Pukul setengah satu siang.
Perut Winda berbunyi pelan, mengingatkan dirinya bahwa sejak sarapan ringan di rumah pagi tadi, ia belum menyentuh makanan apa pun. Ia menghela napas, menutup tabletnya, lalu bersiap berdiri dari meja kecil di sudut ruang tunggu eksekutif—tepat di luar kantor Rehan.
Sebagai penerjemah pribadi, ia tidak punya meja khusus di area karyawan biasa. Ia harus selalu siap dipanggil kapan saja, jadi tempatnya memang strategis, sekaligus terasa agak terasing.
Baru saja ia meraih tas jinjingnya, pintu kayu mahoni di depannya terbuka.
Rehan Al-Farisi keluar, diikuti asistennya, Pak Dimas. Penampilan Rehan terlihat sedikit lebih santai dibanding pagi tadi—kemejanya masih rapi, tapi kancing lehernya sudah dibuka dan dasinya tergantung rapi di saku jasnya.
“Winda,” panggilnya tanpa berhenti melangkah.
Winda segera berbalik. “Ya, Pak Rehan?”
Ia berhenti sejenak, menatapnya dengan wajah datar. “Anda belum makan siang.”
Winda tertegun sebentar. “Eh… benar, Pak. Saya berencana membeli salad di kantin lantai bawah.”
“Tidak perlu,” potongnya tegas. Ia melirik sekilas ke arah asistennya. “Dimas, pesan menu dari Le Jardin. Antarkan ke ruang rapat kecil sebelah kanan. Winda, Anda makan di sana bersama saya.”
Winda tertegun sepenuhnya. “Bersama… Bapak?”
Suasana lorong menjadi hening sejenak. Beberapa staf yang lewat melirik penasaran—CEO mereka mengajak penerjemah barunya makan siang berdua? Di ruang rapat pribadi?
“Pak, apakah ada urusan bisnis yang ingin dibahas saat makan?” tanya Winda hati-hati, berusaha mencari alasan yang masuk akal.
Rehan menyipitkan matanya sedikit, seolah kesal mendengar pertanyaan itu. “Tidak ada urusan bisnis. Hanya soal efisiensi waktu. Saya tidak ingin Anda pingsan karena kelaparan di tengah pertemuan dengan klien Jepang sore nanti. Dan…” Ia berhenti sebentar, suaranya menjadi lebih rendah. “Saya tidak suka melihat aset perusahaan berada dalam kondisi yang lemah.”
Aset perusahaan.
Kata-katanya terdengar dingin, tapi bagi Winda, ada nuansa yang terasa lebih lembut dari sekadar alasan bisnis. Entah apa sebenarnya yang tersembunyi di baliknya.
“Baik, Pak,” jawab Winda akhirnya. Ia sadar, menolak perintah langsung dari Rehan Al-Farisi bukanlah ide yang bijak.
Mereka masuk ke ruang rapat kecil yang terasa lebih privat. Ada meja bundar dari kaca, empat kursi berlapis kulit hitam, dan pemandangan kota Jakarta yang terlihat lebih dekat. Tidak ada dokumen, tidak ada laptop—hanya dua piring makanan lezat yang baru saja diantar: salmon panggang dengan asparagus untuk Rehan, dan mangkuk quinoa berisi ayam suwir serta saus lemon yang cocok untuk pencernaan Winda.
Rehan duduk di ujung meja. Winda ragu sejenak, lalu duduk di seberangnya.
“Makan,” perintahnya lagi sambil mulai menyantap makanannya dengan gerakan yang halus dan terlatih.
Winda mengambil garpunya dan mencicipi makanannya. Rasanya benar-benar enak—jauh lebih lezat dibanding salad biasa yang biasa ia beli di kantin.
“Terima kasih, Pak,” gumamnya sopan.
Rehan tidak menjawab. Ia makan dengan tenang, tapi matanya sesekali melirik ke arah Winda, memastikan bahwa ia benar-benar makan.
