Di Gedung Artha Global, satu kesalahan terjemahan bukan sekadar typo—itu tiket pulang paksa. Winda Lestari tahu betul hal itu saat hujan deras menghantam kaca lantai 45, seirama dengan detak jantungnya yang kian tak terkendali. Hari ini, ia akan menghadapi Rehan Al-Farisi, pria yang baru saja memecat tiga penerjemah dalam dua minggu terakhir.
Winda menarik napas panjang, merapikan syal sutra tipis di lehernya. Ia bukan tipe wanita yang mudah gugup. Sebagai penerjemah lepas dengan reputasi baik di dunia korporat, ia sudah terbiasa menghadapi klien sulit, tenggat waktu mepet, dan istilah hukum yang rumit. Tapi hari ini berbeda. Hari ini taruhannya bukan hanya gaji, tapi harga dirinya.
“Winda, kau siap?” bisik Rina, asisten yang menemaninya, sambil melirik cemas ke arah pintu ganda kayu mahoni di ujung lorong. “Kau tahu kan? Satu karena salah mengartikan istilah kontrak, satu karena terlambat lima menit, dan satu lagi… katanya ‘tidak cocok dengan aura beliau’.”
“Aku hanya menerjemahkan kata-kata, Rin. Bukan nyawa,” jawab Winda, meski bibirnya terasa kering. “Tenang saja. Aku sudah mempelajari cara bicara beliau. Aksen Arab-nya halus, tapi bahasanya sangat baku. Aku pasti bisa menangani.”
Belum selesai bicara, pintu ganda itu terbuka. Seorang pria tinggi berjas hitam rapi melangkah keluar, diikuti dua pengawal bersenjata yang terlihat lebih seperti mesin pembunuh daripada penjaga keamanan. Di belakang mereka, sosok pria yang masih berbicara lewat telepon genggam dalam bahasa Arab yang cepat dan tegas.
Itu dia. Rehan Al-Farisi.
Wajahnya jauh lebih tampan daripada foto-fotonya di majalah bisnis. Namun, aura dingin yang menyelimutinya terasa jauh lebih menusuk. Rahangnya tegas, matanya gelap bagaikan batu hitam, dan setiap langkah kakinya terdengar berat, penuh wibawa yang tidak bisa dibantah. Tanpa senyum, tanpa sapaan, ia langsung masuk kembali ke ruang rapat. Asistennya yang berwajah pucat memberi isyarat tangan.
“Silakan masuk. Beliau sudah menunggu.”
Ruang rapat itu luas, dingin, dan nyaris tanpa hiasan. Meja konferensi panjang dari kayu hitam mengkilap menjadi pusat ruangan. Rehan duduk di ujung meja, jari-jarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang mengganggu. Di sekelilingnya duduk enam orang eksekutif senior, semuanya pria, dan semuanya terlihat tegang.
Winda mengambil tempat duduk kosong di sisi kanan Rehan. Ia membuka tabletnya, menyiapkan aplikasi catatan dan kamus digital.
“Sepuluh menit,” ucap Rehan tanpa menoleh, suaranya datar seperti pisau bedah. “Buktikan kau bukan orang keempat yang kulempar keluar bulan ini. Waktu saya tidak murah, Nona Lestari.”
Winda menelan ludah, tapi wajahnya tetap tenang. “Baik, Pak. Saya siap.”
Pertemuan dengan delegasi Dubai dimulai sepuluh menit kemudian. Tiga pria berbaju thobe putih masuk, dipimpin oleh seorang Sheikh tua yang berwibawa. Bahasa Arab mengalir deras. Istilah-istilah teknis tentang ekspor energi terbarukan, klausul eksklusivitas, dan sanksi pelanggaran kontrak dilontarkan dengan cepat.
Winda bekerja dengan fokus penuh. Jemarinya menari di layar tablet, mencatat, menerjemahkan, dan kadang-kadang membisikkan terjemahan singkat kepada Rehan ketika ada nuansa budaya yang perlu dijelaskan. Awalnya, semuanya berjalan lancar. Rehan tampak sedikit rileks, meski ekspresinya tetap dingin.
Namun, bencana terjadi di menit ke-45.
Sheikh tersebut menyebutkan sebuah istilah kuno dalam dialek Badui yang jarang digunakan dalam konteks bisnis modern: “Al-Ahd al-Muqaddas”.
Secara harfiah, artinya “Perjanjian Suci”. Tapi dalam konteks budaya kabilah mereka, ini bukan sekadar kontrak bisnis. Ini adalah sumpah darah. Jika dilanggar, bukan hanya denda finansial yang berlaku, tapi juga kutukan sosial dan permusuhan abadi antar-keluarga.
Jemarinya berhenti mengetuk meja. Enam pasang mata eksekutif tertuju padanya, menunggu. Di seberang sana, Sheikh tua itu menatapnya dengan tatapan yang sulit dibaca—apakah ini ujian, atau jebakan? Keringat dingin mengalir di punggung Winda meski AC ruangan bersuhu 18 derajat. Satu kata salah, dan miliaran rupiah plus reputasinya bisa hangus.
