Ada perempuan asing di dapur rumah Menteng, pukul enam lewat sepuluh, dan ia sedang menyeduh teh Miyu dengan cara yang salah.
“Selamat pagi, Nyonya Saionji,” sapanya sopan, sambil membungkuk kecil dengan teko di tangan.
Miyu berdiri di ambang pintu dapur dengan satu tangan menahan punggung, satu lagi menahan jubah tidur. Lima hari sudah lewat sejak pagi pertamanya di rumah itu, dan ia baru mulai terbiasa dengan bunyi lantai kayu serta kecapi di luar jendela. Perempuan paruh baya berkemeja biru muda dan celemek putih itu tidak termasuk dalam bunyi yang ia kenal.
“Nyonya siapa?”
“Nyonya Saionji, Bu.”
“Saya Miyu.” Ia mengatakannya pelan, dengan nada yang sebelumnya ia pakai kepada pelanggan yang membentak. “Dan, maaf, Ibu siapa? Dan kenapa Ibu memakai poci kakek saya?”
Wajah perempuan itu pucat. “Tuan Kanata yang meminta saya datang pagi ini, Bu. Dari agen. Kata Tuan, Ibu perlu bantuan di rumah karena kandungannya sudah besar. Dan di depan ada sopir.”
“Sopir.”
“Mobilnya sudah dipanaskan, Bu.”
Miyu menatap perempuan itu. Lalu ia berbalik, melangkah ke lorong, dan menaiki tangga dengan kecepatan yang tidak seharusnya dimiliki perempuan hamil tiga puluh dua pekan.
“KANATA!”
Kanata muncul dari kamar kerja dengan setengah dasi terikat dan wajah orang yang sudah menebak penyebabnya sejak pintu dapur terbuka. “Aku bisa menjelaskan.”
“Kamu menyewa sopir.”
“Dan seorang asisten rumah tangga.”
“Kamu bilang, “lain kali sebelum”.”
“Aku berniat mengaku sebelum.” Ia mengangkat kedua tangan. “Agen mengirim mereka lebih awal dari jadwal yang kubayangkan. Aku sudah menulis pesan untukmu semalam, tapi aku tertidur di sofa, dan pesannya masih terkirim sebagai draf.”
“Kamu tertidur di sofa karena apa?”
“Menunggu kamu tidur. Kamu bilang punggungmu sakit.”
Miyu membuka mulut untuk marah dan menyadari ia tidak bisa. Ini jenis masalah yang menjengkelkan: bersumber dari kebaikan. Ia menutup mulut, membukanya lagi, dan akhirnya duduk di bangku tangga, memegangi pegangan.
“Kamu bisa saja benar,” katanya. “Aku memang tidak boleh mengangkat berat. Dan punggungku memang sakit. Tapi kamu tidak bisa memutuskan hal seperti ini sendirian, Kanata. Ini rumah kita.”
“Aku tahu.”
“Kamu tahu, tapi tetap melakukannya.”
“Aku seorang direktur yang terbiasa memutuskan.” Kanata duduk di anak tangga di bawahnya, sehingga wajah mereka sejajar. “Itu bukan alasan. Aku berhenti.”
“Berhenti?”
“Mulai sekarang. Aku membutuhkan bantuanmu supaya bisa berhenti.”
Mereka berunding di anak tangga itu selama dua puluh menit, lalu pindah ke meja makan sambil membawa sehelai kertas dan satu pena. Si asisten rumah tangga, yang ternyata sudah sepuluh tahun melayani keluarga yang sedang menantikan bayi dan belum pernah bertemu orang yang memprotes bantuan sambil tersenyum, menyajikan teh yang benar setelah Miyu mengajarinya dua kali.
Aturan rumah ditulis dengan huruf Miyu yang rapi dan miring ke kanan:
Satu. Keputusan yang menyangkut rumah dibicarakan berdua sebelum dilakukan, bukan sesudah.
Dua. Asisten rumah tangga boleh tinggal, jam kerjanya pagi sampai sore. Dapur tetap wilayah Miyu untuk urusan teh.
Tiga. Sopir hanya dipakai untuk kontrol dokter dan hari hujan. Selebihnya Miyu boleh berjalan kaki ke Anomali.
Empat. Kanata memasak sarapan di hari libur. Miyu menyusun daftar belanja. Dilarang saling mengganti pekerjaan tanpa bertanya.
Lima. Kalau salah satu merasa takut, ia mengatakannya hari itu juga.
“Poin lima,” kata Kanata, dan menatap tulisan itu agak lama. “Itu pasal tiga Nana.”
“Aku membuatnya berlaku dua arah.” Miyu menandatangani di bawahnya, lalu menyodorkan pena. “Giliranmu.”
Ia menandatangani. Miyu merobek kertas itu rapi dan menempelkannya di pintu kulkas dengan magnet berbentuk daun.
