Miyu bangun lebih dulu daripada alarm, dan untuk sekali ini Nana yang masih mendengkur dengan satu kaki menggantung dari sofa.
Ia berjalan pelan ke dapur, menyalakan kompor, dan menyeduh teh dari kaleng kakek. Uapnya naik ke jendela yang masih gelap. Di tengah meja kecil, hiasan cendana bunga plum menunggu dalam kotak hitamnya, dan di pintu lemari gaun putih gading itu berkibar sedikit setiap kali angin pagi menyusup dari celah.
“Hari ini,” bisiknya kepada cangkir. “Kek. Hari ini.”
Perutnya bergerak sebagai jawaban.
***
Teras belakang Anomali tidak pernah tampak seperti itu. Pak Rudi telah mengizinkan Kanata menyewanya, dengan syarat nyaris tidak masuk akal: tidak boleh ada satu pun orang yang menginjak rumput kecil di pojok, karena rumput itu ia tanam sendiri tiga tahun lalu. Sebagai gantinya, enam puluh kursi putih berjajar menghadap lengkung sederhana dari rotan dan daun, lampu-lampu gantung kecil ditebar di atasnya meski matahari belum tinggi, dan di meja panjang dekat pintu dapur Pak Edo sudah menata puding dalam wadah kecil sebanyak tamu.
Miyu berdiri di balik pintu kaca dengan Nana di sisi kanan dan Aya di sisi kiri. Posisi itu diputuskan lewat suit sepuluh menit sebelumnya, dengan Aya kalah dan mengancam akan menjadikan Nana tokoh antagonis di naskah berikutnya.
“Napas,” perintah Aya.
“Gue lagi napas.”
“Lebih dalam.”
“Gue hamil tiga puluh satu pekan, Aya. Napas gue udah sedalam yang diizinkan Tuhan.”
“Berarti pegangan sama kami.”
Pintu terbuka. Miyu melangkah keluar.
Matahari memantul dari kaca, lampu-lampu kecil berkelip pucat, dan semua orang berdiri. Dari barisan pertama ia mengenali wajah-wajah yang tidak akan pernah salah: Ira dengan kedua tangan di pipi, Anggara yang menahan lengan Ira supaya tidak terlalu melompat, Reno berdiri paling pinggir dengan kemeja putih yang jelas lebih rapi dari biasanya, Pak Rudi dengan sapu tangan yang sudah lembap. Mikan dan Mizuki duduk di sisi keluarga, Mikan tersenyum lebar sampai nyaris tidak tampak seperti sepupu yang kerap mengamuk di telepon. Hosho berdiri di sisi lengkung rotan, setapak di belakang tempat Kanata akan berdiri, tongkat tegak di tangannya.
Dan di ujung lengkung rotan, Kanata. Pandangan Hosho jatuh sebentar pada hiasan cendana di sanggul Miyu, bertahan satu detik, lalu kembali ke depan. Ia tidak berkata apa-apa. Tongkatnya hanya mengetuk lantai sekali, pelan, seperti orang yang menyetujui sesuatu.
Jasnya hitam, dasinya diikat benar sejak percobaan pertama. Ia berdiri kaku seperti orang yang takut gerakan sekecil apa pun akan membangunkannya. Begitu pandangan mereka bertemu, wajahnya yang selalu datar itu pecah. Tidak menjadi senyum. Menjadi sesuatu yang lebih jujur, semacam kelegaan orang yang tiba di rumah setelah jalan panjang.
Miyu berjalan. Aya dan Nana menyangganya di kiri dan kanan, dan tiap langkah terasa ringan dan berat sekaligus. Di bangku kedua dari belakang, ia melihat Emily menutup mulut dengan tangan, Rei di sampingnya, Pak Ghani di ujung barisan dengan setelan yang tampak dipinjam, dan Bu Ita melambai kecil seperti menyapa kenalan lama.
Aya dan Nana melepaskan genggaman di ujung jalur. Nana mencium pipi Miyu, singkat, dengan mata yang sudah merah. Aya hanya memeluk bahunya sekejap. Lalu Miyu melangkah tiga langkah terakhir sendirian, dan Kanata menjulurkan tangan.
“Hai,” bisik Kanata.
“Hai,” bisik Miyu.
“Kamu cantik.”
“Kamu pucat.”
“Aku belum makan.”
“Kanata.”
Miyu mengeluarkan sebutir biskuit dari balik karangan bunganya dan menyodorkannya diam-diam. “Makan. Gemetarnya boleh sesudah itu.”
Kanata menelannya dalam satu gigitan, seperti maling barang bukti.
Di deretan paling pinggir, Reno mengangkat dagu sedikit ke arah Kanata, sebuah isyarat yang hanya dimengerti dua lelaki yang pernah berbicara di belakang dapur. Dari kursi depan terdengar Mikan terkekeh, lalu bahunya ditepuk Mizuki. Mikan berdiri sebagai saksi, mengambil napas dalam, dan membuka acara dalam bahasa Indonesia yang sedikit patah-patah karena ia sudah berlatih tiga hari.
“Hari ini kita berkumpul, bukan untuk meminta izin, bukan untuk membayar apa pun, tetapi untuk menjadi saksi dua orang yang memilih satu sama lain.” Ia melirik catatannya. “Kanata. Silakan.”
