Pukul setengah satu siang.
Winda baru saja menutup laptopnya setelah menyelesaikan terjemahan dokumen kontrak senilai 50 miliar rupiah untuk proyek energi terbarukan di Qatar. Otaknya terasa berat dan lelah, sementara perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Namun, ia belum berani beranjak dari meja kerjanya.
Aturan nomor tiga dari Rehan: Jangan pernah meninggalkan posisi tanpa izin tertulis.
Ia hanya bisa menunggu. Menunggu tanda bahwa jam kerja pagi sudah berakhir. Atau setidaknya, sampai Rehan cukup sibuk sehingga ia bisa diam-diam menyelinap mencari makan.
Namun, pintu ruang kerja Rehan tiba-tiba terbuka.
Rehan melangkah keluar, mengenakan jas hitam rapi yang dipadukan dengan dasi merah marun yang kontras dengan kemeja putihnya. Ia tampak segar dan bertenaga, seolah tidak baru saja menghabiskan empat jam penuh dalam rapat maraton.
Matanya langsung tertuju pada Winda.
“Kamu,” panggilnya singkat.
Winda segera berdiri tegak. “Ya, Pak Rehan?”
“Ikut saya.”
Tanpa penjelasan lebih lanjut, Rehan berbalik dan berjalan menuju lift eksekutif. Winda ragu sejenak, lalu segera mengikuti langkahnya. Asisten pribadi Rehan, Andi, memberi isyarat agar Winda masuk bersama mereka.
Pintu lift tertutup rapat. Di dalam hanya ada mereka berdua, dan keheningan yang tebal menyelimuti ruangan itu. Winda menunduk menatap lantai, jantungnya berdegup pelan. Apakah ia telah melakukan kesalahan? Apakah Rehan marah karena ada sesuatu yang terlewatkan pagi tadi?
Lift berhenti di lantai 60—lantai restoran eksklusif milik Grup Artha Global. Pintu terbuka, memperlihatkan pemandangan kota Jakarta yang memukau dari ketinggian.
Rehan berjalan mendahului, dan Winda terus mengikuti di belakangnya dengan perasaan bingung.
Mereka diantar ke meja VIP di sudut paling terpencil, menghadap langsung ke jendela kaca raksasa. Pelayan datang segera dengan membawa menu bersampul kulit hitam yang elegan.
“Pesan apa saja yang kamu inginkan,” ucap Rehan datar sambil membuka menunya. “Saya traktir.”
Winda tertegun sejenak. “Traktir… Pak?”
Rehan akhirnya menoleh. Matanya tajam, namun ada kilatan halus yang sulit diartikan. “Kamu pikir saya akan membiarkan penerjemah pribadi saya kelaparan di tengah hari kerja? Itu tidak efisien. Dan saya benci hal yang tidak efisien.”
Winda tersenyum tipis. Lagi-lagi alasannya adalah efisiensi, bukan perhatian. Setidaknya itu yang ia katakan.
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Ia memilih salad ayam panggang dan jus jeruk segar. Sedangkan Rehan memesan steak wagyu dan segelas anggur merah.
Ketika makanan tersaji, Rehan tidak langsung menyentuh makanannya. Sebaliknya, ia menatap Winda lekat-lekat.
“Kamu tahu kenapa saya memilihmu?” tanyanya tiba-tiba.
Winda mengangkat alisnya. “Karena saya kompeten, Pak?”
“Banyak orang yang juga kompeten di luar sana,” sahut Rehan dingin. Ia menusuk potongan steak wagyu-nya dengan presisi bedah. “Tapi kamu tenang. Terlalu tenang. Seperti danau yang permukaannya terlihat datar, namun di dalamnya menyimpan kedalaman yang tak terduga. Saya butuh orang seperti itu.”
Winda menarik napas pelan. Kalimat itu terdengar hampir… pribadi.
“Apa maksud Bapak?” tanyanya hati-hati.
Rehan meletakkan garpunya. Matanya menyipit, seolah membaca pikiran Winda. “Coba jawab ini, Winda. Jika saya meminta Anda mewakili saya dalam rapat dengan Sheikh Al-Maktoum besok, dan beliau menanyakan pendapat pribadi saya tentang kebijakan energi mereka—yang sebenarnya bertentangan dengan kepentingan bisnis kami—apa yang akan Anda lakukan?”
