“Angkat dagu,” perintah Aya, menepuk bedak tipis di pipi Miyu dengan kuas yang bukan miliknya. “Lo berkeringat. Ini bukan acara resmi, tapi lo berkeringat kayak mau ujian pengacara.”
“Itu ujian yang lo takutin, bukan gue,” balas Nana dari ambang pintu kamar, memegang gaun rajut biru kelabu di gantungan. “Mi, pakai ini. Bukan yang kemarin. Yang ini lebih tebal, anginnya pasti kenceng.”
“Kalian tahu dia mau ngapain?”
“Nggak,” kata Aya, terlalu cepat.
“Nggak tahu sama sekali,” kata Nana, lebih cepat lagi.
Miyu menyipitkan mata ke cermin, memandang dua sahabatnya bergantian. Aya sibuk mencari sesuatu di tas kosmetik yang tidak mungkin ada di sana. Nana mengamati langit-langit dengan khidmat. “Kalian bohong sangat buruk.”
“Kami bukan pengacara pidana,” sahut Nana, dan menyerahkan gaun itu tanpa menatap. Aya menyelipkan jepit kecil ke rambut Miyu, lalu mencabutnya dan memasangnya lagi dua kali, sampai Nana menahan pergelangan tangannya. “Ya. Dia sudah cantik. Berhenti.”
“Gue gugup, Na.”
“Itu bukan hak lo buat gugup,” kata Nana, tapi suaranya tidak setegas biasanya. “Pokoknya, begitu dia ngomong sesuatu yang penting, lo kabari gue. Sebelum Aya. Gue yang kasih izin Aya tahu.”
“Kenapa lo duluan?”
“Karena gue yang lebih dulu nyuruh lo balik.”
Aya mengangkat tangan tinggi-tinggi. “Gue protes. Tapi gue juga nggak keberatan.”
***
Lift berhenti di lantai dua puluh, dan dari situ tinggal satu lantai tangga pendek menuju pintu besi bertulis Akses Atap. Kanata sudah menunggu di ujung koridor, sendirian, membawa dua kantong kertas cokelat yang menebarkan aroma rendang sampai ke ujung lorong.
“Aku bisa menggandengmu?” tanyanya, sebelum menjejakkan kaki ke anak tangga pertama. “Tangganya sempit.”
“Boleh.”
Tangannya hangat, dan genggamannya terlalu hati-hati, seperti memegang telur. Pintu besi berdecit panjang ketika didorong. Lalu angin menyergap, dan Miyu mengira ia berdiri di tepi dunia.
Kota membentang sampai garis kabur di ujung langit. Sudirman di bawah mereka berubah jadi pita lampu yang baru menyala satu per satu. Matahari sudah rendah, jingga bercampur ungu, dan gedung-gedung memantulkannya seperti lembaran kaca raksasa.
Di dekat pagar pembatas, di atas lantai beton yang bersih, terbentang tikar anyaman dan dua bantal duduk. Dua senter kecil berdiri di sudutnya, belum dinyalakan.
“Kamu menyiapkan ini sendiri?”
“Santa membawakan tikarnya. Aku yang menyapu.” Kanata menjelaskan seolah itu hal paling memalukan yang pernah ia akui. “Dua kali. Ada burung.”
Miyu tertawa, duduk perlahan dengan bantuan lengannya, dan menerima kantong kertas pertama. Di dalamnya, nasi padang bungkus daun, rendang, daun singkong, sambal hijau, tepat dari rumah makan di dekat TPU yang pernah ia ceritakan sambil lalu sepulang ziarah.
“Kamu ingat.”
“Kamu menceritakannya di mobil, waktu kita pulang dari makam kakekmu. Aku mencatat.”
“Kamu mencatat?”
“Di ponsel.” Kanata membuka bungkusnya sendiri dan menatap nasi itu dengan konsentrasi seorang ilmuwan. “Mau pakai sendok?”
“Tidak.”
Mereka makan dengan tangan, duduk bersila di tikar, dan untuk beberapa menit tak ada yang bicara. Hanya bunyi bungkus daun dibuka, angin yang menarik-narik rambut Miyu, dan jauh di bawah, klakson yang terdengar seperti dengung lebah. Kanata makan dengan cara orang yang baru diizinkan makan setelah puasa panjang. Miyu menahan komentar tentang sayurnya. Kemudian ia menyerah.
“Kamu makan daun singkongnya.”
“Aku makan.”
“Satu helai.”
“Ini helai kedua.”
“Kamu tahu,” kata Kanata, setelah beberapa suap, “dua minggu terakhir aku ke sini tiap malam. Di tempat ini. Sampai aku sadar yang kutunggu bukan jawaban dari langit.”
