Pukul 06.45 pagi.
Winda sudah berdiri di depan lobi Gedung Artha Global, menyeruput kopi panas dari gelas kertas. Langit Jakarta masih berwarna kelabu—sisa hujan semalam meninggalkan genangan air di aspal yang memantulkan cahaya lampu gedung pencakar langit.
Ia datang lima belas menit lebih awal. Bukan semata-mata takut terlambat—meski peringatan tegas Rehan kemarin masih terngiang jelas di telinganya—tapi agar dirinya benar-benar siap. Seorang penerjemah butuh fokus yang tajam, dan kopi adalah bahan bakarnya.
Lift eksekutif meluncur mulus menuju lantai 45. Pintu terbuka langsung ke area resepsionis pribadi yang sunyi senyap. Karpet tebal meredam setiap derap langkah kaki. Di sini, tidak ada suara telepon berdering, tidak ada obrolan karyawan. Hanya keheningan yang terasa mahal.
“Selamat pagi, Nona Winda,” sapa seorang wanita muda berseragam rapi dari balik meja resepsionis. Ia tersenyum sopan, tapi matanya tetap waspada. “Tuan Rehan sudah menunggu di dalam. Beliau meminta Anda masuk segera setelah tiba.”
Winda mengangguk, merapikan kembali kerah blazer kremnya, lalu berjalan menuju pintu ganda kayu mahoni yang sama persis seperti kemarin.
Jantungnya berdetak pelan. Tenang, Win. Kau profesional. Kau dibayar untuk menerjemahkan, bukan untuk berteman.
Ia mengetuk pintu sekali.
“Masuk,” terdengar suara berat dari dalam.
Winda mendorong pintu masuk.
Ruang kerja Rehan Al-Farisi jauh lebih luas dibanding ruang rapat kemarin. Dindingnya dilapisi panel kayu gelap, rak-rak buku penuh ensiklopedia hukum dan bisnis dari berbagai penjuru dunia, serta jendela kaca raksasa yang menawarkan pemandangan seluruh kota Jakarta yang perlahan mulai bangun.
Rehan duduk di balik meja kerjanya yang sangat besar, tenggelam di bawah tumpukan dokumen. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang yang digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang kuat saat ia menandatangani surat-surat dengan pena tinta hitam.
Ia tidak menoleh saat Winda masuk.
“Duduk,” perintahnya singkat, lalu mengangkat kepala.
Winda mengambil kursi tamu di seberang meja, lalu duduk dengan tenang, tangannya terlipat rapi di atas pangkuan.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit. Rehan terus saja menulis, seolah Winda tidak ada di ruangan itu.
Bagi kebanyakan orang, ini mungkin terasa menghina. Tapi Winda paham. Ini adalah ujian. Ujian kesabaran. Ujian apakah ia tipe orang yang akan langsung memprotes, atau justru mampu menyesuaikan diri dengan ritme sang bos.
Winda memilih diam. Ia mengeluarkan tabletnya, membuka aplikasi kamus, dan mulai membaca berita ekonomi terkini dalam bahasa Arab agar otaknya tetap aktif.
Akhirnya, setelah dua puluh menit berlalu, Rehan meletakkan penanya. Ia mendongak. Matanya yang gelap menatap Winda dengan intensitas yang membuat udara di ruangan terasa menipis.
“Kau tidak bertanya kenapa aku membiarkanmu menunggu,” ucap Rehan. Suaranya terdengar serak, khas orang yang baru bangun tidur atau sedang sangat lelah.
“Waktu Anda sangat berharga, Pak Rehan. Saya berasumsi Anda sedang menyelesaikan hal penting. Mengganggu Anda hanya akan membuang waktu kita berdua,” jawab Winda tenang.
Satu alis Rehan terangkat sedikit. Ada kilatan rasa ingin tahu di matanya.
“Cerdas,” gumamnya pelan. Ia berdiri, berjalan mengelilingi meja, lalu bersandar di tepi meja tepat di hadapan Winda. Jarak mereka kini hanya sekitar satu meter. Wangi cendana halus bercampur aroma kopi hitam yang kuat memenuhi indra penciuman Winda.
“Ini aturan mainnya, Winda,” ucap Rehan, suaranya rendah namun tegas. “Pertama: Jangan pernah terlambat. Kedua: Jangan pernah membawa masalah pribadi ke meja kerjaku. Ketiga: Jika aku berbicara bahasa Arab dengan klien, terjemahkan secara langsung. Jika aku berbicara bahasa Indonesia, kau diam kecuali aku meminta pendapatmu. Keempat…”
Rehan berhenti sejenak, menatap lurus ke mata Winda.
