Pada hari keempat belas, Kanata menandatangani dokumen yang sama dua kali.
Ia baru menyadarinya ketika Revindo, yang berdiri di seberang meja dengan postur orang yang memegang bom, berdeham sangat pelan dan menunjuk halaman terakhir. “Maaf, Tuan. Ini sudah Tuan tandatangani Jumat lalu. Salinannya ada di map biru.”
Kanata menatap dua tanda tangan kembar itu. Yang kedua sedikit miring, seperti ditulis oleh orang yang tangannya tidak sepenuhnya milik dirinya.
“Maaf, Revindo.”
“Tidak apa-apa, Tuan.” Revindo menarik map itu pelan-pelan, seperti menarik selimut dari anak sakit. “Saya akan menyimpannya di tempat yang tidak ada yang akan mencarinya.”
Kantor itu, belakangan ini, bergerak dengan sopan santun yang aneh. Staf berjalan lebih pelan di koridor, orang berhenti bicara ketika Kanata lewat, dan Pak Dali, yang biasanya mengetuk dua kali, kini mengetuk satu kali dan menunggu di luar sampai dipersilakan. Tidak ada yang marah, tidak ada yang dibentak. Justru karena itu semua orang merasa bahwa sesuatu sedang salah, seperti ruangan yang diam-diam kehilangan satu perabot.
Pukul dua belas lewat sepuluh, ia turun ke Menteng seperti yang ia lakukan setiap hari selama dua pekan, dan duduk di meja enam.
Kafe itu masih menyala dengan irama yang sama. Ira di balik kasir, tanpa suara cemprengnya yang biasa. Pak Rudi dengan buku catatan di ambang ruang kerja. Pak Edo membawa piring kecil kue yang ia letakkan di meja Kanata tanpa memesan, seperti kebiasaan baru yang tak pernah dibicarakan. Kanata menyentuh sendoknya saja.
Reno datang membawa teh seduh tanpa gula dan meletakkannya, tanpa suara, di sisi kanan. Ia tidak pergi.
“Empat belas hari,” katanya.
“Saya tahu.”
“Saya tidak tahu apa-apa, Tuan. Saya cuma bilang empat belas.” Reno menatap pintu belakang yang tertutup. “Saya pernah bilang kepadanya, kalau dua minggu tidak balik, saya yang jemput.”
“Jangan.”
“Saya tidak akan.” Reno menarik napas, dan untuk sesaat ekspresi datarnya sedikit lepas. “Tapi saya bilang begitu supaya Tuan tahu ada satu orang di dapur ini yang menghitung juga.”
Kanata memandang cangkir. Di tepi porselen itu, ada noda tipis bekas jari seseorang yang menyeka dengan terburu-buru. Ia ingat Miyu pernah berdiri di sini, di sebelah meja enam, dan menegurnya.
“Kamu belum makan sayurnya.”
“Saya tidak suka sayur.”
“Kamu minum vitamin C, nggak? Kamu kelihatan seperti orang yang tidur tiga jam. Saya lihat tadi dari kasir.”
“Saya tidak punya vitamin.”
“Besok saya bawakan.”
Dan besoknya, di tasnya yang selalu kosong dari hal remeh, benar-benar ada sebotol kecil vitamin dengan stiker bertuliskan tangan, Diminum sesudah makan. Bukan sebelum. Kanata belum pernah mengatakan kepada siapa pun bahwa botol itu masih ada di laci mejanya, utuh, belum habis, karena ia takut kalau habis berarti perhatian itu pun berakhir.
***
Sore harinya, alih-alih kembali ke kantor, ia berjalan kaki ke gedung ritel di Sudirman. Toko pop-up Seiko Sai sudah buka beberapa pekan, dan pelanggannya berdatangan tanpa perlu banyak dibujuk. Pak Dali menyambutnya di pintu dengan tablet di tangan dan senyum hati-hati.
“Tuan. Angka penjualannya—”
“Tidak hari ini, Pak Dali. Saya hanya ingin melihat.”
“Tentu.”
Di dekat pintu masuk, di sisi yang menghadap jendela besar, terpasang bangku panjang dari kayu terang. Sandaran rendah, dudukan lebar, cukup untuk dua orang dewasa dan satu tas belanja. Dua perempuan sedang duduk di sana sambil membuka kantong kertas, tertawa kecil, mata mereka mengikuti lalu lalang tanpa ada yang menyuruh mereka pergi.
“Ide Nona Agatha,” ujar Pak Dali pelan di sampingnya. “Kami pasang Selasa lalu. Orang jadi lebih lama di toko, dan lebih banyak yang kembali. Staf bilang mereka merasa tempat ini aman.”
Kanata memandang bangku itu lama. Ia teringat kalimat yang sama, dari bibir yang sama, di meja jamuan hotel: orang yang duduk berarti percaya tempat itu aman.
