Kantor Nana di Kuningan sunyi pada Sabtu pagi. Hanya ada penjaga resepsionis yang mengantuk, mesin pendingin yang berdengung, dan sebuah map tebal bertanda “Konfidensial” di atas meja kaca. Kanata duduk di kursi tamu dengan punggung lurus. Tiga hari ia tidak mendengar apa pun dari Miyu, dan tiga hari itu membuatnya mengenali bunyi ponselnya sendiri sampai ke nada terkecil.
Nana masuk tanpa tergesa, mengenakan kemeja putih dan celana panjang, dengan rambut pixie cut yang tampak lebih berantakan dari biasanya. Ia duduk di seberang, menyilangkan kaki, dan menatap Kanata seperti menatap saksi yang belum diperiksa.
“Terima kasih sudah datang, Tuan Saionji.”
“Saya yang berterima kasih Anda bersedia bertemu.”
“Saya tidak bersedia. Saya diminta.” Nana menaruh kedua tangan di atas map. “Miyu tahu saya akan bertemu Anda. Ia mengizinkan satu hal, dan hanya satu. Saya akan menyampaikannya, lalu Anda boleh bertanya, dan hampir semua pertanyaan Anda tidak akan saya jawab. Setuju?”
“Setuju.”
“Dalam dua hari Minggu terakhir, Miyu minum teh dengan dua orang.” Nana menatapnya tanpa berkedip. “Pertama dengan Nona Hanakomachi. Sepekan kemudian dengan Tuan Hosho. Keduanya meminta bertemu hanya berdua. Keduanya menawarkan sesuatu. Dan keduanya memakai kata yang sama, dalam bahasa yang berbeda, untuk hal yang sama.”
Kanata merasakan darahnya turun. “Kata apa?”
“Saya tidak akan menyebutnya.”
“Anda tidak perlu.” Ia menutup mata sebentar. Di balik kelopaknya muncul wajah Miyu di teras belakang kafe, menggeleng, berkata saya tidak mau dinikahi karena berutang. “Mereka mengatakan kepadanya bahwa ia berutang.”
Nana tidak menjawab. Rahangnya mengeras sedikit. Itu sudah cukup.
“Ia tidak mengatakan apa pun kepada saya,” lanjut Kanata, suaranya rendah. “Ia hanya menjawab pesan saya dengan satu kata, dan saya mengira itu karena gosip.”
“Gosip hanya menambah satu lapis.” Nana mencondongkan badan. “Saya akan jujur, Tuan Saionji. Saya sempat berpikir Anda sama saja dengan mereka. Orang kaya yang menyelamatkan dan menunggu balasan. Tetapi Anda menaruh kunci mobil di meja Rabu lalu. Reno bercerita. Saya tahu betapa sulitnya itu.”
“Saya hampir tidak berhasil.”
“Justru karena hampir.” Nana berdiri. “Itu saja yang bisa saya sampaikan. Dia sehat, dia tidur lebih baik dari sebelumnya, dan dia sedang belajar mendengar kepalanya sendiri. Jangan datang ke Kemayoran. Jangan kirim hadiah ke sana, termasuk jahe. Jangan telepon Aya.”
“Saya mengerti.” Kanata terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang hampir tak terdengar, “Apakah ia menyebut saya?”
Nana menimbang jawabannya lebih lama daripada yang ia perlukan. “Sekali,” katanya. “Dia bilang, kalau Anda bertanya apakah dia membenci Anda, jawabannya tidak. Itu saja.”
Kanata menunduk. Ia tidak mengatakan terima kasih, karena ia tahu kalimat itu bukan miliknya untuk diterima.
“Dan Tuan Saionji.” Nana berhenti di ambang pintu. “Soal Nona Hanakomachi. Kalau Anda berpikir untuk menyelesaikannya, selesaikan dengan cara Anda sendiri. Jangan atas nama Miyu.”
***
Christine memilih meja yang sama di lounge hotel, di dekat jendela kaca menghadap taman. Pukul empat sore, ia sudah menunggu, dengan secangkir teh yang belum disentuh dan wajah yang menunjukkan bahwa ia sudah menduga isi pertemuan ini sejak menerima panggilan Kanata pagi tadi.
“Terima kasih sudah datang, Kanata,” katanya lembut. “Duduklah.”
Kanata tidak duduk. Ia berdiri di sisi meja, satu tangan di punggung kursi.
“Aku akan langsung saja, Christine.”
“Aku tahu. Kau selalu begitu.”
“Kau bertemu Miyu, dua minggu lalu.”
“Ya.”
“Kau mengatakan kepadanya bahwa ia berutang.”
