Sinar matahari pagi menyelinap masuk lewat celah tirai linen putih, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut ke seluruh kamar tidur utama. Bukan cahaya yang menyilaukan, tapi cahaya yang seolah berbisik: hari ini akan menjadi hari yang baik. Aroma kopi arabika yang baru diseduh dan roti panggang mentega yang masih hangat tercium samar dari dapur—aroma yang mengisi rumah dengan kehangatan yang terasa seperti pelukan tak kasatmata. Aroma yang mengatakan: kamu aman, kamu dicintai, kamu di rumah.
Rehan terbangun lebih dulu, namun ia tidak beranjak dari tempat tidur. Tubuh besarnya tetap terbaring miring, satu lengan menopang kepalanya sementara tangan lainnya terlipat di bawah bantal. Matanya tidak lepas dari wajah Winda yang masih terlelap tenang—bibirnya sedikit terbuka, napasnya teratur dan