Pintu ruang makan pribadi di lantai dua Kumirawa Resto terbuka, lima hari setelah pertunangan Aya, dan seorang perempuan tinggi bersepatu hak runcing masuk tanpa permisi.
“Sepupu Kecil!”
“Mikan.” Kanata berdiri dari kursinya dan menerima pelukan yang lebih mirip tabrakan. “Kau seharusnya mendarat pukul tujuh.”
“Aku mendarat pukul lima dan memutuskan tidak menunggu.” Mikan melepaskannya, memandangnya dari atas sampai bawah seperti petugas bea cukai, lalu mendengus puas. “Kau terlihat jauh lebih baik daripada terakhir kali kulihat di video. Tidak lagi seperti orang yang kehilangan dompet dan paspor sekaligus.”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.” Mikan menoleh ke samping, dan seluruh sikapnya berubah dalam sekejap, dari pengacau menjadi sesuatu yang lebih lembut, lebih ingin tahu. “Dan ini...”
Miyu sudah berdiri. Gaun biru kelabunya tetap yang paling pantas ia punya, dan ia mengenakannya dengan tangan di perut yang sudah tak bisa lagi disembunyikan. Percakapan malam ini akan berlangsung dalam bahasa Jepang, dan ia menyiapkan diri sejak sore dengan menghafal kalimat sapaan yang tepat. “Nona Mikan. Senang akhirnya bertemu langsung.”
Mikan tidak menjawab. Ia menatap Miyu beberapa detik, lalu mengulurkan kedua tangan dan menarik Miyu dalam pelukan yang hangat dan tidak canggung, seperti memeluk adik yang sudah lama hilang. Parfumnya bunga dan kayu manis.
“Kau lebih cantik dari layar,” bisiknya di telinga Miyu. “Dan aku sudah bilang kepada diriku sendiri untuk tidak menangis di pertemuan pertama.”
“Anda menangis?”
“Aku belum. Jangan terlalu cepat membuktikan.” Mikan melepaskannya, menyeka sudut mata dengan ujung jari, lalu menepuk bahu Miyu dua kali. “Dan jangan panggil aku “Nona”. Aku sudah tiga puluh sekian, dan aku merasa tua setiap kali ada yang memanggilku begitu.”
“Lalu... apa?”
“Mikan. Saja. Dan kau, Miyu, aku akan memanggilmu Miyu.” Mikan menoleh pada Kanata. “Kau tidak keberatan, Sepupu Kecil?”
“Aku tidak punya hak keberatan,” sahut Kanata kering.
“Bagus. Selalu tahu tempatmu.”
Di belakang Mikan, seorang perempuan yang lebih muda dan lebih pendiam berdiri dengan kedua tangan terlipat di depan, menunggu giliran dengan kesabaran orang yang sudah bertahun-tahun hidup di bayang-bayang kakaknya. Rambut hitamnya diikat rendah. Ia membungkuk dalam-dalam, bukan menjabat tangan.
“Saya Mizuki,” katanya, lirih. “Senang bertemu, Nona Kouzuki.”
“Miyu saja. Aku juga senang bertemu denganmu, Mizuki.”
Mizuki mengangkat kepala, sedikit terkejut, lalu tersenyum kecil yang tidak sempat ia sembunyikan.
Mereka belum duduk ketika Mikan, yang matanya sejak tadi tak lepas dari perut Miyu, bertanya dengan suara yang jauh lebih pelan dari biasanya, “Miyu. Boleh aku menyentuhnya? Kalau tidak, aku akan pura-pura tidak bertanya.”
“Boleh,” kata Miyu, dan mengambil tangan Mikan, lalu meletakkannya di sisi kiri.
Hening. Mikan menahan napas, bahkan Mizuki di belakangnya ikut menahan napas. Kanata berdiri kaku di dekat kursi, seperti orang yang sedang menunggu hasil ujian orang lain. Lalu perut Miyu bergerak, satu dorongan kecil dan jelas, tepat di bawah telapak Mikan.
“Oh,” kata Mikan. Hanya itu. Wajahnya, yang baru semenit lalu penuh tawa dan olok-olok, tiba-tiba kosong dari semua topeng. “Oh. Dia benar-benar ada.”
“Dia suka mendengar suara keras,” ujar Miyu. “Jadi dia pasti mengenali kamu.”
Mikan tertawa dengan mata basah. “Aku kakak sepupu yang paling berisik. Dia harus tahu itu sejak awal.”
***
Hidangan datang dalam enam tahap, masing-masing lebih halus dari sebelumnya, dan Mikan menghabiskan masing-masing dengan komentar yang tidak diminta. Ia membahas pop-up store Seiko Sai (“Tata letaknya terlalu rapi, kau terlalu perfeksionis, Bocah”), kondisi jalanan Jakarta (“Aku hampir menggigit sopir taksi”), dan kebiasaan makan Kanata semasa kecil (“Dia pernah makan tiga porsi mochi sekaligus dan pingsan di tangga”) sebelum Kanata sempat memotongnya.
“Mikan.”
“Apa? Itu cerita yang bagus. Miyu, dengarkan ini. Dia dulu tidak mau didekati perempuan mana pun. Para tetua mengirim lima belas calon, lima belas! Dia menolak semuanya dengan alasan “jadwal rapat”. Aku sudah bertaruh dengan Mizuki bahwa dia akan mati sebagai lajang tua yang dikubur bersama setumpuk laporan keuangan.”