“Terus?”
“Terus aku sadar ini tempat yang bagus untuk berpikir.” Kanata menatap pagar pembatas. “Dulu aku datang untuk lari dari rapat, dari Hosho, dari semua yang kuharapkan dari diriku. Dua minggu kemarin aku datang karena di sini aku bisa melihat ke arah Kemayoran, dan aku tidak tahu persis yang mana, tapi aku tetap melihat.”
Miyu menaruh daun singkong yang sedang ia pegang. “Dasar bodoh.”
“Aku tahu.”
“Aku di sana, lho. Memandang ke arah sini juga. Dari teras.”
“Kalau begitu kita sama bodohnya.” Kanata tersenyum, setengah miring, dan itu senyum pertama yang mencapai matanya sepenuhnya sejak bangku taman.
Matahari menyentuh garis kota. Cahaya merambat ke wajah Kanata, menerangi alis tebal, rahang, mata amber yang sekarang tampak kecokelatan seperti madu cair. Ia berhenti mengunyah. Ia mencuci tangan dengan tisu basah, perlahan, jari demi jari, dan Miyu tahu itu bukan soal kebersihan. Itu cara Kanata menunda.
“Miyu.”
“Ya.”
“Aku ingin mengatakan sesuatu. Dalam bahasa yang kupakai ketika aku tidak berpikir.” Ia memaksa dirinya menatap Miyu. Tangannya terkepal di lutut. “Aku tidak tahu kapan mulainya. Mungkin caramel macchiato pertama yang kamu antar sambil gemetar. Mungkin saat kamu pingsan di trotoar dan aku mendengar diriku sendiri memanggil namamu dengan suara yang bukan suaraku. Yang kutahu, itu bukan karena malam itu.” Suaranya merendah. “Aku mencintaimu bukan karena kewajiban. Aku tidak pernah mendekati siapa pun, Miyu. Tidak seorang pun. Kamu yang pertama, dan aku tidak tahu caranya, jadi aku melakukannya dengan salah berkali-kali.”
“Kanata...”
“Koishiteru.”
Satu kata. Pelan, dalam bahasa Jepang, tanpa hiasan.
Angin berhenti, atau mungkin hanya terasa begitu. Miyu menatapnya, dan matanya sudah penuh. Ia pernah mendengar kata itu ratusan kali dalam drama, dalam lagu yang diputar Nana, dalam surat kakeknya untuk neneknya. Tidak pernah ada yang mengucapkannya kepadanya, kepada Agatha Miyu Kouzuki, anak yang selalu pulang sendiri.
“Aku mengerti artinya,” bisiknya.
“Aku tahu.”
“Aku cuma ingin dengar kamu mengatakannya.” Miyu menarik napas, dan pecah di tengah. “Koishiteru, Kanata.”
Kanata memejamkan mata. Bahunya turun seperti beban yang dilepas setelah dipikul bertahun-tahun. Ketika ia membukanya lagi, matanya basah dan ia tidak repot menyembunyikannya.
“Boleh aku...” Ia menelan ludah. “Boleh aku menciummu?”
Miyu mencondongkan badan dan mengangguk. “Boleh.”
Ciuman itu singkat dan sangat hati-hati, seperti hal yang dilakukan dengan satu tangan menahan napas. Bibir Kanata hangat dan sedikit asin, dan ketika menjauh, dahi mereka masih bersentuhan. Di bawah, kota menyalakan lampunya satu per satu, seolah memberi aba-aba.
Kemudian ponsel di saku jas Kanata berbunyi nyaring, bukan getaran, melainkan nada dering yang ia tetapkan khusus untuk satu nama.
“Jangan diangkat,” bisik Miyu.
“Dia tidak akan berhenti.”
Kanata mengeluarkan ponselnya dengan wajah orang yang akan melakukan pembunuhan. Ia menekan tombol dan menempelkannya ke telinga. “Santa, aku sedang...”
Suara Santa menyembur dari pengeras suara yang tak sengaja menyala, nyaring sampai burung di pagar terbang: “KANATA! Ramalan Capricorn hari ini! “Asmara mencapai puncak. Katakan apa yang kau pendam.” Aku tahu kau di atap! Sudah kau katakan? Kau mengatakannya, kan? Tolong jawab, aku tidak kuat...”
Kanata menutup telepon. Ia menaruh ponsel itu tertelungkup di tikar dan menatap langit dengan ekspresi orang yang meminta takdir menyingkir.
Miyu sudah tertawa terbahak sampai bahunya berguncang, tangannya menutup mulut yang tak muat menampung tawa.
“Aku harus bilang ke Nana,” katanya, tersengal.