Pukul setengah tujuh sore.
Winda baru saja menyelesaikan dokumen terakhirnya hari itu. Otaknya terasa berat dan matanya sedikit perih karena menatap layar seharian, namun ia tetap tidak berani beranjak dari meja kerjanya sebelum mendapat izin resmi dari Rehan. Aturan nomor tiga masih berlaku ketat di kepalanya.
Tiba-tiba, pintu ruang kerja Rehan terbuka.
Rehan melangkah keluar. Penampilannya hari ini sangat berbeda dari biasanya—bukan kemeja kerja biasa, melainkan setelan tuxedo hitam pekat yang dipadukan dengan kemeja putih bersih dan dasi kupu-kupu yang rapi. Tampilannya sangat formal, mewah, dan… memukau dalam diam.
Matanya langsung tertuju pada Winda.
“Kamu,” panggilnya singkat.
Winda segera berdiri, merasa sedikit gugup melihat penampilan bosnya yang begitu berbeda. “Ya, Pak Rehan?”
“Ikut saya.”
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Rehan berbalik berjalan menuju lift eksekutif. Winda segera meraih tas kecilnya dan mengikuti langkahnya, jantungnya berdegup tak karuan. Ada aura urgensi dalam langkah Rehan malam ini.
Di dalam lift, suasana terasa hening dan menekan. Winda memberanikan diri bertanya pelan.
“Kita akan pergi ke mana, Pak? Apakah ada rapat penting?”
Rehan meliriknya sekilas, tatapannya tajam namun tetap dingin. “Bukan rapat. Ada acara gala malam di Hotel Mulia. Dan saya butuh pendamping.”
Winda tertegun. “Pendamping? Tapi Pak, saya hanya penerjemah—”
“Anda adalah wajah resmi perusahaan saya malam ini,” potong Rehan tegas. “Dan Anda akan mengenakan apa yang sudah saya siapkan.”
Lift berhenti di lantai butik eksklusif di gedung yang sama. Seorang penata gaya profesional sudah menunggu dengan sebuah kotak besar berisi gaun malam.
“Cobalah,” perintah Rehan sambil menunjuk kotak itu. “Anda punya waktu lima belas menit.”
Winda masuk ke ruang ganti dengan tangan yang sedikit gemetar. Begitu ia membuka kotak itu, napasnya tertahan sejenak.
Di dalamnya terlipat rapi sebuah gaun malam hitam elegan berbahan sutra halus, dengan bagian punggung terbuka yang dirancang dengan sangat anggun. Hiasan benang emas tipis menghiasi pinggangnya, memberikan kesan mewah namun tidak berlebihan. Itu bukan sekadar baju; itu adalah pernyataan.
Dengan bantuan penata gaya, Winda mengenakan gaun itu. Potongannya pas sempurna di lekuk tubuhnya, menonjolkan sisi femininnya yang selama ini tertutup rapi oleh pakaian kantor yang kaku. Rambutnya ditata longgar dengan rapi, dan riasan tipis mempertegas kecantikan alaminya tanpa membuatnya terlihat berlebihan.
Ketika Winda keluar dari ruang ganti, Rehan sedang bersandar santai di dinding sambil memeriksa jam tangannya.
Ia mendongak.
Gerakannya terhenti seketika. Matanya melebar sedikit, lalu menyipit perlahan. Ada kilatan gelap yang terlihat jelas di sana—kilatan kepemilikan yang murni dan primitif.
Rehan melangkah perlahan mendekatinya. Jarak di antara mereka semakin menipis. Aroma parfum cendana dan kayu harum khas miliknya tercium, membuat indra penciuman Winda terasa mabuk.
“Subhanallah…” gumam Rehan pelan dalam bahasa Arab, suaranya terdengar parau.
Ia berhenti tepat di hadapan Winda, menatapnya dari atas hingga ke bawah, lalu kembali menatap lurus ke mata Winda. Tangannya terulur, menyentuh bahu Winda dengan sentuhan lembut namun penuh otoritas.
“Jangan pernah tersenyum pada pria lain malam ini. Mengerti?”
Kalimat itu bukan permintaan. Itu adalah perintah mutlak.
Winda menelan ludah, jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena intensitas tatapan pria itu. “Mengerti, Pak.”
“Bagus.” Rehan menarik tangannya, lalu menawarkan lengannya. Sikapnya kembali dingin dan terkendali, seolah kilatan emosi tadi tidak pernah terjadi. “Mari. Mobil sudah menunggu.”
