Pukul sebelas lewat empat puluh lima malam.
Ballroom Hotel Mulia perlahan mulai sepi. Tamu undangan satu per satu beranjak pulang, meninggalkan para pelayan yang sibuk membereskan meja dan bunga hias yang mulai layu.
Rehan Al-Farisi tetap berdiri tegak di sisi Winda. Tangannya tak pernah melepaskan pinggang wanita itu sejak insiden dengan Dimas tadi. Sentuhan itu bukan lagi sekadar formalitas sosial; ia menjadi jangkar yang menahan Winda tetap berada di orbitnya. Winda bisa merasakan panas telapak tangan pria itu menembus lapisan sutra gaunnya, kontras tajam dengan dinginnya AC ruangan.
“Mobil sudah menunggu di pintu belakang,” bisik Rehan pelan, suaranya rendah agar tidak terdengar oleh staf yang lewat. “Kita pulang.”
Kata “kita” dan “pulang” terasa asing di telinga Winda. Mereka tidak tinggal bersama. Hubungan mereka masih terikat kertas kontrak kerja. Namun malam ini, seolah Rehan telah memutuskan bahwa Winda adalah bagian dari dunianya—dan dia tidak berniat melepaskannya.
Mereka berjalan menyusuri koridor belakang yang sunyi. Dua pengawal pribadi Rehan mengikuti di belakang dengan jarak aman, memastikan privasi mereka terjaga.
Saat pintu mobil Rolls-Royce Phantom hitam terbuka, Rehan membantu Winda masuk lebih dulu. Tangannya menyentuh punggung bawah Winda dengan lembut namun tegas, mendorongnya masuk ke dalam kabin yang luas dan beraroma mewah.
Winda duduk di kursi penumpang, dan Rehan segera menyusul—kali ini duduk tepat di sampingnya, bukan di seberang seperti biasanya. Pintu tertutup rapat dengan suara thud yang berat, mengunci mereka berdua dalam ruang pribadi yang terpisah dari hiruk-pikuk dunia luar.
Supir menyalakan mesin, dan mobil melaju mulus menembus kegelapan malam Jakarta. Hujan gerimis mulai turun, membuat lampu-lampu kota di luar jendela tampak kabur dan berpendar.
Suasana hening menyelimuti kabin.
Winda menatap keluar jendela, mencoba menormalkan napasnya. Jantungnya masih berdegup kencang karena sisa ketegangan malam itu. Ia bisa merasakan kehadiran Rehan di sampingnya seperti gravitasi—panas tubuhnya, dan aroma khasnya: campuran oud, kayu cendana, dan sedikit anggur merah yang memenuhi rongga hidungnya. Aroma itu memabukkan, sekaligus menenangkan.
Tiba-tiba, Rehan menghela napas panjang. Bukan helaan napas biasa, tapi tarikan napas berat yang seolah membawa beban bertahun-tahun.
Winda menoleh, khawatir.
Rehan sedang memijat pelipisnya dengan jari-jarinya yang panjang dan tegang. Matanya terpejam, dan topeng CEO yang tak terkalahkan itu tampak sedikit retak, memperlihatkan sisi manusia yang lelah di baliknya.
“Apakah Bapak baik-baik saja?” tanya Winda pelan, suaranya hampir tertelan dengungan mesin mobil.
Rehan membuka matanya. Tatapannya yang gelap penuh dengan emosi yang tertahan menatapnya lekat-lekat, seolah ingin menghafal setiap inci wajah Winda dalam cahaya redup dashboard.
“Aku lelah, Winda,” gumamnya. Kali ini ia menggunakan kata “aku”, bukan “saya”. Perubahan kecil itu membuat suasana di dalam mobil terasa lebih intim sekaligus berbahaya. Batasan profesionalisme mereka baru saja digeser.
“Lelah dengan apa, Pak? Dengan pekerjaan?”
Rehan tersenyum tipis, senyum yang terasa pahit dan tanpa humor. “Lelah dengan segala kepalsuan. Dengan senyum manis para mitra bisnis yang menyembunyikan niat licik. Dengan tekanan ibuku yang terus memaksaku menikahi wanita yang tidak kukenal hanya demi aliansi keluarga. Dengan dunia yang selalu menuntut Rehan Al-Farisi menjadi sosok yang sempurna dan tak berperasaan.”
Ia mencondongkan tubuhnya perlahan ke arah Winda, hingga jarak di antara mereka hanya tersisa selebar jengkal. Aroma oud-nya kini semakin kuat, membungkus Winda sepenuhnya.
“Tapi malam ini…” lanjut Rehan pelan, jarinya terulur menyentuh rahang Winda dengan sangat hati-hati, seolah ia sedang memegang benda kristal yang mudah pecah. Sentuhannya dingin, tapi tatapannya membakar. “Malam ini, aku merasa… tenang. Saat kau berdiri di sampingku. Saat kau diam saja sementara orang lain mencoba meremehkanku. Saat kau menerima perlindunganku tanpa banyak bertanya.”
