“Halaman satu,” kata Santa, dan mengangkat kertas pidatonya setinggi wajah seolah itu panji perang. “Kanata, sahabatku sejak kecil, adalah lelaki yang memerlukan empat puluh tujuh menit untuk memilih dasi dan nol menit untuk jatuh cinta.”
Tawa meledak di ruang jamuan Kumirawa Resto. Lampu kristal memantulkan cahaya hangat ke meja-meja bundar yang dipenuhi lilin pendek dan bunga putih, dan di panggung kecil di ujung ruangan Santa berdiri dengan mikrofon tergenggam dua tangan, matanya sudah merah sebelum ia membaca baris kedua.
“Santa,” desis Kanata, dari meja utama.
“Aku baru di halaman satu.”
“Kau punya tiga halaman.”
“Itulah yang kukatakan.” Santa menyeka hidung dan melanjutkan. “Dulu, ketika kami masih kanak-kanak, Kanata pernah menolak makan es krim karena menurutnya warna merah muda “tidak serius”. Hari ini ia menikahi perempuan yang membuatnya makan nasi padang di atas gedung kantornya sendiri.”
“Dengan tangan!” teriak Mikan dari meja keluarga.
“Dengan tangan. Terima kasih, Nona Mikan.”
Miyu duduk di samping Kanata dengan sepatu yang diam-diam sudah dilepas di bawah meja, kakinya bertumpu pada bantal kecil yang diselundupkan Aya. Gaun putih gading itu masih rapi. Hiasan cendana di sanggulnya terasa hangat di kulit kepala. Setiap kali Santa menyebut nama kecil Kanata, bahu lelaki di sampingnya naik sedikit, lalu turun, seperti orang yang diam-diam menikmati dipermalukan.
“Halaman dua,” lanjut Santa, dan suaranya mulai serak. “Aku pernah yakin sahabatku akan menua sendirian bersama jadwal rapat. Aku salah. Aku tidak pernah sesenang ini salah, dan aku harus mengakuinya sambil menangis di depan enam puluh orang.” Ia mengangkat kepala, menatap Miyu langsung. “Miyu, terima kasih sudah membuat sahabatku berhenti hidup sebagai direktur dan mulai hidup sebagai orang.”
Miyu menutup mulut. Kanata meraih tangannya di bawah meja.
“Halaman tiga,” kata Santa.
“Cukup,” kata ruangan itu, serempak.
Santa mengangkat gelas jus. “Untuk Kanata dan Miyu! Dan untuk bayi mereka, yang harus mewarisi kesabaran ibunya, bukan kebiasaan ayahnya memilih dasi.” Ia menahan isak, lalu turun dari panggung dengan hormat bungkuk yang berlebihan, dan disambut tepuk tangan yang jauh lebih keras daripada pidato mana pun yang pernah ia ucapkan.
Mikan merebut mikrofon berikutnya dan membalas dengan pidato satu menit penuh ejekan. Nana, dari meja sahabat, berdiri tanpa diminta dan melempar balasan.
“Mikan, kata Miyu, lo yang bilang Kanata bakal mati sebagai lajang tua yang dikubur bersama laporan keuangan!”
“Kau menyimpan ucapanku sampai sekarang?”
“Gue pengacara. Gue menyimpan semua kata yang bisa dipakai sebagai bukti.”
“Kalau begitu catat, Nona Pengacara, bahwa itu hanya ramalan.”
“Ramalan dari Santa?”
“Dari Santa!”
Satu ruangan terguncang. Aya, sambil mengelap air mata, menepuk punggung Nana. Di dekat dinding, seorang pria muda berjas gelap yang sejak tadi berdiri sendirian dengan gelas di tangan, si jaksa muda, akhirnya mendekati Nana ketika tawa mulai mereda.
“Nona Kinara. Saya tidak akan bertanya apa pun lagi, kecuali Anda yang mengizinkan.”
Nana menatapnya, dari kepala sampai sepatu, tanpa berkedip. “Tidak.”
“Baik.”
“Tapi lo boleh makan kuenya. Gratis.”
Jaksa muda itu tersenyum, bukan sakit hati, hampir terhibur. “Itu penolakan paling sopan yang pernah saya terima.”
“Itu bukan penolakan. Itu putusan,” sahut Nana. “Banding ditolak.”
Pemuda itu mengangguk sekali, mengambil sepotong kue stroberi dari baki, dan pergi ke sudut ruangan dengan wajah orang yang telah menutup satu perkara. Aya mengeluarkan suara menahan tawa yang terdengar seperti bersin. Di seberang ruangan, Ira mendadak menjerit.
“ANGGARA GANDENG GUE!”
Beberapa kepala menoleh. Anggara, dengan telinga merah, masih menggenggam tangan Ira yang melayang-layang di antara mereka. “Saya hanya...”
“Dia gandeng gue di depan Reno! Di depan Pak Rudi! Di depan Tuhan!”
“Ira, tolong,” bisik Anggara.
