Pukul 20.45 malam. Apartemen Winda, Ruang Tamu Kecil.
Suasana hening mencekam. Rehan berdiri di tengah ruangan sempit itu, jas hitamnya kontras tajam dengan dinding apartemen Winda yang berwarna krem pudar. Winda duduk di sofa kecil, tangan memeluk lutut, matanya menatap lantai. Ponselnya masih tergenggam erat, layar menampilkan foto Layla yang tersenyum manis di pelukan Rehan lima tahun lalu.
“Jelaskan,” kata Winda pelan, suaranya bergetar tapi stabil. “Siapa wanita di foto itu? Dan apa maksud ‘menghancurkan hidup’?”
Rehan menghela napas panjang. Dia tidak langsung menjawab. Dia berjalan perlahan mendekati Winda, lalu duduk di meja kopi di depannya—bukan di sofa, tapi di posisi yang lebih rendah, sehingga mata mereka sejajar. Gestur kecil yang menunjukkan bahwa dia tidak ingin mendominasi percakapan ini.
“Wanita itu bernama Layla,” mulai Rehan, suaranya rendah dan berat, seolah setiap kata ditarik dari dasar luka lama. “Dia adalah tunangan saya lima tahun lalu. Hubungan kami diatur oleh keluarga. Politik bisnis. Tidak ada cinta.”
Winda menoleh, alisnya bertaut. “Lalu kenapa email itu bilang Anda menghancurkan hidupnya?”
“Karena Layla mencoba memanipulasi saya,” jawab Rehan tajam. Matanya menyipit, mengingat kenangan pahit itu. “Dia menjual rahasia dagang Artha Global kepada kompetitor. Ketika ketahuan, dia tidak meminta maaf. Dia justru menyalahkan saya, mengklaim bahwa saya yang memaksanya melakukan itu demi ‘cinta’. Keluarga saya—terutama ibu saya—percaya padanya. Saya diusir dari rumah, dihina di depan publik, dan reputasi saya hancur lebur.”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah seolah mengakui kegagalan masa lalunya.
“Saya tidak menghancurkan hidupnya, Winda. Saya hanya menolak menjadi korban. Saya membangun kembali Artha Global dari nol. Dan Layla? Dia menikah dengan pria lain yang lebih kaya, tapi hidupnya kosong. Foto itu... itu diambil saat perpisahan terakhir kami. Dia memeluk saya bukan karena cinta, tapi karena putus asa. Karena dia tahu saya sudah bebas darinya, dan dia tidak bisa mengontrol saya lagi.”
Winda terdiam. Penjelasannya masuk akal. Tapi tetap saja, ada rasa waswas. “Lalu, siapa yang mengirim email itu?”
Rehan tersenyum tipis, senyum yang dingin dan penuh perhitungan. “Saya punya dugaan kuat. Sarah Wijaya. Atau mungkin Adrian. Mereka ingin membuat Anda ragu. Mereka ingin Anda lari dari saya. Karena jika Anda lari, mereka menang. Mereka membuktikan bahwa Rehan Al-Farisi memang monster yang tidak bisa dicintai.”
Ia berdiri, lalu mengulurkan tangannya pada Winda. Bukan untuk menarik, tapi menawarkan.
“Percayai saya, Winda. Bukan karena saya memintanya. Tapi karena Anda tahu di hati kecil Anda, saya tidak pernah menyakiti Anda. Sebaliknya, saya melindungi Anda. Dari Sarah. Dari Adrian. Dan sekarang, dari keraguan Anda sendiri.”
Winda menatap tangan Rehan. Tangan besar, kuat, dan penuh kekuasaan. Tangan yang tadi siang menyentuh pinggangnya dengan posesif di ruang fitting. Tangan yang kini menawarkan kebenaran.
Perlahan, Winda mengulurkan tangannya. Jari-jarinya bersentuhan dengan jari Rehan. Hangat. Aman.
