Cahaya pertama masuk lewat jendela yang menghadap pohon kecapi, jatuh tepat di bantal tempat Miyu tidur, dan ia terbangun dengan perasaan aneh bahwa ia sedang berada di rumah orang lain yang kebetulan sudah menjadi rumahnya.
Pintu kamar sudah tertutup sejak semalam. Yang terdengar pagi itu hanya bunyi samar dari sisi tempat tidur, suara rendah yang berbisik, dan Miyu menahan napas supaya tidak ketahuan sudah bangun.
Kanata duduk bersila di sampingnya dengan punggung bersandar pada papan kepala, satu telapak tangan terbuka di atas perut Miyu yang naik turun pelan di bawah selimut. Ia berbicara dalam bahasa Jepang, sangat rendah, seolah takut suaranya memecahkan sesuatu.
“Selamat pagi, kecil. Ini ayahmu. Kemarin ibumu menikah denganku, dan kau menendang sepanjang pidato Santa. Kami semua sepakat itu pendapat yang jujur.”
Miyu menggigit pipi dalamnya.
“Aku belum tahu banyak tentang cara menjadi ayah. Aku sudah membaca satu setengah buku dari tujuh, dan sisa bukunya masih dipegang Santa karena dia ingin menandai halaman yang paling dramatis.” Jeda. “Tapi aku tahu satu hal. Ibumu keras kepala, pandai menyeduh teh, takut pada banyak hal tetapi tetap berjalan juga. Kalau kau mewarisi itu, kau akan baik-baik saja. Kalau kau mewarisi kebiasaanku lupa makan, ibumu akan melemparmu dengan puding.”
Bahu Miyu bergetar. Ia tidak sanggup lagi menahan tawa.
“Kamu sudah bangun,” kata Kanata, tanpa menoleh.
“Sejak kamu bilang Santa menandai halaman dramatis.”
“Dan kamu tidak bilang apa-apa.”
“Aku mau dengar kamu selesai.” Miyu membuka mata dan memandang langit-langit kamar yang masih asing, dengan balok kayu gelap dan lampu gantung kecil yang dipilih bersama lewat tablet. “Aku mengerti semuanya, kamu tahu.”
“Aku tahu. Justru itu sebabnya aku berbisik.” Kanata menarik tangannya dengan hati-hati. “Boleh?”
“Boleh apa?”
“Menaruh kepalaku di sini.”
“Boleh.”
Ia merebahkan kepala di perut Miyu, dan dari dalam, jelas dan tanpa ragu, datang satu tendangan kecil tepat di pelipisnya. Kanata terdiam. Ia tertawa tanpa suara, matanya terpejam.
“Dia menyapaku.”
“Dia menyuruh kamu minggir.”
“Dia menyapaku, Miyu.”
“Terserah kamu saja.”
Ia bangkit pelan, memakai jubah tidur, dan berjalan menyusuri lorong menuju pintu di ujung yang sejak kemarin ditutup rapat. Kanata menyusul dengan langkah ragu, seperti orang yang berharap tidak ditanya.
Kamar bayi itu kecil dan terang. Boks berukir daun teh berdiri di bawah jendela, selimut kuning bersudut miring Ira terlipat di dalamnya, dan di dinding yang disinari matahari pagi tergantung sebuah bingkai kayu jati dengan foto yang sudah ia kenal: seorang gadis kecil berkepang, seorang pria berjas dokter, seorang perempuan berkacamata yang menaruh dagu di bahu mereka berdua.
Miyu berhenti di ambang pintu.
“Kapan?”
“Tiga hari lalu. Santa membawa paku sepuluh kali lebih banyak dari yang kuperlukan.” Kanata menggaruk tengkuk. “Aku tidak sempat memberi tahu karena kamu sedang sibuk menjadi pengantin. Aku mengaku sekarang.”
“Kamu mengaku setiap kali setelah kejadian.”
“Itu tetap mengaku.”
“Lain kali sebelum.”
“Lain kali sebelum,” ulangnya.
Miyu melangkah masuk dan menyentuh sudut bingkai dengan ujung jari. Sinar matahari jatuh persis pada wajah ibunya, dan perempuan di foto itu tampak, untuk sesaat, seperti sedang tersenyum kepada sesuatu di luar bingkai.
“Pagi, Ma,” bisiknya. “Aku sudah menikah.”
Kanata tidak berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di belakangnya, sangat dekat, tanpa menyentuh, memberi ruang sekaligus tempat bersandar.
***
Dapur rumah Menteng masih berbau cat dan kayu baru. Set teh kakek sudah terpajang di rak terbuka di atas kompor, poci hijau dan empat cangkir tanpa gagang yang tersusun saling menopang, dan Miyu merasa lega melihat benda tua itu tampak betah di antara semua barang baru. Di meja makan sudah terletak sebuah bungkusan berdaun pisang besar dengan catatan menempel di atasnya.
Selamat pagi, Pengantin. Jangan keluar kamar sebelum pukul sepuluh, kata ramalanku. Ini nasi padang dari tempat yang kau suka. S.
