Pukul delapan lewat tiga puluh pagi, di lantai 45 Gedung Artha Global.
Winda duduk di mejanya, menatap layar komputer dengan pandangan kosong. Jantungnya masih berdebar kencang mengingat kejadian malam sebelumnya—ciuman lembut di kening, bisikan dalam bahasa Arab, dan janji yang terucap parau. Juga bros mawar hitam yang kini terpasang rapi di d**a blazernya.
Bros itu terasa berat. Bukan karena emas dan berliannya, tapi karena makna di baliknya. Ini bukan sekadar aksesori. Ini adalah tanda kepemilikan. Bukti bahwa Winda Lestari, si penerjemah biasa, kini berada di bawah perlindungan—dan kendali—Rehan Al-Farisi.
“Winda!”
Suara tajam memotong lamunannya. Winda menoleh. Dina, asisten pribadi Rehan, berdiri di sana dengan wajah cemas. Matanya melirik ke arah bros di d**a Winda dengan tatapan campuran iri dan waspada.
“Ada apa, Dina?” tanya Winda tenang, tangannya secara refleks merapikan kerah blazer.
“Tuan Rehan meminta Anda masuk ke ruang rapat utama dalam lima menit,” bisik Dina. “Dan… ada tamu istimewa hari ini. Nyonya Sarah Wijaya.”
Nama itu membuat darah Winda seolah membeku sejenak. Sarah Wijaya—mantan tunangan Rehan, CEO Grup Wijaya, wanita yang hampir menikah dengannya sebelum hubungan mereka kandas secara misterius lima tahun lalu. Rumor mengatakan dia datang untuk melihat ‘kekasih baru’ Tuan Rehan.
“Dia datang untuk apa?” tanya Winda, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
“Untuk membahas proyek kolaborasi energi terbarukan,” jawab Dina pelan. “Tapi hati-hati, Win. Sarah tidak dikenal karena keramahannya.”
Winda mengangguk pelan. Ia berdiri, memastikan bros itu terpasang kokoh. Ia tidak akan menunjukkan kelemahan—tidak di depan Rehan, apalagi di depan Sarah. Ia menarik napas panjang, mengenakan topeng profesionalismenya, dan melangkah menuju ruang rapat.
Pukul delapan lewat empat puluh lima pagi. Ruang Rapat Utama.
Ruangan luas dengan dinding kaca yang menghadap pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Di ujung meja panjang, Rehan Al-Farisi duduk dengan postur tegak, wajahnya datar seperti biasa. Di sebelah kanannya duduk seorang wanita cantik dengan rambut pirang bergelombang dan gaun merah menyala yang mencolok di tengah suasana formal ruangan itu.
Sarah Wijaya.
Ia tersenyum saat Winda masuk—senyum yang manis di bibir, tapi dingin dan menghitung di matanya.
“Ah, ini pasti Winda Lestari,” sapa Sarah, suaranya lembut namun bernada merendahkan. “Rehan sering bercerita tentangmu. Katanya, kau sangat… efisien.”
Rehan tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada dokumen di depannya. “Winda, duduk.” Perintahnya singkat.
Winda duduk di kursi sebelah kiri Rehan, tepat di seberang Sarah. Ia membuka tabletnya dan siap mencatat, wajahnya tanpa ekspresi.
“Jadi, Pak Rehan,” mulai Sarah, mengabaikan kehadiran Winda seolah ia adalah udara kosong. “Saya dengar Artha Global sedang kesulitan mendapatkan izin operasional di blok timur. Keluarga saya memiliki koneksi kuat di Kementerian ESDM. Mungkin kita bisa… bertukar kebaikan?”
Rehan akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, tak tergoyahkan. “Artha Global tidak membutuhkan ‘kebaikan’, Nyonya Sarah. Kami membutuhkan mitra yang kompeten. Jika Grup Wijaya tidak bisa memenuhi standar teknis kami, maka tidak ada alasan untuk berkolaborasi.”
Sarah tertawa kecil, suara yang sengaja dibuat renyah. “Kamu selalu begitu kaku, Rehan. Dulu, kamu lebih fleksibel padaku.”
Ia sengaja menekankan kata “dulu” sambil melirik sekilas ke arah Winda, tatapannya penuh ejekan terselubung. “Lihat, dia masih milikku. Kau hanya pengganti sementara.”
Winda merasakan panas menjalar di pipinya, tapi ia mengingat aturan Rehan: jangan terpancing, tetap profesional. Emosi adalah kemewahan yang tidak bisa ia miliki saat ini.
Ia menarik napas panjang, lalu berbicara dengan suara tenang namun jelas, memotong ketegangan di ruangan.