Rehan menggenggam tangan Winda, menariknya agar Winda berdiri. Tapi kali ini, sentuhannya lembut—bukan menarik, tapi menopang.
“Besok pagi, penjahit akan datang,” kata Rehan, suaranya kembali lembut, tapi ada ketegangan di baliknya. “Tidurlah. Jangan biarkan keraguan mencuri istirahat Anda. Besok, Anda akan menjadi wanita paling cantik di Gala Malam. Dan saya akan memastikan tidak ada satu pun mata jahil yang berani menyentuh Anda.”
Rehan melepaskan tangan Winda, lalu berjalan ke pintu. Sebelum keluar, dia menoleh sekali lagi. Tatapannya gelap, penuh emosi yang tertahan.
“Dan Winda... kunci pintu Anda. Tapi jangan khawatir. Saya akan selalu ada di luar sana. Mengawasi.”
Pintu tertutup. Winda berdiri sendirian di tengah ruangan, jantungnya berdegup tenang untuk pertama kalinya sejak menerima email itu. Dia percaya pada Rehan. Atau setidaknya, dia ingin percaya.
Pukul 09.00 pagi hari berikutnya. Apartemen Winda, Ruang Tidur.
Seorang wanita paruh baya dengan meteran kain di leher dan buku sketsa di tangan berdiri di tengah kamar Winda. Namanya Ibu Ratna, penjahit pribadi langganan keluarga Al-Farisi. Wajahnya ramah, tapi matanya tajam—mata seseorang yang sudah puluhan tahun mengukur tubuh wanita-wanita penting di lingkaran Rehan.
“Nona Winda, silakan berdiri tegak,” instruksi Ibu Ratna ramah, tapi nadanya profesional.
Winda mengenakan pakaian dalam sederhana dan kaos longgar. Dia merasa canggung. Apalagi ketika pintu kamar terbuka, dan Rehan masuk tanpa mengetuk.
Rehan tidak berkata apa-apa. Dia masuk dengan santai, duduk di kursi pojok ruangan, menyilangkan kaki, dan menatap Winda dengan tatapan tak berkedip. Tatapan itu bukan tatapan bos. Itu tatapan pria yang sedang memorisasi setiap inci wanita yang dicintainya.
“Tuan Rehan...” gumam Winda, wajahnya memerah. “Apakah Anda perlu... menyaksikan ini?”
“Saya perlu memastikan ukurannya pas,” jawab Rehan datar. “Gaun itu harus seperti kulit kedua bagi Anda. Tidak boleh terlalu longgar, tidak boleh terlalu ketat. Harus sempurna. Seperti Anda.”
Ibu Ratna tersenyum paham, lalu mulai mengukur lingkar d**a Winda. Meteran kain menyentuh kulit Winda dengan lembut. Winda menahan napas, mencoba tidak memperhatikan tatapan Rehan yang seolah bisa menembus pakaiannya.
“Lingkar d**a 86 cm,” catat Ibu Ratna.
Rehan mengangguk pelan. Matanya mengikuti gerakan tangan Ibu Ratna. Setiap kali meteran itu bergerak, otot rahang Rehan menegang sedikit. Posesif. Cemburu bahkan pada sentuhan profesional seorang penjahit wanita.
Selanjutnya, lingkar pinggang.
Ibu Ratna melingkarkan meteran di pinggang ramping Winda. “Pinggang 60 cm. Sangat indah, Nona.”
Rehan berdiri tiba-tiba. Dia berjalan mendekati Winda. Ibu Ratna mundur selangkah, memberi ruang—dia sudah terbiasa dengan ritual ini.
Rehan berdiri di belakang Winda. Tangannya menyentuh pinggang Winda, tepat di atas meteran kain. Sentuhannya panas, berat, dan mengklaim. Tapi kali ini, Winda tidak gemetar. Dia merasakan kehangatan itu, dan untuk pertama kalinya, dia tidak merasa terancam. Dia merasa... diinginkan.
