saja diterimanya via pesan anonim—foto Rehan dan Sarah Wijaya lima tahun lalu, dalam pose yang terlalu intim untuk sekadar "mantan tunangan bisnis".
Ketukan pintu terdengar. Bukan ketukan sopan tamu, tapi ketukan tegas seseorang yang tidak akan pergi sebelum pintunya dibuka.
Winda menelan ludah. Kakinya gemetar saat ia berjalan menuju pintu. Ia tahu siapa yang ada di balik sana. Hanya satu orang yang berani datang ke apartemennya di tengah malam tanpa pemberitahuan.
Ia membuka pintu.
Rehan Al-Farisi berdiri tegak di ambang pintu. Jas hitamnya masih rapi meski malam sudah larut dan hujan mengguyur Jakarta. Wajahnya serius, namun di balik tatapan tajamnya, Winda menangkap sesuatu yang jarang ia lihat sebelumnya: kekhawatiran yang tulus, dan amarah yang ia tahan sekuat tenaga. Bukan amarah padanya. Tapi amarah pada situasi yang memaksa mereka berada di titik ini.
“Masuk,” perintahnya singkat, lalu melangkah masuk tanpa menunggu undangan. Ia menutup pintu dan memutar kunci hingga terkunci rapat—suara klik logam itu terdengar final di keheningan apartemen—sebelum kembali menatap Winda dengan sorot mata yang tajam namun tidak lagi mengancam. Tatapan itu berkata: Aku di sini. Dan aku tidak akan pergi sampai kau mengerti.
“Kita perlu bicara, Winda. Tentang masa laluku. Dan tentang siapa sebenarnya yang berusaha memisahkan kita.”
Winda mundur selangkah, punggungnya bersandar pada kepala tempat tidur. Tangannya masih gemetar, dan bayangan foto di layar ponselnya masih terngiang jelas di benaknya. “Masa lalu?” ulangnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar. “Foto itu... apakah itu benar, Pak Rehan? Apakah Anda dan Nyonya Sarah...”
“Bukan ‘Nyonya Sarah’,” potong Rehan tegas, suaranya rendah namun penuh penekanan. Ia melangkah mendekat, jarak di antara mereka menipis hingga Winda bisa mencium aroma oud dan hujan yang melekat pada pakaiannya. “Dan foto itu hanyalah potongan puzzle yang sengaja disusun untuk membuatmu ragu. Untuk membuatmu berpikir bahwa perasaanku padamu hanyalah permainan.”
Ia berhenti tepat di hadapan Winda, menunduk sedikit agar matanya sejajar dengan mata Winda. Tatapannya gelap, penuh emosi yang tertahan.
“Sarah Wijaya bukan mantan tunanganku, Winda. Dia adalah kandidat pernikahan kontrak yang dipilihkan ibuku lima tahun lalu. Pernikahan yang aku tolak mentah-mentah karena aku tidak akan pernah mengikat hidupku dengan seseorang hanya demi aliansi bisnis.”
Winda menahan napas. Kata-kata itu menghantamnya seperti petir. Pernikahan kontrak. Sama seperti yang sedang ia jalani sekarang Atau... apakah ini ?
“Lalu kenapa...” gumam Winda, suaranya bergetar. “Kenapa dia begitu obsesif? Kenapa dia datang ke kantor hari ini? Kenapa dia mengirim foto itu?”
“Karena dia tidak menerima penolakan,” jawab Rehan, suaranya kini terdengar lelah. Ia mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuh wajah Winda, tapi menghentikan gerakannya di udara—seolah takut sentuhannya akan membuatnya lari. “Dia pikir jika dia bisa membuktikan bahwa aku pernah ‘hampir’ menikah dengannya, kau akan percaya bahwa perasaanku padamu tidak spesial. Bahwa kau hanyalah pengganti.”
