Pukul sepuluh pagi. Sebuah vila pribadi yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan tropis Ubud, Bali.
Winda perlahan membuka matanya, dibangunkan bukan oleh dering alarm atau notifikasi berita skandal, melainkan oleh suara deburan ombak jauh di sana dan alunan angin yang membawa aroma tanah basah serta bunga frangipani. Sinar matahari keemasan menyelinap masuk melalui tirai linen tipis, menari-nari di dinding kamar yang dicat putih bersih—cahaya yang lembut, tidak menyilaukan, seolah dunia sedang berbisik: Kalian aman sekarang.
Ini bukan lagi apartemen dingin milik Rehan di Artha Tower yang selalu terasa seperti benteng pertahanan. Bukan pula kantor Artha Global yang riuh oleh ambisi dan pengkhianatan. Di sini, waktu bergerak berbeda. Di sini, mereka bersembunyi—bukan karena takut, ta