Selasa pagi, Miyu tiba di Anomali pukul enam lewat empat puluh, dua puluh menit sebelum jadwal, dengan sebuah amplop putih di dalam tas dan perasaan seperti membawa batu panas.
Ia menulis surat itu semalam di meja makan rumah kontrakannya, setelah Aya dan Nana akhirnya pulang. Draf pertama panjang sekali dan penuh penjelasan. Draf kedua terlalu dingin. Draf ketiga ia sobek karena di tengah kalimat ia menangis dan tinta menyebar. Draf keempat pendek. Ia membacanya tiga kali, tidak menemukan satu pun bagian yang bisa dipotong lagi, dan memasukkannya ke amplop sebelum ragu kembali. Isinya begini.
Kanata,
Terima kasih untuk kamar yang tidak pernah kamu sebutkan harganya, untuk jahe, untuk tangan yang menahan siku saya, dan untuk kesabaran yang tidak pernah saya minta.
Saya butuh waktu untuk mendengar pikiran saya sendiri. Ini bukan karena kamu melakukan kesalahan. Terlalu banyak suara di sekeliling saya akhir-akhir ini, dan saya tidak bisa lagi membedakan mana yang suara saya. Saya di rumah Aya. Saya sehat, bayinya sehat. Tolong jangan dicari, dan jangan kirim siapa pun. Saya yang akan menghubungimu.
Miyu
Senin siang, sebelum surat itu ditulis, Kanata masih datang. Ia duduk di meja enam, memesan carbonara yang tidak ia habiskan, dan menahan diri sampai Miyu mengantarkan teh. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya, hampir berbisik. Miyu menjawab, “Baik,” sambil menuang teh dengan tangan yang hanya sedikit gemetar, dan Kanata tidak mendesak. Itulah bagian yang paling menyakitkan. Ia tahu itu bohong, Miyu tahu ia tahu, dan lelaki itu tetap mengangguk dan mengucapkan terima kasih seperti orang yang memegang pintu bagi seseorang yang sudah memutuskan pergi.
Selasa ia tidak akan datang. Pesan itu masuk Senin malam: rapat seharian di gedung ritel Sudirman bersama Revindo dan Pak Dali, dan ia mohon maaf tidak bisa makan siang di meja enam. Kalau saja hari itu Kanata datang, Miyu tidak yakin ia bisa memegang keputusannya.
Pak Rudi sedang menimbang stok susu di ruang belakang ketika Miyu mengetuk pintunya.
“Pak, saya mau minta cuti.”
Pak Rudi menurunkan timbangan, melepas kacamata, dan duduk di kursi kerjanya. Ia tidak bertanya kenapa. Ia hanya memberi isyarat agar Miyu duduk juga. “Berapa lama?”
“Dua minggu. Mungkin lebih. Saya belum tahu.” Miyu meremas tali tasnya. “Saya tahu ini mendadak, dan Ira harus memegang kasir sendirian. Kalau Bapak harus mencari pengganti, saya mengerti.”
“Agatha.” Suara Pak Rudi tidak keras. “Saya mengelola kafe ini sebelas tahun. Pelayan datang dan pergi. Yang saya ingat bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang menutup kasir tanpa selisih dan mengantar nampan tanpa menjatuhkan, bahkan ketika sedang demam tiga puluh sembilan derajat.” Ia mengetuk meja dua kali. “Mejamu tetap ada. Ambil waktumu.”
Miyu menunduk, dan matanya yang sudah susah payah ia kuatkan sejak subuh langsung basah.
“Terima kasih, Pak.”
“Jangan menangis di ruangan saya. Di luar, ada Ira, dan dia akan menangis dua kali lebih keras.”
***
Ira memang menangis. Ia mendengar kabar itu ketika Miyu sedang melepas apron di loker, dan reaksinya bukan menjerit seperti biasa, melainkan duduk di bangku dengan kedua tangan di pangkuan seperti anak kecil yang baru dimarahi.
“Lo mau pergi ke mana?”
“Ke rumah Aya. Di Kemayoran.”
“Karena foto itu?”
“Bukan cuma karena foto itu.”
“Karena Tuan Jepang?”
Miyu tidak menjawab dan itu menjawab semuanya. Ira menyeka hidungnya dengan lengan seragam. “Gue nggak ngerti, Tha. Dia datang tiap hari. Dia bawa jahe buat lo. Dia berdiri di tengah kafe ngomong “bukan Miyu yang tanggung jawab” di depan sepuluh orang. Kalau itu bukan serius, gue nggak tahu lagi apa artinya serius.”
