Kanata tahu ada yang salah sebelum ia melewati pintu kaca Anomali.
Tirai bambu di jendela depan masih separuh turun, seperti sejak foto itu beredar. Tetapi ada yang berbeda dari aroma di dalam: mentega, kopi, dan kayu manis yang selalu menyambutnya, sekarang terasa kurang satu hal yang tak sanggup ia namai. Ira berdiri sendirian di balik meja kasir dengan mata bengkak dan hidung merah, dan ketika melihat Kanata ia bukan menyapa melainkan menunduk, pura-pura menghitung uang receh yang sudah selesai dihitung.
Pukul satu kurang sepuluh. Santa mengikutinya setengah langkah di belakang, membawa tas kerja dan wajah yang ikut menegang. Tidak ada seragam pirang itu di antara meja-meja. Tidak ada yang berjalan sambil memegangi punggungnya dan berusaha tidak terlihat lelah.
“Di mana Miyu?” tanyanya, tanpa sempat memikirkan nada.
Ira menggeleng, seperti takut kalau membuka mulut ia akan menangis lagi.
“Tuan Saionji.”
Reno keluar dari dapur belakang, melepas celemek dengan gerakan yang terlalu pelan, dan berjalan lurus menghampiri meja enam. Ia tidak duduk. Dari saku dada kemejanya ia mengeluarkan sebuah amplop putih, yang sudut-sudutnya sudah sedikit lembap oleh hangat tubuh seseorang yang membawanya sejak kemarin.
“Dari Agatha. Dia minta saya serahkan langsung ke tangan Anda.”
Kanata menerima amplop itu dengan satu tangan, lalu dengan dua. Namanya tertulis di depan dengan tulisan tangan yang rapi dan ia kenali dari catatan-catatan kecil di bon kafe. Hanya satu kata. Ia membuka lipatannya di tempat, berdiri di samping meja, tanpa menyuruh Santa menyingkir.
Surat itu pendek. Ia membacanya sekali, lalu sekali lagi, lalu ketiga kalinya pelan-pelan untuk bagian yang paling ia takutkan: Tolong jangan dicari, dan jangan kirim siapa pun. Kalimat itu tidak marah. Itu yang membuatnya terasa seperti ditampar. Kalau Miyu marah, ia tahu apa yang harus dilakukan. Ia akan meminta maaf, mendengarkan, dan menunggu. Tetapi Miyu tidak marah. Miyu hanya pergi, dengan sopan, dengan terima kasih, dengan kalimat-kalimat yang memberinya semua pintu keluar dan tidak satu pun jalan masuk.
“Dia di rumah Aya,” gumamnya.
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke saku jas, dan sudah berjalan menuju pintu sebelum Santa sempat menarik napas. Tangannya merogoh kunci mobil dari saku celana. Kemayoran. Dua puluh lima menit kalau lalu lintas bersahabat. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan, tetapi ia tahu ia tidak bisa berdiri di sini.
“Kanata.” Santa sudah menghalangi pintu, kedua tangan terentang, bahunya yang kecil menutup hampir seluruh ambang. “Kanata, berhenti.”
“Minggir, Santa.”
“Tidak.”
“Aku tidak akan memaksa. Aku hanya ingin melihat dia.”
“Kau akan berdiri di depan pintu rumah orang yang minta kau menjauh, dengan wajah seperti itu, dengan kunci mobil di tangan.” Santa menurunkan suaranya dan berkata dalam bahasa Jepang, supaya hanya Kanata yang mendengar. “Dengarkan aku, Bung. Kau sendiri yang bilang kepadaku sehari sesudah Taman Suropati: jangan sampai dia merasa tidak punya pilihan. Apa ini kalau bukan itu?”
Kanata menegang. Ia ingin membantah dan tidak menemukan kalimat apa pun yang tidak terdengar seperti pembelaan.
Ponselnya bergetar di tangan yang masih menggenggam kunci. Nama yang muncul di layar membuat dadanya mengencang.
Nana: Dia aman. Hormati permintaannya.
Kanata membacanya. Sekali. Ia berdiri dengan bahu miring, hampir di ambang pintu, dengan Santa di depannya dan seluruh isi kafe, Ira, Reno, dua pelanggan di sudut, tiba-tiba memutuskan bahwa dinding menjadi sangat menarik.
Ia mengetik dengan ibu jari yang tidak sepenuhnya stabil.
Kanata: Saya tidak akan mencari. Saya hanya minta satu jawaban. Apakah Miyu dan bayinya sehat?
Layar menampilkan titik tiga. Hilang. Muncul. Hilang lagi. Ia tahu Nana sedang menimbang, bukan tentang jawabannya, tetapi tentang apakah ia berhak menerimanya.
Nana: Ya.
