Buku catatan harian Anomali berpindah dari tangan Miyu ke tangan Ira untuk terakhir kalinya pada hari kelima sejak tendangan pertama di bawah telapak Kanata.
“Ini halaman yang paling sering salah,” ujar Miyu, menunjuk kolom bertinta merah. “Kalau stok susu kurang dari lima karton, tulis di sini, bukan di belakang struk. Pak Rudi nggak bisa baca tulisan di belakang struk.”
“Siapa yang bisa baca tulisan lo di belakang struk?”
“Gue. Itu intinya.”
Ira memegang buku itu dengan dua tangan seperti memegang bayi kucing, dan matanya sudah basah sejak pukul tujuh. Sebelas hari terakhir ini mereka berdua berdiri di balik meja kasir yang sama dari pagi sampai tengah hari, dan Ira ternyata lebih cepat belajar daripada yang diakuinya. Ia hafal kode diskon kartu member usulan Reno. Ia hafal pelanggan mana yang pesan tanpa gula dan mana yang bilang tanpa gula tapi diam-diam menambah dua sachet. Hanya satu hal yang belum ia kuasai: berhenti menangis tiap kali Miyu menepuk bahunya.
“Gue nggak nangis.”
“Ra, itu air mata.”
“Itu uap dari mesin kopi.”
Menjelang pukul sepuluh, seorang ibu berkerudung biru, yang dulu pernah mengira Miyu dan Kanata suami-istri, menerima kembaliannya dan menahan tangan Miyu sebentar di atas meja kasir. “Mbak keliatan udah gede, ya, kandungannya. Jangan lupa istirahat. Nanti kalau sudah lahir, bawa ke sini. Saya mau lihat.”
“Nanti saya bawa, Bu.”
“Janji, ya? Saya orangnya suka nagih.” Ia tersenyum lebar. Miyu, yang sebulan lalu akan menegang mendengar kata itu, justru tertawa.
Pak Rudi muncul pukul sebelas, membawa amplop cokelat. Ia berdiri di depan Miyu dengan postur manajer, tetapi cara ia menyodorkan amplop itu lebih mirip seorang ayah di depan pintu stasiun. “Ini surat jaminan, Agatha. Isinya sederhana: posisimu di Anomali tetap ada, sampai kapan pun kamu siap kembali. Satu bulan, setahun. Saya sudah tanda tangan. Kalau ada yang bertanya, bilang kamu cuti, bukan berhenti.”
“Pak, saya tidak...”
“Ambil.” Suara Pak Rudi tegas tapi parau. “Selisih kasir kamu nol rupiah tiap hari, dan sudah dua minggu pelanggan menanyakan kasir yang rambutnya pirang itu.” Ia berdeham. “Saya tidak pandai bicara. Jadi pegang saja suratnya.”
Miyu memegangnya. Amplop itu lebih berat dari kertas sebenarnya.
Siang menjelang, Pak Edo keluar dari dapur dengan piring kecil berisi puding yang masih bergetar. Ia meletakkannya di meja pojok tempat Miyu biasa makan siang, lalu mundur dua langkah dengan tangan di belakang punggung seperti penjaga museum.
“Kurang garam,” katanya.
“Pak Edo, ini puding.”
“Tuan tua itu bilang kurang garam waktu dulu. Saya tambah satu jumput. Cicipi.”
Miyu mencicip. Rasanya persis seperti puding sebelumnya, dengan sesuatu yang lebih bulat di ujung lidah. Ia mengangguk dengan mulut penuh, dan Pak Edo menghela napas seperti orang yang baru lulus ujian.
***
Reno menunggu sampai Miyu selesai membereskan lokernya.
Ia berdiri di lorong belakang, di antara rak gelas dan karung biji kopi, dengan sekantong kertas cokelat di tangan. Seperti biasa ekspresinya datar. Seperti biasa pula, Miyu tahu ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaannya.
“Ini.” Reno menyodorkan kantong itu. “Biji kopi. Sangrai ringan, kafeinnya sedikit. Buat nanti.”
“Nanti kapan?”
“Buat bayi nanti.” Reno mengangkat bahu. “Maksud gue, buat lo, kalau dia udah lahir dan kebangun jam tiga pagi. Campurannya gue bikin sendiri.”
Miyu menatap kantong itu. Lalu menatap Reno. “Lo bikin campuran sendiri buat gue?”
“Buat bayi,” Reno mengoreksi, tegas. “Lo cuma kebagian seduhannya.”
Miyu tertawa, memeluk kantong itu ke dada, dan untuk sesaat tidak bisa bicara. Reno menoleh ke pintu belakang, seperti biasa, lalu menoleh kembali.