“Sampaikan kepada seluruh tim,” katanya, “bahwa bangku itu tidak boleh dipindahkan, apa pun alasannya.”
“Baik, Tuan.”
“Dan kalau ada yang bertanya siapa yang memikirkannya, katakan namanya. Jangan “ide tim”. Namanya.”
Pak Dali menatapnya sebentar, lalu mengangguk dengan mata yang tiba-tiba terlalu terang. “Baik, Tuan Saionji. Saya akan menaruh papan kecil di sana.”
Kanata menunggu sampai dua perempuan itu pergi. Lalu ia duduk di ujung bangku, sendirian, dengan tangan di lutut, dan membiarkan dirinya merasa sebagaimana orang yang duduk di tempat yang ia percaya.
***
Malam itu ia naik ke atap, lewat tangga darurat lantai dua puluh dan pintu besi bertulis Akses Atap yang engselnya selalu berdecit. Angin lebih keras dari biasanya. Sudirman membentang di bawahnya, garis-garis lampu yang tak habis-habis.
Ia sudah berdiri sepuluh menit ketika pintu besi berdecit lagi.
“Kau tahu,” kata Santa dari belakangnya, membawa dua gelas kopi kertas dan jaket, “bahwa tiap malam kau naik ke sini, orang keamanan menelepon aku dan bertanya apakah atap ini sekarang resmi jadi ruang kerja Direktur Utama.”
“Katakan iya.”
“Sudah. Besoknya mereka telepon lagi.” Santa menyodorkan jaket, yang diterima Kanata tanpa menoleh. “Kali ini bertanya apakah perlu disediakan kursi.”
Mereka berdiri berdampingan, memandang kota. Kopi di tangan Kanata dingin sebelum ia sempat meminumnya.
“Kau tidak mengejarnya,” ujar Santa akhirnya, dalam bahasa Jepang, dengan nada orang yang sudah menyiapkan kalimat ini berhari-hari. “Itu benar. Itu langkah yang tepat, dan aku akan bersaksi di hadapan siapa pun bahwa kau melakukannya dengan baik. Tapi jangan juga menguburkan dirimu, Kanata. Menunggu bukan berarti berhenti hidup.”
“Aku tidak berhenti hidup.”
“Kau menandatangani dokumen yang sama dua kali.”
“Revindo yang bilang.”
“Revindo menangis di lift kemarin. Tidak keras. Tapi aku mendengarnya.”
Kanata terdiam. Ia memikirkan sebotol vitamin di laci, dan tangan yang bergetar saat memegang kopi dingin. Hal-hal sepele yang tidak ada hubungannya dengan rapat atau tanda tangan atau Hosho, hal-hal sepele yang memenuhi kepalanya karena lawan bicaranya tidak lagi ada di sana.
“Aku merindukan omelannya,” katanya, nyaris tak terdengar. “Soal vitamin. Soal sayur. Soal aku yang selalu lupa makan.”
Santa menoleh. Untuk sekali itu ia tidak berkomentar.
“Aku tidak tahu itu bisa dirindukan.” Kanata tertawa, kecil dan getir. “Seluruh hidupku aku menganggap omelan sebagai hal yang harus dihindari. Dan sekarang aku bersedia dimarahi seharian.”
“Kalau begitu kau tahu apa artinya,” ujar Santa pelan, lalu memutuskan bahwa itu cukup, dan menyesap kopinya.
Ponsel di saku jaket Kanata bergetar.
Sekali. Ia mengira itu Revindo atau Mikan atau notifikasi lain yang tidak penting. Ia hampir tidak mengeluarkannya. Tetapi tangannya sudah bergerak sendiri.
Nama di layar membuat lututnya seperti kehilangan sesuatu untuk bertumpu.
Miyu: Kanata, boleh saya bicara?
Ia membacanya sekali. Ia membaca ulang untuk memastikan huruf-hurufnya tidak berubah. Santa, yang melihat wajahnya dari samping, menurunkan gelas kopi dengan sangat pelan.
“Itu dia?”
Kanata tidak menjawab. Jarinya gemetar di atas layar. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi, dan akhirnya mengirim sesuatu yang paling sederhana.
Kanata: Saya di sini. Kapan pun kamu siap.
Titik tiga muncul. Hilang. Muncul.
Miyu: Besok pukul 16.00, Taman Suropati? Di bangku yang sama.
Kanata: Ya.
Miyu: Jangan datang terlalu awal. Saya tahu kamu akan tiba pukul 15.30.
Kanata menatap kalimat itu, dan sesuatu di dadanya, yang sudah dua minggu menegang, terbuka seperti pintu yang dibuka dari dalam. Ia tertawa, benar-benar tertawa, dengan bahu bergetar dan mata panas, sementara Santa di sampingnya menggeleng-geleng dengan senyum yang tidak ia sembunyikan.
Kanata: Saya akan tiba pukul 15.50. Janji.