“Cantik,” bisik Rehan di telinga Winda. Suaranya serak. “Pinggang ini... hanya tangan saya yang boleh memeluknya. Ingat itu.”
Winda menutup mata, merasakan getaran suara Rehan di seluruh tubuhnya. Rasa malu bercampur dengan gairah yang aneh. Di hadapan orang lain, Rehan tetap menjaga jarak profesional. Tapi di sini, dalam privasi kamarnya, Rehan tidak menyembunyikan kepemilikannya. Dan Winda... Winda mulai menerimanya.
“Ibu Ratna,” panggil Rehan tiba-tiba, tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Winda. “Tambahkan belahan di paha kiri setinggi 15 cm dari pangkal paha. Dan pastikan bahannya jatuh dengan elegan saat dia berjalan. Saya ingin kakinya terlihat, tapi hanya saat dia bergerak. Saat diam, gaun itu harus menutupi segala sesuatu yang menjadi hak milik saya.”
Ibu Ratna mencatat dengan cepat, wajahnya datar. “Siap, Tuan.”
Pengukuran berlanjut. Lingkar pinggul, panjang kaki, lebar bahu. Setiap ukuran dicatat dengan teliti. Dan setiap kali, Rehan hadir, mengawasi, dan kadang-kadang menyentuh Winda dengan alasan “memeriksa pas-nya”. Tapi sentuhannya kali ini berbeda—lebih lembut, lebih hormat. Seolah dia sedang belajar cara mencintai tanpa menghancurkan.
Akhirnya, setelah satu jam, pengukuran selesai.
“Gaun akan siap lusa sore, Tuan,” kata Ibu Ratna sambil membereskan alat-alatnya. “Warna hitam pekat, bahan sutra Italia, dengan detail renda halus di bagian dada.”
“Bagus,” kata Rehan. “Kirim langsung ke kantor saya. Saya yang akan membawanya ke Winda.”
Ibu Ratna mengangguk, lalu pamit pergi. Pintu kamar tertutup, meninggalkan Winda dan Rehan sendirian.
Ruangan kembali hening. Hanya ada Winda dan Rehan. Winda masih berdiri di tempat, mengenakan pakaian minimnya. Tapi kali ini, dia tidak merasa telanjang di bawah tatapan Rehan. Dia merasa... dilihat. Benar-benar dilihat.
“Apakah Anda puas, Pak?” tanya Winda pelan. Pertanyaan yang dulu penuh ketakutan, kini penuh kepercayaan.
Rehan tidak menjawab. Dia berjalan mendekati Winda, lalu mengangkat dagu Winda dengan satu jari. Tatapannya gelap, penuh emosi yang tertahan.
“Saya tidak pernah puas, Winda,” bisik Rehan. “Saya hanya semakin lapar. Semakin ingin memiliki Anda sepenuhnya. Gaun itu nanti... itu bukan sekadar pakaian. Itu adalah pembungkus untuk hadiah terindah yang akan saya perlihatkan pada dunia.”
Dia membungkuk, mencium kening Winda dengan lembut. Ciuman yang bukan lagi tanda kepemilikan, tapi tanda janji.
“Bersiaplah. Gala Malam tinggal dua hari lagi. Dan setelah malam itu... tidak ada jalan kembali bagi kita berdua.”
Rehan berbalik dan berjalan keluar kamar, meninggalkan Winda yang lunglai, jantungnya berdegup kencang, dan pikirannya yang dipenuhi bayangan gaun hitam dan janji Rehan yang berbahaya.
Winda menyentuh keningnya, tempat bibir Rehan tadi mendarat. Dia tersenyum tipis, meski hatinya masih diliputi rasa waswas. Tapi kali ini, waswas itu bukan karena takut. Tapi karena dia tahu... dia siap. Siap untuk tidak ada jalan kembali.