“Tha, lo lihat nggak?!”
“Gue lihat,” sahut Miyu, tertawa. Dari sudut matanya ia melihat Reno berjalan pelan melintasi ruangan, berhenti di depan meja utama, dan meletakkan sebungkus kecil di depan Kanata. Isinya biji kopi pilihan yang dibalut kain linen.
“Buat Anda,” kata Reno. “Biar kalau Anda lupa makan, Anda inget minum.”
Kanata memegang bungkusan itu dengan kedua tangan. “Terima kasih, Reno.”
Reno mengangguk, pergi, dan Miyu bersumpah ia melihat sudut mulut lelaki itu bergetar.
Emily, Rei, dan Pak Ghani duduk di meja kantor lama Miyu, dan dari sana Emily mengacungkan jempol dua kali sambil terisak.
Ketika lagu pelan mulai diputar, ketika para tamu mulai bergerak di antara meja, pintu ganda ruang jamuan terbuka, dan seorang perempuan semampai dengan gaun biru tua masuk sendirian.
Rambut cokelat kemerahannya jatuh bergelombang ke bahu. Setiap gerakannya tenang dan terukur, aura bangsawan yang tidak pernah bisa disembunyikan, tetapi ada sesuatu yang berbeda malam itu: ia tidak menengadahkan dagu. Matanya mencari-cari, menemukan meja utama, dan berhenti pada Miyu.
Ruangan tidak sunyi. Hanya orang-orang di sekeliling meja utama yang menahan napas.
Nana sudah berdiri di samping kursi Miyu dengan stabilo kuning terselip di saku clutch-nya. Miyu menyentuh pergelangan Nana. “Gue yang jawab.”
“Gue di sini.”
“Gue tahu.”
Kanata bergerak untuk berdiri, tetapi Miyu menggeleng kecil, dan ia kembali duduk. Christine berhenti dua langkah dari meja. Ia menunduk hormat kepada Hosho, yang membalas dengan satu anggukan datar, lalu menatap Miyu.
“Nona Agatha,” katanya, dalam bahasa Jepang yang jelas dan perlahan, seperti memilih tiap kata dari rak. “Terima kasih telah mengundang saya. Saya tahu Anda tidak harus.”
“Nona Christine,” sahut Miyu, dalam bahasa yang sama. “Silakan.”
“Saya hanya akan mengambil waktu sebentar.” Christine menarik napas. “Pada hari kita minum teh, saya mengatakan bahwa Anda berutang kepada Kanata. Pada hari yang lain, saya membiarkan kata “balas” dipakai atas nama saya. Itu salah. Saya memakai kata-kata itu karena itulah satu-satunya cara yang saya kenal untuk menimbang orang. Keluarga saya mengukur segalanya dengan neraca. Saya tidak pernah belajar bahwa ada hal yang tidak punya harga.”
Hening di sekeliling mereka terasa padat.
“Anda tidak berutang apa pun kepada Kanata. Ia tidak berutang apa pun kepada Anda. Saya datang bukan untuk meminta dimaafkan. Saya datang untuk mengatakannya di hadapan Anda dan di hadapan dia, supaya tidak ada yang menyangka itu terjadi di belakang punggung.”
Miyu menatapnya lama. Sesuatu di dalam dirinya yang selama berminggu-minggu mengeras, tali yang menegang tiap kali kata “berutang” disebut, kini mengendur pelan-pelan, bukan karena ia lupa, tetapi karena ia mendengar kata itu diambil kembali.
“Terima kasih telah mengatakannya,” kata Miyu. “Saya tidak akan bilang “tidak apa-apa”, karena kata-kata itu membuat saya pergi selama dua pekan. Tetapi saya menerima permintaan maaf Anda. Dan saya senang Anda datang.”
Bahu Christine turun setengah senti. Ia mengangguk, hampir tidak terlihat. “Selamat atas pernikahan Anda. Selamat untuk bayi Anda.” Ia menoleh ke Kanata. “Kanata.”
“Christine,” sahut Kanata, tenang. “Terima kasih sudah datang.”
“Aku pamit.” Dari tas kecilnya ia mengeluarkan sebuah amplop krem dengan segel lilin tipis, lalu menaruhnya dengan dua tangan di telapak Miyu. “Ini untuk Anda. Bacalah kapan pun Anda siap. Atau jangan dibaca sama sekali.”
Ia membungkuk hormat kepada Miyu, kepada Hosho, dan berjalan keluar tanpa menoleh. Pintu ganda menutup di belakangnya dengan bunyi pelan.
Nana mengembuskan napas yang ia tahan sejak tadi. “Gue nggak butuh stabilo.”
“Gue bilang,” sahut Miyu pelan.
Amplop itu terasa ringan di tangannya, lebih ringan daripada yang ia bayangkan. Ia memandang segelnya yang sederhana, nama tertulis tangan di bagian depan, Agatha Miyu, dan tidak membukanya malam itu.