Enam bulan kemudian. Jakarta.
Hujan sore turun perlahan, membasahi kaca jendela raksasa di ruang tamu penthouse Artha Tower. Dulu, suara hujan di gedung setinggi ini selalu terdengar seperti desisan ular—dingin, mengisolasi, dan penuh kesepian. Tapi malam ini, suaranya berubah menjadi irama pengantar tidur yang menenangkan. Di dalam, suasana terasa hangat dan nyaman, sebuah kontras tajam dari keheningan mencekam yang pernah mendefinisikan tempat ini selama bertahun-tahun.
Aroma kopi yang baru diseduh dan kue vanili yang matang masih tercium harum, bercampur dengan wangi lilin lavender yang menenangkan hati. Lampu-lampu kota di luar mulai menyala satu per satu, membentuk lukisan cahaya lembut di balik tirai tipis—cahaya yang kini terasa seperti teman, bukan tatapan menghakimi dari dunia l