Sopir yang menunggu di gerbang, seorang lelaki muda yang berdiri tegak seperti ujian, ternyata lebih ketakutan daripada Miyu. Ia membungkuk begitu dalam sampai topinya jatuh. Miyu mengambilkan topi itu sendiri, menepuk debunya, dan menjelaskan dengan nada paling lembut bahwa ia sangat menghargai Bapak, tetapi mulai hari ini Bapak tidak perlu memanaskan mobil kecuali langit gelap.
“Siap, Bu,” jawab sopir itu, pucat.
***
Hosho datang pukul tiga sore dengan sopirnya, membawa tongkat dan sebuah kotak kayu kecil. Miyu menyambutnya di pintu dan memandunya ke dapur, tempat poci hijau kakek menunggu di atas kompor.
“Duduk, Kakek.”
Hosho duduk. Miyu menyeduh teh pelan, menuangkannya ke cangkir tanpa gagang, dan menyajikannya dengan dua tangan. Hosho menerimanya dengan dua tangan juga, menciumnya sejenak, meminumnya, dan menutup mata.
“Pahit,” katanya. “Seperti yang diajarkan kakekmu.”
“Kakek saya akan mengatakan masih terlalu muda.”
“Kakekmu benar, seperti biasa.” Hosho meletakkan cangkir. “Aku pulang ke Tokyo malam ini. Aku tidak akan mengatakan banyak. Aku sudah mengatakan terlalu banyak pada orang-orang yang tidak mendengarkan, dan terlalu sedikit pada yang mendengarkan.” Ia menatap Miyu lekat-lekat. “Aku akan datang bila bayi itu lahir. Kamu tidak perlu memintaku. Aku akan datang.”
“Terima kasih, Kakek.”
Ia menyodorkan kotak kayu itu. Di dalamnya, di atas kain tipis, terbaring sebuah cangkir porselen mungil berwarna putih tulang dengan satu garis biru di bibirnya. “Untuk anak itu. Bukan sekarang. Nanti, ketika ia cukup besar untuk mengerti bahwa cangkir dipegang dengan dua tangan.”
Miyu mengusap garis biru itu dengan ibu jari dan tidak sanggup bicara.
“Dan jaga punggungmu,” tambah Hosho, kembali keras, seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang memalukan.
“Sopir sudah ditetapkan,” sahut Miyu. “Hanya untuk hari hujan.”
Sudut bibir Hosho bergerak sedikit, hampir menjadi senyum. “Itu aturan yang baik.”
***
Di halaman samping, di bawah pohon kecapi, Kanata berdiri berhadapan dengan Hosho. Sopir menunggu di dalam mobil. Dari dapur terdengar bunyi cangkir beradu, Miyu sedang mencuci poci, dan jendela kayu itu tertutup rapat.
“Kau sudah menandatangani aturan rumah,” kata Hosho.
“Dari mana Anda...”
“Aku membaca apa yang menempel di pintu kulkas. Aku kepala keluarga, bukan buta.” Hosho merogoh saku jasnya. “Dengarkan. Pertemuan keluarga besar jatuh pada hari Selasa, empat pekan lebih dari sekarang. Kau tahu itu.”
“Saya tahu. Saya berharap lewat video.”
“Tidak.”
Kanata terdiam.
“Dua tetua yang tidak hadir di pernikahanmu menerima tawaranku di layar kemarin. Tetapi mereka menambahkan satu syarat.” Hosho mengeluarkan sebuah amplop dari kertas washi tebal, bersegel kuas dan lilin hitam, dan menyodorkannya. “Buku silsilah tidak meninggalkan rumah induk. Mereka akan menerima istri dan anakmu hanya bila kau sendiri menuliskan nama mereka di halaman itu, di hadapan mereka. Bukan lewat layar. Bukan lewat perantara.”
Kanata menerima amplop itu. Beratnya jauh melebihi kertas.
“Itu pekan ketiga puluh tujuh,” ujarnya, pelan.
“Aku tahu.”
“Miyu bisa saja melahirkan.”
“Aku tahu itu juga.” Hosho menatapnya lurus. “Karena itu aku tidak memerintahkan. Itu undangan. Kau boleh menolak. Kalau kau menolak, aku akan menghadapi mereka sendiri, dan aku masih lebih kuat dari kelihatannya.” Ia berbalik menuju mobil, lalu berhenti. “Satu hal lagi. Katakan kepada istrimu. Jangan simpan ini sendirian.”
“Saya belum memutuskan.”
“Kau tidak perlu memutuskan hari ini. Kau hanya perlu tidak membohonginya.”
Pintu mobil menutup. Kanata berdiri lama di bawah pohon kecapi, amplop washi di tangan, jendela dapur yang tertutup di belakangnya. Dari balik kayu terdengar Miyu bersenandung kecil, nada yang entah dari mana.
Ia membuka tas kerjanya yang tergeletak di bangku taman, memasukkan amplop itu di antara dua map, dan menutup ritsletingnya tanpa suara.