Nana membaca pesan Miyu sebelas kali sebelum menelepon balik, dan ketika akhirnya menelepon, ia membuka dengan kalimat yang tidak ada hubungannya dengan apa pun.
“Lo udah makan?”
“Na.” Miyu duduk bersila di tempat tidur kamarnya di rumah kontrakan, ponsel dijepit di bahu, rambut masih setengah kering oleh angin atap. “Gue baru bilang dia ngomong. Dia bilang... dalam bahasa Jepang. Gue bilang balik.”
“Gue baca. Sebelas kali.”
“Terus?”
“Terus gue nggak tahu mau ngomong apa.” Suara Nana serak, dan di latar terdengar bunyi gelas diletakkan terlalu keras. “Gue nyiapin kalimat sinis selama dua minggu, Mi. Gue punya tiga versi. Yang pertama pendek, yang kedua pakai pasal. Yang ketiga cuma bilang “kalau dia nyakitin lo lagi, gue yang urus”. Dan sekarang semuanya nggak kepake.”
“Pakai aja yang ketiga.”
“Udah, gue pakai di kepala.” Nana menarik napas panjang. “Senin siang. Gue sama Aya mau ketemu dia. Di Anomali. Bawa dia ke sana.”
“Nana, itu bukan interogasi...”
“Itu interogasi yang sopan.”
***
Senin siang, Miyu masuk ke Anomali tidak lewat pintu belakang seperti biasa, melainkan lewat pintu depan, dengan tangan digenggam Kanata.
Lonceng pintu berdenting. Sebelum Miyu sempat menarik napas, Ira, yang berdiri di balik kasir dengan tumpukan struk di tangan, mengeluarkan suara yang tidak pernah Miyu dengar dari manusia mana pun, sesuatu antara peluit teko dan sirene ambulans. Struk beterbangan. Dua pelanggan menoleh. Seorang bapak di meja dekat jendela hampir menumpahkan kopinya.
“AGATHA! TANGAN! ITU TANGAN! DIA PEGANG TANGAN LO DI DEPAN SEMUA ORANG!”
“Ira.”
“MAAF! GUE NGGAK BISA DITAHAN!” Ira menutup mulut dengan kedua tangan, lalu melepasnya lagi. “Selamat, ya, Tuan Saionji. Kami semua sudah lama menunggu. Maksud saya, nggak lama. Maksud saya...”
“Terima kasih, Ira,” sahut Kanata, pelan dan formal, sementara telinganya memerah. Ia menarik tangannya sedikit, lalu menyadari Miyu tidak melepaskan, dan membiarkannya.
Dari balik mesin kopi, Reno menoleh, menatap mereka berdua dengan datar. Dua detik. Lalu ia mengangguk sekali. Hanya itu. Dari Reno, itu setara karangan bunga.
Pak Edo keluar dari dapur dengan piring kecil puding, meletakkannya di meja enam yang sudah dibersihkan, lalu mundur dengan tangan di punggung seperti biasa, tapi kali ini ia tersenyum, lebar, tak berusaha menutupi. Pak Rudi muncul di ambang ruang kerja, menatap tangan mereka, dan menunduk dalam-dalam seolah sedang memberi hormat pada bendera. Tidak seorang pun berkata apa-apa lagi. Lalu seisi kafe, termasuk pelanggan yang tidak tahu apa-apa, mulai bertepuk tangan pelan karena orang di sebelah mereka juga bertepuk tangan.
“Tolong,” bisik Miyu, tertawa dan malu sekaligus. “Mereka kira ini apa?”
“Aku tidak tahu,” kata Kanata, nyaris tidak terdengar. “Tapi aku menikmatinya.”
Dari pojok kafe, di sebuah meja kecil dengan segelas teh yang sama sekali tidak disentuh, terdengar isakan keras. Santa duduk di sana dengan sehelai tisu menutupi setengah wajah dan bahu yang bergetar seperti mesin tua.
“Kau datang lebih dulu,” kata Kanata dalam bahasa Jepang, tanpa menoleh.
“Aku ingin tempat duduk yang bagus,” ratap Santa, juga dalam bahasa Jepang. “Aku tidak menyangka tangan. Tangan, Kanata. Aku sudah menunggu sejak kita kecil.”
“Itu hanya tangan.”
“Itu tanganmu, memegang tangannya, di depan orang banyak.” Santa mengusap hidung dengan keras. “Biarkan aku menangis. Itu hakku sebagai sahabat.”
***
Ira muncul membawa nampan sebelum Kanata sempat duduk, dengan wajah orang yang menahan seribu pertanyaan di balik gigi. Ia meletakkan teh, meletakkan lagi serbet yang sudah ada, merapikan sendok yang sudah rapi.
“Jadi,” ujarnya, “kapan...”
“Ira.” Nana mengangkat satu jari tanpa menoleh.
