Miyu turun dari taksi pukul tiga lewat empat puluh empat, enam menit lebih awal dari janji yang ia buat sendiri, dan menemukan bahwa ia tidak perlu mencari siapa pun.
Kanata berdiri di luar gerbang Taman Suropati. Bukan duduk di bangku, bukan menunggu di mobil. Ia berdiri tegak di sisi tiang gerbang seperti orang yang diberi tugas jaga, satu tangan di saku, mata tertuju pada arloji. Ia bahkan tidak melihat taksi itu pergi.
Miyu berjalan sampai tiga langkah di sampingnya dan berhenti.
“Kamu bilang pukul 15.50.”
Kanata tersentak, nyaris melompat. Wajahnya melewati tiga ekspresi dalam dua detik, dan yang terakhir adalah ekspresi orang yang sedang menyiapkan pembelaan. “Sekarang belum pukul 15.50.”
“Aku tahu. Kamu sudah di sini dari tadi.”
“Saya tiba pukul 15.20,” ujar Kanata jujur, tanpa nada menyesal. “Saya menunggu di luar supaya tidak melanggar janji. Saya tidak duduk di bangku sebelum waktunya.”
“Itu juga melanggar.”
“Menurut saya itu tafsiran yang berbeda.”
Sesuatu di dada Miyu, yang sudah dua pekan terikat kencang, mengendur satu simpul. Ia menggigit bagian dalam pipinya supaya tidak tertawa, dan gagal sedikit. “Ayo. Sebelum aku lupa semua yang sudah kuhafalkan.”
Mereka berjalan berdampingan, dengan jarak yang cukup untuk satu orang lagi di antaranya. Pohon besar itu masih di tempatnya, akarnya menyembul dari tanah. Bangku besi di bawahnya kosong, seolah menunggu mereka. Air mancur menyembur lemah. Miyu duduk lebih dulu, Kanata di ujung seberang, tangan di lutut.
“Aku mau mulai,” kata Miyu, “dan aku mohon kamu jangan memotong sampai selesai.”
“Baik.”
“Pertama, maaf.” Suaranya sudah bergetar, dan ia membiarkannya. “Aku menghilang dua minggu dan hanya meninggalkan surat. Kamu menepati permintaanku sampai huruf terakhir, dan itu... Nana bilang kamu bahkan menaruh kunci mobilmu di meja. Aku sebenarnya tidak pantas kamu hormati sebaik itu.”
Kanata membuka mulut. Miyu mengangkat telapak tangan. Ia menutupnya lagi.
“Kedua, aku mau kamu tahu kenapa.” Miyu menatap air mancur, bukan wajahnya. “Waktu kuliah ada seorang teman yang menolongku sekali. Hanya sekali. Sesudah itu setiap tugasnya jadi tugasku, karena katanya aku berutang. Aku mengerjakannya sampai Aya dan Nana turun tangan. Sejak itu, setiap kali ada orang baik, ada bagian dari diriku yang menghitung: kapan tagihannya datang.”
Kanata tidak bergerak.
“Lalu Nona Christine bilang aku berutang padamu. Tuan Hosho bilang yang kutolak itu balasan yang pantas. Dan kamu... kamu tidak pernah memakai kata itu padaku, Kanata. Tapi kamu bilang tanggung jawab, berkali-kali, dan di telingaku semuanya jadi satu kata. Tagihan.” Ia menarik napas dan menghembuskannya gemetar, lalu mengusap hidung dengan punggung tangan, tidak anggun sama sekali. “Ini bukan salah kamu. Ini... ya ampun, gimana ngomongnya. Ini luka aku. Aku pergi gara-gara nggak bisa bedain kamu sama mereka.” Ia tertawa pendek, jelek. “Dan aku sebel banget karena nggak bisa.”
Sunyi. Dua anak berlari melewati bangku, mengejar merpati yang sama sekali tidak tertarik dikejar.
“Sekarang boleh,” kata Miyu.
Kanata menunduk sebentar. Ketika ia bicara, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Saya yang harus minta maaf. Saya melamar dua kali, dan keduanya alasan yang sama dengan nama yang berbeda: supaya semuanya selesai. Gosip selesai, Hosho diam, urusan rapi. Saya memperlakukan kamu seperti masalah yang bisa saya tutup dengan tanda tangan.” Ia menggeleng pelan. “Kamu bilang kamu takut orang yang menolong lalu menagih. Saya tidak menagih. Tapi saya juga tidak mendengar bahwa kamu bisa merasa ditagih tanpa satu rupiah pun disebut.”
“Kanata...”
“Aku tidak ingin kamu membayar apa pun.” Kata itu keluar tanpa ia sadari, dan ia terdiam setengah detik, tetapi tidak menariknya kembali. “Aku ingin kamu bebas. Termasuk bebas pergi. Kalau suatu hari kamu memilih pergi, aku akan mengantarmu sampai gerbang, dan anak itu tetap anakku, dan kamu tetap orang yang kuhormati.”
Miyu menatapnya. “Kamu bilang aku.”
“Maaf. Saya...”
“Jangan.” Miyu tertawa dalam tangis, mengusap pipi dengan punggung tangan. “Jangan minta maaf. Terlalu banyak saya di antara kita. Aku sudah capek berbicara denganmu seperti klien kantor pajak.”
