Pukul 10.05 pagi. Ruang Rapat Utama, Lantai 45.
Sarah Wijaya duduk di ujung meja panjang, kakinya disilangkan dengan anggun. Gaun merah menyala yang dikenakannya kontras tajam dengan suasana ruangan yang dingin dan steril. Di sebelahnya, Rehan Al-Farisi duduk tegak, wajahnya datar seperti patung es yang tak tergoyahkan.
Winda berdiri di samping Rehan, memegang tablet dan pena. Bros mawar hitam di dadanya terasa berat, tapi juga memberi rasa aneh... seperti perisai yang melindunginya dari serangan yang tak terlihat.
“Jadi, Pak Rehan,” mulai Sarah dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya. “Saya dengar Artha Global sedang mengembangkan proyek energi terbarukan di Timur Tengah. Keluarga saya memiliki koneksi kuat di sana. Mungkin kita bisa berkolaborasi?”
Rehan tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada dokumen di depannya, seolah Sarah hanyalah gangguan kecil dalam alur kerjanya. “Koneksi keluarga Anda tidak relevan dengan kriteria teknis kami, Nyonya Sarah. Kami memilih mitra berdasarkan kompetensi, bukan nepotisme.”
Sarah tertawa kecil, tapi matanya menyipit, menyimpan amarah yang ditahan. “Oh, Rehan... kamu selalu begitu kaku. Dulu, kamu tidak seketat ini padaku.”
Dia sengaja menekankan kata ‘dulu’ dan melirik sekilas ke arah Winda. Tatapannya penuh ejekan terselubung. “Lihat, dia masih milikku. Kamu hanya pengganti sementara.”
Winda merasakan darah naik ke kepalanya, panas menjalar di pipinya. Tapi dia ingat aturan Rehan: Jangan terpancing. Tetap profesional. Emosi adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki saat ini.
Dia mengambil napas dalam, menstabilkan detak jantungnya, lalu berbicara dengan suara tenang namun jelas, memotong ketegangan di ruangan.
“Nyonya Sarah, jika Anda mengacu pada kolaborasi teknis, saya telah menyiapkan data perbandingan antara tiga vendor potensial dari Dubai dan Qatar. Data ini menunjukkan bahwa vendor pilihan Tuan Rehan memiliki efisiensi 15% lebih tinggi daripada vendor yang direkomendasikan oleh Wijaya Group. Jadi, berkolaborasi dengan Grup Wijaya justru akan menurunkan efisiensi proyek sebesar 15%.”
Sarah menoleh tajam ke Winda. Matanya membelalak, senyum palsunya retak seketika. “Siapa yang meminta pendapatmu, Asisten?”
Winda menatap balik, tatapannya dingin dan tak tergoyahkan, sama tenangnya seperti danau yang Rehan puji. “Saya tidak memberikan pendapat, Nyonya. Saya menyajikan fakta atas permintaan implisit Tuan Rehan untuk evaluasi objektif. Jika Anda merasa tersinggung, itu karena fakta tersebut tidak menguntungkan posisi negosiasi Anda.”
Ruangan hening seketika. Hanya terdengar dengungan AC dan detak jantung Winda yang ia paksa tetap tenang.
Rehan akhirnya menoleh. Ada kilatan kepuasan yang sangat halus di matanya—hampir tak terlihat, tapi Winda bisa merasakannya. Sudut bibirnya sedikit terangkat. Sangat halus. Hampir tak terlihat. Tapi bagi Winda, itu adalah kemenangan.
Sarah mendesis pelan. Wajahnya memerah karena marah dan malu. Dia tidak menyangka asisten ‘biasa’ ini akan melawan balik dengan data dan logika, bukan dengan air mata atau ketakutan.
“Cukup,” potong Rehan tiba-tiba. Suaranya rendah, tapi otoritatif, memenuhi seluruh ruangan. “Rapat selesai. Winda, antar Nyonya Sarah ke lift. Pastikan dia meninggalkan gedung dengan aman.”
Sarah berdiri dengan kasar. Kursinya berdecit keras, suara yang mengungkapkan frustrasinya. “Rehan, kamu sungguh...”
“Sudah, Sarah,” potong Rehan lagi, kali ini dengan nada peringatan yang membuat udara di ruangan terasa berat. “Jangan uji kesabaran saya. Dan ingat... Winda adalah perwakilan saya. Menghinanya berarti menghina Artha Global. Apakah Anda siap menghadapi konsekuensi hukumnya?”