“Gue belum selesai ngomong.”
“Gue tahu lanjutannya. Dan jawabannya bukan hari ini.”
“Tapi gue cuma mau tanya kapan...”
“Kapan Anda mau kembali ke kasir, Nona Ira?” sahut Kanata dengan wajah datar yang sempurna, dan Ira, yang terlatih bereaksi pada nada itu sejak lama, langsung berbalik sambil menggumamkan sesuatu dan hilang ke balik meja kasir. Dari sana terdengar suara kecil, seperti orang menjerit ke dalam bantal.
Aya dan Nana sudah menunggu di meja enam. Aya duduk menegak, kedua tangan di pangkuan, berusaha memasang wajah tenang dan gagal total. Nana bersandar ke kursi dengan lengan bersilang, sorot matanya setajam pisau yang baru diasah.
“Duduk, Tuan Saionji,” katanya.
Kanata duduk. Miyu duduk di sampingnya.
“Saya akan mulai langsung,” kata Nana. “Dua minggu lalu Miyu menghilang karena kata-kata yang menyakitkan, dan Anda...”
“Saya tidak mencegahnya,” sela Kanata pelan. “Itu permintaannya, dan saya menghormatinya. Tapi saya juga yang membuatnya merasa perlu pergi.”
Nana berhenti. Kalimatnya, yang sudah dilatih berhari-hari, kehilangan satu tiang. “Itu... memang benar.”
“Saya tahu.”
“Anda tahu?”
“Miyu menceritakan semuanya di bangku taman. Saya tidak membela diri.” Kanata menatap Nana lurus, tanpa tantangan, tanpa merendah. “Kalau Anda ingin mengatakan sesuatu yang keras, silakan. Saya akan mendengarkan sampai selesai.”
Hening. Aya melirik Nana. Nana melirik Miyu. Miyu hanya menaikkan alis, seolah berkata: lanjutkan, aku tidak akan menyelamatkan siapa pun.
Nana mengembuskan napas. Bahunya, yang sejak tadi diangkat, turun perlahan. “Saya biasanya menang kalau lawan bicara saya membela diri. Anda mempersulit pekerjaan saya.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf. Itu juga mempersulit.” Nana mengusap wajah dengan satu tangan, lalu menatap Miyu dengan mata merah. “Lo bahagia?”
“Iya.”
“Beneran?”
“Beneran, Na.”
“Oke.” Nana menoleh kembali ke Kanata, dan nadanya berubah, tetap tajam tapi bukan lagi pisau. “Kalau Anda membuatnya menangis karena alasan yang salah, saya yang akan mengurus Anda. Saya tahu pasal-pasalnya.”
“Baik.”
“Dan kalau Anda membuatnya menangis karena alasan yang benar, saya akan bawakan tisu.”
Aya akhirnya tidak tahan. Ia menunduk dan menangis, sesenggukan, lalu tertawa di tengah tangis. “Sori, sori. Gue udah janji nggak nangis.”
“Lo janji nggak nangis,” tuding Nana, matanya sendiri merah, “dan sekarang gue yang harus nahan.”
“Lo juga nangis.”
“Gue kelilipan.”
Miyu tertawa, menutup wajah dengan telapak tangan. Ketika ia menurunkannya, Kanata menatapnya dengan sorot yang belum pernah ia tunjukkan di depan orang lain: terbuka sepenuhnya, tanpa penjagaan.
“Satu hal lagi,” kata Miyu, menegakkan punggung. Ia menatap Kanata, lalu Aya dan Nana, agar semuanya mendengar. “Dengar, ya, semuanya. Ini satu aturan. Kanata, tidak ada lamaran lagi. Sampai aku sendiri yang bilang siap.”
Kanata terdiam setengah detik. “Itu syaratnya?”
“Itu syaratnya. Bukan karena aku tidak mau. Tapi aku mau memilih sendiri, bukan karena ada gosip, bukan karena Hosho, bukan karena apa pun. Kapan aku bilang, kamu boleh bertanya. Tidak sebelum itu.”
“Baik.” Kanata mengulurkan tangan ke atas meja, telapak terbuka, dan Miyu meletakkan tangannya di sana. “Aku menunggu.”
Nana mengangguk pelan, puas. “Gue catat. Dengan saksi.” Ia menunjuk Aya. “Dan lo, Ya, jangan lupa sesuatu.”
“Oh.” Aya menegakkan badan, menyeka air mata, dan memasang wajah yang tiba-tiba serius. “Sabtu. Pertunangan gue. Di rumah keluarganya. Kalian harus datang. Berdua.”
“Apa yang harus saya bawa?” tanya Kanata.
“Jas yang bukan hitam,” sahut Nana, sebelum Aya sempat menjawab. “Dan Santa, jangan nangis di acara Aya.”