Winda menahan napas. Sentuhan itu membuatnya merasakan aliran listrik halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Bukan takut. Tapi pengakuan.
“Aku hanya melakukan tugas saya, Pak,” jawabnya berusaha tenang, meski suaranya bergetar halus.
“Tidak,” bantah Rehan tegas, suaranya sedikit serak. “Kau memberikan lebih dari sekadar tugas. Kau membuatku merasa… tidak sendirian di tengah perang ini.”
Ia menarik tangannya perlahan, namun matanya tak lepas dari wajah Winda. Ada sesuatu yang bergulat di balik tatapan gelap itu—sesuatu yang Rehan biasanya kubur dalam-dalam.
“Ada satu hal yang harus kau ketahui, Winda,” ucapnya pelan, suaranya serak seperti orang yang mengakui dosa. “Aku tidak tahu cara menginginkan sesuatu tanpa ingin memilikinya sepenuhnya. Aku posesif. Aku mengontrol. Dan sekali aku memutuskan bahwa sesuatu… atau seseorang… adalah milikku…”
Ia berhenti, menelan ludah seolah kata-kata berikutnya terasa asing di lidahnya.
“…aku tidak akan pernah melepaskannya. Bahkan jika itu berarti aku harus menjadi monster bagimu.”
Winda menatap lurus ke dalam matanya. Di sana, ia melihat kejujuran yang menakutkan—Rehan tidak menyembunyikan sisi gelapnya, malah menawarkannya padanya seolah berkata: “Ini bahayanya. Tapi aku percaya padamu.”
“Dan apakah…” tanya Winda dengan suara yang sedikit bergetar, keberaniannya muncul dari somewhere deep inside. “Apakah Bapak menginginkan saya, Pak Rehan?”
Pertanyaan itu menggantung di udara, berat dan penuh risiko.
Rehan tidak menjawabnya langsung. Sebaliknya, ia mendekatkan wajahnya hingga napasnya terasa hangat menyentuh dahi Winda.
“Ya akhafi ‘alaiki min nafsi,” bisiknya hampir tak terdengar dalam bahasa Arab. (“Aku lebih takut pada diriku sendiri daripada pada apa pun yang bisa menyakitimu.”)
Lalu, dengan gerakan yang sangat lembut, Rehan mencium kening Winda. Bukan ciuman penuh nafsu, bukan pula ciuman manis yang klise—melainkan ciuman janji. Ciuman kepemilikan yang menyatakan: “Mulai detik ini, kau milikku. Dan aku akan menjagamu, bahkan dari diriku sendiri.”
Rehan menarik diri sedikit, menatap Winda dengan tatapan yang membakar namun juga rapuh.
“Jawabanmu?” tanyanya pelan. Bukan permintaan. Tapi undangan untuk masuk lebih dalam ke dunia yang berbahaya ini.
Winda terdiam. Naluri profesionalnya berteriak agar ia mundur, menolak, dan mengingat batasan antara atasan dan bawahan. Namun hatinya berdebar mengikuti irama yang berbeda—irama yang ingin mendekat pada pria berbahaya di hadapannya. Pria yang justru menunjukkan kerentanannya hanya padanya.
Belum sempat Winda membuka mulut, mobil berhenti tepat di depan gedung apartemennya di Tebet. Lampu lobby menyala redup, menyambut mereka kembali ke realitas.
Perjalanan fisik telah berakhir. Namun perjalanan perasaan mereka baru saja dimulai.
Rehan membuka pintu mobil dari dalam. “Turunlah. Besok pagi, sopir akan menjemputmu pukul setengah tujuh. Jangan terlambat.”
Nada perintahnya kembali muncul, dan topeng CEO yang dingin kembali terpasang rapi—seolah pengakuan lembut dan ciuman kening tadi tidak pernah terjadi. Tapi Winda tahu better. Topeng itu sekarang retak, dan dia yang memegang pecahannya.
Winda turun dari mobil. Gerimis yang turun membasahi sedikit rambutnya, mendinginkan kulitnya yang masih panas. Ia menoleh ke arah jendela yang masih terbuka.
Rehan duduk diam di dalam, menatapnya lurus melalui kaca yang mulai berembun. Tidak ada senyum, tidak ada kata perpisahan—hanya tatapan yang berkata: “Aku akan menunggu. Sampai kau siap.”
Mobil itu melaju perlahan, menghilang ke dalam kabut hujan Jakarta, meninggalkan Winda sendirian di tengah keheningan lobby.
Winda menyentuh keningnya, tepat di tempat bibir Rehan tadi mendarat. Kulitnya masih terasa hangat, seolah cap kepemilikan itu telah terbakar permanen di sana.
Ia menyadari satu hal: kontrak kerjanya mungkin bisa berakhir suatu hari nanti sesuai pasal-pasal yang tertulis. Namun kontrak hati yang baru saja ditandatanganinya dengan Rehan Al-Farisi… adalah perjanjian tanpa kertas yang mungkin akan mengikatnya selamanya.
Dan entah mengapa, bagian terdalam dari dirinya tidak ingin membatalkannya.