Hari terakhir mereka di Bali tiba dengan cahaya yang berbeda. Pagi itu terasa lebih cerah dari biasanya, seolah alam semesta ikut merestui kebahagiaan yang akan mereka bawa pulang. Udara segar yang lembap menyelimuti seluruh vila, membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam dan bunga frangipani yang mulai layu namun tetap harum. Cahaya matahari keemasan menyinari setiap sudut ruangan—cahaya yang seolah berbisik: perpisahan ini bukan akhir, tapi awal dari bab baru yang lebih nyata.
Winda berdiri di teras kayu jati yang sudah ia hapal setiap seratnya, menatap pemandangan sawah hijau bertingkat dan bukit-bukit yang kini telah ia kenal betul—bukan sebagai turis yang sekadar lewat, tapi sebagai bagian dari jiwa tempat ini. Tangannya menyentuh lembut perutnya yang kini terasa sedikit lebih