Kanata menggenggam kedua tangan Miyu. Tangannya dingin dan agak basah. Suaranya, ketika keluar, rendah dan tenang, dan seluruh teras mendengarkannya.
“Miyu. Aku bertemu denganmu di meja kasir dengan wajah yang pura-pura tidak mengenalku. Aku tidak tahu, waktu itu, betapa banyak yang kamu tahan. Sekarang aku tahu, dan aku tidak akan pernah lagi meminta kamu menahannya sendirian.” Ia berhenti, menelan. “Aku berjanji pulang. Setiap hari. Aku berjanji tidak menyebut apa pun yang kuberikan sebagai alasan meminta sesuatu darimu. Aku berjanji mendengarkan omelanmu soal vitamin, sampai kita berdua tua dan lupa kenapa kamu mengomel. Dan aku berjanji, apa pun nama anak kita nanti, aku akan menjadi ayah yang membawakan tehnya.”
Di barisan depan Ira sudah menjerit pelan dan tersedu. Anggara mengulurkan sapu tangan tanpa menoleh.
Miyu tersenyum, matanya basah. “Giliranku, ya?”
“Giliranmu.”
“Kanata.” Ia memejamkan mata sedetik. “Aku bukan perempuan yang gampang percaya. Kamu tahu itu. Aku pernah ditinggal terlalu banyak dan dibantu terlalu sering dengan cara yang menagih. Jadi aku berjanji, aku tidak akan lari lagi kalau takut. Aku akan bilang. Walau suaraku gemetar, walau aku salah. Aku berjanji kamu boleh membantuku, dan aku boleh menolak tanpa kamu merasa ditolak.” Ia tertawa kecil di antara tangis. “Dan aku berjanji, kalau suatu hari kamu lupa makan, aku akan melempar puding Pak Edo ke kepalamu dengan penuh cinta.”
Seisi teras tertawa. Pak Rudi mengeluarkan suara seperti orang yang tersedak sambil tersenyum, dan menyembunyikan wajahnya di sapu tangan.
“Cincin,” bisik Mikan.
Santa melangkah maju dengan kotak beludru di kedua telapak tangannya. Tangannya bergetar begitu hebat sampai kotak itu berbunyi tik-tik kecil, seperti keran yang tidak kunjung berhenti. Ia membuka tutupnya, dan dua cincin polos nyaris jatuh, tetapi Kanata menahannya di udara dengan satu jari.
“Santa.”
“Maaf. Aku sudah tidak bisa lagi.”
“Kau sudah memegangnya sejak tadi malam.”
“Itulah masalahnya!” bisik Santa, dengan air mata mengalir deras tanpa ia peduli.
Kanata mengambil cincin kecil, dan memasangkannya pada jari manis Miyu di sisi cincin lamaran, dan Miyu memasang cincin satunya ke jari Kanata. Tangannya tidak lagi gemetar. Hosho, dari tempatnya, menutup mata satu kali, sangat lambat, sebelum membukanya lagi.
“Dengan ini,” kata Mikan, dan suaranya akhirnya pecah, “kalian adalah suami dan istri di hadapan kami semua.”
Kanata menunduk mendekat. Ia berhenti satu jengkal dari wajah Miyu.
“Boleh?” bisiknya.
“Boleh.”
Ciuman itu singkat dan lembut, seperti titik di akhir kalimat panjang. Teras meledak dengan tepuk tangan, jeritan Ira, siulan Reno yang tidak ada yang percaya dari mulutnya, dan Santa yang sudah menangis sampai tidak sanggup berdiri sehingga harus ditopang Aya.
Sesudah itu semuanya bergerak cepat: pelukan Aya dan Nana yang menangkapnya dari kedua sisi, Hosho yang melangkah maju dan menjabat tangan Kanata dengan genggaman yang bertahan jauh lebih lama dari biasa, Pak Rudi yang akhirnya menyerah dan menangis terang-terangan, dan Bu Ita yang meminta izin memotret cincin dari dekat.
Di tengah kerumunan itu, Nana menarik Miyu sedikit ke samping dan berbisik di telinganya. “Mi. Berkasnya sudah selesai pekan lalu. Lo sah di kertas juga.”
“Sejak kapan?”
“Sejak gue berhenti makan siang buat ngurusin dokumennya. Sama Pak Mori.” Nana menyeka hidungnya dengan punggung tangan. “Jangan bilang siapa-siapa. Ini cuma debu.”
“Lo nangis.”
“Ini hidung gue yang nangis. Bukan gue.”
Dari belakang, Kanata merangkulkan satu lengan ke bahu Miyu. Napasnya berat, tetapi matanya tersenyum.
Tongkat kayu mengetuk lantai teras, dua kali, pelan. Hosho berdiri di hadapan mereka, menatap cincin di jari Miyu, lalu cincin di jari Kanata, lalu wajah keduanya yang pucat dan basah.
“Kalian berdua belum makan,” katanya.
“Belum, Kakek,” sahut Miyu.
“Pak Edo sudah menata puding.” Hosho menunjuk ke meja panjang dengan ujung tongkatnya. “Makan dulu. Nanti malam ada pidato tiga halaman dari Kurosu, dan kalian akan memerlukan tenaga untuk menangis lagi.”