Satu kata, dan Kanata merasakan sesuatu di dadanya yang sudah mengencang sejak pintu kaca tadi mengendur sedikit, hanya sedikit. Ia menatap kunci mobil di tangannya. Logam dingin itu sudah hangat. Pelan-pelan, ia berbalik, berjalan kembali ke meja enam, dan meletakkan kunci itu di atas taplak putih. Bunyinya kecil sekali. Tetapi seluruh kafe mendengarnya.
“Pilihan yang benar,” kata Santa lirih, dalam bahasa Jepang.
“Jangan bicara kepadaku.”
“Baik.”
Kanata duduk. Ia menaruh kedua siku di meja dan menutup wajah dengan telapak tangan selama beberapa napas, dan ketika ia menurunkannya, Reno sudah berdiri di seberang meja dengan nampan kosong di tangan, tidak lagi menyembunyikan apa pun di wajah.
“Saya boleh bertanya satu hal, Tuan?”
“Silakan.”
“Apa yang Anda lakukan padanya?”
Reno tidak mengulang pertanyaannya. Nampan kosong di tangannya tidak bergeser sedikit pun. Di ruangan sekecil itu tak ada yang berani batuk.
Kanata mengangkat wajah. Ia memikirkan Taman Suropati, memikirkan teras belakang dan kata “tanggung jawab” yang ia ucapkan di depan semua orang, memikirkan cincin di saku celananya, memikirkan senyum Miyu yang makin hari makin kecil dan ia tidak melihatnya.
“Saya tidak tahu,” ujarnya jujur. “Saya akan mencari tahu.”
Reno menatapnya lama, lalu mengangguk satu kali. Ia pergi ke dapur dan kembali membawa secangkir teh seduh tanpa gula, meletakkannya di depan Kanata tanpa berkata apa-apa, dan pergi lagi.
Kanata memandang cangkir itu. Uapnya naik lurus dan tipis.
Ponselnya bergetar lagi, sekali, dan di layar kali ini tidak ada titik tiga yang bimbang, hanya satu kalimat dari seseorang yang jelas sudah menulisnya dengan sengaja. Reno rupanya sudah mengabari Nana sebelum Kanata sempat berdiri dari bangku bar.
Nana: Terima kasih sudah menaruh kuncinya. Itu yang paling dia butuhkan dari Anda sekarang.
***
Malamnya, kantor itu sudah hampir kosong. Kanata duduk di balik meja, di antara tumpukan map yang tidak ia buka, dan menatap ponsel yang tergeletak menghadap ke atas. Lampu kota di balik kaca tampak jauh. Santa masuk tanpa mengetuk, membawa dua kotak nasi dan wajah orang yang sudah memutuskan tidak akan diusir.
“Makan.”
“Aku tidak lapar.”
“Aku tidak menanyakan lapar. Aku menyuruhmu makan.” Santa meletakkan satu kotak di depan Kanata dan duduk di kursi tamu tanpa diundang. “Revindo menanyakan rapat besok. Kubilang kau sakit. Kalau ada yang bertanya, kau sakit.”
“Aku tidak sakit.”
“Kau sedang menatap ponsel seperti orang menunggu vonis. Itu sakit.”
Kanata tidak membantah. Ia membuka kotak nasi, memandang isinya, lalu menutupnya lagi.
“Aku akan menunggu,” ujarnya.
“Kau tidak pandai menunggu.”
“Aku tahu.”
“Sejak kecil aku mengenalmu. Kau menunggu lift tiga puluh detik saja sudah mengomel kepada tombolnya.”
“Aku tahu, Santa.” Kanata mengusap wajah. “Tapi dia minta aku menjauh dan satu-satunya hal yang bisa kulakukan agar dia tidak merasa dikejar adalah tidak mengejar. Kalau aku salah, dia akan kehilangan lebih banyak daripada aku.”
Santa menatapnya agak lama. Lalu ia menarik kotak nasi Kanata, membukanya, dan mendorongkan sendok. “Kalau begitu menunggulah sambil makan. Orang yang kelaparan membuat keputusan jelek.”
Kanata menyendok nasi. Rasanya seperti kertas.
“Santa.”
“Ya?”
“Menurutmu aku melakukan apa?”
Santa mengerjap. “Kau mau aku jujur?”
“Itu sebabnya aku bertanya.”
“Kau melamarnya dengan tiga alasan dan tak satu pun tentang dirinya.” Santa mengangkat bahu. “Aku sudah bilang di toko perhiasan. Cincinnya benar. Kalimatnya salah.”
Kanata terdiam. Di luar, lampu merah sebuah menara berkedip pelan.
“Kau tidak bilang itu di toko perhiasan.”
“Aku bilang dalam hati. Pada saat itu kau sedang tidak mau didengar.”