Matahari pagi sudah naik cukup tinggi, menyinari jalanan aspal yang mulai ramai saat mobil mewah berwarna hitam milik Rehan melaju perlahan menuju kawasan perumahan tua yang tenang di pinggiran Jakarta Selatan. Di dalam kabin yang ber-AC dingin, suasana terasa hangat namun sedikit berdebar—terutama bagi Winda. Jemarinya sesekali menyentuh perutnya yang mulai membesar dengan lembut, gerakan refleks yang seolah ingin menenangkan diri sekaligus berbagi rasa gembira dengan kehidupan kecil yang tumbuh di dalam sana. Napasnya agak pendek, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Bukan karena takut, tapi karena beban harapan yang ia pikul: harapan bahwa kebahagiaannya kali ini benar-benar diterima, bukan sekadar ditoleransi.
Rehan, yang duduk di sebelahnya dengan satu tangan tetap memegang