Lima hari sesudah bangku di Taman Suropati, Miyu berdiri lagi di balik meja Anomali pukul tujuh pagi, dan Ira menjerit begitu melihatnya.
“AGATHA!”
“Pelan-pelan, Ra, ini masih pagi,” ujar Miyu, tapi ia sudah dipeluk dari samping dengan kekuatan yang membuat apron-nya miring. Dari balik mesin kopi, Reno menoleh, mengangguk sekali, lalu kembali menggiling biji dengan bahu yang sedikit lebih turun dari biasanya. Pak Edo melongok dari dapur dan mengangkat sendok kayu seperti orang memberi salam bendera.
“Dua minggu lo ngilang,” isak Ira di bahunya. “Gue sampai nyiapin pidato marah. Sekarang lupa semua.”
“Pidatonya simpan buat nanti.”
“Gue simpan. Gue tulis di tangan.” Ira menunjukkan telapak tangan kirinya, penuh coretan pulpen yang sudah kabur. Miyu tertawa, dan terkejut karena suaranya terdengar seperti miliknya lagi.
Ponsel di saku apronnya bergetar sekali. Kanata: Hosho mendarat semalam, seperti kata Mikan. Nanti siang aku jelaskan permintaannya. Miyu membacanya, menyelipkan ponsel kembali, dan menyadari bahwa tiket yang dulu terdengar mengancam kini terasa seperti kabar cuaca.
Pak Rudi muncul di ambang ruang kerja dengan buku catatan. “Kamu boleh duduk kalau capek, Agatha. Sebelas hari terakhir ini, tugasmu cuma satu: serahkan catatan harian ke Ira, pelan-pelan, sampai dia hafal.”
“Baik, Pak.”
“Dan makan yang benar.”
Dari pojok, Reno meletakkan secangkir teh jahe di meja kasir tanpa kata. Miyu menatapnya. Reno menatap pintu belakang.
Pukul dua belas lewat sepuluh, Kanata duduk di meja enam, dan hari itu Reno membiarkan Miyu yang mengantar tehnya.
“Kamu sudah makan pagi?” tanyanya sambil meletakkan cangkir.
“Bubur. Santa berdiri di dapurku sampai aku menghabiskannya.” Kanata menatap perut Miyu yang kini jelas di balik apron, lalu cepat-cepat memandang cangkir, seperti orang yang takut dituduh. “Dia mau datang pukul empat?”
“Dia mau datang pukul empat. Aku yang menentukan.”
“Aku tahu.” Kanata mengaduk teh yang tidak perlu diaduk. “Aku boleh menunggu di mobil? Di ujung gang. Aku tidak akan turun kalau kamu tidak memanggil.”
Miyu memikirkannya sungguh-sungguh. Dua minggu lalu pertanyaan seperti itu akan terdengar sebagai tali yang mengikat; sekarang ia mendengarnya sebagai tangan yang ditaruh di punggung, untuk berjaga, bukan mendorong. “Tidak. Menunggulah di kantor. Aku akan menelepon sesudahnya.”
“Baik.”
“Kamu tidak membantah?”
“Kamu bilang kamu yang menentukan.” Kanata mengangkat mata, dan di sudut bibirnya ada sesuatu yang hampir menjadi senyum. “Aku sedang berlatih.”
Dari balik kasir, Ira berpura-pura menghitung uang receh dengan sangat keras. Miyu mengabaikannya.
Sejak beberapa hari lalu ia sudah pulang ke rumah kontrakannya, dan Kanata menjelaskan bahwa Hosho, yang menginap di hotel yang sama dengan dulu, meminta, lewat Kanata dan bukan lewat staf, bertemu Miyu berdua saja. Di rumah Miyu, bukan di hotel. Kamu boleh menolak, tulis Kanata. Miyu membaca kalimat itu tiga kali, lalu menjawab: Senin, pukul empat, sesudah shift. Aku yang menentukan.
***
Hosho tiba pukul empat kurang tiga menit. Tanpa jas, tanpa staf berkumis di belakangnya, hanya seorang sopir yang menunggu di mobil di ujung gang. Tongkat kayu tipis mengetuk teras dua kali sebelum Miyu sempat membuka pintu.
“Tuan Hosho.”
“Nona Kouzuki.” Ia menunduk sedikit, dan Miyu lupa bernapas, sebab lelaki itu memandang rumah kecilnya, kursi plastik biru di teras, pot lidah buaya yang hampir mati, seperti ia sedang memeriksa tanah tempat sesuatu pernah tumbuh. “Aku tidak berniat lama.”
Miyu sudah menyiapkan meja kecil di ruang depan. Di atasnya ada teko tanah liat dan dua cangkir kecil. Ia menuang tanpa banyak bicara. Teh itu dari kaleng peninggalan kakeknya, daun yang hanya tersisa untuk beberapa seduhan lagi. Seduhannya sengaja ia buat lebih lama dari biasanya, sampai warnanya gelap, tanpa gula.
“Kenapa di sini, Tuan Hosho?” tanyanya sebelum menuang cangkir kedua. “Hotel Anda punya rumah teh yang lebih baik.”
“Di rumah teh itu ada pelayan, dan pelayan punya telinga.” Hosho mengamati ruang depan yang sempit. “Di rumahmu hanya ada dua cangkir.”