Sarah menatap Rehan, lalu menatap Winda dengan kebencian murni. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat, hak sepatunya mengetuk lantai marmer dengan frustrasi.
Winda mengikuti dari belakang, jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Dia baru saja bertahan melawan wanita paling berbahaya di Jakarta. Dan Rehan... Rehan membela dia. Secara terbuka. Menggunakan otoritas bisnisnya sebagai tameng.
Pukul 10.30 pagi. Lorong menuju Lift Eksekutif.
Winda berjalan di samping Sarah. Suasana tegang, dipenuhi aroma parfum mahal yang saling bersaing.
“Kamu pikir kamu menang?” bisik Sarah tiba-tiba, tanpa menoleh, suaranya bergetar karena amarah yang ditahan. “Rehan hanya main-main denganmu. Dia bosan. Begitu dia dapat apa yang dia mau, dia akan membuangmu seperti sampah. Seperti dia hampir melakukannya padaku lima tahun lalu.”
Winda berhenti berjalan. Dia menatap punggung Sarah yang kaku.
“Nyonya Sarah, saya tidak bermain permainan siapa yang ‘dimenangkan’. Saya melakukan pekerjaan saya. Jika Tuan Rehan merasa puas dengan kinerja saya, itu adalah hak prerogatifnya. Bukan urusan Anda.”
Sarah berbalik, matanya menyala. “Kamu berani...”
“Lift sudah datang,” potong Winda sopan, menunjuk pintu lift yang terbuka. Suaranya tetap datar, tidak terpengaruh provokasi. “Silakan.”
Sarah menatap Winda sekali lagi, penuh ancaman. Lalu dia masuk ke lift. Pintu tertutup rapat, menelan sosok wanita itu beserta segala racunnya.
Winda menghembuskan napas panjang. Kakinya lemas. Tapi ada rasa bangga yang aneh di dadanya. Dia berhasil.
Tiba-tiba, tangan besar mencengkeram lengannya dari belakang. Sentuhannya kuat, familiar, dan membuat seluruh indranya langsung waspada.
Winda menoleh. Rehan berdiri di sana, wajahnya dekat sekali. Terlalu dekat untuk ruang publik. Aroma oud dan kayu cendananya langsung membungkus Winda, menggantikan sisa-sisa aroma parfum Sarah.
“Kamu hebat,” bisik Rehan, suaranya serak. Matanya gelap, menatap Winda dengan intensitas yang membuat lutut Winda lemas. Bukan pujian bos kepada bawahan. Tapi pengakuan pria kepada wanita yang baru saja membuktikan nilainya.
“T-Tuan Rehan...” gumam Winda, mencoba mundur. Tapi Rehan tidak melepaskannya. Tangannya masih mencengkeram lengan Winda, jempolnya secara tidak sadar mengusap kain blazer di sana.
“Dia mencoba menjebakmu,” kata Rehan, suaranya rendah dan berbahaya, matanya masih terkunci pada wajah Winda. “Dia ingin kamu marah. Ingin kamu kehilangan kontrol. Tapi kamu tetap tenang. Kamu menggunakan logika. Itu...”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah seolah mencari kata yang tepat.
“...sangat seksi.”
Winda menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. “S-Seksi, Pak?”
Rehan tersenyum tipis. Senyum yang jarang sekali terlihat, senyum yang hanya muncul ketika dia benar-benar terkesan. “Ya. Sangat. Sekarang, ikut saya.”
Dia menarik lengan Winda, bukan ke arah kantor, tapi ke arah tangga darurat.
“Ke mana, Pak?” tanya Winda panik, suaranya berbisik.
“Tempat di mana kita bisa bicara tanpa telinga-telinga yang tidak diinginkan,” jawab Rehan singkat, matanya tidak lepas dari wajah Winda. “Dan di mana saya bisa memberi Anda... hadiah atas keberanian Anda.”
Jantung Winda berdegup kencang. Hadiah? Apa lagi yang bisa diberikan Rehan selain brooch mahal?
Mereka turun beberapa anak tangga, lalu Rehan mendorong Winda masuk ke ruang kecil di antara lantai 44 dan 45. Ruang penyimpanan alat kebersihan yang sempit, gelap, dan sunyi. Bau sabun dan pembersih lantai bercampur dengan aroma maskulin Rehan, menciptakan sensasi yang membingungkan dan memabukkan.