Christine meletakkan cangkir. “Aku mengatakan kenyataan. Kau menanggung biaya rumah sakitnya. Kau menemaninya tiap malam. Kau melindunginya di depan umum. Aku tidak mengarang apa pun.”
“Dari mana kau tahu angka tagihannya?”
“Dari staf Hosho.”
“Berarti ada orang di rombongan Hosho yang membicarakan urusan pribadiku dengan orang luar.” Kanata mengucapkannya tanpa meninggikan suara, dan Christine mengalihkan pandang. “Itu akan kuurus. Tetapi bukan itu pokoknya.”
“Kenyataan yang kau pilih untuk menyakitinya.”
“Aku tidak berniat—”
“Kau tahu kata apa yang paling melukainya,” potong Kanata, tenang. “Kau tidak tahu dari siapa, tetapi kau tahu dari caranya duduk dan caranya menolak. Kau perempuan yang cerdas, Christine. Kau sengaja memakai kata itu pada orang yang terluka oleh kata itu.”
Untuk sesaat, topeng ramah Christine retak di sudut bibir. Ia menunduk, memandang cangkirnya.
“Aku tidak tahu dia seperti itu,” ujarnya lirih. “Aku mengira dia akan marah. Dia hanya diam, dan itu lebih buruk.”
“Itu sebabnya aku datang.”
“Aku menawarkan apartemen dan dana,” ujarnya pelan. “Itu bukan penghinaan.”
“Itu penghinaan. Karena kau menyebutnya kebebasan.” Kanata menarik napas. “Dengarkan aku, dan jangan menjawab dulu. Aku tidak pernah menjadi milikmu. Aku menolakmu sejak SMA. Mungkin penolakanku terlalu halus, mungkin aku terlalu sopan dan kau membaca kesopanan sebagai kemungkinan. Hari ini tidak. Aku tidak mencintaimu. Aku tidak akan menikahimu, apa pun yang Hosho atau keluargamu atau siapa pun katakan. Dan jika kau menemui Miyu lagi untuk berbicara tentangku, aku akan menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak bisa kumaafkan.”
Hening. Di luar jendela, seorang tukang kebun menyiram pot-pot bunga dengan selang panjang. Air memercik ke kaca, meninggalkan titik-titik yang meluncur turun satu per satu.
“Aku tidak mengharapkan kau mengerti,” tambah Kanata, kali ini lebih pelan. “Aku hanya ingin kau mendengarnya dari mulutku, supaya tidak ada lagi yang kau perkirakan sendiri.”
“Ini bukan Kanata yang kukenal,” kata Christine akhirnya.
“Ini Kanata yang kautolak mengenali.”
Christine tertawa kecil, pendek, getir. Ia mengangkat mata, dan di dalamnya tak lagi ada keramahan yang dibuat-buat. Hanya kelelahan seseorang yang sudah menyimpan sesuatu terlalu lama. “Hosho di pihakku, Kanata. Kau tahu itu.”
“Hosho berpihak pada keluarga. Dan Miyu bagian dari keluarga ini, suka atau tidak, karena anak itu.” Kanata menegakkan bahu. “Miyu yang menentukan hidupnya sendiri.”
“Dia tidak akan kembali padamu.”
“Itu keputusannya, bukan keputusanmu.”
Christine menatapnya lama. Ia tidak menangis. Ia tidak membentak. Ia hanya mengangguk, sekali, seperti orang yang menutup sebuah buku yang sudah ia baca terlalu sering. Lalu ia merapikan syal di lehernya dengan gerakan yang terlalu hati-hati.
“Baiklah,” katanya. “Aku tidak akan menemuinya lagi.”
“Terima kasih.”
“Jangan berterima kasih. Aku bukan berhenti karena kau memintanya.” Ia berdiri dan mengambil tas. “Aku berhenti karena aku akhirnya melihatmu menginginkan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dan itu bukan aku.”
Ia melewati Kanata tanpa menyentuh, dan aroma melati samar tertinggal sesaat di udara. Di ambang lounge, ia berhenti dan menoleh sedikit.
“Hosho tetap di pihakku, Kanata. Jangan lupa itu.”
“Aku tidak lupa.” Kanata berbalik menghadapnya. “Karena itu aku akan menemuinya sendiri.”
Christine tidak menjawab. Pintu kaca menutup di belakangnya dengan bunyi lembut.
Di lobi, Santa menunggu dengan kaki diayun dan ponsel di tangan. Ia menegakkan badan begitu melihat wajah Kanata.
“Bagaimana?”
“Cari tahu kapan Hosho mau menerimaku,” sahut Kanata. “Sendirian.”
“Dia di suite sejak pagi.”
“Bukan hari ini. Aku belum tenang.” Kanata menyentuh pelipisnya. “Selasa.”