Pagi itu, udara di Bogor terasa berbeda. Lebih segar, lebih lembap, dan jauh lebih tenang dibanding hiruk-pikuk Jakarta yang selalu menjadi soundtrack harian mereka selama bertahun-tahun. Langit biru cerah tanpa polusi membentang luas di atas kepala, sementara angin sepoi-sepoi membawa aroma tanah basah dan dedaunan hijau yang menenangkan jiwa.
Rehan memarkir mobil SUV hitamnya di pinggir jalan berbatu, lalu mematikan mesin. Keheningan yang menyelimuti mereka bukan keheningan yang canggung atau hampa, melainkan keheningan yang penuh potensi. Seperti kanvas putih yang menunggu untuk dilukis.
“Kita sampai,” ucapnya lembut, menoleh ke arah Winda yang duduk di kursi penumpang.
Winda tersenyum, matanya berbinar saat memandang hamparan lahan kosong di depan mereka. Tanah seluas 500 meter pers