“Dia menaruhnya di depan pintu,” kata Kanata, membawa gelas air putih. “Satpam bilang Santa datang pukul enam dan menangis sebentar di pos sebelum pergi.”
“Dia memang begitu.” Miyu duduk dengan satu tangan di punggung. “Aku ingin membuka sesuatu dulu.”
Dari tas tangan yang masih tergeletak di kursi sejak semalam, ia mengeluarkan amplop krem dengan segel lilin tipis. Kanata duduk di sampingnya tanpa bertanya. Hanya mendengarkan, menunggu.
“Kamu tidak perlu membukanya sekarang,” katanya, setelah beberapa saat.
“Aku mau. Nanti aku terus memikirkannya.”
Segelnya pecah dengan bunyi kecil. Surat itu hanya satu lembar, ditulis tangan dengan huruf Jepang yang rapi dan miring ke kanan, dan Miyu membacanya dengan suara pelan agar Kanata ikut mendengar.
“Nona Agatha. Saya menulis ini supaya Anda tidak perlu menjawab. Semalam saya mengatakan semua yang perlu dikatakan, dan surat ini hanya melengkapinya. Saya kembali ke Paris dalam beberapa hari. Saya tidak akan mengganggu hidup Anda atau Kanata lagi, dan saya berharap itu bukan beban bagi siapa pun. Puding di hotel itu telah saya coba tiru berkali-kali dan saya tidak pernah berhasil. Saya mulai berpikir yang membuatnya enak bukan resepnya. Semoga bayi Anda mewarisi kebiasaan Anda menolak dengan jujur, bukan kebiasaan saya menimbang segalanya. Christine.”
Miyu meletakkan kertas itu di meja. Kanata hanya diam, tetapi tangannya terulur dan menutup tangan Miyu.
“Dia tidak menulis namanya lengkap,” katanya akhirnya.
“Karena itu cukup.” Miyu menyeka sudut matanya. “Aku nggak membencinya, Kanata. Aku sempat mau. Tapi aku nggak sanggup.”
“Kamu boleh tidak membencinya.”
“Aku tahu. Itu yang membuatku bingung.” Ia memutar-mutar ujung kertas. “Dia pergi juga, ya. Ke Paris. Semua yang pergi dari hidupku selalu lewat pintu yang kubuka sendiri.”
Suara Miyu berubah. Bukan lagi tentang Christine.
“Orang-orang yang kucintai selalu pergi.”
Kanata tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Miyu, lama, seperti sedang membaca baris di halaman yang ia tidak mau lewatkan.
“Aku tidak akan berjanji tidak akan mati,” katanya akhirnya. “Itu janji bodoh, dan kamu akan tahu aku berbohong. Orang yang mengatakan itu pasti penipu atau tidak mengenal rumah sakit.” Ia mengambil napas. “Tapi aku berjanji satu hal. Aku tidak akan pergi dengan sengaja. Tidak karena marah, tidak karena takut, tidak karena orang lain menyuruh. Kalau aku pergi, itu bukan pilihanku, dan aku akan melawan sampai pilihan itu diambil dariku.”
Miyu menatapnya. Matanya merah, tetapi tidak menangis.
“Itu janji paling jujur yang pernah kudengar,” bisiknya.
“Aku belajar dari orang yang tidak suka kebohongan.”
“Siapa?”
“Perempuan di depanku. Dia membuat wajahnya mengkhianati setiap dusta.”
Miyu tertawa kecil, serak, dan menyandarkan dahinya ke bahu Kanata. Mereka duduk begitu cukup lama, sampai bunyi perut Kanata memecahkan keheningan dengan sangat jelas.
“Aku belum makan,” katanya.
“Aku tahu.”
“Ini sudah pagi.”
“Kita punya nasi padang.” Miyu membuka bungkusan daun pisang itu dengan dua tangan. Aroma rendang, sambal hijau, dan daun singkong rebus segera memenuhi dapur, begitu pekat sampai terasa seperti sambutan. Ia mencuci tangan, mengeringkannya, lalu mengambil gumpalan nasi dengan jari dan menyuapkan satu ke mulut Kanata tanpa menunggu.
Kanata mengunyah pelan, matanya terpejam. “Sama seperti di atap.”
“Persis. Sudah kusuruh Santa pesan di tempat yang sama.”
“Dia menangis di pos satpam.”
“Dia sudah menangis di mana-mana sejak kemarin.”
Mereka makan dengan tangan, pelan, saling mengambilkan lauk tanpa kata-kata yang perlu dijelaskan. Sinar matahari bergeser di meja, menyentuh poci hijau di rak, dan untuk beberapa saat dapur itu terasa seperti tempat yang sudah sangat lama ada.
Ponsel Kanata bergetar di tepi meja. Ia menatap layarnya dengan mulut penuh nasi.
“Hosho,” katanya, sesudah menelan.
“Apa katanya?”
Kanata memutar layar agar Miyu bisa membaca.
Hosho: Aku pulang ke Tokyo hari Jumat. Seduhkan teh itu sekali lagi sebelum aku pergi.