Selasa pukul sepuluh pagi, lift menuju suite Hosho naik begitu pelan sampai Santa sempat membaca ulang ramalan bintangnya dua kali.
“Capricorn,” bisiknya, memegangi ponsel seperti kitab suci. “Hari ini hati-hati terhadap orang yang lebih tua, sebab ia menyimpan lebih banyak daripada yang ia tunjukkan. Katakan yang sebenarnya, jangan yang pantas.”
“Itu bagus.”
“Itu bagus?” Santa mendongak. “Aku sudah membaca ramalan ini bertahun-tahun, dan kali ini aku yakin mereka menulisnya hanya untukmu.”
“Kalau begitu diam, supaya aku bisa mendengarkannya sendiri.”
Santa menutup mulut. Lift berdenting di lantai tiga puluh dua. Di koridor berkarpet tebal, lelaki berkumis tipis yang biasanya menjaga pintu berdiri dengan tangan terlipat di depan, tetapi hari ini ia tidak menghalangi. Ia hanya membungkuk, lalu membukakan pintu.
“Tuan Hosho menunggu Anda, Tuan Saionji. Sendirian.”
Santa menatap Kanata satu detik lebih lama, lalu duduk di sofa koridor dengan ponsel di pangkuan.
***
Suite itu terang dan terlalu rapi. Hosho berdiri di dekat jendela, memunggungi pintu, dengan tongkat kayu tipis di tangan kanan dan teh yang uapnya sudah berhenti naik di atas meja rendah. Ia tidak berbalik ketika Kanata masuk.
“Duduklah.”
“Saya akan berdiri.”
“Kalau begitu berdirilah dengan baik.”
Kanata berdiri tepat di tengah karpet, tangan terkatup di depan tubuh seperti bocah yang menunggu hukuman di ruang kerja. Ia menarik napas.
“Pertama, salah satu staf Anda memberi tahu Christine angka tagihan rumah sakit Miyu. Itu bukan urusan Christine, dan bukan pula urusan siapa pun yang bukan Miyu dan saya.”
“Aku tahu.” Hosho akhirnya berbalik. Wajah tuanya datar. “Orangnya sudah di pesawat sejak semalam. Ia akan menghabiskan beberapa tahun mencatat inventaris gudang di Hokkaido. Aku tidak membiarkan mulut longgar di rombonganku.”
Kanata tidak menduga jawaban itu, dan sesaat ia kehilangan arah kalimatnya. “Terima kasih.”
“Jangan terima kasih. Itu kesalahanku juga.” Hosho berjalan pelan ke kursi dan duduk, menegakkan tongkat di antara lututnya. “Katakan apa yang kau datang untuk katakan. Aku sudah tua, tetapi telingaku masih baik.”
Kanata menegakkan bahu.
“Saya mencintai keluarga ini,” ujarnya, dalam bahasa Jepang yang kaku dan lugas seperti yang biasa ia pakai kepada Hosho. “Saya dibesarkan di dalamnya, dan sebagian besar yang saya bisa, saya pelajari dari Anda. Tetapi saya tidak akan menikahi Christine. Bukan sekarang, bukan setelah keluarga Hanakomachi mengundang saya makan malam kelima belas. Dan bila Anda memaksakan Christine kepada saya, atau kepada Miyu, atau kepada anak saya, maka saya tidak akan menjadi Saionji yang Anda inginkan.”
Hosho tidak bergerak.
“Saya tidak mengancam. Saya hanya mengatakan apa adanya.” Suara Kanata tidak naik sedikit pun. “Saya bisa melanjutkan pekerjaan saya. Saya bisa menandatangani apa pun yang diminta. Tetapi di rumah, di tempat Miyu dan anak itu berada, saya bukan Saionji. Saya hanya Kanata. Dan kalau pilihannya adalah menjadi yang kedua, saya memilih itu.”
Keheningan turun, lama dan berat. Dari jendela, matahari pagi jatuh di lantai marmer dan mengubah debu halus menjadi kilatan.
Hosho memandang tongkatnya. Jarinya mengetuk satu kali di kayu, lalu berhenti.
“Minggu sebelum ini,” katanya akhirnya, “perempuan itu duduk di rumah teh hotel ini, di kursi berlengan yang kupesan khusus.” Ia menggerakkan tongkat sedikit, seperti menunjuk ke lantai atas. “Aku menawarinya rumah. Uang bulanan. Pengawal. Kedudukan yang pantas untuk ibu seorang pewaris. Aku sudah memperhitungkan semuanya, dan tak satu pun perempuan yang pernah kutemui menolak sebagian.”
“Ia menolak semuanya.”
“Semuanya.” Hosho mengangkat mata, dan di dalamnya Kanata melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat dalam tahun-tahun mengenal lelaki itu: sesuatu yang tak bisa diatur. “Ia berkata aku menawarkan balasan atas anak yang bukan barang. Ia berkata ia sudah terlalu sering membalas.”