“Dan, Agatha,” katanya lebih pelan. “Mawar itu bukan salah beli. Tapi lo udah tahu.”
“Gue tahu.”
“Bagus.” Reno mengangguk sekali. “Itu urusan yang sudah selesai.”
Ia tidak menambahkan apa pun lagi.
Pukul dua lewat tiga puluh, pintu kafe berdenting dan dua dokter muda masuk. Dokter Anggara lebih dulu, berkacamata, langkahnya lebih bersemangat dari biasanya; Dokter Devan menyusul dengan tangan di saku, wajah datar. Ira, yang berdiri di kasir, membeku sambil memegang tombol mesin hitung.
“Selamat siang,” ujar Anggara.
“Si-siang, Dok.” Ira menarik napas. “Kopi susu biasa?”
“Dua. Satu untuk Devan.” Anggara berdeham, menatap meja kasir dengan konsentrasi yang tidak wajar. “Ira, saya... ada restoran kecil di dekat rumah sakit. Makanannya biasa saja, tapi tempatnya tenang. Saya ingin mengajak kamu makan malam, kapan pun kamu longgar. Kalau kamu mau. Dan kamu boleh menolak.”
Ira memegang tombol mesin hitung sangat erat. Dari balik rak, Miyu melihat telinganya merah sampai ke ujung.
“Mau,” kata Ira, dalam nada yang hampir hanya berupa udara.
“Mau?”
“MAU, Dok. Maksud saya... Anggara. Mau.” Ia menutup mulut dengan tangan. “Saya bicara. Saya sedang bicara.”
Devan, di samping Anggara, mengangkat satu alis. “Jadi bisa bicara,” gumamnya, sama datar seperti bulan lalu, tapi sudut bibirnya naik sedikit. Ia menoleh ke arah Miyu. Pandangan mereka bertemu sebentar. Ia mengangguk, singkat, seperti kolega.
***
Pukul tiga kurang sepuluh, Miyu melepas apron untuk terakhir kalinya sebelum cuti panjang dan melipatnya di atas rak loker. Ia memakai blus longgar, menyampirkan tas, dan keluar ke ruang depan dengan kantong biji kopi di dada.
Kanata berdiri di dekat pintu.
Ia tidak duduk di meja enam. Ia berdiri seperti sedang menunggu seseorang di bandara, dengan jas terlipat di lengan dan mata mencari-cari sampai menemukan Miyu. Wajahnya melunak seketika, dan Miyu menyadari bahwa orang-orang di kafe itu, semua orang, Ira, Pak Edo yang mengintip dari jendela dapur, Reno di belakang mesin kopi, sedang pura-pura sibuk sambil menahan senyum yang kentara sekali.
“Tuan Saionji.” Devan menghampiri sebelum Kanata sempat melangkah. Ia menatap Kanata, lalu Miyu, lalu kembali ke Kanata. “Jaga dia.”
Hanya itu. Dua kata, tanpa pertanyaan, tanpa tambahan. Kanata terdiam setengah detik, lalu membungkuk sedikit. “Saya akan.”
Reno meletakkan sesuatu di tangan Kanata saat ia lewat, dan menepuk bahunya sekali, keras, seperti menepuk sebuah janji. Kanata menunduk menatap benda itu: sekotak kecil biji kopi, dengan tulisan tangan Reno di tutupnya. Untuk Tuan Jepang. Jangan dimasukkan ke mesin otomatis.
“Terima kasih,” ujar Kanata, yang tidak biasanya kehilangan kalimat.
Mereka keluar bersama. Pintu berdenting di belakang mereka. Matahari sore menimpa trotoar Jalan Teuku Cik Ditiro dengan cahaya miring yang membuat segalanya tampak lebih lembut daripada kenyataannya. Miyu berhenti di bawah kanopi, menoleh ke belakang, ke papan nama Anomali yang sudah ia pandangi lebih dari empat bulan, dan menarik napas panjang.
“Sedih?” tanya Kanata.
“Sedikit. Tapi aku akan kembali.”
“Ya.”
Mereka berjalan ke mobil. Di sepanjang trotoar Miyu menghitung hal-hal kecil yang akan ia rindukan: aroma carbonara yang merembes dari dapur, bunyi lonceng pintu, cara Reno menoleh begitu namanya disebut. Tidak ada satu pun dari semua itu yang terasa seperti perpisahan. Hanya jeda, seperti napas di tengah kalimat panjang. Kanata membukakan pintu. Sebelum Miyu masuk, Kanata mencondongkan badan, mendekatkan bibirnya ke dekat telinganya, dan berbisik dengan suara yang nyaris tidak terdengar di atas bunyi lalu lintas.
“Besok pukul enam. Jangan makan malam.”