Ia menyentuh cangkirnya, menghirup, menyesap. Ia diam begitu lama sampai Miyu mengira ia tidak suka.
“Ini,” katanya akhirnya. “Ini teh yang kumaksud di kafe.”
“Kakek saya menyeduhnya seperti ini.”
“Kakekmu orang yang tahu hidup itu pahit dan tetap mau meminumnya.” Hosho meletakkan cangkir. Jemarinya yang keriput berhenti di tepi porselen. “Aku datang untuk mengatakan sesuatu. Aku akan mengatakannya dalam bahasa Jepang, karena bahasa yang kupakai dulu untuk mengujimu dengan kasar adalah bahasa itu juga, dan aku ingin membersihkannya.”
Miyu menegakkan punggung.
Lalu Hosho berbicara, dengan bahasa Jepang yang baku dan berat dan lambat, kata-kata yang disusun seperti batu bata. Ia berkata bahwa ia sudah tua dan sudah terbiasa mengukur manusia dengan apa yang mereka inginkan dari keluarganya. Bahwa ia menawarkan rumah, uang, dan pengawal, dan setiap orang yang pernah ia tawari hal serupa selalu mengambilnya, kadang dengan malu, kadang tanpa. Bahwa Miyu satu-satunya yang menolak sambil menatap matanya.
“Kamu menolak semua yang kutawarkan,” katanya akhirnya dengan suara pelan. “Orang yang mengejar harta tidak menolak. Aku menilaimu keliru. Aku minta maaf.”
Miyu terpaku di tempat duduknya. Ada banyak jawaban yang ia susun selama lima hari, dari yang dingin sampai yang penuh amarah, dan semuanya menguap. Yang tersisa hanya satu.
“Saya terima, Tuan Hosho. Dan terima kasih sudah mengatakannya dalam bahasa yang saya pahami.”
“Bahasa kakekmu.”
“Ya.” Miyu merapikan lipatan serbet di pangkuannya, ragu sebentar, lalu memutuskan bahwa gilirannya juga tiba. “Tuan Hosho, boleh saya menambahkan sesuatu? Saya tidak marah karena Anda menawarkan. Saya marah karena tawarannya datang sebelum ada yang bertanya apa yang saya butuhkan. Rumah, uang, pengawal, semuanya diberikan dengan syarat saya tidak boleh menjadi bagian dari keluarga itu. Saya bisa hidup tanpa semuanya. Saya tidak bisa hidup kalau anak ini diajari bahwa ibunya hanya dipinjami tempat.”
Hosho tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, lalu mengendur.
“Tidak ada yang pernah berkata begitu kepadaku di rumahku sendiri,” katanya. “Kanata pun tidak, sampai ia sendiri berani, dua pekan lalu.”
“Mungkin karena Anda tidak pernah ditolak oleh orang yang tidak butuh apa-apa dari Anda.”
“Mungkin.” Sudut mulut lelaki tua itu bergerak, hampir tersenyum. “Tehmu pahit, dan kamu juga. Itu bukan hinaan. Aku sudah terlalu lama dikelilingi orang yang manis.” Ia kembali ke cangkirnya, dan untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Hanya bunyi seduhan yang mendingin.
Hosho mengangguk, lama. Matanya jatuh ke meja. Di antara toples gula dan kotak tisu, tergeletak selembar cetakan hitam putih yang Miyu belum sempat simpan: gambar USG dua belas pekan, dengan garis putih yang samar menyerupai tubuh kecil melengkung.
“Itu?”
“Dua belas pekan. Sabtu ini saya periksa lagi, katanya bisa lihat lebih jelas.”
Hosho meraih cetakan itu dengan dua tangan, mendekatkan ke matanya. Ia mengamati lebih lama dari yang masuk akal untuk gambar yang hanya berupa bayangan abu-abu. Ibu jarinya bergerak pelan di tepi kertas, dan Miyu tidak berani mengucapkan apa pun.
“Aku tidak akan memilihkan istri untuk Kanata lagi,” ujar Hosho, tanpa mengangkat mata. “Itu sudah selesai. Keluarga Hanakomachi akan diberi tahu olehku sendiri, bukan olehnya.”
“Tuan Hosho...”
“Satu hal lagi. Kanata boleh tinggal dan bekerja dari Jakarta. Mikan akan memegang Tokyo.” Ia mengembalikan cetakan itu ke meja, pelan, seperti mengembalikan sesuatu yang berharga. “Bukan karena urusan perusahaan. Anak ini bagian dari keluarga, dan ayahnya tidak boleh jauh darinya. Itu saja alasannya, dan itu alasan yang cukup.”
Miyu menunduk. Ia bernapas pelan supaya matanya tidak tumpah. Rasanya aneh, mendapatkan sesuatu yang ia tidak minta dan tidak ia takuti dari orang yang selama ini ia takuti.
Hosho berdiri, dibantu tongkatnya. Di ambang pintu ia berhenti.
“Sabtu. Pemeriksaan itu.”
“Ya?”
“Bawa aku melihat anak itu hari Sabtu.”
Ia tidak menunggu jawaban. Tongkatnya mengetuk teras dua kali lagi, menjauh, lalu sunyi, dan Miyu berdiri sendirian di ruang depan dengan dua cangkir teh pahit yang sudah tidak hangat.