Ballroom Hotel Mulia dipenuhi cahaya lampu gantung kristal yang berkilauan. Musik orkestra mengalun lembut di udara, dan tamu undangan terdiri dari para pengusaha terkemuka, diplomat, serta tokoh masyarakat ternama.
Sejak pertama kali masuk, tangan Rehan tidak pernah lepas dari pinggang Winda. Sentuhannya terasa hangat, berat, dan penuh makna—seolah ingin menegaskan bahwa wanita ini adalah bagian tak terpisahkan dari dirinya. Setiap kali seseorang datang menyapa, Rehan memperkenalkan Winda sebagai “Asisten Penerjemah Khusus”-nya dengan nada yang membuat siapa pun segan untuk meremehkannya.
Namun, suasana berubah ketika seorang pria muda tampan—putra salah satu pengusaha besar di Jakarta—mendekati mereka. Namanya Dimas, dan tatapannya langsung tertuju penuh pada Winda dengan ketertarikan yang terlalu jelas.
“Rehan, lama tidak bertemu,” sapa Dimas ramah, lalu menoleh ke arah Winda dengan senyum menggoda. “Siapa teman cantikmu ini? Bolehkah saya mengajaknya berdansa sebentar?”
Udara di sekeliling mereka seolah membeku.
Senyum di wajah Rehan hilang seketika. Matanya berubah sedingin es kutub. Ia melangkah maju sedikit, secara fisik menghalangi pandangan Dimas ke arah Winda, sekaligus mempererat genggamannya di pinggang Winda.
“La,” ucap Rehan tegas dalam bahasa Arab. Satu kata pendek yang berarti Tidak.
Dimas tampak bingung. “Maaf?”
Rehan beralih ke bahasa Indonesia, suaranya rendah namun terdengar penuh ancaman yang terselubung rapi. “Dia bukan sekadar ‘teman’. Dia adalah representasi dari kepercayaan saya. Dan dia tidak akan berdansa dengan siapa pun selain saya.”
Dimas tertawa canggung, berusaha mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi tegang. “Ah, Rehan, kamu selalu berlebihan. Saya hanya ingin mengajak berdansa saja—”
“Pergi,” potong Rehan dingin. Tatapannya menusuk, membuat darah Dimas seolah membeku. “Sebelum saya membuatmu malu di depan semua orang yang hadir di sini dengan menunjukkan siapa sebenarnya ayahmu bergantung pada kontrak Artha Global.”
Wajah Dimas memucat. Ancaman bisnis itu jauh lebih menakutkan daripada kemarahan pribadi. Ia menatap tajam Rehan sekali lagi, lalu akhirnya memilih mundur dengan langkah cepat, meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekam.
Setelah Dimas pergi, Rehan menoleh ke arah Winda. Wajahnya masih terlihat tegang, napasnya sedikit memburu.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanyanya, suaranya kini terdengar lebih lembut, meski masih ada sisa ketegangan di sana.
Winda mengangguk, meski kakinya masih terasa sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena aliran adrenalin yang tinggi menyaksikan sisi dominan Rehan yang jarang terlihat. “Saya baik-baik saja, Pak. Terima kasih sudah membela saya.”
Rehan menatapnya lekat-lekat. Tangannya kembali merapat erat di pinggang Winda, kali ini lebih kuat, seolah memastikan Winda tidak akan lari.
“Saya tidak melindungimu karena rasa kasihan, Winda,” bisiknya tepat di telinga Winda, membuat bulu kuduknya meremang. “Saya melakukannya karena saya tidak suka melihat apa yang menjadi tanggung jawab saya disentuh oleh orang yang tidak berhak.”
Apa yang menjadi tanggung jawab saya.
Bukan "milik saya". Bukan "wanita saya". Tapi "tanggung jawab". Kata-kata yang dipilih dengan hati-hati, namun maknanya sama saja bagi Winda.
Winda menunduk, lalu menatap lurus ke dalam mata Rehan yang gelap. Di sana, ia tidak lagi melihat bos yang dingin dan kaku. Ia melihat seorang pria yang sedang berjuang melawan instingnya sendiri, seorang pria yang mulai menunjukkan sisi lain dari dirinya yang berbahaya dan menggoda.
Dan untuk pertama kalinya, Winda sadar bahwa ia mungkin telah terjebak dalam sebuah ikatan yang jauh lebih rumit daripada sekadar hubungan kerja biasa. Ikatan yang dibangun di atas efisiensi, aturan, dan kini... posesivitas yang tak terbantahkan.