“Justru karena itu, Ra.” Suara Miyu serak. “Gue butuh tahu gue sendiri serius atau cuma berterima kasih.”
Ira terdiam. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia berdiri dan memeluknya, hati-hati sekali karena perut Miyu, dan mereka berdiri begitu selama hampir satu menit sampai Pak Edo, dari balik pintu dapur, berdeham keras untuk memberi tanda bahwa ada orang lewat.
Reno ada di dapur belakang ketika Miyu masuk. Ia sedang menggiling biji kopi dengan tangan, dan bunyi giling itu berhenti begitu ia melihat Miyu berdiri di ambang pintu dengan amplop di tangan.
“Itu buat siapa?”
“Kanata.” Miyu mengulurkan amplop itu. “Besok siang dia pasti datang. Bisa lo kasih langsung ke dia? Jangan lewat Ira, jangan lewat siapa pun.”
Reno tidak langsung menerimanya. Ia membasuh tangan di wastafel, mengeringkannya pelan di celemek, dan baru setelah itu menyambut amplop dengan dua tangan, seperti benda yang mudah patah. Di bagian depan, dengan tulisan tangan Miyu yang rapi, tertulis satu kata. Kanata.
“Isinya apa?”
“Kata-kata yang nggak bisa gue ucapin langsung.”
Reno menatapnya lama. Dalam empat bulan bekerja berdampingan, Miyu tahu ekspresi datarnya punya setidaknya enam variasi, dan yang ini adalah yang paling jarang ia lihat: khawatir yang tidak mau mengaku.
“Lo nggak apa-apa?”
“Gue sehat. Bayinya sehat.” Miyu tersenyum, kecil dan retak. “Gue cuma perlu sunyi sebentar.”
“Kalau dia nanya lo di mana?”
“Isinya ada di surat. Dia bakal tahu.”
“Kalau dia marah sama gue?”
“Dia bakal marah sama dirinya sendiri. Bukan sama lo.”
Reno mengangguk sekali. Ia membuka celemeknya, menyelipkan amplop itu ke saku dada kemeja di balik celemek, lalu menepuknya dua kali, memastikan ia ada di sana. “Gue yang kasih. Besok. Langsung ke tangan dia.”
“Makasih, No.”
“Jangan makasih.” Reno kembali ke penggilingan kopi, punggungnya kaku. “Kalau lo nggak balik dalam dua minggu, gue sendiri yang jemput.”
***
Aya sudah menunggu di luar pagar kafe pukul tiga, dengan mobil kecilnya yang bagian belakangnya penuh bantal. Ia tampak gugup dan sangat bersemangat, jenis campuran yang hanya muncul ketika Aya sedang menjalankan misi yang ia anggap penting.
“Gue udah siapin kamar belakang. Lengkap. Ada kasur tambahan, bantal ibu hamil, teh jahe, dan gue beliin lima buku bacaan yang nggak ada hubungannya sama romansa.”
“Lima?”
“Tiga thriller, satu tentang kebun, satu tentang laut.” Aya membukakan pintu penumpang. “Gue nggak mau lo baca apa pun yang bikin lo mikir soal cinta selama dua minggu.”
Miyu tertawa, tawa pertamanya sejak Minggu, dan tawa itu patah di tengah. Ia masuk ke mobil, memasang sabuk, dan menyadari Aya sudah menaruh kotak tisu di dasbor, tepat di jangkauan tangannya.
“Gue nggak bakal nanya apa-apa sampai lo mau cerita,” kata Aya sambil menyalakan mesin. “Nana bilang gue harus tutup mulut. Gue cuma mau bilang satu hal, Mi.”
“Apa?”
“Kamar belakang itu ada jendela yang hadap ke pohon mangga. Kalau pagi, burungnya ribut banget. Lo bakal benci, terus lo bakal suka.”
Miyu tersenyum dengan mata panas. Lalu ia menoleh ke kaca belakang. Anomali berdiri di sudut jalan dengan tirai bambunya yang separuh turun. Reno berdiri di jendela, setengah tersembunyi di balik tirai, satu tangan menempel di dada kemejanya, tempat surat itu tersimpan.
Ia tidak melambai. Miyu juga tidak. Mobil Aya berbelok ke kiri, dan kafe itu hilang di balik deretan pohon trembesi.