Winda tertegun. Ini bukan pertanyaan terjemahan. Ini pertanyaan loyalitas dan diplomasi.
“Saya akan menerjemahkan maksud Bapak dengan nuansa yang paling menguntungkan bagi Artha Global, tanpa mengubah fakta inti,” jawab Winda perlahan. “Saya akan menjadi jembatan, bukan penghalang.”
Rehan tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke matanya. “Jawaban yang cerdas. Dan itulah sebabnya bulan depan, saat saya pulang ke Dubai untuk urusan keluarga, Anda tidak hanya akan menjadi penerjemah. Anda akan menjadi wakil kepercayaan saya di sini.”
Rasa dingin menjalar di tulang punggung Winda. Ini bukan sekadar pekerjaan penerjemah biasa. Ini adalah peran sebagai perpanjangan tangan sang CEO.
“Dan jika saya menolak?” tanyanya, meski suaranya tetap tenang meski jantungnya berdebar kencang.
“Ada sesuatu di matamu, Winda. Bukan ketakutan. Bukan juga kekaguman buta. Itu... rasa ingin tahu. Kamu ingin tahu siapa Rehan Al-Farisi yang sebenarnya, bukan? Pria di balik jas mahal dan reputasi dingin ini.”
Winda tertegun. Ia tidak menyangka Rehan bisa membaca sedalam itu.
“Kamu tidak akan menolak,” kata Rehan datar. “Karena kamu sadar ini adalah kesempatan emas. Dan karena... rasa ingin tahu itu adalah pintu masuk terbaik untuk memahami seseorang. Gunakanlah itu. Tapi jangan sampai itu menghancurkanmu.”
Sebelum Winda sempat menjawab, ponsel Rehan berdering. Ia melirik layarnya, dan wajahnya berubah menjadi lebih gelap.
“Maaf,” ucapnya singkat sambil berdiri. “Saya harus menjawab panggilan ini. Habiskan makanmu. Jangan terburu-buru.”
Ia berjalan pergi dan meninggalkan Winda sendirian di meja mewah itu.
Winda menatap piring di hadapannya, dan selera makannya perlahan hilang. Kata-kata Rehan terus berputar di kepalanya. “Rasa ingin tahu.”
Memang benar. Ada bagian kecil di hatinya yang memang merasa penasaran. Ingin tahu siapa sebenarnya Rehan Al-Farisi yang tersembunyi di balik citra CEO yang dingin dan tak tergoyahkan.
Di balkon restoran, Rehan berbicara dengan nada rendah namun tegas dalam bahasa Arab.
“Ummi, la astati’u an atazawwaja min al-mar’ati allati ikhtartiha. Lī khuttatu ukhrā.”
(“Ibu, saya tidak dapat menikahi wanita pilihan Ibu. Saya memiliki rencana lain.”)
Di ujung telepon, suara seorang wanita tua terdengar marah dan memerintah. Namun Rehan hanya mendengarkan dengan wajah datar tanpa membalas. Genggamannya pada ponsel begitu kuat hingga ruas jarinya memutih.
Setelah panggilan berakhir, ia menatap ke arah Winda melalui kaca. Perempuan itu masih duduk diam, menatap kosong ke arah makanannya. Ada keraguan di bahunya. Keraguan yang Rehan tanamkan sendiri.
Rehan menarik napas panjang, udara dingin malam Jakarta menusuk paru-parunya.
Ia sadar sedang bermain dengan api. Menggunakan Winda sebagai tameng dari tekanan keluarganya adalah ide yang gila. Itu tidak adil bagi perempuan yang baru saja ia rekrut karena ketenangannya.
Tapi Rehan Al-Farisi tidak punya pilihan. Warisan klan, reputasi perusahaan, dan kebebasan hidupnya dipertaruhkan.
“Maafkan aku, Winda,” bisiknya pelan, kata-kata yang hilang ditelan angin. “Aku akan melindungimu dari dunia ini. Bahkan jika aku harus menjadi monster yang menakutkanmu terlebih dahulu.”
Ia berbalik masuk ke dalam ruangan, topeng dinginnya kembali terpasang sempurna. Pertunjukan harus terus berlanjut.