Kanata menahan napas.
“Aku tidak suka ditolak,” lanjut Hosho. “Tetapi lebih dari itu, aku tidak suka tidak mengerti. Ia menolak semuanya, dan ia tidak memberi alasan yang bisa kupakai.” Ia mengetuk tongkat dua kali. “Itu mengganggu.”
“Mengganggu bagaimana?”
“Mengganggu karena aku harus memikirkannya.” Suaranya mengeras sedikit, tetapi lebih kepada dirinya sendiri. “Aku tidak biasa memikirkan sesuatu yang tidak bisa kuberi harga.”
Kanata tidak tersenyum. Ia terlalu hati-hati untuk itu. Tetapi dadanya, yang sejak Rabu lalu terasa seperti ruangan sempit, mengendur sedikit, hanya sedikit.
“Ia menghilang dari semua orang,” ujar Hosho. “Anak buahku mengatakan ia tinggal di rumah temannya. Aku tidak akan menyuruh siapa pun mendekatinya.”
“Terima kasih.”
“Kau tidak bertanya di mana dia.”
“Saya tahu di mana dia. Saya tidak akan ke sana.”
“Kenapa?”
“Karena dia memintanya.” Kanata menjawab tanpa jeda. “Saya sudah pernah melakukan hal yang benar dengan cara yang salah, dan saya tidak ingin mengulanginya dengan tiga kali lebih besar.”
Hosho menatapnya lama, dan Kanata tidak yakin apakah yang ia lihat di wajah tua itu adalah ejekan atau sesuatu yang lain.
“Soal para tetua,” ujar Kanata, “saya bisa—”
“Itu urusanku.” Hosho memotong dengan lembut, nada yang jarang ia pakai. “Mereka tidak akan menanyaimu selama aku masih hidup dan masih bisa membentak mereka. Aku sudah cukup lama membiarkan mereka mengira keputusan keluarga ini milik mereka.”
“Baik.”
“Sudah kubilang jangan berterima kasih.” Hosho bangkit, bertumpu pada tongkat. “Aku pulang ke Tokyo besok pagi. Sudah terlalu lama aku di sini, dan para tetua mulai menelepon tiap jam seperti burung gagak.”
“Baik.”
“Aku tidak memberimu restu, Kanata. Aku tidak mengambilnya pula.” Ia berjalan ke jendela dan memandang kota sekali lagi. “Perempuan itu pergi karena kami semua terlalu keras. Kalau ia kembali sendiri, tanpa kudorong, dengan alasan yang ia pilih sendiri, itu lain urusan.”
Kanata menunggu.
“Aku akan kembali,” kata Hosho tanpa menoleh, “bila dia kembali.”
Kalimat itu terdengar seperti keputusan, tetapi Kanata, yang mengenal lelaki itu sejak kecil, mengenali nada di baliknya: nada yang sama ketika Hosho berkata sesuatu itu “urusan nanti”, lalu mengerjakannya diam-diam malam itu juga.
Kanata membungkuk dalam, dari pinggang, lama. Ketika ia menegakkan badan kembali, Hosho masih di jendela.
***
Santa berdiri begitu pintu suite terbuka, ponsel masih menyala di tangannya. “Bagaimana? Kau masih punya kepala?”
“Aku masih punya kepala.”
“Dan Hosho?”
“Besok pagi pulang ke Tokyo.” Kanata melonggarkan dasinya, jari-jarinya sedikit gemetar sekarang, setelah tidak ada yang melihat. “Dan dia tidak memberiku apa pun.”
“Jadi kau kalah?”
“Tidak.” Kanata menatap lampu penunjuk lift yang berkedip. “Tak ada yang menang. Itu lebih baik dari yang kukira.”
“Dia bilang apa tentang Miyu?”
“Dia bilang Miyu mengganggunya.”
Santa menganga. “Hosho bilang begitu? Dengan suara keras?”
“Dengan nada orang yang baru saja menemukan batu di sepatunya.” Kanata menekan tombol lift. “Dan dia akan pulang besok, Santa. Dia tidak mengejar. Itu cara Hosho berkata maaf.”
“Itu cara Hosho berkata maaf kepada seseorang yang belum ia akui,” koreksi Santa. “Ingat bedanya. Aku sudah dua puluh tahun menghafalnya.”
Pintu lift terbuka. Kanata masuk lebih dulu dan menekan tombol lobi.
“Santa.”
“Hm?”
“Aku lapar.”
Santa menatapnya, mulut setengah terbuka, lalu dengan gerak sangat perlahan mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik.
“Kau menulis apa?”
“Tanggal,” sahut Santa. “Hari ini kau bilang lapar. Aku mau menyimpannya.”