Pintu tertutup. Kunci diputar. Suara klik logam itu terdengar seperti vonis final.
Kegelapan menyelubungi mereka. Hanya ada suara napas mereka berdua yang saling mengejar.
“Rehan...” bisik Winda, suaranya gemetar. Nama itu terlepas tanpa izin, melanggar batasan profesional yang baru saja ia pertahankan mati-matian.
Rehan tidak menjawab. Dia mendekat. Tangannya menyentuh pipi Winda dengan lembut, lalu lehernya, dan akhirnya berhenti di bros mawar hitam. Jari-jarinya mengusap permukaan bros itu, seolah memastikan tanda kepemilikannya masih ada di sana.
“Bros ini,” bisik Rehan, bibirnya hampir menyentuh telinga Winda, napasnya hangat dan memabukkan. “Bukan sekadar aksesori. Ini adalah tanda. Tanda bahwa Anda dilindungi. Tanda bahwa Anda dimiliki. Dan hari ini... Anda membuktikan bahwa Anda layak memilikinya.”
Dia menarik Winda lebih dekat. Tubuh mereka bersentuhan. Panas tubuh Rehan menjalar ke seluruh tubuh Winda, melelehkan sisa-sisa ketegangan dari rapat tadi.
“Apakah Anda takut?” tanya Rehan, suaranya parau, matanya mencari jawaban di kedalaman mata Winda meski dalam kegelapan.
Winda menggeleng, meski jujur, dia takut. Tapi bukan takut pada Rehan. Takut pada perasaan sendiri yang mulai goyah, takut pada betapa mudahnya ia luluh oleh sentuhan dan kata-katanya.
“Bagus,” gumam Rehan. “Karena saya tidak akan berhenti sampai Anda sepenuhnya menerima kenyataan itu. Anda milik saya, Winda Lestari. Dalam pekerjaan. Dalam hidup. Dan mungkin... dalam hati.”
Sebelum Winda bisa menjawab, Rehan menciumnya.
Bukan ciuman lembut di kening seperti malam itu. Ini ciuman yang dalam, posesif, dan penuh gairah. Ciuman yang mengklaim. Ciuman yang mengatakan: Tidak ada jalan kembali. Ciuman yang menghapus semua batas yang baru saja mereka bangun dengan susah payah.
Winda memejamkan mata, tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja Rehan, menariknya lebih dekat. Dunianya berputar. Logikanya hilang. Yang tersisa hanya sensasi panas, aroma maskulin Rehan, dan rasa kepemilikan yang mutlak. Ia menyerah, bukan karena kalah, tapi karena memilih untuk merasa.
Ketika Rehan akhirnya melepaskan ciumannya, napas mereka berdua tersengal-sengal. Dahinya menempel pada dahi Winda, matanya masih terpejam sejenak seolah menikmati sisa-sisa sensasi itu.
“Ingat ini,” bisik Rehan, suaranya masih serak. “Setiap kali Anda ragu, setiap kali Anda takut... ingat ciuman ini. Ingat bahwa saya tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milik saya.”
Dia membuka kunci pintu, lalu melangkah keluar, meninggalkan Winda yang masih terpaku di tempat, jantungnya berdegup kencang, bibirnya masih terasa panas dan bengkak dari sentuhan Rehan.
Winda menyentuh bibirnya. Matanya berkaca-kaca. Bukan karena sedih. Tapi karena bingung.
Apa yang baru saja terjadi? Apakah ini bagian dari pekerjaan? Atau... apakah ini awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya?
Di luar ruangan, dering telepon Rehan berbunyi. Winda mendengar suaranya dari kejauhan, dingin dan profesional seperti biasa, seolah ciuman tadi tidak pernah terjadi.
“Winda. Masuk ke kantor saya. Kita ada rapat dengan klien dari Jepang dalam 10 menit. Rapikan diri Anda. Dan jangan lupa... senyum. Anda baru saja memenangkan pertempuran pertama.”
Winda menatap pantulan dirinya di kaca kecil di dinding lorong. Pipinya merona. Bibirnya bengkak sedikit. Bros mawar hitam di dadanya berkilau dalam cahaya redup.
Dia tersenyum tipis. Pertempuran pertama memang dimenangkan. Tapi perang cinta dengan Rehan Al-Farisi? Baru saja dimulai.
Dan Winda tidak yakin apakah dia siap untuk kalah.