Hosho duduk di ruang tunggu praktik Dokter Raina, lima hari setelah teh pahit di ruang depan rumah kontrakan, dengan punggung lurus, tongkat di antara lutut, dan ekspresi orang yang diseret ke tempat asing oleh keinginannya sendiri.
Miyu yang mengundangnya. Ia menelepon beberapa malam sebelumnya, kalimatnya sudah ia latih di depan cermin kamar mandi: Kalau Anda ingin melihat, Tuan Hosho, Anda boleh ikut masuk. Hanya kalau saya mengizinkan, dan hanya di ruang periksa. Di ujung sana sunyi lama, lalu suara tua itu menjawab satu kata, Baik, dan telepon ditutup tanpa salam. Nana, yang mendengar dari sofa, berkomentar bahwa itu lebih sopan dari semua email Hosho dikumpulkan jadi satu.
Sekarang Hosho menolak majalah yang disodorkan resepsionis, menolak teh, dan menolak kursi yang lebih empuk. Di sebelahnya, Kanata duduk dengan kaki bergoyang dan jari-jari saling meremas. Santa, di ujung deret kursi, sudah membuka bungkus tisu keduanya dan belum ada apa pun yang terjadi.
“Kau sudah menangis,” bisik Kanata dalam bahasa Jepang.
“Aku belum menangis. Aku mempersiapkan diri.”
“Itu menangis.”
“Itu persiapan profesional.” Santa mengusap hidung. “Nona Nana, Anda lihat? Dia tidak bisa dipercaya soal emosi.”
“Gue nggak ngerti bahasa lo berdua,” ujar Nana dari seberang, matanya tidak lepas dari ponsel, “tapi gue yakin gue setuju sama yang barusan.”
Pintu ruang periksa terbuka. Dokter Raina berdiri di ambangnya, membawa map. “Bu Agatha, silakan. Ayahnya juga. Dan...” Pandangannya bertemu mata Hosho, lalu ia menoleh pada Miyu, menunggu.
Miyu berdiri. “Tuan Hosho. Silakan.”
Hosho berdiri lebih lambat. Dengan tongkat di tangan kiri dan topi yang ia lepas sendiri, ia melangkah masuk seperti orang yang memasuki kuil.
***
Ruang periksa itu dingin dan terang remang. Miyu berbaring, gaun rajut biru kelabu SAIO yang ia pakai tersingkap sampai bawah dada. Gel dingin di perutnya membuatnya mengernyit, dan Kanata, yang berdiri di sisi kiri, refleks menggenggam tangannya. Hosho memilih berdiri di kaki ranjang, setengah langkah di belakang monitor, tongkat bertumpu di lantai.
“Ini pemeriksaan morfologi,” ujar Dokter Raina sambil menggerakkan alat di perut Miyu. “Dua puluh dua pekan. Kita lihat jantung, otak, tulang belakang, jari tangan, jari kaki. Bayinya aktif sekali pagi ini, jadi mungkin saya perlu menunggunya diam.”
“Dia pemalu,” gumam Miyu.
“Di layar tidak kelihatan begitu.”
Bayangan abu-abu bergerak di monitor, menggeliat, berputar. Kali ini bentuknya sudah jelas. Kepala bulat, tulang punggung seperti deretan manik, dan dua tangan kecil yang terangkat ke dekat wajah seolah sedang memeriksa sesuatu.
Miyu menutup mulut dengan tangan yang bebas. Genggaman Kanata mengencang.
“Empat ruang jantung lengkap. Lihat ini,” kata Dokter Raina, menunjuk kedipan kecil di tengah dada. Bunyi detak mengisi ruangan, cepat dan teratur, seperti kuda kecil berlari. “Tulang belakang bagus. Ginjal bagus. Jari tangannya...” ia menahan layar sebentar, “lima, lima.”
“Dan jenis kelaminnya?” tanya Miyu pelan. “Kalau kelihatan. Saya ingin tahu.”
Dokter Raina menggeser alat, mengamati, lalu tersenyum pada monitor. “Kelihatan sekali. Perempuan, Bu. Bayi perempuan.”
Tidak ada yang bicara. Kanata menatap layar dengan mulut terbuka sedikit, kehilangan ketenangan yang selalu ia pakai seperti jas. Miyu menatap Kanata, lalu menatap bayangan kecil itu, lalu menutup mata dan membiarkan air mata menggelinding ke pelipis.
Hosho tidak bergerak.
Dokter Raina, yang sudah terlalu sering melihat ruang periksa menyimpan keheningan seperti itu, menunggu tiga detik penuh sebelum menggerakkan alatnya lagi. “Tendangannya sudah bisa Ibu rasakan tiap hari mulai sekarang,” katanya lembut. “Kalau ayahnya ingin ikut merasakan, tinggal letakkan tangan di perut saat bayinya aktif. Biasanya sesudah makan atau menjelang tidur.”
Miyu menoleh. Lelaki tua itu berdiri persis seperti tadi, namun tangan yang menggenggam tongkat bergetar halus. Ia menatap layar tanpa berkedip, dan sorot matanya, yang biasanya menimbang dan menilai, kini hanya melihat. Hanya itu. Seorang lelaki delapan puluhan menyaksikan sesuatu yang belum ada di dunia tapi sudah punya detak.