“Nyonya Sarah, jika Anda mengacu pada izin operasional, saya telah menyiapkan data perbandingan antara tiga vendor potensial dari Dubai dan Qatar. Data ini menunjukkan bahwa vendor pilihan Tuan Rehan memiliki efisiensi 15% lebih tinggi dibandingkan vendor yang direkomendasikan oleh Grup Wijaya. Jadi, berkolaborasi dengan Grup Wijaya justru akan menurunkan efisiensi proyek sebesar 15%.”
Sarah menatap tajam ke arah Winda. Matanya membelalak, senyumnya hilang seketika. “Siapa yang meminta pendapatmu, Asisten?”
Winda menatap balik dengan tatapan dingin, sama tenangnya seperti danau yang Rehan puji. “Saya tidak memberikan pendapat, Nyonya. Saya menyajikan fakta atas permintaan tersirat Tuan Rehan untuk evaluasi objektif. Jika Anda merasa tersinggung, itu karena fakta tersebut tidak menguntungkan posisi negosiasi Anda.”
Ruangan menjadi hening seketika. Hanya terdengar dengungan AC dan detak jantung Winda yang ia paksa tetap tenang.
Rehan menoleh ke arah Winda, dan ada kilatan kepuasan yang sangat halus di matanya—hampir tak terlihat, tapi Winda bisa merasakannya.
“Cukup,” potong Rehan tiba-tiba, suaranya rendah namun berwibawa. “Rapat selesai. Winda, antar Nyonya Sarah ke lift. Pastikan dia meninggalkan gedung dengan aman.”
Sarah berdiri dengan kasar, kursinya berdecit keras. “Rehan, kamu sungguh…”
“Sudah, Sarah,” potong Rehan lagi, kali ini dengan nada peringatan yang membuat udara di ruangan terasa berat. “Jangan uji kesabaranku. Dan ingat… Winda adalah perwakilanku. Menghinanya berarti menghina Artha Global. Apakah Anda siap menghadapi konsekuensinya?”
Sarah menatap Rehan, lalu menatap Winda dengan kebencian murni. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat, hak sepatunya mengetuk lantai marmer dengan frustrasi.
Winda mengikuti dari belakang, jantungnya berdebar kencang—bukan karena takut, tapi karena adrenalin. Ia baru saja bertahan melawan wanita paling berbahaya di Jakarta. Dan Rehan… Rehan membela dirinya secara terbuka, menggunakan otoritas bisnisnya sebagai tameng.
Pukul sembilan lewat lima belas pagi. Lorong menuju Lift Eksekutif.
Winda berjalan di samping Sarah. Suasana terasa tegang, dipenuhi aroma parfum mahal yang saling bersaing.
“Kamu pikir kamu menang?” bisik Sarah tiba-tiba tanpa menoleh, suaranya bergetar karena amarah yang ditahan. “Rehan hanya bermain-main denganmu. Dia bosan. Begitu dia mendapatkan apa yang dia inginkan, dia akan membuangmu seperti sampah. Seperti yang hampir dia lakukan padaku lima tahun lalu.”
Winda berhenti berjalan. Ia menatap punggung Sarah yang kaku.
“Nyonya Sarah, saya tidak bermain permainan siapa yang ‘menang’. Saya melakukan pekerjaan saya. Jika Tuan Rehan merasa puas dengan kinerja saya, itu adalah hak prerogatifnya. Bukan urusan Anda.”
Sarah berbalik, matanya menyala. “Kamu berani…”
“Lift sudah datang,” potong Winda sopan sambil menunjuk pintu lift yang terbuka. Suaranya tetap datar, tidak terpengaruh provokasi. “Silakan.”
Sarah menatap Winda sekali lagi dengan penuh ancaman, lalu masuk ke dalam lift. Pintu tertutup rapat, menelan sosok wanita itu beserta segala racunnya.
Winda menghela napas panjang, bahunya sedikit turun saat ketegangan mereda. Ia baru saja memenangkan pertempuran pertama.
Tiba-tiba, tangan besar mencengkeram lengan Winda dari belakang. Sentuhannya kuat, familiar, dan membuat seluruh indranya langsung waspada.
Winda menoleh. Rehan berdiri di sana, wajahnya sangat dekat—terlalu dekat untuk ruang publik. Aroma oud dan kayu cendananya langsung membungkus Winda, menggantikan sisa-sisa aroma parfum Sarah.
“Kamu hebat,” bisik Rehan, suaranya serak. Matanya gelap menatap Winda dengan intensitas yang membuat lututnya terasa lemas. Bukan pujian bos kepada bawahan. Tapi pengakuan pria kepada wanita yang baru saja membuktikan nilainya.
“T-Tuan Rehan…” gumam Winda, berusaha mundur selangkah, tapi Rehan tidak melepaskannya. Tangannya masih mencengkeram lengan Winda, jempolnya secara tidak sadar mengusap kain blazer di sana.
“Dia mencoba menjebakmu,” kata Rehan, suaranya rendah dan berbahaya, matanya masih terkunci pada wajah Winda. “Dia ingin membuatmu marah, ingin membuatmu kehilangan kendali. Tapi kau tetap tenang. Kau menggunakan logika. Itu…”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah seolah mencari kata yang tepat.