Winda ragu sejenak. Apakah ia harus menerjemahkannya secara harfiah? Atau menjelaskan implikasi budayanya? Ia memilih untuk menjelaskan.
Ia membungkuk sedikit ke arah Rehan, berbisik, “Pak, istilah Al-Ahd al-Muqaddas yang beliau sebutkan bukan sekadar klausul standar. Itu adalah sumpah adat. Jika kita menandatangani ini, kita terikat secara moral dan sosial, bukan hanya hukum. Pelanggaran kecil pun bisa dianggap penghinaan besar terhadap leluhur mereka.”
Rehan akhirnya menoleh. Tatapannya tajam, menyelidik, seolah ingin menembak kepala Winda dengan mata. “Kau bilang itu sumpah adat?” tanyanya, suaranya rendah, hanya terdengar oleh Winda.
“Ya, Pak. Sangat serius. Saya sarankan kita meminta klarifikasi apakah mereka bersedia memasukkan klausul pencairan sumpah jika terjadi force majeure, agar kita tidak terjebak dalam konflik budaya.”
Rehan diam selama tiga detik yang terasa seperti tiga abad. Lalu, ia berbalik kepada Sheikh tersebut, berbicara dalam bahasa Arab yang fasih dan elegan, mengajukan pertanyaan klarifikasi persis seperti yang disarankan Winda.
Wajah Sheikh itu berubah. Awalnya kaget, lalu perlahan mengembang menjadi senyum hormat. Ia mengangguk, lalu menjawab dengan panjang lebar, mengakui bahwa memang ada nuansa tersebut, dan mereka bersedia menambahkan klausul tambahan demi kenyamanan mitra bisnis. Ketegangan di ruangan mencair. Delegasi Dubai tampak lebih respek.
Rehan kembali menatap Winda. Kali ini, tatapannya tidak setajam sebelumnya. Ada kilatan sesuatu—mungkin kejutan, atau mungkin pengakuan—di mata gelap itu.
Pertemuan berakhir dua jam kemudian. Para eksekutif dan delegasi berpamitan. Ruangan tinggal menyisakan Rehan, asistennya, dan Winda.
Rehan berdiri, merapikan jasnya. Ia berjalan mendekati Winda yang sedang membereskan tablet. Wangi parfum mahal bercampur dengan aroma tembakau tipis menyeruak dari tubuh pria itu.
“Winda Lestari,” ucapnya. Nama Winda terdengar asing di lidah pria itu, namun diucapkan dengan presisi yang sempurna. “Kau menyelamatkan saya dari blunder diplomatik yang bisa merugikan miliaran rupiah. Banyak penerjemah yang akan menerjemahkannya secara harfiah dan membiarkan saya masuk ke perangkap budaya itu.”
Winda mengangkat bahu, mencoba terlihat santai meski kakinya masih gemetar. “Itu tugas saya, Pak. Bukan hanya menerjemahkan kata, tapi juga makna.”
Rehan menatapnya lekat-lekat. Untuk pertama kalinya, Winda merasa seperti sedang dipindai oleh mesin sinar-X. Pria itu tidak tersenyum, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas. Hampir tak terlihat.
“Kau diterima,” kata Rehan tiba-tiba.
Winda berkedip. “Maksudnya… untuk proyek ini, Pak?”
“Tidak,” jawab Rehan, mengambil langkah mendekat. “Untuk posisi penerjemah pribadi. Tetap. Mulai besok pagi pukul tujuh. Jangan terlambat.”
Rehan berbalik, berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak, tanpa menoleh. “Dan Winda… jangan pernah membuatku bertanya dua kali tentang makna sebuah kata lagi. Waktu saya mahal.”
Pintu tertutup. Winda terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara lega, bangga, dan… ketakutan yang aneh. Ia baru saja mendapatkan pekerjaan impian dengan gaji yang pasti fantastis. Tapi ia juga baru saja masuk ke dalam orbit pria yang dikenal menghancurkan siapa saja yang mengecewakannya.
Rina masuk ke ruangan dengan wajah cerah. “Gimana? Kau dipecat?”
Winda menatap pintu yang baru saja ditutup Rehan. Senyum tipis terbentuk di bibirnya. “Tidak,” gumam Winda. “Aku justru baru saja menandatangani kontrak dengan iblis paling tampan di Jakarta.”
Rina tertawa, mengira itu candaan. Tapi Winda tahu, itu bukan candaan. Ia baru saja menandatangani kontrak dengan pria yang bisa menghancurkannya dalam sekejap, sekaligus satu-satunya pria yang membuatnya merasa dilihat sepenuhnya dalam lima tahun terakhir. Dan entah mengapa, di balik ketakutan yang merayap di tulang punggungnya, ada bagian kecil dari hati Winda yang penasaran: apa yang sebenarnya disembunyikan di balik mata dingin Rehan Al-Farisi? Sesuatu yang bahkan terjemahan terbaik pun tak mampu ungkapkan.
Ini adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih rumit daripada sekadar terjemahan bahasa.