“Aku juga,” kata Kanata, hampir tidak terdengar.
Air mata Miyu turun sungguh-sungguh sekarang, dan ia tidak repot menahannya. “Kamu bilang bebas pergi. Aku sudah pergi dua minggu, Kanata. Dan tiap pagi aku bangun sambil mikir apakah kamu sudah makan.” Ia menarik napas patah-patah. “Aku ingin tinggal. Aku cuma tidak tahu cara tinggal tanpa merasa berutang.”
“Kita cari caranya,” ujar Kanata. “Pelan-pelan. Kamu yang menentukan kecepatannya.”
Miyu menyeka hidung dengan tisu dari tasnya, lalu menyipitkan mata dan memandangi Kanata dari atas sampai bawah, seperti petugas yang memeriksa barang bawaan. Lingkar hitam di bawah mata. Kerah yang sedikit longgar di leher. “Kamu sudah makan siang?”
“Sudah.”
“Makan apa?”
Kanata diam sebentar terlalu lama. “Kopi.”
“Kanata.”
“Dan kue yang dikirim Pak Edo ke meja enam. Setengah.” Ia mengaku dengan nada murid yang dipanggil ke depan kelas. “Dan vitamin C yang kamu berikan. Di laci mejaku. Aku belum habiskan. Aku simpan.”
“Disimpan? Vitamin itu bukan benda pajangan.”
“Bunyinya, diminum sesudah makan. Aku belum makan dengan benar, jadi belum bisa memenuhi syaratnya.”
Miyu menatapnya, lalu menutup mulut dengan tangan. Bahunya berguncang. Ia tertawa sampai air matanya yang tersisa ikut keluar, sementara Kanata memandanginya dengan bingung, setengah tersinggung dan setengah bahagia, seperti orang yang baru tahu bahwa leluconnya tidak sengaja lucu.
“Ternyata memang harus ada yang mengomeli kamu,” kata Miyu setelah napasnya kembali.
“Aku tidak keberatan,” sahut Kanata, dan kali ini ia tidak menunduk.
Lama mereka diam. Jarak di antara mereka sudah mengecil, entah siapa yang menggeser lebih dulu.
“Ada satu hal lagi,” kata Miyu akhirnya, dan suaranya berubah, jadi lebih ringan dan lebih takut sekaligus. “Hari Minggu dini hari, pukul dua. Di rumah Aya. Dia bergerak.”
Kanata menjadi sangat kaku. “Bergerak.”
“Seperti kupu-kupu. Dari dalam. Tiga kali.” Miyu menyentuh sisi kiri perutnya, bagian yang sudah menonjol di balik blus longgar. “Aku ingin mengetik kepadamu saat itu juga. Aku mengetik, menghapus, mengetik lagi. Sampai Aya datang membawa teh jahe.”
Kanata menatap tangan Miyu di perutnya seolah itu peta menuju tempat yang ia tidak berani datangi. Tenggorokannya bergerak.
“Aku...” Ia mengulang dari awal. “Boleh aku meletakkan tanganku di sana? Kalau kamu tidak mau, aku mengerti.”
“Boleh.”
Telapak Kanata mendarat sangat pelan, nyaris tidak menyentuh, seperti orang yang menaruh sesuatu yang bisa pecah. Hangat dan besar. Mereka menahan napas bersama. Burung di dahan pohon berbunyi, air mancur berdesir, seorang anak menjerit gembira di kejauhan.
Tidak terjadi apa-apa.
“Belum,” bisik Kanata, dan wajahnya jatuh sedikit.
“Tunggu,” kata Miyu. “Dia pemalu. Seperti ayahnya.”
Kanata tidak menarik tangan. Ia menunggu, dan itu jawaban yang ingin Miyu dengar.
***
Aya dan Nana sudah duduk di teras ketika taksi Miyu berhenti di depan rumah Kemayoran. Aya bersila di kursi rotan dengan laptop tertutup di pangkuan, tanda bahwa ia tidak menulis satu huruf pun sejak sore. Nana berdiri bersandar pada tiang, lengan bersilang, wajah jaksa.
“Lo pulang sendiri,” kata Nana.
“Dia mau mengantar. Aku bilang tidak usah.”
“Aku?” Nana menaikkan satu alis. “Sejak kapan lo bilang aku ke gue?”
Miyu baru menyadari, lalu tertawa pendek. “Ke dia. Gue ke kalian tetap gue.”
“Lo senyum,” ujar Aya, nyaris berbisik.
“Iya.”
“Dia bilang apa?”
“Dia bilang aku tidak perlu membayar.” Miyu menaiki anak tangga teras dan duduk di samping Aya, dan bahunya runtuh dengan lega yang membuat Aya langsung merangkulnya. Nana memalingkan wajah ke halaman. Rahangnya bergerak, dan ia pura-pura sangat tertarik pada pohon mangga.
Ponsel Miyu bergetar di saku.
Kanata: Mikan baru menelepon. Hosho memesan tiket kembali ke Jakarta. Aku ingin kamu mendengarnya dariku, bukan dari orang lain.
Miyu membaca pesan itu dua kali. Nana, yang membaca dari balik bahunya tanpa malu, menegakkan badan.
“Apa katanya?”