“Kakak,” bisik Mizuki.
“Dan lihat dia sekarang!” Mikan mengangkat gelas teh dengan bangga. “Duduk di sebelah perempuan hamil, wajahnya merah seperti kepiting rebus, dan memotong makanannya sendiri menjadi potongan-potongan kecil karena gugup. Aku menang taruhan, Mizuki, karena aku bertaruh dia akan jatuh. Hanya aku salah soal kapan.”
“Aku tidak merah,” kata Kanata.
“Telingamu merah,” sahut Miyu pelan.
“Itu karena lampunya.”
“Lampunya putih.”
Mikan tertawa begitu keras sampai pelayan di luar ruang menoleh. Ia memegangi dadanya, lalu menunjuk Miyu dengan sumpit. “Aku suka dia. Sepupu Kecil, dia boleh tinggal.”
Mizuki meletakkan sumpitnya perlahan. Ia menatap Miyu, lalu Kanata, lalu kembali ke Miyu. “Nona... Miyu. Ada yang ingin saya sampaikan, dan saya tidak ingin menundanya.”
“Silakan.”
“Berita tentang Anda sampai kepada Tuan Hosho lebih awal dari yang seharusnya. Itu terjadi karena Santa, di telepon, tanpa sengaja menyebut “perempuan hamil” kepada Kakak. Lalu Kakak, tanpa pikir panjang, menyebutnya kepada Tuan Hosho.” Mizuki menunduk dalam-dalam. “Kami berdua minta maaf. Saya mewakili keduanya karena Kakak tidak akan melakukannya sendiri.”
“Aku melakukannya,” protes Mikan.
“Kakak belum.”
Mikan membuka mulut, menutupnya, lalu berdeham keras. Ia meletakkan gelasnya. Ketika berbicara lagi, nadanya sama sekali bukan nada canda.
“Miyu. Aku bocor. Aku menyesal sudah bocor. Aku mengira itu gosip biasa, dan aku tidak tahu bahwa di baliknya ada seseorang yang sedang berusaha tetap berdiri.” Ia menatap lurus, dan matanya tidak lagi berkedip main-main. “Maaf. Kalau ada yang bisa kulakukan untuk menebusnya, katakan.”
Miyu menatap kedua perempuan itu bergantian. Sebulan yang lalu ia akan menjawab dengan kalimat paling sopan yang bisa ia susun, sambil menelan perasaan yang sebenarnya. Sekarang ia tidak perlu.
“Kamu sudah menebusnya malam ini, Mikan,” katanya, dan dengan sengaja memakai kata ganti yang sama dengan yang diminta. “Kamu duduk di meja ini dan memperlakukanku seperti keluarga. Itu lebih dari cukup.”
Mikan mengerjap. Mata di balik bulu mata tebal itu mulai berkilat. “Aku sudah bilang jangan terlalu cepat membuktikan.”
“Maaf.”
“Jangan minta maaf!” Mikan menyambar serbet dan menutupi wajah sebentar. Ketika muncul lagi, hidungnya merah. “Aku akan menjadi saksimu, Miyu. Kalau suatu hari kau dan Bocah ini menikah, aku akan berdiri di sebelahmu dan mengatakan kepada semua tetua bahwa aku sudah menilaimu dan lulus. Aku tidak peduli siapa yang protes.”
“Mikan, aku belum...”
“Aku tahu. Aku hanya berjanji.” Mikan menarik napas, lalu menoleh pada Kanata dan memasang kembali senyum jahilnya. “Dan Sepupu Kecil, aku sudah menghubungi Pak Mori. Pengacara keluarga kita di Jakarta. Kau tidak perlu menunggu aku menyuruhmu; dia akan menyiapkan dokumen apa pun yang kauperlukan, mulai dari pengakuan anak sampai hal-hal lain yang mungkin kauperlukan nanti.”
Kanata menatapnya lama. “Aku belum meminta.”
“Aku tahu. Tapi kau akan.” Mikan mengangkat bahu. “Aku sepupumu. Aku tahu kapan kau berhenti ragu.”
***
Mobil berhenti di depan rumah kontrakan Miyu pukul sembilan lewat. Lampu teras menyala, menimpa pot lidah buaya yang hampir mati dengan cahaya kuning. Kanata mematikan mesin dan keduanya duduk diam beberapa saat.
“Maaf Mikan terlalu banyak bicara,” katanya.
“Aku suka dia.”
“Dia akan membuatmu menyesal.”
“Mungkin.” Miyu menoleh. Di cahaya temaram, wajah Kanata tampak lebih muda, lebih letih, dan sangat sungguh-sungguh. Ia melepas sabuk pengaman, lalu menyentuh punggung tangan Kanata di setir. “Boleh aku mengatakan sesuatu?”
“Selalu.”
“Aku sudah memikirkannya sejak aturan di meja enam itu. Aku sudah memilih.” Ia menarik napas. “Kalau kamu mau bertanya lagi, aku siap.”
Kanata tidak bergerak. Setir di bawah telapaknya seperti tiba-tiba menjadi sesuatu yang rapuh. “Kamu serius?”
“Aku serius. Tapi lakukan dengan benar. Bukan supaya selesai.”
Kanata mengalihkan pandangan ke kaca depan, ke jalan sempit yang kosong, dan Miyu melihat rahangnya bergerak menelan sesuatu yang besar. Ketika ia menoleh kembali, matanya berkilat.
“Selasa,” katanya. “Aku akan melakukannya dengan benar.”