Waktu terasa melaju lebih cepat seiring membesarnya perut Winda, seolah alam semesta tahu bahwa kesabaran mereka telah mencapai puncaknya. Hari-hari kini dipenuhi dengan doa, persiapan logistik yang matang, dan rasa harap yang semakin membuncah hingga sulit dibendung. Setiap malam, tanpa terkecuali, Rehan selalu meluangkan waktu untuk duduk di sisi tempat tidur, tangannya rests gently di atas perut istrinya yang kini sebesar bola basket kecil. Ia berbicara lembut kepada calon anaknya, membacakan dongeng sederhana atau sekadar menceritakan betapa ia menantikannya, seolah sudah mengajaknya mengenal suara ayah sejak dini—suara yang akan menjadi jangkar keamanan bagi si kecil kelak.
Pagi itu, suasana di penthouse Artha Tower terasa sedikit berbeda. Langit Jakarta yang semula cerah perlahan be