“Keempat: Jangan pernah mencoba menebak apa yang ada di pikiranku. Terjemahkan apa yang aku ucapkan. Bukan apa yang aku rasakan. Aku tidak membayarmu untuk menjadi psikologku.”
Winda menahan tatapan tajam itu. “Dimengerti, Pak. Apakah ada aturan kelima?”
Rehan menyipitkan matanya sedikit. “Kelima: Jangan pernah membuatku terlihat bodoh di depan orang lain. Jika kau melakukan kesalahan, akui segera. Aku lebih menghargai kejujuran daripada kesempurnaan yang palsu.”
“Baik, Pak.”
Rehan mengangguk singkat. Ia kembali duduk di kursinya, lalu menekan tombol interkom di meja.
“Kau boleh pergi sekarang. Asistenku akan mengirim jadwal pertemuan minggu ini ke emailmu. Pelajari profil setiap klien dengan saksama. Aku tidak mau ada jeda sedikit pun saat menerjemahkan besok.”
Winda berdiri. “Siap, Pak.”
Ia berbalik menuju pintu. Tangannya baru saja menyentuh gagang pintu saat suara Rehan kembali terdengar.
“Winda.”
Winda berhenti dan menoleh. “Ya, Pak?”
Rehan tidak menatapnya. Ia menunduk, memeriksa jam tangan mahal di pergelangan tangannya.
“Makan siangmu belum teratur. Aku melihat data medis saat rekrutmenmu. Tekanan darahmu cenderung turun jika kau melewatkan makan pagi. Mulai besok, asistenku akan memesan menu khusus untukmu. Makanlah. Aku tidak ingin penerjemahku pingsan di tengah rapat penting hanya karena kelaparan.”
Winda tertegun sejenak.
Apakah ini bentuk perhatian? Atau sekadar efisiensi bisnis semata? Rehan jelas tidak ingin asetnya—dalam hal ini, kecerdasan Winda—rusak karena hal sepele seperti lapar.
Tapi entah mengapa, nada suaranya tadi... bukan sekadar perintah bos kepada bawahan. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat d**a Winda sesak, meski ia segera menepisnya. Jangan baper, Win. Dia hanyalah CEO yang sangat efisien. Itu saja.
“Terima kasih, Pak Rehan,” jawab Winda, suaranya sedikit lebih lembut dari sebelumnya.
“Pergi,” potong Rehan singkat, tanpa menoleh lagi.
Winda keluar dari ruangan itu dan menutup pintu pelan. Begitu berada di lorong, ia baru bisa menarik napas panjang. Ia bersandar di dinding, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya.
Pria itu dingin. Sangat dingin. Dan aturannya kaku seperti besi.
Tapi kalimat terakhirnya… “Aku tidak mau penerjemahku pingsan…”
Ada nada kepemilikan yang halus, namun jelas terasa.
Winda menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran aneh itu. Ia berjalan menuju lift, siap menghadapi hari pertamanya yang sebenarnya.
Namun, di balik pintu kayu mahoni itu, Rehan Al-Farisi tetap duduk diam. Ia menatap layar komputernya yang mati, dan pantulan wajahnya sendiri terlihat samar di kaca hitam tersebut.
Jarinya mulai mengetuk-ngetuk meja dengan irama gelisah. Di layar ponselnya yang baru saja ia matikan, ada tiga notifikasi dari ibunya dan satu pesan suara panjang dari pamannya. Foto-foto calon istri pilihan keluarga. Tuntutan untuk segera menikah demi mengamankan warisan klan Al-Farisi. Semua itu berteriak dalam keheningan ruang kerjanya.
Dan di hadapannya tadi, Winda Lestari... tenang. Terlalu tenang. Matanya tidak memancarkan rasa takut, melainkan ketenangan yang dalam. Seperti danau yang permukaannya datar, namun siapa yang tahu apa yang tersembunyi di dasarnya?
Rehan membutuhkan seseorang seperti itu. Seseorang yang tidak mudah goyah oleh drama keluarga atau tekanan adat. Seseorang yang bisa menjadi tamengnya saat ia harus kembali ke Timur Tengah bulan depan.
Rehan menghela napas panjang. Ia butuh solusi. Dan Winda… Winda mungkin adalah solusi yang tidak terduga.
Namun untuk saat ini, ia hanya akan mengawasi. Menguji. Memastikan bahwa perempuan ini benar-benar sekuat yang ia tunjukkan.
Karena jika Winda gagal, Rehan tidak punya rencana cadangan. Dan Rehan Al-Farisi tidak pernah memiliki rencana cadangan. Baginya, hidup adalah serangkaian pertaruhan yang harus dimenangkan—atau ia rela hancur bersama segala konsekuensinya. Termasuk kehancuran warisan keluarganya yang selama ini ia lindungi mati-matian.