Ia menurunkan tangannya, mengepalkannya di sisi tubuh. Gestur frustrasi yang jarang terlihat dari pria sekontrol dirinya.
“Tapi kau bukan pengganti, Winda. Kau tidak pernah menjadi pengganti.”
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan penuh makna. Winda menatap lurus ke dalam mata Rehan. Di sana, ia tidak melihat CEO yang dingin dan kalkulatif. Ia melihat seorang pria yang sedang berjuang melawan demon masa lalunya sendiri, seorang pria yang takut kehilangan sesuatu yang baru saja ia temukan.
“Lalu apa aku?” tanya Winda, suaranya hampir berupa bisikan. Pertanyaan yang paling ia takuti untuk diucapkan.
Rehan menarik napas panjang. Matanya tidak lepas dari wajah Winda, seolah ingin mengukir jawaban itu langsung ke dalam jiwanya.
“Kau adalah alasan aku mulai mempertanyakan semua aturan yang selama ini aku pegang teguh,” jawabnya pelan, setiap kata dipilih dengan hati-hati. “Kau adalah wanita yang membuatku merasa... tidak sendirian dalam perang ini. Dan ya, kau adalah wanita yang aku inginkan. Bukan sebagai aset. Bukan sebagai penerjemah. Tapi sebagai... Winda.”
Ia akhirnya memberanikan diri, jarinya menyentuh pipi Winda dengan lembut. Sentuhan itu hangat, kontras dengan dinginnya hujan di luar.
“Foto itu dikirim oleh orang yang tidak ingin melihatku bahagia. Orang yang thinks that love is a weakness to be exploited. Tapi mereka salah. Cinta bukanlah kelemahan. Itu adalah kekuatan yang membuatku ingin melindungi apa yang berharga bagiku—termasuk kau.”
Winda merasakan air mata menggenang di matanya. Bukan air mata sedih. Tapi air mata lega. Semua keraguan, semua ketakutan bahwa dia hanyalah bidak dalam permainan Rehan, perlahan luruh oleh kejujuran di mata pria itu.
“Jadi... ini bukan permainan?” tanyanya lagi, memastikan.
“Ini bukan permainan,” konfirmasi Rehan tegas. “Ini adalah kenyataan. Dan kenyataannya adalah... aku tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk masa laluku sendiri—merusak apa yang sedang kita bangun.”
Ia menarik Winda lebih dekat, hingga dahi mereka bersentuhan. Napas mereka bercampur dalam keheningan apartemen yang hanya diisi suara hujan.
“Percayalah padaku, Winda. Seperti aku mempercayaimu untuk berdiri di sisiku di ruang rapat tadi. Percayalah bahwa apa yang kurasakan ini... nyata.”
Winda memejamkan matanya. Aroma Rehan, panas tubuhnya, dan kejujuran dalam suaranya membungkusnya sepenuhnya. Untuk pertama kalinya sejak menerima foto itu, hatinya terasa tenang.
“Aku percaya,” bisiknya. Dan itu adalah kebenaran.
Rehan tersenyum tipis—senyum lega yang mencapai matanya. Ia mencium kening Winda, kali ini dengan kelembutan yang berbeda. Bukan ciuman kepemilikan. Tapi ciuman janji. Janji bahwa dia akan berjuang, bukan hanya untuk bisnisnya, tapi untuk wanita di hadapannya.
“Bagus,” gumamnya. “Karena kita masih punya banyak pertempuran yang harus dimenangkan. Dan aku tidak ingin melakukannya tanpamu.”
Mereka berdiri demikian beberapa saat, dalam keheningan yang nyaman. Hujan di luar terus turun, tapi di dalam apartemen ini, badai telah reda. Digantikan oleh kepastian yang baru saja mereka temukan bersama.
Dan untuk pertama kalinya, Winda menyadari bahwa mungkin... hanya mungkin... cinta dalam dunia Rehan Al-Farisi bukanlah jebakan. Tapi hadiah yang paling berharga.