Keheningan di ruangan itu berbeda dari pagi tadi. Tidak ada ketukan pena atau suara interkom. Hanya bunyi garpu beradu dengan piring keramik dan napas pelan mereka berdua. Winda menyuap quinoa-nya perlahan, sesekali merasakan tatapan Rehan yang sekilas melintas sebelum kembali fokus pada makanannya sendiri. Rasanya... tidak mengancam. Justru membuat pundaknya yang tegang sejak pagi tadi perlahan rileks—sesuatu yang membuatnya lebih waspada daripada ketegangan tadi pagi.
Setelah beberapa suapan, Rehan meletakkan garpunya sejenak. Matanya tertuju pada jendela yang memperlihatkan kemacetan sore hari di bawah sana.
“Anda tinggal di mana, Winda?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tapi nadanya—datar, tanpa basa-basi—membuat Winda merasa seolah sedang diwawancarai ulang.
“Saya tinggal di apartemen sewaan di daerah Tebet, Pak. Dekat stasiun MRT agar perjalanan saya lebih mudah.”
“Tebet,” ulang Rehan pelan. Ia mengangguk. “Jaraknya sekitar 45 menit jika tidak macet. Tapi Jakarta jarang sekali bebas macet.”
“Benar, Pak. Itu sebabnya saya terbiasa bangun jam lima pagi agar bisa tiba lebih awal.”
Rehan meletakkan garpunya dan menatap Winda lekat-lekat.
“Itu tidak efisien. Kurang tidur bisa menurunkan kinerja otak. Mulai besok, saya akan mengatur sopir perusahaan untuk menjemput Anda pukul setengah tujuh pagi. Mobil akan menunggu di depan apartemen Anda.”
Tangan Winda yang sedang memegang gelas berhenti di udara. Ia menurunkan gelasnya pelan-pelan, memastikan tidak ada suara berdentum yang mengganggu keheningan ruangan.
“Maaf, Pak? Sopir… untuk saya?”
“Ya,” jawabnya datar. “Ini termasuk fasilitas dari posisi Anda. Jangan tanya kenapa. Terima saja.”
Winda menatap pria di hadapannya. Ada nada tegas yang kuat, tapi juga ada perhatian yang halus—meski ia berusaha menyembunyikannya. Apakah ia khawatir Winda kelelahan? Atau hanya ingin memastikan ia selalu datang tepat waktu dan dalam kondisi terbaik?
“Tapi Pak, rasanya terlalu merepotkan. Saya bisa naik MRT atau ojek daring saja—”
“Saya sudah bilang, terima saja,” potong Rehan tegas. Matanya bersinar tajam, membuat Winda tidak berani membantah lagi. “Saya tidak suka hal-hal yang tidak pasti. Jika Anda terlambat karena transportasi umum, itu akan menjadi kegagalan manajemen saya. Dan saya tidak pernah gagal.”
Winda terdiam. Ia mulai memahami satu hal: Rehan Al-Farisi adalah pria yang ingin mengatur segala sesuatunya—mulai dari bisnisnya, hingga kini, bahkan cara penerjemahnya pergi bekerja.
“Baik, Pak,” jawabnya pelan. “Terima kasih atas perhatiannya.”
Rehan mengangkat alisnya. “Ini bukan perhatian. Ini soal efisiensi. Jangan salah paham.”
Ia berdiri dan merapikan jasnya. “Saya ada rapat jam dua siang. Anda boleh kembali bekerja. Dan ingat—besok pagi, mobil akan sudah menunggu. Jangan buat saya menunggu.”
Pintu tertutup.
Winda duduk sendirian di ruangan itu, menatap piringnya yang setengah kosong. Perutnya kenyang, tapi dadanya terasa sesak oleh pertanyaan yang tak berani ia ucapkan keras-keras.
Pria itu menyebutnya "aset". Mengatur jam tidurnya. Menyediakan sopir pribadi. Semua dibungkus rapi dalam bahasa efisiensi dan manajemen.
Tapi kenapa, setiap kali Rehan Al-Farisi berbicara tentang "efisiensi", Winda justru mendengar sesuatu yang sama sekali tidak efisien? Sesuatu yang berbahaya. Sesuatu yang membuatnya ingin lari—dan sekaligus, ingin tetap duduk di kursi seberangnya esok pagi.
Ia menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang kini telah gelap. Hidupnya memang tidak akan pernah sama lagi sejak hari ini. Dan entah mengapa, bagian terdalam dari dirinya tidak ingin itu berubah kembali.