Kanata menggantung tiga jas berbeda di pintu lemari, lima hari setelah meja enam yang gaduh itu, dan menatap ketiganya seperti menatap lawan negosiasi.
“Yang abu-abu,” kata Miyu dari sofa, tanpa menoleh dari buku kehamilan yang terbuka di pangkuannya.
“Nana bilang yang bukan hitam.”
“Abu-abu bukan hitam.”
“Abu-abu tua hampir hitam.”
“Kanata.” Miyu menurunkan kacamata bacanya. “Itu pertunangan sahabatku di rumah keluarga calon suaminya. Bukan peluncuran produk. Pakai yang paling nyaman, yang tidak membuatmu terlihat seperti mau menandatangani akuisisi.”
Kanata memandang jas abu-abu itu lama, lalu mengambil yang cokelat kehijauan di sebelahnya, yang hampir tidak pernah ia pakai. “Yang ini.”
“Kenapa tiba-tiba?”
“Warnanya seperti daun.” Kanata mengenakannya, merapikan kerah, dan menatap cermin dengan ragu. “Tidak ada yang takut pada daun. Aku tidak ingin terlihat seperti orang asing di hari penting sahabatmu.”
Miyu terdiam sebentar. Lalu ia tersenyum, lembut dan lama, sambil menyimpan naskahnya. “Kamu sudah tidak terlihat seperti orang asing, Kanata.”
***
Rumah keluarga tunangan Aya terletak di kawasan yang tenang di Jakarta Selatan, dengan pagar rendah dan halaman penuh pot bunga yang jelas dirawat bertahun-tahun. Mobil Kanata berhenti di belakang deretan sedan lain. Dari dalam terdengar gumam percakapan dan denting gelas.
“Siap?” tanya Kanata.
“Tidak. Tapi aku datang.”
Ia turun lebih dulu, membukakan pintu, dan mengulurkan tangan. Miyu menerimanya. Mereka berjalan bersisian ke halaman, tangan bertaut, dan untuk pertama kalinya Miyu masuk ke acara keluarga orang lain bukan sebagai tamu yang datang sendiri, atau sahabat yang berdiri di belakang. Ia datang sebagai separuh dari dua orang. Rasanya aneh. Rasanya hangat. Rasanya seperti memakai sepatu yang akhirnya pas.
Aya menyambut di teras, mengenakan kebaya krem dengan sanggul rapi, dan matanya sudah merah sebelum Miyu menyentuh anak tangga. “Lo datang!”
“Gue bilang gue datang.”
“Lo bawa dia!”
“Itu juga gue bilang.”
Aya memeluknya, hati-hati karena perut Miyu, lalu memeluk Kanata dengan kecanggungan yang jujur, yang membuat Kanata kaku beberapa detik sebelum membalas dengan menepuk punggungnya dua kali. “Terima kasih sudah datang, Tuan Saionji.”
“Selamat, Nona Aya.”
“Panggilan itu masih harus dipakai sampai ada keputusan,” sahut Nana dari pintu, dengan setelan hitam pas badan dan ekspresi pengawas ujian. “Dan keputusannya belum ada.”
Acaranya sederhana. Ruang tamu lapang dipenuhi tiga puluh orang. Keluarga tunangan Aya duduk berhadapan dengan sedikit keluarga Aya: bibi dari Bandung dan seorang sepupu jauh, sisanya sahabat. Tunangannya, lelaki bertubuh jangkung berkacamata yang gugup sampai dahinya berkilat, mengucapkan janji dengan suara bergetar. Aya menjawab dengan suara yang lebih mantap daripada yang pernah Miyu dengar. Cincin dipasangkan. Ibu tunangannya menitikkan air mata sambil tersenyum, dan semua orang bertepuk tangan.
Miyu berdiri di barisan sahabat, Kanata di sisinya, dan menyadari bahwa tangannya berada dalam genggaman lelaki itu dari awal sampai akhir tanpa ia pernah mengingat kapan itu dimulai. Ketika cincin kecil itu naik ke jari Aya, Kanata menunduk dan berbisik, “Kamu menangis.”
“Aku tidak menangis.”
“Itu air mata.”
“Itu karena kebaya Aya terlalu terang.”
“Baik,” kata Kanata, dan menyerahkan sapu tangan dengan wajah yang sama sekali tidak bisa disebut kalah.
***
Setelah acara inti, para tamu berpencar ke halaman belakang untuk makan. Kanata, yang berdiri di dekat meja prasmanan dengan piring kosong dan ekspresi orang yang tidak tahu aturan, dihampiri seorang perempuan paruh baya berkerudung bunga-bunga, bibi Aya dari Bandung.
“Kamu yang antar Miyu tadi, ya?” katanya, tanpa basa-basi, sambil menyodorkan sepiring puding. “Bawa ini ke dia. Ibu hamil itu gampang lapar, tapi gengsi minta. Jangan tanya mau atau tidak. Kasih saja.”