“Perempuan,” ucapnya dalam bahasa Jepang, sangat rendah. Kemudian dalam bahasa Indonesia yang kaku, ditujukan kepada Miyu: “Terima kasih, Nona Kouzuki. Sudah membiarkan aku melihat.”
“Sama-sama, Tuan Hosho.”
Selesai pemeriksaan, Hosho berdiri di koridor sementara perawat mencetak foto-foto. Ia tidak menyentuh cetakan itu ketika diserahkan kepada Kanata. Ia hanya memandangnya dari jarak satu lengan.
“Besok pagi aku pulang ke Tokyo,” katanya. “Pekerjaanku di sini selesai.”
“Anda tidak perlu terburu-buru,” Kanata mulai.
“Aku tidak akan mengganggu lagi.” Hosho menatap Miyu, bukan Kanata. “Kalau kamu memanggil, aku datang. Kalau tidak memanggil, aku menunggu di Tokyo. Itu pengaturanku.”
“Saya akan memanggil, Tuan Hosho,” jawab Miyu, dan tidak tahu persis kapan ia memutuskan itu.
Lelaki tua itu mengangguk sekali, mengetukkan tongkat, lalu berhenti di sisi Kanata dan berkata dalam bahasa Jepang, hanya cukup keras untuk dua telinga:
“Tadi kau menggenggam tangannya dan tidak sekali pun melihat ke arahku. Kau memandang layar, memandang dia. Itu yang kuharapkan dari seorang ayah, dan kau melakukannya tanpa ada yang mengajari.”
Kanata terpaku. Sebelum ia sempat menjawab, Hosho sudah berjalan pergi bersama sopirnya tanpa menoleh.
***
Di teras kontrakan, Santa duduk di kursi plastik biru dengan kantong gorengan di pangkuan dan mata merah. Nana bersandar di pagar, memperhatikannya dengan alis terangkat.
“Lo makan gorengan sambil nangis. Itu kombinasi yang bikin gue khawatir.”
“Saya tidak menangis. Ini karena cabai.”
“Santa. Cabainya belum lo gigit.”
Santa menatap cabai rawit di tangannya dengan wajah dikhianati. “Nona Nana, jangan memperhatikan saya terlalu teliti.”
“Gue pengacara. Itu pekerjaan gue.” Nana mengambil sebiji tahu isi tanpa permisi, mengunyah, lalu menurunkan nada. “Tadi resepsionis bilang, Hosho nolak majalah, nolak teh, nolak kursi empuk. Orang kayak gitu ngikut masuk ruang periksa. Gue nggak ngerti kenapa gue malah deg-degan.”
Santa terdiam, lalu tersenyum sangat kecil. “Tuan Hosho tidak berubah. Ia hanya menemukan sesuatu yang tidak ia punya jawabannya.”
“Itu kedengaran dalam banget buat orang yang makan gorengan.”
“Aku bisa dalam dan makan gorengan sekaligus.”
***
Sore itu, di ruang tamu rumah kontrakan Miyu yang sempit, cetakan baru ditempel di pintu kulkas dengan dua magnet berbentuk buah. Santa dan Nana, atas permintaan halus Miyu, menunggu di teras dan bertengkar pelan soal siapa yang membeli gorengan, supaya mereka tidak mendengar terlalu banyak.
Miyu duduk di sofa, Kanata di lantai, bersandar pada kaki sofa dan menatap kulkas seolah itu layar bioskop.
“Dia punya hidung kamu,” kata Miyu.
“Itu bayangan abu-abu.”
“Dokter Raina bilang hidungnya mancung. Berarti hidung kamu.”
Kanata terdiam sebentar. Lalu, tanpa menoleh: “Miyu. Boleh aku... seperti tadi di taman?”
“Boleh.”
Ia bergeser, berlutut di sisi sofa, dan menaruh telapak tangannya di perut Miyu, sangat hati-hati. Miyu menutup mata. Menunggu.
Satu detik. Dua. Lima.
Lalu sebuah dorongan, kecil tapi tak mungkin disalahartikan, tepat di bawah telapak Kanata. Seperti ketukan jari dari sisi dalam pintu.
Kanata menegang. Matanya membesar. Ia tidak bergerak, tidak bernapas, hanya bibirnya yang terbuka dan mengatup tanpa suara. Bayi itu menendang lagi, lebih kuat.
“Miyu,” bisiknya, parau. “Dia...”
“Iya.” Miyu tertawa dengan wajah basah. “Dia bilang halo.”
Di teras, suara Santa menjerit tertahan karena Nana membekap mulutnya.
Kanata tidak menjauhkan tangan. Ia menatap perut Miyu, lama, seperti sedang membaca kalimat yang ia tidak pernah belajar bahasanya. Lalu Miyu bertanya, dengan suara sepelan ia bisa:
“Namanya?”
Kanata menarik napas, dan ketika menjawab, suaranya lebih dari separuh pecah. “Aku belum berani memikirkannya.”