“…sangat seksi.”
Winda menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. “S-Seksi, Pak?”
Rehan tersenyum tipis—senyum langka yang jarang terlihat, senyum yang hanya muncul ketika dia benar-benar terkesan. “Ya. Seksi.”
Kegelapan lorong lift seolah menyelimuti mereka, hanya diterangi cahaya redup dari panel indikator lantai. Dunia luar seakan menghilang, hanya ada mereka berdua dan ketegangan yang menggantung di udara.
“Rehan…” bisik Winda, suaranya bergetar. Nama itu terlepas tanpa izin, melanggar batasan profesional yang baru saja ia pertahankan mati-matian.
Rehan tidak menjawab. Ia mendekat, tangannya bergerak dari lengan Winda, menyentuh pipinya dengan lembut, lalu lehernya, dan akhirnya berhenti di bros mawar hitam di dadanya. Jari-jarinya mengusap permukaan bros itu, seolah memastikan tanda kepemilikannya masih ada di sana.
“Bros ini,” bisik Rehan, bibirnya hampir menyentuh telinga Winda, napasnya hangat dan memabukkan. “Bukan sekadar aksesori. Ini adalah tanda. Tanda bahwa kau dilindungi. Tanda bahwa kau dimiliki. Dan hari ini… kau membuktikan bahwa kau layak memilikinya.”
Ia menarik Winda lebih dekat, tubuh mereka bersentuhan. Panas tubuh Rehan menjalar ke seluruh tubuh Winda, melelehkan sisa-sisa ketegangan dari rapat tadi.
“Apakah kau takut?” tanya Rehan, suaranya parau, matanya mencari jawaban di kedalaman mata Winda.
Winda menggeleng—meski jujur, ia merasa takut. Tapi bukan takut pada Rehan, melainkan takut pada perasaannya sendiri yang mulai goyah, takut pada betapa mudahnya ia luluh oleh sentuhan dan kata-katanya.
“Bagus,” gumam Rehan. “Karena saya tidak akan berhenti sampai kau sepenuhnya menerima kenyataan itu. Kau milikku, Winda Lestari. Dalam pekerjaan. Dalam hidup. Dan mungkin… dalam hati.”
Sebelum Winda sempat menjawab, Rehan menciumnya.
Ini bukan ciuman lembut di kening seperti malam sebelumnya. Ini adalah ciuman yang dalam, penuh gairah, dan posesif—ciuman yang mengklaim, yang mengatakan: tidak ada jalan kembali. Ciuman yang menghapus semua batas yang baru saja mereka bangun dengan susah payah.
Winda memejamkan matanya, tangannya tanpa sadar mencengkeram kemeja Rehan, menariknya lebih dekat. Dunianya berputar, logikanya hilang, yang tersisa hanya sensasi panas, aroma maskulin Rehan, dan rasa kepemilikan yang mutlak. Ia menyerah, bukan karena kalah, tapi karena memilih untuk merasa.
Ketika Rehan akhirnya melepaskan ciumannya, napas mereka berdua terengah-engah. Dahinya menempel pada dahi Winda, matanya masih terpejam sejenak seolah menikmati sisa-sisa sensasi itu.
“Ingat ini,” bisik Rehan, suaranya masih serak. “Setiap kali kau ragu, setiap kali kau takut… ingat ciuman ini. Ingat bahwa saya tidak pernah melepaskan apa yang sudah menjadi milik saya.”
Ia membuka kunci pintu lift, lalu melangkah keluar, meninggalkan Winda yang masih terpaku di tempat—jantungnya berdebar kencang, bibirnya masih terasa panas dan bengkak dari sentuhan Rehan.
Winda menyentuh bibirnya. Matanya berkaca-kaca—bukan karena sedih, tapi karena bingung. Apa yang baru saja terjadi? Apakah ini bagian dari pekerjaan? Atau… apakah ini awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya?
Di luar ruangan, dering telepon Rehan berbunyi. Winda mendengar suaranya dari kejauhan—dingin dan profesional seperti biasa, seolah ciuman tadi tidak pernah terjadi.
“Winda. Masuk ke kantorku. Kita ada rapat dengan klien dari Jepang dalam sepuluh menit. Rapikan dirimu. Dan jangan lupa… tersenyum. Kau baru saja memenangkan pertempuran pertama.”
Winda menatap pantulan dirinya di kaca kecil di dinding lorong. Pipinya merona, bibirnya sedikit bengkak, dan bros mawar hitam di dadanya berkilauan dalam cahaya redup.
Ia tersenyum tipis. Pertempuran pertama memang dimenangkan. Tapi perang cinta dengan Rehan Al-Farisi? Itu baru saja dimulai.
Dan Winda tidak yakin apakah ia siap untuk kalah.