“Baik, Bu.”
“Dan jangan berdiri kayak patung. Orang tegang bikin orang lain ikut tegang.” Bibi itu menepuk lengannya dua kali, keras. “Anak muda zaman sekarang, cintanya bagus, tapi lupa makan.”
Kanata menerima piring itu dengan dua tangan. Ia menatap puding tersebut dalam-dalam, lalu berjalan mencari Miyu seperti membawa dokumen negara.
***
Miyu duduk di bangku taman dekat kolam ikan, menikmati puding kecil yang baru saja diantar Kanata dengan wajah serius, sambil memperhatikan Nana, yang berdiri tiga meter darinya dan sedang menghadapi seorang lelaki.
Lelaki itu jangkung, berkemeja putih tanpa dasi dengan lengan digulung, rambutnya sedikit berantakan seperti orang yang berangkat dari kantor tanpa sempat mencuci muka. Miyu tidak perlu bertanya siapa dia. Satu-satunya orang yang bisa membuat Nana menegakkan punggung seperti itu adalah si jaksa muda.
“Saya sudah mengirim lima belas pesan,” kata si jaksa, dengan suara rendah yang jelas ia atur supaya tidak sampai ke bangku Miyu dan gagal total. “Tiga belas hanya dibalas dengan “oke”. Dua tidak dibalas.”
“Saya sibuk.”
“Saya tahu. Saya melihat jadwal sidang Anda. Maksud saya, saya tidak menguntit, itu jadwal publik.” Ia berdeham dan wajahnya sedikit memerah. “Saya cuma ingin tahu apakah ada yang harus saya perbaiki.”
Nana menatapnya lama. Miyu menahan napas dan menyembunyikan wajah di balik gelas puding.
“Anda tidak perlu memperbaiki apa pun,” kata Nana akhirnya. “Anda tidak salah. Saya yang tidak biasa.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu satu-satunya yang saya punya sekarang.”
Si jaksa mengangguk lambat. Ia tidak menekan, tidak mundur kasar. Ia hanya berkata, “Baik. Saya tunggu sampai Anda punya yang lain,” lalu berbalik kembali ke arah rumah. Nana memandangi punggungnya dengan rahang menegang, kemudian menoleh dan mendapati Miyu sedang menatapnya dengan mulut penuh puding dan alis terangkat setinggi mungkin.
“Jangan,” kata Nana.
“Gue nggak bilang apa-apa.”
“Muka lo bilang.”
“Muka gue cuma kenyang.”
Aya menyusul beberapa menit kemudian, menyelinap dari kerumunan dengan kebaya yang sudah sedikit kusut di ujung. Ia menarik tangan Miyu dan membawanya ke kamar kecil di belakang, tempat Aya biasa menginap kalau berkunjung. Pintu ditutup. Hening.
“Mi.” Aya duduk di tepi ranjang dan menatap kedua tangannya. “Gue mau tanya satu hal, dan lo jangan jawab sekarang kalau belum siap.”
“Tanya aja.”
“Waktu gue nikah nanti. Nanti, kalau waktunya tiba. Keluarga gue nggak banyak, lo tahu. Gue pengen... lo yang berdiri di sebelah gue. Jadi pendamping. Bukan cuma tamu.” Suaranya pecah. “Lo satu-satunya yang ada waktu gue nulis naskah pertama dan semua penerbit nolak. Lo yang baca sembilan versi. Lo yang bilang gue bisa. Gue nggak mau berdiri di depan semua orang tanpa lo.”
Miyu terdiam. Lalu ia merangkul Aya, kuat, dengan satu tangan di punggung dan satu lagi di rambutnya, seperti yang dulu dilakukan Aya setiap kali Miyu pulang dari kantor dengan surat PHK di tas.
“Iya,” bisiknya. “Pasti. Jelas gue mau.”
“Perut lo udah besar. Nanti lahiran pas hari H gimana?”
“Itu urusan bayinya. Gue bakal bilang dia punya tante yang lagi nikah.”
Aya tertawa sambil terisak, dan Miyu merasakan sesuatu mengendap di dadanya, tenang, penuh, seperti air yang akhirnya berhenti bergolak. Sembilan tahun. Tiga orang yang saling menjaga, dan sekarang ada orang keempat, dan mungkin kelima. Rasa tidak sendirian itu, yang dulu selalu ia dengar sebagai bisikan jauh, kini terdengar jelas seperti detak jantung.
Ponselnya bergetar di saku gaun. Layar menyala: sebuah pesan baru dari Kanata, yang duduk di halaman dan tahu betul ia sedang menunggu di luar kamar itu.
Kanata: Maaf mengganggu. Mikan baru menelepon. Dia dan Mizuki mendarat Kamis. Dia bilang ingin makan malam denganmu. Aku bilang akan bertanya dulu. Kamu boleh menolak.